
Matahari pagi bersinar cerah seperti biasanya, Deni sudah berada dirumah itu seraya minum kopi khas kesukaannya.
Ia mengotak-atik ponselnya, membuka media sosial sekedar mengusir bosan.
Deni melihat-lihat berita tentang kenaikan saham, berita tentang perusahan, juga berita tentang kejadian yang sedang hangat diperbincangkan di belahan dunia.
Di sela-sela Deni berselancar di dunia maya, muncullah sebuah iklan aplikasi kencan online, Deni dibuat penasaran lalu mengklik situs Fanpage nya. Ia terus mengotak-atik ponselnya seraya tersenyum lucu melihat beberapa pasangan yang sudah sukses mendapatkan pacar bahkan mendapatkan pasangan hidup.
Deni sedikit tertarik menggunakan aplikasi itu. Ia mengunduh aplikasi kencan online tersebut di ponselnya. Setelah Deni mengunduhnya, ia mengisi beberapa data keperluan seperti nama, jenis kelamin dan umur.
Kenapa aku tertarik dengan aplikasi ini sih, apa karena aku sudah lama sendiri, aku jadi butuh teman juga seperti Pak Renza dan Arinka. Ah... tidak! apa aku sudah gila ingin menemukan pasangan hidup di aplikasi seperti ini.
Deni menarik napas dalam dan membuang sembarang, "Apa mungkin aku terlalu kesepian, ah tidak-tidak." Seraya menutup aplikasi kencan online itu.
"Hey, kau kenapa?" ucap Renza datang dengan setelan kemeja yang sudah lengkap dengan jas biru dongkernya.
"Tidak apa-apa, Pak." ucap Deni sedikit terkejut.
Arinka menghampiri suaminya, kemudian mencium tangannya Renza. Renza menatap Arinka dengan senyuman seraya mengecup kening Arinka.
"Sepagi ini kau sudah cantik saja,?" ucap Renza menatap Arinka. yang ditatap seraya tersenyum malu sambil meremas tangannya.
"Ya ampun, ada aku disini, Pak?" ucap Deni tersenyum agak kesal.
"Iya aku tahu, kau ada disitu, siapa bilang aku tidak menganggapmu."
"Jadi Pak Renza sengaja?"
"Tidak," ucap Renza terkekeh.
"Maha karya Tuhan yang menciptakan wanita seperti mu, benar-benar indah, aku sangat terpesona."
Jiwa bucinnya pasti sedang bergejolak.
"Jangan begitu, kasian Deni," ucap Arinka pelan pipinya merona karena malu.
"Aku mendengar kalian, kalian ini sama saja. Nyonya Arinka, lama-kelamaan sudah bisa ya mengejek saya seperti Pak Renza?"
"Aku tidak mengejek. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
Deni berjalan meninggalkan dua orang yang sedang sayang-sayangan itu, ia berjalan menghampiri mobil. kemudian ia membukakan pintu mobil seraya menunggu Renza masuk ia berdiri tegap sambil memainkan ponselnya.
Fix, aku harus ikut aplikasi kencan ini. aku tak tahan Pak Renza selalu menggodaku. Lihat saja nanti!
"Haha, sayang kau juga sudah bisa berbicara begitu. Benar-benar menggemaskan."
"Hmm.. Ya sudah, Deni sudah menunggu." seraya tersenyum lebar.
"Baiklah, aku pamit pergi kerja ya, sampai jumpa lagi." seraya berjalan meninggalkan Arinka dan masuk kedalam mobil. Tak berapa lama mobil itu telah melaju.
Sesampainya di kantor, dua orang sudah menunggu di loby. Deni membukakan pintu untuk Renza dan Renza keluar dari mobil dengan gagah.
Renza berjalan masuk kedalam kantor itu, sedangkan Deni mengikuti dari belakang. Beberapa karyawan menundukkan pandangan sambil mengucapkan selamat pagi, Renza tersenyum cerah, bibirnya melengkung dengan sempurna. Sebagian karyawan dibuat heran. Pasalnya Renza ini type orang yang tidak suka memberikan senyum seramah itu. Suasana hatinya sangat bagus makanya ia terus tersenyum sumringah.
Sisil memanggil Deni sebelum Renza memasuki lift, Sisil menyapa Renza dengan menudukkan kepalanya. Sisil berjalan seraya menghampiri Deni dan berkata, "Ada dua orang yang menunggu, satu pria paruh baya dan satunya seorang wanita."
"Baiklah, terima kasih."
Renza masuk kedalam ruangannya, ia memperhatikan setiap sudut, ia terus tersenyum seperti orang gila. ia duduk di kursi kebesarannya seraya menyandar. Renza mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan kepada istrinya.
"Aku ingin nanti kita makan siang bersama, Mimom bisa pergi kekantor ya, Pipom tunggu. Muaachh 💋💋"
Begitu isi pesan singkat yang Renza kirim kepada Arinka seraya tersenyum memutarkan kursinya. lagi-lagi ia tersenyum seperti manusia yang paling bahagia didunia ini.
"Pak Renza, anda kenapa?"
"Aku sedang mengirim pesan kepada kesayanganku."
"Ya ampun, segitu bahagianya. Padahal tadi baru saja ketemu. Apa jatuh cinta sebahagia itu?"
"Iya, sangat bahagia. Apa kau benar-benar belum pernah jatuh cinta, Den?"
"Belum, haha. Dulu hanya cinta monyet saja."
"Cinta monyet dipelihara, haha. Move on!"
"Iya, aku sudah move on lama sekali, oh ya, di luar ada dua orang yang menunggu, orang yang melamar jadi supir kemarin?"
"Kenapa dua orang?"
"Anda pilih saja, Pak. Siapa tahu Pak Renza tertarik sama si wanita nya?"
"Aku tidak akan pernah tertarik pada wanita manapun, mataku hanya menatap satu wanita yaitu Arinka yang sangat aku cintai."
Eaaa ... mulai kumat lagi!
"Yah, maksudku bukan tertarik seperti hal cinta? Huh! susah bicara sama orang kelewat bucin."
Renza hanya tersenyum mendengar ucapan Deni, ia memutar kursi kebesarannya seperti anak kecil. Deni menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menarik napas kuat.
Aku harus sabar menghadapi lelaki ini.
Deni memanggil Sisil. menyuruh dua orang yang menunggu itu masuk ke dalam ruangan Renza. Deni duduk di kursi sofa seraya menunggu dua orang tamu itu. Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Deni segera bangkit dan mempersilahkan mereka masuk.
Dua orang itu duduk dengan gugup. Renza bangkit dari kursi kebesarannya menuju sofa. Deni memberikan kertas data diri mereka. Deni mempersilahkan wanita itu memperkenalkan diri. Wanita itu berdiri dan mengucapkan kata-kata yang seharusnya.
"Nama saya Dina Aprilia, Pak. Bisa panggil saya Dina saja. umur saya 24 tahun, Pak." wanita ini melirik kearah Renza yang memberikan tatapan datar. Sedangkan Deni memberikan tatapan sinis. Wanita itu sangat gugup dan meremas jari-jarinya.
"Duduk kembali!" ucap Deni tegas.
__ADS_1
Lalu, Lelaki paruh baya itu bangkit, lelaki paruh baya itu menggunakan pakaian kemeja yang di masukan kedalam, lelaki itu lumayan rapi.
"Saya Ahmad, Pak. Umur saya 49 tahun."
Lelaki paruh baya itu duduk kembali, tatapannya sendu. Renza memperhatikan keduanya. ia melihat mana yang lebih cocok untuk jadi supir istrinya.
"Ada yang lebih muda, Pak. tapi mungkin Pak Renza tidak akan suka."
"Jelas aku tidak suka, nantinya dia akan tiap hari sama istriku, mana bisa!"
Haduh, mulai lagi. tolong jangan kumat didepan orang lain.
Deni segera mengalihkan pembicaraan. Deni menanyakan beberapa pertanyaan. Deni tidak ingin Renza terlihat tidak berwibawa nantinya gara-gara kebucinannya itu.
"Aku sudah memutuskan, aku akan meneriman Pak Ahmad. Pak Ahmad akan menjadi supirnya istri saya, dan kau Dina, karena aku sedang baik hati, apa kau ingin bekerja dirumahku?"
"Terima kasih atas kebaikan Bapak, tapi aku harus berkerja apa?"
"Pekerjaanmu gampang, kau hanya bertugas menemani istriku memanjakan diri. Aku ingin istriku pergi kesalon, pergi belanja dan melakukan hal lain jika aku sedang bekerja. Aku ingin dia tidak bosan lagi dirumah."
"Wah, Bapak sangat romantis, pria idaman. Upss!" Dina terdiam karena sangat lancang berbicara seperti itu, "Maaf saya lancang, Pak."
"Pria idaman, jadi jika mengajak wanita kesalon dan berbelanja itu idaman..." guman Deni pelan
"Tidak apa, untuk kali ini aku maafkan. Terima kasih atas pujianmu, tapi maaf aku tidak tertarik pada wanita seperti dirimu," ucap Renza menampakkan ekspresi wajah datar.
"Iya maaf. saya mau, Pak. Saya akan bekerja keras."
"Tidak perlu bekerja keras, kau hanya bekerja jika Istriku imgin jalan-jalan saja."
"Baik, Pak."
"Soal gaji, Deni yang urus."
Deni memperhatikan wanita itu dengan wajah sinis seakan bisa memangsa buruannya. Renza melihat wajahnya seraya tersenyum tipis.
"Pantas saja kamu sulit dapat pacar, jelas saja. wajahnya menatap wanita itu seperti akan memakannya hidup-hidup..." gumam Renza dalam hati.
Renza kembali duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Deni mengantar dua orang itu keluar, tidak lupa Deni mengatakan kalau pak Ahmad bisa mulai bekerja besok.
Setelah mengantar dua orang itu dan menutup pintu ruangannya, Deni berjalan menghampiri Renza yang sedang membolak balikan tumpukkan berkas di atas mejanya.
"Aku ingin kau mengurus bulan maduku?" ucap Renza seraya meninjau kertas yang dipegangnya.
"Bulan madu? kapan? Jika bulan ini anda tidak memiliki waktu cuti yang banyak, paling hanya tiga hari karena Pak Renza sangat banyak meeting dengan klien penting."
"Tidak masalah, tiga hari cukup untukku membuat Renza junior," ucap Renza seraya tersenyum jahil.
"Ya ampun, bicara anda ini membuatku malu sendiri."
"Haha, kenyataannya begitu. Aku sudah ingin mempunyai Baby agar Istriku sayang tidak kesepian lagi."
"Yayaya ... anda bebas membuat banyak bayi," ucap Deni sedikit kesal.
Benar-benar ya orang ini, dia ingin membuatku menjadi obat nyamuk lagi. Ahh memikirkannya membuatku suntuk.
"Bukannya dikantor masih banyak pekerjaan? aku tidak bisa."
Aku harus membuat alasan yang bagus biar tidak ikut bersama mereka.
"Kau bisa mulai menghadlenya dari sekarang, tidak ada kata tidak!"
Apalah dayaku yang hanya bawahan ini... hiks...
"Baiklah, Pak Renza ingin kemana?"
"Jika tidak bisa lama, ya jangan jauh-jauh. Yang penting tempatnya tidak terlalu ramai dan romantis." seraya tersenyum seumringah.
"Tidak terlalu ramai dan romantis..." Kata-kata itu menyihir otak Deni. Segera dia mengambil ponselnya dan searching di google.
"Aku ingin tempat itu dekat pantai, biar lebih romantis malamnya mendengar deburan ombak."
"Yayaya ... jangan dilanjutkan lagi, aku tidak ingin mendengar kepanjangannya."
Renza tertawa jahil. Sekejap ia menghentikan tawanya dan fokus dengan kertas ditumpukan mejanya. Berkali-kali ia melirik jam tangannya. ia ingin menjemput istrinya untuk makan siang di restauran.
Jam menunjukan pukul setengah 11. Renza memanggil Deni yang ada diluar. Dengan sigap Deni masuk kedalam ruangan itu.
"Ayo pergi?"
"Kemana?"
"Nanti pukul setengah 12, aku akan menjemput istriku untuk makan siang. Cepat!"
"Tapi mau kemana, Pak?"
Aduh, kelakuannya seperti anak labil saja.
Deni mengikuti Renza dari belakang. Renza berjalan keluar dari kantor dan berdiri tak jauh dari pintu. Deni masih kebingungan dengan tingkah Renza.
"Cepat ambil mobil!" Pekik Renza.
Tanpa menyahut Deni bergegas mengambil mobil. Tak perlu waktu lama Deni sudah didepan tempat Renza berdiri. Deni segera keluar dan membuka pintu, lalu menutupnya dan berlari lagi masuk. Mobil itu melaju tanpa tahu arah dan tujuan.
"Kita akan pergi kemana, Pak?"
"Pergi ke dealer motor sekarang!"
"Apa? kenapa?"
__ADS_1
"Pergi saja, jangan banyak tanya!"
Sejenak Deni diam, tidak ada suara apapun. Deni melajukan mobil itu kearah dealer motor terdekat. Kemudian ia bersuara lagi.
"Apa jangan-jangan Pak Renza ingin membeli motor baru?"
"Heum ... sudah pasti." seraya tersenyum tipis.
Astaga, orang ini benar-benar membuatku nyaris stres.
"Apa Pak Renza bisa naik motor?"
"Kau ini? kau sudah begitu lama bersamaku, tapi tidak tahu aku bisa naik motor apa tidak?"
"Ya aku tahu, tapi itu sudah lama kan? bagaimana jika Pak Renza lupa cara mengendarainya?"
"Tidak mungkin, sangat tidak masuk akal!"
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai disebuah dealer motor yang sangat besar. Seperti biasa Deni membukakan pintu untuk atasannya itu.
Aku khawatir, gara-gara cinta Pak Renza bisa idiot ... gumamnya dalam hati seraya tertawa kecil. Kemudian Deni mengerucutkan bibirnya menahan tawa.
Renza masuk diikuti Deni dari belakang. Deni segera masuk kedalam bertanya kepada karyawan tentang bos mereka. Renza duduk di kursi sambil menatap beberapa motor besar. Deni berjalan melihat motor terbaru disitu.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki muncul tersenyum ramah. Lelaki itu duduk seraya menjulurkan tangannya ingin berjabat tangan. Renza menjabat tangan itu dengan sopan dan berwibawa.
"Senang bertemu anda Pak Renzaldi Alfariq."
"Ya, senang bertemu dengan anda juga."
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini? Pak Renza ini mau membeli motor baru? Apa ada rekomendasi? tanya Deni.
"Jika untuk gaya Pak Renza sebaiknya bisa memilih motor besar." seraya menunjuk motor besar dihadapannya?
"Ya aku tertarik, aku akan mengambil yang itu," ucap Renza seraya bangkit dari tempat duduknya.
Renza berjalan menghampiri motor itu dan memperhatikannya.
"Turunkan motor ini? aku ingin membawanya sekarang juga. Deni urus pembayarannya."
Renza memakai perlengkapan helm, sarung tangan dan perlengkapan lainnya. Ia mencoba menaiki motor itu. Dengan sigap karyawan di dealer itu diperintahkan untuk mengisi bahan bakarnya.
Setelah mencoba berputar berapa kali dan dirasa sudah pas, Renza mengambil helm wanita dan di kaitkan di bagian belakang.
"Deni, aku akan pergi dulu. Kau urus semuanya. Aku akan memberi kejutan kepada Istriku," ucap Renza seraya menampilkan senyumnya.
"Iya, Pak. Baik."
Aku benar-benar tak habis pikir, Pak Renza ini romantis atau gila? Ah aku malas memikirkannya, membuatku tambah pusing.
Renza meninggalkan Deni di dealer itu dan mulai mengendarai motor barunya. Deni sedikit takut melihatnya, karena sudah lama sekali Renza tak mengendarai motor. Dulu beberapa waktu yang lalu, Renza sering balapan sebagai penghilang stresnya, tapi itu sudah lama sekali.
Di rumah, Arinka sudah bersiap-siap mengenakan pakaiannya. Hari ini dia menggunakan celana jeans, tshirt yang berkerut yang sedang trend dan memakai sepatu casual. Arinka mencari gaya seperti ini lewat internet. Ia ingin terlihat modern sekali saja dihadapan Renza. Lagi pula pakaian di lemarinya sangat banyak.
Tin! Tin!
Suara klakson sepeda motor dari luar rumah. Arinka berjalan keluar melihatnya. Arinka sangat heran melihatnya. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa itu Renza suaminya.
"Anda memesan ojek online, Nona?"
Wah, istriku berbeda sekali dengan tampilan celana jeans begini, biasanya ia hanya memakai rok. Benar-benar cantik walau memakai pakaian apapun. Uwwuu...
"Kebetulan hari ini tidak," ucap Arinka mengerutkan keningnya.
"Tapi aku melihat anda yang memesannya?" ucap Renza masih berpura-pura, helmnya belum ia buka.
"Maaf, Pak. Saya hari ini sudah berjanji akan makan siang dengan suami."
Renza tersenyum dibalik helmnya. Arinka memperhatikan orang itu. Arinka melihat sepatu yang Renza gunakan tadi pagi. Tapi Arinka berpikir mana mungkin itu Renza.
"Silahkan naik, Nona?"
"Tidak, maaf ya Pak. Saya harus masuk kedalam."
Arinka berjalan masuk meninggalkan Renza kedalam rumah. Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar.
"Mimom!?"
Arinka menoleh mendengar suara yang sudah sangat akrab di telinganya itu. Ia berbalik dan tersenyum tapi tidak melihat sosok Renza. Arinka keluar lagi dan ia sangat terkejut ternyata yang mengendarai motor besar itu adalah suaminya Renza.
"Pipom?!"
"Kejutan," ucap Renza tersenyum sumringah.
"Ahh, kok bisa sih naik motor?"
"Ya sudah, ayo naik ... kita akan berkeliling menaiki motor ini, kau sangat suka 'kan?"
"Mmm ... suka sekali, untung saja aku sudah memakai celana jeans," jawab Arinka tersenyum seraya berjalan kearah Renza. Dengan lembut Renza memasangkan helm dikepala istri tercintanya itu. Kemudian Arinka naik.
"Peluk yang kuat, dan Kita Lets go."
****Bersambung....
Jangan lupa tekan like jika selesai membaca, dan berikan vote sebanyak-banyaknya untuk novel ini yah 😁 support kalian sangat membantu dan menjadi penyemangat bagiku...
Jangan lupa komentar ☺ maaf aku tidak bisa membalas semua komentarnya, tapi aku membaca semuanya kok 😊
__ADS_1
Salam sayang dariku, buat Readers tersayang 💋
Luv u all 😘😘****