Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 56 : Rumah sakit


__ADS_3

Senja sore itu begitu indah, langit-langit menjadi berwarna keoranyean. Burung-burung mulai pulang kesarangnya. Sayangnya, senja yang begitu indah itu tidak berarti di hati seseorang.


Renza masih sibuk menggenggam tangan Arinka seraya meliriknya. Arinka masih acuh dengan keberadaan Renza.


Deni membopong boneka beruang coklat itu mengikuti mereka berdua.


Setelah sampai di mobil, Renza segera bertanya kepada Arinka tentang lelaki yang bersamanya tadi. Wajah Renza mendadak berubah kesal. Ada kecemburuan yang sangat besar diwajahnya, tapi tertahan karena rasa bersalahnya kepada Arinka.


"Siapa lelaki tadi?" ucap Renza pelan.


"Teman dari kampung."


"Kenapa kalian bisa bersama?"


"Kebetulan ketemu."


"Kalian sepertinya tertawa bahagia tadi. Apa jangan-jangan dia mantanmu?"


"Bukan, aku tidak punya mantan pacar."


"Memangnya kamu yang punya mantan pacar banyak."


Deni masuk kedalam mobil mendengarkan pasangan itu sedang saling introgasi. Aura didalam mobil itu mendadak panas, padahal Air conditioning didalam mobil itu masih berfungsi dengan baik.


Deni meletakkan boneka beruang coklat itu disebelahnya seraya menepuk-nepuk perutnya. Renza dan Arinka yang sedang saling manyun itu seketika tertawa melihat gerak gerik Deni yang mengelus-elus boneka itu.


"Kau baik-baik ya, jangan berantem." ucap Deni berbicara kepada boneka itu.


"Kau kenapa?" tanya Renza menahan tawa.


"Aku kenapa? aku sedang menyetir."


"Astaga, kau ini mungkin kelamaan jomblo."


"Lagi-lagi bilang jomblo. Nanti aku cari pacar!" ucap Deni mendengus kesal.


"Mending aku jomblo, eh kalian punya pasangan kok bertengkar."


Arinka dan Renza saling berpandangan. Kemudian Arinka mengalihkan pandangannya lagi. Arinka masih kesal melihat Renza.


"Maafkan aku, ya, Mom. Pipom benar-benar lupa tentang makan siang itu."


"Katanya sayang, katanya cinta? tapi pas ketemu mantan auto lupa." Deni terkekeh.


"Deni, kau diam saja!"


"Iya, aku diam." seraya mengelus boneka beruang. Arinka yang melihatnya tertawa geli.


"Apa Mimom sudah memaafkan Pipom?"


Arinka mengendikkan bahu tak acuh. ia tetap saja masih ngambek dengan suaminya itu. Renza memegang bahu Arinka dan tangan yang lainnya memegang wajah mulusnya Arinka. Renza ingin Arinka menatapnya.


Arinka menundukkan pandangannya. ia benar-benar sangat malas menatap Renza. Renza menghela napas berat.


"Maafkan aku mimom, aku benar-benar hanya mencintaimu, satu-satu bagiku hanya kamu, cintaku, sayangku, dan bahkan jika hati ini bisa kau aku berikan, pasti isinya nama Mimom seorang."


"Fffttt..." Arinka tertawa seraya menutup mulutnya.


"Mimom tertawa, Nah begitu donk. Hati ini hancur jika Mimom cemberut."


"Sinta itu sangat cantik, wajar saja sih kalau kau terkejut melihatnya. Jika dibanding denganku, apalah arti diriku yang seperti debu bagi dirinya."


"Tidak, bukan karena itu. Aku tidak peduli dia cantik atau tidak, sifatnya itu tidak baik. aku hanya benci dia berani menyapaku setelah apa yang dilakukannya."


"Berarti kau belum move on donk."


"Aku sudah move on, jauh sebelum aku mengenalmu."


"Ya sudah, aku juga tak ingin berlarut-larut."


"Bagaimana jika kita makan malam diluar malam ini?"


"Aku sedang tidak mood untuk makan."


Tiba-tiba beberapa menit kemudian, Arinka merasakan kepalanya pusing, perutnya sakit. Ia berusaha menahannya tapi Renza dengan sigap menanyainya.


"Mimom, kau kenapa?"


"Tidak apa, hanya pusing sedikit."


Dengan gemetar Arinka memegang perutnya.


"Apa ada air?"


"Ada." Renza segera membukakan tutup botolnya dan menyodorkan kepada Arinka.


"Ayo kerumah sakit, sepertinya kau sedang tidak sehat."


"Tidak, tidak usah. aku hanya perlu istirahat saja."


Arinka merasakan kepalanya sangat pusing, ia sadar mungkin karena hari ini ia lupa makan mungkin asam lambungnya naik. Wajah Arinka mendadak berubah pucat.


"Kenapa? kau kenapa, Mimom? Deni ke rumah sakit sekarang juga!" Renza memegang tangan Arinka dengan erat, wajahnya sangat panik.

__ADS_1


Arinka tidak mengatakan apa pun, dan yang dilakukan Renza adalah mendekap Arinka dalam pelukannya, mengusap rambut panjang Arinka beberapa kali menenangkannya. "Semuanya akan baik-baik saja, Sayang."


Sesampainya dirumah sakit, Renza segera menggendong istrinya itu kedalam ruangan gawat darurat. Deni menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah atasannya itu. Deni mengikuti Renza dari belakang.


"Tolong periksa istriku, dia bilang kepalanya sakit. cepat!"


Beberapa perawat yang melihat menatap heran, Dokter disitu segara cepat tanggap melihat Renza yang sudah panik bukan main.


"Sepertinya gejala asam lambung."


"Asam lambung? dia tidak stres." Renza menjadi orang yang terlihat bodoh. Deni segera masuk untuk menjadi orang yang waras disana.


"Apa anda pernah telat makan?" tanya Dokter kepada Arinka.


"Mmm... hari ini aku lupa makan."


Ya Tuhan, ini semua salahku. aku membiarkan istriku sakit seperti ini karena kelalaianku.


"Pantas saja, anda jangan lupa makan nyonya. Tubuh anda sangat lemas, kepala anda pasti pusing. Kami akan meresepkan obat, anda bisa meminumnya."


"Biarkan istriku dirawat. Dia sedang tidak sehat. Dia harus mendapatkan perawatan terbaik."


Wajah Renza menjadi nanar. Semua yang terjadi ini adalah salahnya. ia sangat merasa bersalah. matanya berkaca-kaca karena merasa kasian kepada Arinka.


Tak lama kemudian, Arinka dipindahkan keruangan Vip. Arinka merasa masih kuat untuk pulang, hanya saja kepalanya pusing. Arinka sedang dipasangkan cairan infus di tangan kirinya. Renza tak henti-hentinya mengoceh kepada perawat itu bahwa harus memasang jarum infus itu harus hati-hati.


Arinka sudah diganti memakai pakaian rumah sakit. Renza tak hentinya mencium kening istrinya itu. Perawat yang ada dikamar itu tersenyum penuh kagum menatap tingkah Renza. Tak lama perawat itu keluar dan berkata, "Anda benar-benar suami idaman, Tuan."


Deni masuk membawakan pakaian Renza. Malam ini mereka akan menginap di rumah sakit. Renza memerintahkan Deni untuk membeli makanan yang enak, supaya Arinka bisa makan nantinya.


"Kenapa kau tidak makan tadi? maafkan aku, aku benar-benar teledor menjadi suami." ucap Arinka lirih.


"Aku tadi membeli batagor, tapi tertinggal di taman."


"Ya ampun, aku benar-benar sangat bersalah, maafkan, Pipom."


"Maafkan aku juga ya Pom, gara-gara cemburu aku sampai tidak ingin makan sama sekali."


"Kau cemburu? Aku benar-benar senang mendengarnya. Tapi kenapa sampai sakit? Aku tidak ingin melihat mu sakit."


Renza terus duduk menemani Arinka dengan kursi disamping ranjang kesakitan itu. Ia menarik selimut lebih tinggi supaya Arinka tidak kedinginan. Renza terus mengelus puncak kepala Arinka dengan lembut. Sesekali ia mencium kening.


"Kalau saja aku tidak teledor tadi siang, mungkin kau tidak akan disini? Aku membenci diriku."


"Sudah, jangan membenci dirimu sendiri. Mimom sudah memaafkan Pipom, lain kali jangan diulang lagi."


"Hmm... Pipom janji!"


Renza memeluk Arinka dengan lembut, seraya mengelus tangannya. Dalam hatinya bergumam tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini.


"Nostalgia?" tanya Renza.


"Heum ... Kau pernah di opname gara-gara asam lambung juga, waktu itu Deni membawakanku Dress bodycon berwana biru. Kau sangat marah melihatku memakainya."


"Iya, apa kau ingin tahu sesuatu?"


"Apa?"


"Aku akan jujur padamu, dengarkan baik-baik. Sebenarnya waktu itu aku bukan marah, tetapi tepatnya salah tingkah. Saat itu kau sangat cantik menggunakan dress itu. Aku tersenyum dibalik selimut saat kau memakai makeup."


"Aku ingat, kau bilang awas nanti seperti ondel-ondel."


"Hemm ... Sebenarnya jantungku berdetak sangat kencang saat itu. Aku berusaha menyembunyikannya."


"Benarkah? Wah! padahal ucapanmu selalu kasar padaku. Apa pada saat itu kau sudah jatuh cinta padaku, Pipom?"


"Aku tidak tahu tepatnya kapan aku jatuh cinta padamu, aku mulai tersenyum dalam diam, mulai cemburu saat seseorang menyebutkan namamu."


"Benarkah? ciyee."


"Kau mengolokku? Aku cium ya."


"Awas ya kalau berani."


Renza bangkit dari duduknya, ia mendekatkan wajahnya dan "Cup " Renza mengecup bibir Arinka dengan lembut.


"Aku benar-benar berani, tubuhmu itu milikku." seraya tersenyum jahil.


Arinka hanya mendengus kasar mendengar ucapan Renza. Kemudian mereka tertawa.


"Aku ingat waktu itu aku menanyakan kue coklat padamu? Sebenarnya aku bukan ingin memakannya, tapi aku penasaran karena aku pikir Jefran yang membelinya?"


"Ohh, jadi begitu yang sebenarnya. Dasar si tukang selidik!" ucap Arinka tertawa.


"Aku sangat suka melihatmu tertawa begini, kau sangat manis, menggemaskan dan bikin kangen."


"Huh! pembohong."


"Tidak, aku tidak berbohong." ucap Renza seraya mencolek hidung Arinka, "Semua yang ada padamu, Aku cinta!"


Arinka tersipu malu mendengar mendengar ucapan Renza yang selalu memujinya.


"Aku masih penasaran akan sesuatu? apa aku boleh bertanya?"

__ADS_1


"Tanya saja." Ucap Renza seraya mengecup tangan Arinka.


"Di malam pernikahan itu, kau tidur dimana? apa kau tidur bersama Giska?"


"Aku tidur di hotel lain. Aku tidak pernah tiduemr dengan Giska atau wanita manapun. Hanya Mimom wanita pertama yang aku tiduri. Aku tidak sebejad itu merusak kehormatan wanita yang pernah menjadi pacarku."


"Kalau begitu aku sudah tidak penasaran lagi."


Tok... Tok...


Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Tak lama kemudian, seseorang masuk yang tidak lain adalah Deni.


"Kenapa kau mengetuk pintu? biasanya kau langsung masuk?" ucap Arinka heran.


"Karena kalian sudah baikan, aku tidak ingin melihat hal-hal yang menodai mataku."


"Apa maksudmu?" tanya Renza.


"Ya, kalian kan selalu bermesraan kalau sudah berbaikan, nantinya aku takut melihat hal yang tidak sepantasnya aku lihat." Deni terkekeh.


"Aku baru mau melakukannya sekarang," ucap Renza tertawa seraya membuka baju.


"Sialan!" pekik Deni.


"Wah! kau berani mengataiku sialan?" Renza memelototkan matanya. Sedang Arinka hanya tersenyum mendengar perdebatan mereka.


"Mana mungkin aku melakukan hal yang aneh-aneh, aku akan melakukannya dirumah jika istriku sudah sembuh." Renza tertawa jahil.


"Terserah kalian!" mendengus kesal, "Pak Renza kenapa membuka baju?"


"Hey, apa kau lupa? aku belum mandi, mana pakaianku?"


Deni berjalan memberikan paperbag yang berisi baju kaos dan celana santai kepada Renza. Deni juga menaruh makanan yang ia beli diatas nakas.


Renza masuk kekamar mandi, sedangkan Deni duduk disofa. Sembari duduk ia mengotak-atik ponselnya kembali. Deni melihat aplikasi kencan itu dan menekannya. Terdapat profil beberapa wanita yang mengikutinya. Ada beberapa chat yang masuk mengajaknya berkenalan.


Deni membalas chat salah satu wanita diaplikasi kencan online itu. Wanita itu mengajaknya bertemu. Deni menjadi takut, ia langsung menutup aplikasi kencan.


"Nyonya, Besok ada wanita bernama Dina yang akan bekerja menjadi asisten pribadi Nyonya."


"Kenapa? aku tidak memerlukannya?"


"Pak Renza yang mempekerjakannya, katanya supaya Nyonya mempunyai teman."


"Ah, padahal tidak perlu."


"Nyonya bilang saja sendiri padanya."


"Oh ya, untuk bulan madu aku sudah mempersiapkannya. kalian akan berbulan madu di sebuah pulau romantis."


"Iya, aku ikut saja."


Tak lama kemudian terdengar suara pintu toilet dibuka. Renza sudah mengenakan celana tapi belum menggunakan kaos. Otot dadanya terlihat mempesona.


Entah kenapa jika melihat Renza selesai mandi dengan rambut basah, Arinka sangat suka. benar-benar difinisi lelaki seksi menurut Arinka.


"Uwuuu... Dadanya mempesona sekali?" ucap Deni tertawa jahil.


"Ah, sialan kau Deni!"


Renza segera memakai baju kaosnya. Ia melihat makanan yang dibawakan Deni itu. Renza segera membukanya. Nasi dengan lauk pauk dari rumah yang disiapkan oleh Bi Ami.


Renza duduk dikursi itu, kemudian ranjang kesakitan Arinka itu ia naikan menjadi mode bersandar. Sehingga Arinka sangat mudah untuk makan nantinya.


Renza sudah bersiap untuk menyuapi Arinka. Arinka mencegahnya, karena ia ingin makan sendiri. Arinka sangat canggung jika ia disuapi, karena ini pertama kalinya. Namun Renza bersikeras ingin menyuapinya.


Renza terus memperhatikan Arinka seraya memasukkan sesuap demi sesuap makanan kemulutnya. Renza benar-benar tidak bisa lepas dari pesona Arinka. Setelah makan, Renza memberinya obat. Renza khawatir karena Arinka hanya makan sedikit.


Renza menyuruh Deni pulang dan istirahat dirumahnya. Deni mengangguk dan berpamit pulang. Renza menyuruh Arinka istirahat setelah makan obat. Ia ingin Arinka cepat pulih nantinya dan tidak berlama-lama di rumah sakit.


Renza terus menerus mengusap puncak kepala Arinka. Lama kelamaan, Arinka mulai terlelap dan masuk kedalam alam mimpi, sedangkan Renza terus terjaga. ia tertekad tidak akan tertidur demi menjaga kesayangannya itu.


Semalaman Renza terus mengecup tangan Arinka, ia benar-benar merasa bersalah kepada istrinya ini. Wanita itu terlelap sangat cantik dengan napas lembut dan teratur.


Perlahan Renza menarik selimut tebal itu sampai keatas dada Arinka. Jemarinya mengelus ringan puncak kepala Arinka seraya membelai rambutnya dengan lembut.


Walaupun kau sudah mem**aafkan aku karena membuatmu sakit seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Hanya karena seorang mantan aku jadi melupakan istri tercintaku. Cih! mantanku tak berarti apapun bagiku. Hatiku selalu milikmu seorang, Aku sangat mencintaimu sayang. Jangan sakit seperti ini lagi. Aku benar-benar sangat sedih. Seluruh jiwa ini remuk seperti terpukul palu besar melihat kau terbaring diranjang kesakitan ini. Cepat sembuh dan sehat kembali ya sayang.


Karena kau sangat berharga bagiku, satu-satunya yang tidak akan pernah tergantikan.


Bersambung...


Hay Readers, jangan lupa jika selesai baca berikan jempol kalian yang berharga itu di setiap novelku.


Jika berkenan, silahkan vote dan comment ya...


Jika ada masukan, silahkan comment tapi dengan kata yang sopan ya..


Aku membaca semua komen kalian, tapi maaf aku tidak bisa membalas semuanya. Tapi jika luang, aku akan memcoba membalas komen kalian.


Terima kasih untuk semua dukungan kalian selama ini 💋


Salam sayang untukmu para Readers..

__ADS_1


Luv u All 😘😘


__ADS_2