Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 50 : Acara amal


__ADS_3

Pagi hari menyapa, hari baru telah datang.


Di atas sana, sinar matahari dengan warna kekuningan menerangi semesta dengan kehangatan. Sinar matahari sudah datang membawa sinar kehidupan untuk setiap makhluk hidup.


Arinka telah bangun pagi sekali. ia segera bangkit dari ranjangnya itu. Tiba-tiba sebuah tangan menariknya dengan lembut. Arinka terkejut padahal Renza masih memejamkan mata.


"Morning, sayang." seraya tersenyum.


"Hmm... morning juga, sayang." Arinka membalas dengan senyuman hangat.


Renza bangkit dan duduk dikasur itu. Arinka memandanginya dengan tatapan lucu. Rambutnya berantakan tapi tetap saja ia masih terlihat tampan. Tampan dari lahir walau dengan keadaan apapun tetap saja tidak akan pudar.


"Sudah bangun?"


"Hmm..."


"Aku akan mandi dulu," ucap Arinka seraya melepaskan tangan Renza. Renza bangkit dari ranjang itu dan memeluknya dari belakang.


"Aku ingin bermanja-manja saja," ucap Renza tersenyum seraya mencium rambut Arinka.


"Tapi aku harus mandi dulu."


"Ayo mandi bersama." seraya mengangkat tubuh Arinka masuk kekamar mandi.


Suasana hening beberapa saat, beberapa menit kemudian mereka sudah keluar dari kamar mandi. Mereka tampak bahagia keluar dari sana bersama-sama.


Arinka mengganti pakaiannya dan kemudian ia menyiapkan pakaian untuk suaminya itu, tidak lupa ia memakaikan dasi untuk Renza. memakaikan dasi sudah menjadi rutinitas Arinka setiap dasi. Seraya memasangkan dasi, Renza terus memperhatikan wajah Arinka dengan senyuman manisnya sambil mengusap rambut basahnya.


"Mata ini, bibir ini, hidung ini, semuanya... aku sangat merindukannya," ucap Renza seraya mengecup kening Arinka. Arinka menatapnya dengan senyuman hangat, hatinya sangat bahagia karena perlakuan suaminya itu.


"Ayo turun," ucap Renza menggenggam tangan Arinka.


Mereka berjalan menuruni tangga pelan. Setiap hari wajah Renza dipenuhi senyuman. Senyuman yang sangat bahagia. Apalagi ia tahu bahwa ia adalah cinta pertamanya Arinka. Bahagia yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


Mereka duduk di meja makan yang sudah disiapkan oleh Bi Ami. Arinka membuatkan kopi, khas sarapan Renza dipagi hari adalah secangkir kopi. Arinka teringat akan kue coklat yang ia potong semalam, ia lupa memberikannya kepada Renza.


"Aku lupa memberikan kue coklat untukmu, semalam sudah aku potong." wajahnya berubah menjadi merasa bersalah.


"Masih bisa dimakan, kan? biar aku makan, bawa kesini."


"Maaf, tadi kue nya ada didalam kulkas, jadinya dingin. semalam Bibi menaruhnya di dalam kulkas."


"Tidak apa-apa, aku bisa memakannya." Saking tidak ingin mengecewakan istrinya itu.


"Jangan, pagi-pagi jangan makan yang dingin dulu."


"Ya sudah, nanti kita bisa beli lagi sepulang dari acara amal. Kita juga bisa nongkrong seperti yang kau inginkan semasa remaja, berkumpul bersama teman-teman."


"Maaf, sekali lagi."


"Tidak apa, kenapa mesti bersikap begitu sih? cup...cup."


"Memangnya aku anak kecil." tersenyum lucu.


"Nah gitu dong tersenyum, kau paling cantik jika tersenyum."


"Haha, iya deh. Oh ya, kau bilang berkumpul bersama teman? teman yang mana?"


"Nanti kita berkumpul dengan Deni."


"Ya ampun ternyata Deni?" Arinka terkekeh.


Selang beberapa menit, orang yang di bicarakan itu telah datang. Berjalan dengan gagahnya menggunakan setelan jas hitam seperti biasanya. ia duduk di meja makan sambil mengucapkan selamat pagi.


"Apakah supir baru akan di pekerjakan hari ini, Pak?"


"Besok saja, hari ini Nyonya Arinka akan pergi bersama kita."


"Ya, baiklah. Ayo berangkat, kita harus mengurus beberapa pekerjaan dulu, Pak."


"Ya," ucap Renza seraya bangkit dari kursi, menghampiri Arinka dan mencium keningnya.


"Ahh... aku jadi iri," ejek Deni tertawa membuat Arinka manggut-manggut.


"Makanya cari pacar, haha."


"Iya," Deni membuang muka dan tersenyum kecut.


Renza berjalan terlebih dahulu, Deni mengikuti dari belakang, sedangkan Arinka mengantar mereka keluar. Renza masuk kedalam mobil dan membuka kaca jendela mobil seraya melambaikan tangannya. Arinka membalasnya dan tersenyum manis.


Setelah mobil itu melaju, Arinka masuk kedalam rumah. Ia akan menelpon Nenek Murti. Tadi dia lupa menanyakan apakah Nenek Murti akan pergi atau tidak. Arinka naik keatas, berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya. ia mengambil ponselnya dan menekan kontak Nek Murti seraya menatap keluar jendela memandangi matahari.


Telpon itu tersambung, dan tak lama kemudian terdengar suara di sebrang sana.


"Halo," ucap Nek Murti.


"Halo juga, Nek."


"Wah, sudah lama Nenek tidak mendengar suaramu, kalian jarang mampir kerumah Nenek? apa Renza sangat sibuk akhir-akhir ini?"


"Iya Nek, ia lumayan sibuk, apa Nenek sehat?"


"Tentu saja," jawab Nek Murti tertawa.


"Syukurlah kalau begitu."


"Ada apa menelpon? bukannya hari ini ada acara amal?"


"Iya, Nek. Nenek hadir apa tidak?"


"Nenek tidak bisa hadir, Nenek hari ini harus cek up bulanan seperti biasa. Arin harus hadir disana ya?"


"Iya, Nek. Nenek harus jaga kesehatan."


"Pasti. Oh ya, minggu depan Renza bilang kalian akan pergi bulan madu, ya?"


"Iya, Nek. Renza bilang begitu."


"Syukurlah, dia sudah membuka hati dan mencintai Arin, Nenek sangat senang mendengarnya."


"Arin sangat bahagia, Nek. Perlakuannya sangat berbeda, ia sangat lembut dan perhatian."


"Wah, senangnya. Secepatnya, Nenek ingin diberikan cucu. Amin."

__ADS_1


"Amin."


"Ya sudah, kamu harus bersiap."


"Hmm.. dadah."


Sambungan itu terputus, segera Arinka mencari gaya pakaian yang elegan tapi sederhana, setelah melihat beberapa model pakaiannya, ia meletakkan ponselnya diatas nakas. ia mencari baju yang akan ia gunakan. Arinka membuka lemari dan melihat-lihat pakaian mana yang cocok untuk dirinya.


Setelah cukup lama mencari dan mencoba beberapa pakaian, ia akan memutuskan akan memakai Long dress polos, dengan rok bawahan model duyung berwarna hitam. Sepertinya pakaian itu menurutnya pantas dan modern. Lengan baju itu juga panjang dengan motif brukat. Rambutnya ia ikat setengah, setengahnya ia urai. Arinka memakaikan makeup tipis diwajahnya dan memakaikan lipcream dibibirnya, ia juga mewarnai alisnya sedikit. Berkat perlengkapan make up yang dibelikan oleh Renza, Arinka bisa merubah wajahnya sedikit berbeda.


"Apa ini cocok?" Gumamnya sambil berputar didepan cermin.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Arinka berjalan pelan membuka pintu kamarnya itu, ternyata Bi Ami membawakan seprei yang sudah dilipat dan disetrika rapi. Bi Ami meletakkannya di atas sofa.


"Ya ampun, Nyonya cantik sekali." ucap Bi Ami takjub.


"Ah, kebetulan sekali. Arinka ingin sekali menanyakannya. Apakah ini cocok?"


"Cocok, Nyonya. Sederhana tapi mengikuti model. bukankah begitu bahasanya, hehe."


"Bi Ami tahu juga bahasa mengikuti model, haha."


"Nyonya, Jika berpakaian seperti ini Nyonya sangat berbeda. Nyonya seperti model saja."


"Bi Ami bisa saja."


"Bibi keluar dulu, ya. masih banyak pekerjaan dibawah."


"Iya, Bi. silahkan."


Di luar rumah, Renza sudah sampai. ia tidak sabar ingin menjemput istri tercintanya. Deni juga turun dari mobil dan berjalan masuk, Bi Ami keluar dari kamar itu dan menundukkan kepala melihat Renza.


"Apa Nyonya di kamar?" Tanya Renza berpapasan dengan Bi Ami ditangga.


"Iya, Tuan."


Renza masuk kekamar dengan langkah pelan. Ia membuka pintu seraya mengintip. Renza melihat Arinka sedang memutar balikkan badan didepan cermin. Sontak Renza tersenyum sambil menutup mulutnya.


Uh! istriku ini sangat menggemaskan, dia juga sangat cantik dengan gaun seperti itu.


"Hem...Hem..." ucap Renza seraya berjalan masuk kekamar.


"Ahh, mengejutkan saja." ucap Arinka menundukkan pandangannya, "Apakah aku cocok?"


"Sangat cocok dan sangat cantik." Renza berjalan menghampiri Arinka dan memeluknya dari belakang.


"Heummm... harum sekali, cantik sekali." seraya menatap cermin, memandangi wajah Arinka.


"Benarkah? Aku sangat malu."


"Kenapa harus malu? kau sangat cantik, aku hampir tidak ingin kau terlihat cantik begini didepan orang lain, aku cemburu."


"Haha, itu sih kelewatan."


"Ayo berangkat." ucap Renza sambil menggandeng tangan istrinya itu.


"Sepatunya? aku harus memakai sepatu mana?"


Renza memperhatikan koleksi sepatu milik Arinka di dalam lemari, matanya tertuju kepada heels hitam yang tidak terlalu tinggi. Renza tahu Arinka tidak akan mau menggunakan heels tinggi.


Deni masih duduk, sambil memainkan ponselnya. Deni melihat pasangan itu turun, segera ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke luar.


Arinka duduk dikursi yang ada diteras ingin memasangkan heels tadi, sedang sigap Renza berjongkok memasangkan heels itu dikaki Arinka. Arinka menarik kakinya, ia tidak ingin Renza memakaikannya, ia sangat tidak enak hati.


"Tidak apa, biar aku pasangkan."


Kenapa dia sangat romantis seperti ini?


Arinka menjulurkan kakinya pelan, kemudian Renza memasangkannya. Deni melihatnya menggeleng tak percaya dengan sikap Renza seperti itu.


Dia benar-benar berubah, astaga benar-benar bucin akut.


"Selesai. Ayo berangkat." Renza menggandeng tangan Arinka kemudian membukakan pintu untuk istrinya. Mobil itu melaju dengan kencang.


Renza melihat Deni senyum-senyum dari kaca spion depan. Kemudia ia menggeleng tak percaya.


"Kau kenapa tersenyum seperti orang bodoh?" tanya Renza.


"Tidak ada. hanya aneh saja melihat Pak Renza memasangkan sepatu dan membukakan pintu untuk Ny Arinka. padahal pintu mobil ini saja, aku yang selalu membukakan."


"Aku suaminya, terserah aku dong. Dan masalah membukakan pintu itu salahmu, jika kau sudah membukakan pintu tadi, aku tidak akan membukakannya lagi. Bodoh!"


"Huh! salah lagi. Mending diam saja."


"Ya sudah diam saja, jangan banyak bicara."


Arinka tersenyum melihat Deni dan Renza saling menyalahkan, mereka selalu saja seperti itu, sering berselisih paham tapi akhirnya lucu-lucuan.


Renza terus menggenggam tangan Arinka, sesekali ia menatapnya dan tersenyum manis.


Tak lama kemudian, mereka telah sampai di tempat acara. Arinka pikir acaranya akan diadakan di panti asuhan. Ternyata disebuah halaman terbuka seperti taman. Tamu undangan sangat ramai. ini acara tahunan untuk perusahan yang ingin menyumbang. Acara ini disponsori oleh Perusahaan Fariq company.


Beberapa petugas mengarahkan Renza beserta Arinka duduk di kursi depan. Arinka memperhatikan sekeliling, sangat nyaman karena suasana alam yang masih asri dengan banyak pepohonan, untung saja alam bersahabat, cuaca hari ini sangat teduh.


Sebentar lagi acara akan dimulai, beberapa orang sedang sibuk mengatur meja makanan. Arinka memperhatikan dan tenyata disana ada seseorang yang dikenalnya, tidak lain adalah Risa. Catering acara itu di serahkan kepada Paman Azka, pamannya Jeffran.


"Pip, itu disana ada Risa?"


"Risa siapa?"


"Temanku, waktu kerja di restauran Pak Jefran."


"Oh, iya. kebetulan cateringnya Paman Azka. Restauran paman Azka sudah bekerja sama."


"Owh begitu."


Deni berjalan mengecek persiapan dan melihat sekelilingnya. Tiba-tiba saja Risa memanggilnya. Deni tak menggubrisnya, tapi Risa menghampirinya.


"Pak, kau suaminya Kak Arinka, kan?"


"Haha, kau salah orang?"


"Tidak, aku mengingatmu waktu hari dimana Kak Arinka mengundurkan diri?"

__ADS_1


"Astaga, aku bukan suaminya. Itu sana suaminya Nyonya Arinka, dan Nyonya Arinka sedang duduk di sampingnya."


"Wah, benarkah? maaf aku salah ingat, Kak Arinka pernah bilang sih, tapi aku lupa."


"Ya sudah, sana kerja lagi."


"Apa boleh aku bertemu Kak Arinka, menyapanya?"


"Nanti, jika acara sudah selesai."


"Kenapa sekarang tidak boleh?"


"Kau kan sedang bekerja, lagi pula tamu undangan sudah ramai. kalian harus menyiapkannya cepat."


"Iya, maaf jangan ngegas juga dong."


"Dasar anak-anak, labil."


"Kau yang labil, dasar sudah tua."


Deni meninggalkan Risa, kemudian berjalan-jalan lagi melihat persiapannya. Deni bertemu Jefran. Jefran berjalan menghampirinya dan berbincang-bincang. Deni sangat malas sebenarnya terlalu banyak bicara kepadanya. Tapi bagaimana pun Jefran ini masih temannya Renza.


"Apa Renza sudah datang?"


"Sudah, Pak Renza datang bersama istrinya."


"Wahh, Arinka sangat cantik. aku hampir tidak mengenalnya, ia benar-benar berbeda."


"Maaf ya, Pak Jefran. Anda jangan mendekatinya dan tidak boleh memujinya didepan Pak Renza nanti, jangan sampai anda membuat suasana hatinya menjadi buruk."


"Haha, kenapa kau seperti ini? santai saja."


"Ya sudah aku akan pergi dulu."


"Baiklah."


Acara sudah dimulai, tamu undangan lumayan ramai. Semua tamu bertepuk tangan saat nama Renzandi Al Fariq dipanggil naik diatas panggung. Tepuk tangan itu riuh bersamaan dengan suara-suara orang berbicara.


Renza memberikan sambutan dengan sangat berwibawa, Arinka menatapnya dengan kagum dan senyum manis.


"Selamat siang, saya Renzaldi Al Fariq Ceo Fariq Company. Pertama-tama saya ucapkan Terima kasih kepada tamu undangan yang telah hadir dan memberikan sumbangan kepada panti asuhan Kasih. Saya tidak akan berbasa-basi. Acara amal ini telah mengumpulkan dana yang lumayan banyak dari tahun kemarin. Semoga kalian senantiasa diberikan kemurahan rezeki. Terima kasih sekali lagi."


Tepuk tangan riuh saat Renza dibantu oleh Deni menyerahkan sumbangan kepada pemilik panti asuhan Kasih. Jefran menghampiri Arinka dan duduk di kursi didepan Arinka. Arinka masih sibuk bertepuk tangan dan tersenyum bahagia menatap suaminya yang begitu keren itu.


"Lama tidak bertemu?" ucap Jefran mengejutkan Arinka.


"Hmm, Pak Jefran. anda disini juga?"


"Iya, Catering nya dari restauran keluarga kami."


"Iya, tadi aku mendengar dari Renza."


"Kau sangat cantik, aku hampir tak mengenalimu."


"Biasa saja Pak."


"Kau ingin makan, biar aku bawakan kue yang paling enak." ucap Jefrab seraya beranjak dari kursi itu.


Acara penyerahan selesai, saatnya tamu undangan makan-makan. Renza berjalan kearah Arinka, ia melihat Jefran membawakan istrinya kue, hatinya sangat panas. ia berjalan dengan cepat. Deni yang memperhatikan Renza mennggelengkan kepalanya.


Jefran ini, sudah aku bilang jangan mendekatinya.


"Ayo cicipi." ucap Jefran tersenyum.


"Jangan," ucap Renza seraya menarik kursi untuk duduk, matanya menatap tajam kearah jefran.


"Hay, Ren." ucap Jefran. Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Renza.


"Aku akan mengambilkannya jika kau ingin makan ini?"


"Tidak usah, aku bisa mengambil sendiri nanti."


"Aku yang akan mengambilkannya." ucap Deni.


"Bawa pergi makanan itu dari meja ini."


"Kenapa? kau masih bersikap begini padaku? apa kau masih takut jika istrimu akan aku ambil, seperti pacarmu dulu."


Sialan Jefran ini!


"Aku tidak takut sama sekali, kami saling mencintai, iya kan sayang?" ucap Renza seraya menoleh kepada Arinka. Arinka mengangguk pelan.


"Dulu Sinta juga bilang mencintaimu, tapi nyatanya dia bersamaku?"


"Huh! itu masa lalu, ambil saja Sinta dan jangan pernah menggangu Arinka." menatap tajam kearah Jefran.


"Jika ada kesempatan aku kan mengejarnya." ucap Jefran menatap tajam juga kepada Renza lalu berjalan meninggalkan mereka.


"Ingin aku musnahkan orang seperti itu, Sial!"


"Sudah, jangan dipikirkan." mengusap tangan Renza lembut.


"Aku sangat mencintaimu sayang, semoga kau tidak akan meninggalkan aku."


"Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Aku sangat kesal, setelah dari sini bagaimana kalau kita pergi ketaman?"


"Boleh."


"Aku terpikirkan ingin mencetak foto pengantin kita sangat besar, tapi kita tidak punya foto yang bagus saat pengantin. bagaimana jika kita befoto memakai pakaian pengantin lagi? Apa kau mau?"


"Iya, aku mau."


Renza mengecup tangan Arinka dengan lembut kemudian menggenggamnya.


**Bersambung....


Jangan lupa like jika sudah selesai membaca 😂


Vote dan comment aku tunggu 😁


Maaf tidak bisa membalas satu-satu, tapi aku selalu baca semuanya.

__ADS_1


Salam sayang dariku untuk pembaca tersayang 💗


Luv u 😘😘😘**


__ADS_2