
Sesampainya di rumah, Renza masuk menggendong Arinka. Renza memanggil Bi Ami untuk membersihkan kamar tamu di bawah. Mulai hari kehamilan istrinya itu, ia tidak akan membiarkan Arinka naik tangga.
Deni yang sudah sampai dirumah menatap heran, pasalnya ia belum tahu bahwa Arinka hamil. Deni bertanya kepada Bi Ami mengapa mereka pindah kamar.
"Bi, ada apa? kenapa Pak Renza pindah kamar?"
"Nyonya Arinka hamil, Pak."
"Wah, benarkah? kabar yang bagus, Renza pasti sangat senang."
Arinka masih berbaring di sofa. Renza terus mengusap perutnya, ia benar-benar bahagia. Kehamilan yang di tunggu-tunggunya akhirnya datang juga kepada mereka.
"Mulai hari ini, Nyonya Arinka tidak di perbolehkan membuat makanan sendiri, melakukan apapun tugas walau sekecil apapun." titah Renza.
Deni duduk menghampiri Renza dan tersenyum.
"Apa kau bahagia?"
"Sangat bahagia."
"Aku ingin minum," ucap Arinka.
"Dina, tolong bawakan air minum untuk Nyonya Arinka," ucap Renza.
"Baik, Pak."
Dina datang membawakan air minum, setelah minum Arinka kembali mual, ia segera bangkit menuju wastafel. Renza mengikutinya kemudian memijit kecil lehernya.
"Uwek!"
"Kasihan sekali kamu sayang, apakah hamil semenyiksa ini?"
"Ini hanya awal saja."
Setelah selesai berkemas, Bi Ami mengambil susu hamil yang da di atas meja. Bi Ami segera membuatnya. Kemudian Bi Ami memotong buah-buahan.
Arinka berjalan kembali kearah sofa. Renza menggendongnya masuk kekamar. Kemudian membaringkannya di atas ranjang. Bi Ami masuk membawakan susu hamil dan buah-buahan.
"Terima kasih, Bi." ucap Arinka.
"Bibi sangat mengerti," ucap Renza.
"Pipom berangkat saja kerja? Deni sudah menunggu, lagi pula ini sudah siang."
"Tapi, pipom tidak tega membiarkan mimom sendirian."
"Tapi pipom sudah banyak mengambil cuti, nanti Mimom akan menelpon Bi Yati dan Nek Murti."
"Nah, benar. Orang-orang itu paling pengalaman."
"Buruan berangkat, Mimom tidak apa-apa kok."
"Baik lah, sayang." ucap Renza seraya mengecup kening Arinka berkali-kali kemudian mengusap perut ratanya.
"Pipom berangkat, ya? jangan melakukan apapun, jika perlu sesuatu panggil saja orang rumah."
"Iya, sayang."
Renza berangkat ke kantor bersama Deni. Di dalam perjalanan ia menelpon Nenek nya dan tidak lupa juga menelpon Bi Yati.
"Halo, Nek."
"Iya, Ren. ada apa?"
"Nenek bisa ke rumah? Arinka sekarang sedang hamil, aku ingin nenek menemaninya."
"Benarkah, akhirnya nenek sangat senang. iya nanti nenek kesana."
"Dia muntah-muntah terus, kasihan sekali. Apakah hamil sesulit itu?"
"Setiap orang gejala kehamilannya berbeda-beda, ada yang mengalami mual, ada pula yang tidak. Jangan khawatir, nanti jika kandungan nya sudah bertambah besar akan hilang sendiri."
"Nah, nenek lebih tahu. Nenek harus kerumah sekarang."
"Iya."
Sambungan itu terputus, kemudian Renza menelpon Bi Yati dan mengatakan hal yang sama.
"Akhirnya, selamat ya buat kalian." ucap Bi Yati.
"Iya, Bibi kerumah, ya?"
"Iya."
Setelah menelpon Renza terdiam. Ia memikirkan Arinka yang terus saja mual, bagaimana jika terus berlanjut kasihan sekali, batinnya.
"Ternyata hamil itu cukup sulit." ucap Deni.
"Hmm, pantas saja kita harus menyayangi kaum perempuan, terutama ibu dan istri. Perjuangan mereka cukup berat."
"Ya, karena mereka mengorbankan nyawanya untuk melahirkan nantinya."
"Aku ingin mempunyai anak banyak, tapi jika kehamilannya seperti ini, harus di pikir-pikir dulu."
"Tidak apa, kan seperti yang di ucapkan nenek. Kehamilan itu berbeda-beda."
"Bagaimana aku akan konsen bekerja saat istriku seperti itu."
"Pak, anda pasti bisa."
"Benar, aku harus menyelesaikan tugas ku, semakin cepat selesai, semakin cepat juga pulang kerumah."
Pak Renza benar-benar sangat menyayangi istrinya, dia selalu saja mengutamakan istrinya. Padahal dulu mereka sempat tidak bertegur sapa dan saling membenci. Siapa yang tahu perjalanan hidup kedepannya akan seperti apa.
Sesampainya di kantor, Renza segera masuk kedalam ruangannya. Ia segera membuka berkas-berkas di mejanya.
"Deni, Sinta pernah datang kesini? ia ingin meminta keringanan sewa gedung itu, mereka akan membayar 2 bulan sewa dulu."
"Kenapa Pak Renza berubah pikiran?"
"Ini bukan tentang dia mantan atau bukan, aku hanya kasian kepada kedua orang tuanya. Kau buat surat perjanjian, Sinta sudah berjanji tidak akan mendekati keluargaku. jika Sinta melanggar janjinya langsung tendang mereka keluar."
"Baik, Pak."
Setelah membawa berkas yang di perlukan, Deni pergi ke gedung itu. Sesampainya disana Deni segera masuk dan bertemu dengan kedua orang tua Sinta. Kebetulan Sinta juga ada disana. Deni meletakkan berkas itu diatas meja. Kemudian Sinta membacanya.
Sinta menandatangani berkas itu dan kemudian menyerahkannya kepada Deni.
"Ingat, jika kau melanggarnya. Detik itu juga kalian akan ditendang dari gedung ini. Mengerti."
"Iya, baiklah."
Tak berlama-lama disana, Deni segera meninggalkan gedung itu. Deni masuk kedalam mobilnya dan melajukan kendaraannya.
Deni terus saja berbalas chat dengan Mawar. Namun, mereka belum ingin bertemu satu sama lain. Mereka akan membiarkan nya sedikit lebih lama lagi.
Di perjalanan, tanpa sengaja ia bertemu Risa. Risa sedang menaiki sepeda. Deni memelankan mobilnya seraya mengikuti Risa.
"Sepertinya ini daerah rumahnya, lihat saja dia bersepeda menggunakan celana pendek dan sendal jepit."
Deni memperhatikan Risa dari kejauhan. Deni melihat Risa tersenyum menyapa orang-orang yang ia lalui. Tak lama terdengar suara benda jatuh yang cukup keras.
Braaakk!
Deni segera menatap Risa, benar saja Risa terjatuh menabrak batu. Deni menghentikan mobilnya, terlihat kedua lututnya mengeluarkan darah.
"Dasar ceroboh!" ucap Deni.
"Sial sekali sih, Ahh... lututku berdarah."
__ADS_1
Deni ragu-ragu ingin keluar. Jika ia keluar dari mobil, apa yang akan Deni katakan. "Kenapa juga aku peduli."
Deni menyalakan mobilnya, kemudian mematikannya lagi. Terlihat Risa sudah bangkit dan menuntun sepedanya lagi. Risa berjalan sambil terpingkal, kedua lututnya banyak mengeluarkan darah.
"Ahh, masa bodoh! Aku turun saja."
Deni turun dan segera mengambil alih menuntun sepedanya. Risa mengernyitkan keningnya heran.
"Kenapa kau disini?"
"Kau ini selalu ceroboh, ya? lihat saja kedua lututmu itu mengeluarkan banyak darah. Aku menolongmu atas dasar prikemanusiaan. Jadi jangan memikirkan hal yang tidak-tidak."
"Haha, Jangan-jangan kau ini menguntitku ya?"
"Lihat saja, orang seperti mu ini memang tidak mengerti ucapan. Sudah aku bilang aku kebetulan lewat jalan ini, dan melihat kau terjatuh. Karena aku berjiwa sosial tinggi, makanya aku membantumu."
Sial, apa sih yang aku katakan. Benar-benar tidak masuk akal.
"Di mana rumahmu? biar aku antar?"
"ini rumahku." ucap Risa menunjuk gerbang didepan tempatnya terjatuh.
Apa! rumahnya sedekat ini. Ya ampun kalau begitu aku tidak perlu menolongnya. Rumahnya besar. Sepertinya dia orang kaya.
Tiba-tiba terdengar dari dalam gerbang, ibunya Risa memanggil.
"Ris, ada apa? ya ampun kau jatuh?"
"Hehe, menabrak batu, Ma. Sudah aku bilang batu ini harus di hilangkan."
"Ini siapa? temanmu? ayo masuk."
Deni menuntun sepedanya masuk kedalam gerbang, Rumah itu di dominasi warna hijau.
"Ayo masuk," ucap ibunya Risa.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya harus permisi dulu."
"Jangan buru-buru, kau kan sudah mengantarkan Risa pulang, jadi minum dulu sebentar."
"Biarkan saja dia ingin pulang, lagi pula dia orang sibuk."
"Jangan begitu, tidak baik, Risa."
"Ya, baiklah." ucap Deni dengan nada ragu.
Tidak sopan juga menolak orang tua.
Deni melirik sekeliling rumahnya, bola matanya memutar melihat isi rumah itu. Deni melihat foto keluarga yang sangat besar di gantung di ruang tamu. Risa masuk kedalam kamarnya mengobati luka di lututnya tadi.
Wah, ternyata Ayahnya Risa itu seorang tentara. Dan kakaknya juga tentara. Benar-benar hebat. Tapi kenapa Risa seperti ini.
Mira - ibunya Risa datang membawakan minuman, kemudian meletakkannya diatas meja.
"Silahkan minum."
"Terima kasih."
"Risa ini orangnya bandel, dia selalu membantah perkataan mama nya, disuruh jangan bekerja, dia ingin bekerja. Padahal sudah dibuatkan usaha untuknya yaitu tempat kursus membuat kue, malah dia ingin mengikuti kursus juga bukannya mengelolanya."
"Cukup bandel juga kalau gitu." ucap Deni terkekeh.
Kenapa Risa merahasiakannya, dia ini orang yang rendah hati juga. Biasanya wanita selalu ingin menunjukkan harta nya tetapi dia berbanding terbalik.
"Mama, kenapa menjelaskan panjang lebar kepada orang yang baru di kenal, sih? jangan dengarkan mama ku."
"Memang benar kau bandel, punya mobil tapi kau lebih memilih naik ojek, kadang-kadang juga bersepeda."
"Karena aku lebih nyaman dengan semua itu."
Deni menatap Risa dengan tatapan heran, sedangkan Risa mencebikkan bibirnya kepada Deni.
"Iya, ini aku sudah mau pulang."
Ingin rasanya aku mengatainya, untung saja ada oragtuanya.
"Risa, tidak sopan berkata begitu kepada tamu. Apalagi dia kan sudah membantumu tadi."
"Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula saya memang sedang bekerja. Tadi kebetulan lewat tadi. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Baiklah, hati-hati dijalan, ya." ucap Mira.
Deni keluar dari rumah itu melewati gerbangnya. Kemudian ia berjalan menghampiri mobilnya dan melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.
Dia itu ternyata orang yang berkecukupan, kenapa dia ingin bekerja sebagai pelayan di restauran Jefran, kenapa juga dia tidak mengakui kalau tempat kursus membuat kue itu miliknya. Benar-benar wanita aneh.
Di rumah, Bi Yati dan Nek Murti sudah sampai. Bi Yati membuatkan makanan kesukaan Arinka. Karena Arinka belum makan apapun. Arinka merasa mual, apalagi mencium bau ikan.
Arinka meminta Bi Yati untuk membuatkan rujak, Arinka sangat ingin memakan makanan asam. Ia sudah mengecap padahal baru menyebut nama rujak.
Bi Yati dan Bi Ami segera membuatkan rujak, Bi Yati mengulek bumbu rujak, sedangkan Bi Ami mengupas buahnya. Nek Murti menemani Arinka didalam kamarnya.
"Nenek sangat bahagia, akhirnya kalian akan segera mempunyai keturunan."
"Hmm, aku juga sangat bahagia, Nek. Apa orang hamil memang seperti ini ya Nek?"
"Tidak juga, sebagian orang berbeda. Ada yang tidak mengalami mual sama sekali."
"Aku baik-baik saja Nek, hanya saja jika mencium bau masakan terasa mual, tapi Renza bilang tidak boleh melakukan apapun."
"Tidak apa-apa, dia seperti itu karena ia peduli dan sangat menyanyangimu. Nenek sangat bersyukur, Renza bisa mencintai Arin dengan sepenuh hati."
"Aku juga sangat bersyukur, Nek."
Bi Yati membawakan rujak kepada Arinka. Arinka bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke ruang keluarga.
"Aku ingin duduk disana? di ruang keluarga sambil menonton televisi."
"Baiklah, hati-hati ya."
Aku sangat bahagia, ternyata banyak orang yang menyayangiku.
Arinka duduk di depan televisi sambil memakan rujak, tak disangka rujak yang begitu banyak tadi hampir habis di lahap seluruhnya oleh Arinka.
"Wah, baby nya suka makanan asam!" ucap Nek Murti.
"Iya, lihat saja rujak nya sudah hampir habis." tambah Bi Yati.
"Ini benar-benar enak. Aku ingin minuman kesukaanku jus apel. Bisa tolong buatkan Bi Ami?"
"Bisa, Nya. Tapi sebaiknya Nyonya makan nasi juga. Nyonya belum makan nasi, Bi Yati sudah memasak untuk Nyonya."
"Benarkah? Bibi memasak apa?"
"Sayur asam, kesukaanmu."
"Mau, ayo ke meja makan. Kita makan beramai-ramai."
Bi Ami menyiapkan makanan di atas meja, dibantu oleh Bi Yati. Setelah semuanya siap mereka duduk di kursi makan itu. Arinka membubuhi nasi sedikit keatas piringnya lalu menuangkan sayur asam dan mengisi sedikit sambal.
Arinka makan dengan lahap. Tapi tak lama kemudian ia merasa mual.
Uwek!
Arinka bergegas berlari ke wastafel. Alhasil semua makanan yang ia makan dimuntahkan tanpa sisa. Bi Yati memijit leher Arinka dengan pelan.
"Bibi makan saja, maaf sudah membuat kalian geli!"
"Tidak, bibi tidak geli sedikitpun. Bibi pernah merasakannya juga."
__ADS_1
"Sebaiknya Arin istirahat dulu, ayo bibi antar ke kamar?"
"Baiklah."
Sesampainya dikamar, Arinka berbaring diatas kasurnya. ia membuka internet mencari apapun yang berkaitan dengan kehamilan. Tak lama kemudian, Arinka tertidur.
Di kantor, Renza masih fokus dengan pekerjaannya. Di sela-sela pekerjaannya, ia menelpon Neneknya menanyakan kabar Istrinya. Nek murti mengatakan kalau Arinka banyak makan rujak, Arinka benar-benar sangat lahap memakannya.
Renza lega mendengar Arinka sudah tidak muntah lagi, padahal Nek Murti sengaja merahasiakannya agar Renza tidak cemas. Renza ingin cepat-cepat pulang kerumah melihat istrinya itu.
Sementar itu, Deni masih berpikir keras tentang Risa. Entah kenapa ia menjadi memikirkan Risa, padahal Deni sangat membenci Risa, apapun yang mereka ucapkan pasti selalu berakhir dengan adu mulut.
Sore ini, Deni harus ke tempat kursus membuat kue. Deni akan memberitahukan bahwa Arinka belum bisa mengikuti kelas seperti biasanya. Deni ke tempat itu bukan atas keinginannya melainkan perintah dari Renza.
Setelah mengantar Renza pulang lebih awal. Deni pergi melajukan mobilnya kearah gedung kursus itu. Ia turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam. Deni teringat akan sesuatu yang diucapkan ibunya Risa. Gedung kursus ini milik Risa.
Risa menatap Deni dari kejauhan, bibirnya sudah ia monyongkan karena sangat malas bertemu dengan orang yang selalu membuat mood nya hancur.
"Ada apa? Mana Kak Arin?" tanya Risa seraya duduk di kursi di samping Deni.
"Ny. Arinka tidak akan datang beberapa hari ini, karena beliau sedang tidak enak badan."
"Kenapa? kalau begitu aku akan mengunjunginya nanti."
"Ny. Arinka sedang hamil."
"Benarkah? Wah pasti Pak Renza sangat bahagia."
"Sudah pastinya."
Mereka berdua terlihat canggung, seperti kehabisan kata-kata. Biasanya mereka selalu saja adu mulut jika bertemu.
"Lututmu bagaimana?"
"Kenapa juga kau peduli."
"Ishh, siapa juga yang peduli, aku hanya basa-basi!"
"Kalau begitu jangan basa-basi."
"Kau ini aneh ya?"
"Kau yang aneh."
"Kau!"
"Aku tidak ada waktu ya meladenimu?" ucap Risa.
"Kau pikir aku punya banyak waktu."
Mereka duduk sangat dekat, disela-sela adu mulut itu mereka saling menunjuk. Ketika Risa meletakkan tangannya diatas kursi, Deni meletakkan tangannya juga tepat diatas tangan Risa. Sontak mereka berdua terperanjat dan bangkit dari kursi itu.
"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Deni.
"Jika kau sengaja, habis lah kau!"
"Kepedean."
"Siapa yang kepedean?" ucap Risa menaikan nada bicaranya.
"Kau?"
"Kau ini benar-benar menyebalkan."
"Sama, kau juga."
"Ya ampun, lama-lama bersama dengan orang seperti mu membuat tekanan darahku naik."
"Iya, aku juga."
"Kenapa kau tidak pergi saja."
"Aku akan pergi sekarang."
Deni berjalan meninggalkan Risa. Tidak disangka diluar hujan dengan derasnya. Mobil yang ia gunakan terparkir jauh dari gedung itu.
Sebenarnya aku sangat malas menemuinya lagi, tapi aku harus meminjam payung.
Deni berjalan kearah tempat ia dan Risa adu mulut. Tapi Risa sudah tidak ada disana. Deni duduk di kursi itu lagi seraya menunggu Risa keluar. Selang beberapa menit, Risa muncul lagi di hadapannya.
"Kau, bukannya kau bilang sudah pergi?"
"Di luar hujan, aku ingin meminjam payung."
"Kau tidak malu meminjam barang dari ku yang menyebalkan ini?"
"Aku terpaksa, aku tidak ingin membasahi pakaianku."
"Baiklah, akan aku pinjamkan. Tapi ada syaratnya."
"Pinjam payung pun ada syaratya, gila!"
"Mau apa tidak?"
"Aku akan mendengarkan dulu."
"Ini memang terdengar gila, tapi bisakah kau menjadi kekasihku satu malam saja, mantan pacarku mengundangku keacara pesta ulang tahun. Aku tidak ingin terlihat menyedihkan jika datang sendiri."
"Apa? tidak aku tidak mau. Ide gila dari mana itu?"
"Kalau begitu, pulang saja aku tidak akan meminjamkan kau payung."
"Kenapa kau harus berbohong, datang saja sendiri?"
"Waktu aku memutuskannya, aku bilang aku akan mendapatkan lelaki yang lebih baik dari dirinya, yang tidak berselingkuh dan memainkan perasaan wanita."
"Tapi, kenapa harus aku?"
"Ya, karena kau partner bertengkarku, habis acara kau boleh memakiku sepuasnya."
"Benar-benar sudah tidak waras."
"Mau apa tidak?"
"Akan aku pikirkan dulu."
Sejenak mereka terdiam, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka berdua.
"Mana payungnya?"
"Berarti kau setuju 'kan?"
"Hanya malam itu saja 'kan?"
Kenapa aku menyetujuinya, aku juga benar-benar sudah gila.
Risa memberikan payung kepada Deni, kemudian Deni pergi meninggalkan Risa.
***Bersambung...
Jangan lupa like ya jika sudah selesai membaca 😊
Jangan lupa juga Vote sebanyak-banyaknya. biar Author semakin semangat..
Komentar kalian aku tunggu 😂
Salam sayang dari ku untuk pembaca semua 💋
Luv u all 😘***
__ADS_1