
Sesampainya di rumah, Renza segera mandi. Ia benar-benar manusia yang tidak bisa berlama-lama memakai pakaian yang sama. Tuan yg bersih dan sempurna dari penampilannya.
Arinka tertawa melihat suaminya yang buru-buru naik tangga. Arinka menapaki tangga itu dengan pelan. Sesekali, ia berhenti dan tertawa teringat Deni yang begitu konyol.
Arinka membuka gagang pintu. Di dalam kamar itu kosong. Renza sedang mandi. Cuaca di luar sedang hujan, belum juga berhenti. Arinka membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Telentang dengan tangan bergerak gerak seperti sedang berada di salju.
Renza tertawa di dalam kamar mandi, mengingat sifat Deni yang begitu berbeda dari biasanya. Entah keberanian dari mana yang ia dapat, hingga tanpa malu-malu menyatakan cinta dan ingin melamar Risa secepat itu.
Sambil memasang handuk, Renza tersenyum geli. Renza membuka pintu kamar mandi dan berjalan di keluar. Ia melihat Arinka sedang berbaring terlentang. Pikiran nakalnya menyelimuti otaknya.
Tiba-tiba, Renza langsung menaiki ranjang itu dan membuat Arinka terkejut. Renza tertawa lucu melihat ekspresi Arinka seperti itu.
"Mengejutkan saja, ish ...," ucap Arinka.
"Kenapa terkejut? Apa yang dipikirkan?" Renza tertawa.
"Tidak ada, Mimom mandi dulu, ya?"
"Baiklah, kiss dulu dong."
Cup ...
Arinka mengecup pipi Renza dan kemudian berlari memasuki kamar mandi. Arinka tahu, bahwa Renza ingin seseuatu yang lain. Maka dari itu, ia berlari sebelum tertangkap.
Beberapa menit kemudian, Arinka sudah keluar kamar mandi. Ia menggunakan kimono dan langsung menuju cermin hias untuk mengeringkan rambutnya. Bola matanya memutar liar mencari seseorang. Yah, Renza.
Renza keluar kamar dan pergi ke ruangan baca. Ia mencari buku untuk bahan bacaan. Setelah mengambil buku, ia kembali lagi ke dalam kamar.
Arinka menoleh saat Renza masuk. Senyumnya sumringah. Renza tersenyum tapi kemudian beralih duduk di sofa dan membuka buku yang ia ambil untuk di baca. Arinka mengermyit. Biasanya Renza segera memeluk Arinka saat Arinka selesai mandi seperti itu.
"Pip, baca buku apa?" tanya Arinka sembari berjalan mendekatinya.
"Asal ambil saja, sih. Daripada bosan. Di luar juga masih hujan."
Arinka mendekat dan duduk persis di sebelah Renza. Namun, Renza hanya tersenyum dan melanjutkan membaca. Padahal, Arinka mempunyai tujuan lain. Ia ingin menggoda suaminya itu. Tapi, sekali lagi Renza acuh.
Arinka memegang tangan tangan Renza dan bergelayut manja di sana. Renza lagi-lagi hanya tersenyum melihat tingkah Arinka. Renza bukannya tidak peka apa yang di maksud, tapi ia sengaja.
Arinka membelai pipi Renza dan mencolek hidungnya. Renza hanya menoleh dan mengedipkan mata saja. Kemudian, Arinka memeluk tubuh Renza. Dengan santai Renza acuh tak bergeming oleh pelukan Arinka.
Arinka mencebikkan bibirnya. Apa yang diinginkannya tidak terwujud. Ia bangkit dari sofa itu dan beranjak ke berjalan di atas sofa. Wajahnya sangat kesal. Ia duduk di ranjang dan menyalakan televisi.
Renza tersenyum, ia tahu benar bahwa Arinka menggodanya. Sekilas, Renza melirik dengan ekor matanya. Wanita itu benar-benar cemberut. Renza bangkit dan melepaskan buku yang di pegangnya di atas meja. Kemudian, ia berjalan dan menghampiri Arinka.
"Buatkan kopi," ucap Renza.
"Hmm ...," jawab Arinka.
Renza dengan susah paya menahan tawanya melihat istri kesayangannya itu ngambek karena sesuatu hal yang tidak biasa. Tidak biasanya Arinka menggoda dirinya duluan. Renza benar-benar sengaja memainkan wanita lugu ini.
Arinka beringsut turun dari ranjang tanpa tersenyum. Arinka benar-benar berpikir kalau Renza itu tidak peka dengan apa yang diinginkannya. Ia berdiri dan berjalan melewati Renza. Lalu, Renza menarik tangannya pelan. Arinka menoleh tapi tetap cemberut.
Arinka keluar dari kamar dan menuju dapur. Bi Ami bertanya kepada Arinka apa yang diinginkannya. Arinka hanya tersenyum dan tidak menjawab. Bi Ami dengan segera membuatkan kopi.
"Untuk Tuan, 'kan? Biar Bibi yang bawa."
"Heum, baiklah. Ayo antar ke atas," ucap Arinka.
Bi Ami berjalan menaiki tangga. Ia mengetok pintu kamar. Renza mengernyit, kenapa Arinka mengetuk? pasti orang lain pikirnya. Renza berteriak mempersilakan masuk. Benar saja, Bi Ami yang membawakan kopi.
"Kemana Nyonya?" tanya Renza.
"Ny. Arin di bawah, Tuan."
"Ya sudah, terima kasih," ucap Renza tersenyum.
Arinka masih berdiri di dapur. Ia melihat buah dalam kulkas yang menggoda segar. Ia segera mengambil pisau untuk memotongnya. Arinka memotong apel, pear dan melon. Setelah selesai memotong, Arinka membawa buah itu naik ke atas kamarnya.
Arinka menaiki tangga dan membuka pintu balkon. Ia duduk di sana sambil meletakkan piring buah yang ia bawa dari dapur. Arinka duduk sembari memandangi rintik hujan.
Tak lama kemudian, Renza keluar dari kamar dan melihat Arinka sedang duduk di balkon sendiri sambil memegang piring di tangannya. Renza mendekati Arinka pelan dan berdeham, "Ahem ...."
Arinka menoleh sekilas, kemudian ia acuh seperti yang Renza lakukan tadi. Ia hanya sibuk memasukkan buah kedalam mulutnya. Renza duduk di sebelahnya dan tersenyum manis. Namun, Arinka malah melirik sinis.
"Ada apa?" tanya Renza tersenyum. Namun, Arinka acuh tak menggubris ucapan Renza. Ia hanya sibuk makan buah dengan lahap. Renza segera merangkulnya tapi Arinka melepaskannya.
Renza mengulum bibirnya, ia benar-benar sangat gemas dengan tingkah istrinya itu.
"Sudah makan buahnya?" ucap Renza. Namun, Arinka hanya mengendikkan bahu. Renza mencolek pipinya, Arinka malah melirik sinis dan memancungkan bibirnya.
Renza benar-benar gemas melihat tingkah istrinya itu. Di ambilnya piring yang masih Arinka pegang di tangannya itu dan meletakkannya di meja.
"Kenapa? Aku mau makan," ucap Arinka ketus. Renza tak menghiraukan, ia segera mengangkat Renza masuk ke dalam kamar. Arinka meronta dan menepuk pundak Renza. Renza hanya tertawa lucu.
"Turunkan aku!"
"Tidak!"
"Bikin kesal saja. Huh!"
"Kesal kenapa? Coba jelaskan?" tanya Renza senyum menggoda.
Renza membawa Arinka ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang. Kemudian Renza segera naik di atas tubuh Arinka dan memandangnya lekat.
"Pipom sangat peka, kok."
"Peka kenapa?" tanya Arinka masih dengan nada ketus. Lalu, Renza membenamkan wajahnya ke leher Arinka dan mengecup halus leher wanita itu.
"Pipom tahu, Mimom pasti menggoda tadi 'kan?"
"Tidak sama sekali."
"Yakin?" Arinka membuang wajahnya. Renza memegang kedua pipi Arinka, memaksa Arinka menatap kepadanya.
Dengan sedikit kasar, Renza mengulum lembut bibir ranum itu. Kemudian, tangannya membelai rambut legam dan tangan lainnya memegang pipi Arinka.
Seketika, wanita yang tadinya ketus itu langsung luluh dengan perlakuan suaminya. Urusan ranjang, Renza memang jagonya membuat Arinka terbaring lemah dan pasrah.
Tak butuh waktu lama, kamar itu mendadak hening. Cuaca dingin di luar rumah itu tidak terasa sama sekali di kamar ini. Yang ada hanya peluh bercucuran dan rintihan manja nan menggoda yang terdengar samar-samar.
***
Deni sudah pulang ke rumahnya. Ema sangat khawatir semalam karena Deni tidak pulang ke rumah. Tapi Deni sudah memberi tahu lewat pesan singkat. Oleh karena itu, Ema sedikit lega.
Ema masuk ke kamar Deni, ia ingin menanyakan apa yang terjadi semalam. Deni sedang membuka baju, kemudian Ema ternganga. Kulit Deni memerah lagi. Ema sudah menebak pasti karena alergi terkena air hujan.
"Kau kehujanan?" Tany Ema.
"Iya, Bu."
"Apa sudah minum obat?"
"Sudah, kok."
"Lain kali berhati-hati, kau itu tidak boleh terkena hujan. Entah kenapa ada alergi seperti itu."
"Aku sudah terbiasa, kok, Bu. Sekarang tidak seseram dulu gejalanya. Karena aku sudah tidak panik lagi."
"Ya sudah. Pokoknya hati-hati saja."
"Oh ya, Bu. Aku mau mengenalkan temanku kepada Ibu nanti."
"Siapa?"
"Risa. Namanya Risa, Bu."
__ADS_1
"Owh, kenapa tiba-tiba? Padahal kemarin-kemarin kamu menutupinya dari Ibu."
"Aku mau serius, Bu. Aku benar-benar suka kepadanya."
"Astaga! Sekalinya pacaran langsung mau dinikahin." Ema menepuk keningnya pelan.
"Iya, aku ingin dia hanya milikku. Pertama dan terakhir."
"Iya, Ibu ikut saja apa maumu. Lagi pula kau memang sudah waktunya menikah, makanya ibu tidak akan melarang. Asal dia baik padamu, baik pada Ibu, cukup."
"Terima kasih, Bu." Renza memeluk Ibunya dengan sangat lembut.
"Iya. Berbahagialah nanti, Nak."
"Pasti, Bu. Jika ibu sudah mendoakan, pasti semuanya akan bahagia."
Ema keluar dari kamar dan menyiapkan apa yang bisa ia buat untuk tamunya kini. Ema pergi berbelanja ke mini market yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Sesudah mandi, Deni berbaring di ranjangnya. Ia memainkan ponselnya dan menelepon Risa. Risa menjawab dengan cepat panggilan itu. Kentara sekali bahwa Risa sedang menunggu kabar darinya.
"Sedang apa?" tanya Deni.
"Baring-baring aja, sih. Aku sedang menunggu kabar darimu?"
"Sama, aku juga menunggu kabar dari mu."
"Baru saja pergi, kenapa aku sudah rindu lagi," ucap Risa terkekeh.
"Aku juga sudah rindu. Aku sudah bilang nanti pada Ibu akan mengenalkan kamu pada beliau."
"Aku sangat gugup. Aku harus bersikap bagaimana nantinya?"
"Bersikaplah seperti kamu biasanya. Berikan senyum yang paling manis untuk Ibuku. Supaya kau lolos seleksi jadi menantu."
"Astaga! Aku masih mending hanya kenalan kepada Ibumu. Nanti kau akan berkenalan dengan Papaku."
"Aku tidak takut, aku hanya perlu sopan dan menjawab dengan tegas. Aku sudah biasa jika berbicara dengan orang-orang tegas seperti Ayahmu."
"Papaku orangnya baik, walaupun beliau seorang tentara, ia baik sama siapa saja."
"Benarkah? Berarti mudah, dong, menaklukan hati Papamu."
"Iya, tapi tak tahu juga, sih. Siapa tahu nanti kamu dikasih tantangan." Risa tertawa.
"Aku akan berusaha."
"Harus, dong. By the way, nanti jemput jam berapa?"
"Jam 2 aja ya, nanti kita bisa jalan-jalan dulu ke danau."
"Heum, aku suka. Baiklah, aku akan bersiap nanti."
"Mau mempercantik diri, 'kan?"
"Iya dong, harus." Risa tertawa.
"Ya sudah, sampai nanti. Aku mau tidur dulu sekarang."
"Oke, bye ... bye ...."
"Bye, sayang."
"Sayang?" tanya Risa sangat senang.
"Hmm, kamu kesayanganku," ucap Deni malu-malu.
"Uwuu, aku bahagia sekali."
"Aku juga bahagia. Semoga kita selalu bahagia selamanya."
"Amin."
"Iya."
Sambungan itu terputus. Deni meletakkan ponselnya di atas nakas. Jam menunjukkan pukul 10. Deni memasang Alarm ponselnya biar nantinya tidak terlambat.
***
Selesai aktivitasnya, Renza dan Arinka turun ke bawah. Mereka menuju ruang keluarga. Hari ini, kegiatan mereka adalah quality time.
"Hari ini kita mengunjungi Nenek, yuk," ajak Arinka.
"Boleh, sudah lama aku tidak ke rumah besar."
"Kalau begitu, ayo siap-siap."
"Tidak perlu siap-siap. Ayo berangkat sekarang," Ajak Renza.
"Aku mau mengambil tas dulu," ucap Arinka.
"Iya, ambil juga dompet Pipom di atas nakas."
"Iya."
Arinka menaiki tangga dan masuk ke kamar. Ia mengambil tas dan memasukkan dompetnya. Ia juga memoles wajahnya dengan bedak dan sedikit lipstik. Tak lupa juga, ia mengambil dompet Renza.
Arinka selama ini belum pernah membuka dompet Renza. Ia memberanikan diri membuka dompet Renza dan tercengang.
Wah! Kartunya sebanyak ini. Uang tunainya juga banyak. Aku tak menyangka suamiku setajir ini ... gumamnya sambil tertawa.
Arinka berjalan menuruni tangga dan tersenyum manis melihat suaminya itu yang menoleh. Arinka menghampiri dan tersenyum sembari memberikan dompet.
"Kenapa senyum terus? Masih ingat permainan seru tadi?" bisik Renza.
"Ichh, mesum!" ejek Arinka.
"Tapi suka, 'kan?"
"Sudah-sudah, ayo pergi."
"Ciyee ... yang malu-malu mau."
"Hentikan," ucap Arinka tersipu malu.
"Shy-shy cat. Ciyeee ...."
"Aku marah, ya. Malas ah, aku di sini saja." Arinka ngambek.
"Cup ... cup ... Jangan ngambek kesayanganku. Sini pipom cium hidungnya."
"Tidak, aku sudah marah, ya."
Renza mendekat dan segera menggendong Arinka ala bridal. Renza membawa Arinka masuk ke dalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman untuknya. Lalu Renza mengecup kening Arinka lembut.
"Jangan ngambek lagi. Pipom hanya bercanda, kok. Senyum dong."
"Hemm, iya. Mimom maafkan."
"Nah gitu, dong. Ini baru namanya Istri kesayanganku."
"Iya, ya sudah. Ayo berangkat."
Renza berjalan memutar. Ia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan rendah.
"Kita beli apa?" tanya Arinka.
__ADS_1
"Beli apa saja. Nenek tidak akan menuntut."
"Bukan masalah gitu. Aku yang mau membelikan Nenek sesuatu yang enak."
"Kita mampir ke bakery nanti."
"Baiklah. Nanti kita singgah."
"Ok. Mimom dari tadi lucu jika ingat Deni."
"Iya, Pipom juga gitu. Astaga! Deni benar-benar sangat berbeda dari biasanya. Mungkin karena the power of love."
"Iya, karena cinta sudah menguasainya. Makanya ia berani seperti itu. Aku hanya lucu saja, Deni tidak malu-malu menjawab ingin menikahi Risa secepatnya. Padahal itu hari pertama mereka jadian."
"Iya, mereka berdua benar-benar konyol. Bukan hanya Deni, tapi Risa ikut-ikutan anehnya seperti Deni."
"Risa itu pernah di kecewakan, makanya kalau ada yang serius, dia pasti membuka hatinya dengan lapang."
"Iya, sih. Padahal mereka seperti kita, awalnya saling benci, tapi lama-lama mereka jadi saling mencintai."
"Pasangan konyol. Tapi aku suka. Mereka menggemaskan."
"Haha ... masih menggemaskan istriku kemana-mana."
"Gombal." Arinka tersenyum sambil menjulurkan lidahnya.
"Awas saja, kerjaannya mengejek terus ya, istriku ini."
"Biarin." Arinka tertawa.
Renza berhenti di sebuah bakery. Renza turun dan membuka pintu untuk istrinya. Mereka berjalan masuk ke dalam bakery itu.
Arinka melihat semua kue yang akan ia beli. Ia meminta pendapat Renza untuk membeli kue apa yang disukai nenek Murti.
"Ini saja, ya. Bolu gulung," tanya Arinka.
"Iya, Nenek suka bolu gulung. Yang lainnya takut tidak sehat untuk kesehatan Nenek.
"Baiklah, kita beli ini saja."
"Aku mau cupcake ini juga," ucap Renza.
"Iya, ini enak. Mau beli berapa?"
"Beli 10."
Setelah membeli kue itu, mereka segera pergi. Tak butuh lama, mereka sudah sampai di gerbang rumah nenek Murti. Satpam itu segera membuka gerbang dan tersenyum.
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya."
"Siang, Pak."
Pintu gerbang terbuka, kemudian Renza melajukan mobilnya. Renza dan Arinka segera turun. Tak lupa, Renza membawa belanjaan kue tadi dan menentengnya.
Renza dan Arinka berjalan masuk ke dalam rumah yang di dominasi warna putih itu. Beberapa asisten rumah tangga menundukkan kepalanya kepada Renza dan Arinka.
Pelayan senior di sana bernama Sari, segera menghampiri Renza.
"Wah, sudah lama sekali Tuan muda terakhir kali ke sini."
"Aku benar-benar sibuk. Nenek di mana?" tanya Renza.
"Nyonya besar di taman belakang. Sedang ada tamu."
"Siapa?"
"Anaknya Dahlan. Tuan."
"Mau apa?"
"Maaf, saya kurang tahu."
"Ya sudah. Terima kasih infonya."
Renza menggenggam tangan Arinka dan berjalan menuju taman belakang. Rumah ini sangat besar, jadi jika tidak mengetahui seluk beluknya, mereka akan tersesat.
"Nenek!" sapa Renza.
"Wah, siapa ini yang datang? Cucu kesayanganku."
"Halo, Nek," sapa Arinka.
"Halo cucu menantuku. Nenek baru saja akan berkunjung, jika kalian tidak mengunjungi Nenek dalam waktu dekat."
"Aku terlalu sibuk, Nek. Urusan pekerjaan menumpuk," ucap Renza seraya duduk.
"Iya, Nenek maklum. Oh ya, ini Renata anaknya Dahlan," kata Nek Murti memperkenalkan.
"Anak Dahlan?"
"Iya, anak Dahlan. Dia kesini mau minta keringan hukuman ayahnya."
"Haha, tidak bisa. Dia sudah banyak korupsi di perusahaan."
"Tapi dia Ayahku," ucap Renata.
"Tapi dia keterlaluan," ucap Renza datar.
"Tolong, biarkan aku memohon. Aku janji nanti Ayah tidak akan mengulanginya lagi."
"Maaf, ya, bukannya aku ikut campur. Tapi Ayahmu harus diproses dulu secara hukum," sahut Arinka sambil meletakkan kue bawaan mereka.
"Iya memang benar. Tapi bagaimanapun beliau itu Ayahku. Aku ingin hukumannya jangan di perberat."
"Lihat putusan pengadilan saja nanti," ucap Renza acuh.
Sari datang membawakan minuman. Arinka memerintahkan Sari untuk mengambil piring dan pisau untuk memotong bolu gulungnya.
"Kalian bawa kue juga?" tanya Nek Murti.
"Hmm, Renza bilang ini kue kesukaan Nenek."
"Cucuku memang paling tahu."
"Tapi makannya jangan banyak, ya! Ini hanya sekedar saja!" titah Renza.
"Iya, lagipula kesehatan Nenek baik-baik saja."
Sari kembali membawakan piring dan pisau. Arinka ingin mengambilnya, tapi Sari tidak mengizinkan Arinka menyentuhnya. Ia tidak ingin nantinya tangan istri Tuan Muda menjadi kotor.
"Biar saya saja, Nyonya Muda."
Arinka hanya terdiam dan duduk di samping Renza sembari meminum jus buah buatan Sari.
"Silahkan diminum?" ucap Arinka kepada Renata.
"Terima kasih, anda sangat baik Nyonya."
Renza menoleh dan tersenyum menatap Arinka. Yah, wanita itu selalu saja baik kepada siapapun tanpa pernah melihat keburukan orang lain.
*Bersambung...
Jangan lupa like dan vote ya. 😂
Yang belum masuk grup chat bisa gabung, bebas bertanya apa saja pada Author.
__ADS_1
Jangan lupa juga jaga kesehatan 🤗
Salam sayang dariku buat Readers semua. I love u 💋😘*