
Bekerja adalah sesuatu yang disukai Arinka, bukan karena suka sebagai sesuatu yang menarik melainkan dari sejak kecil Arinka memang sudah terbiasa hidup susah. ia bekerja tanpa mengenal lelah, apalagi sejak usia 14 tahun Ayahnya sudah meninggal. Arinka bukan type anak yang tidak tau diri, ia diam-diam membantu ibunya menambah penghasilan. Setelah pulang sekolah ia menjadi buruh cuci dan buruh setrikaan. Pekerjaan itu sudah sejak lama ia lakukan demi memenuhi hidupnya selain makan ia juga harus memenuhi kebutuhan pribadinya, seperti kebutuhan sekolahnya. Ibunya yang hanya Penjual kue keliling kadang tidak mampu untuk membayar uang sekolahnya, tapi Mereka berdua bersikeras bahwa Arinka harus tamat Sma demi masa depannya.
Arinka sebenarnya orang yang pintar, di kelas ia selalu mendapat juara. Pernah sekali ia ditawari Kuliah tetapi ia menolaknya, karena waktu itu Arinka tau Ibunya sakit-sakitan, ia tidak ingin meninggalkan Ibunya sendiri dikampung jika ia berkuliah. Ibunya sangat berharap Arinka bisa berkuliah dan menjadi orang yang sukses kedepannya.
Setiap pulang sekolah Arinka selalu mampir mengambil cucian kotor, begitulah rutinitasnya setiap hari. Malamnya ia menyetrika pakaian setelahnya ia belajar. Tidak ada waktu baginya untuk bermalas-malasan saat usianya remaja, bahkan untuk berkumpul dengan teman-temannya hampir tidak pernah kecuali pekerjaan kelompok yang memang sangat penting. Pernah terlintas dibenaknya perasaan iri, ingin pergi jalan-jalan bersama teman-temannya dan merasakan masa-masa keemasan saat sma.
Jangankan jalan-jalan dan hang out bareng teman, untuk membayar angkot kesekolah saja ia tidak bisa, ia lebih memilih berjalan kaki supaya bisa menghemat uang jajan dan selebihnya bisa ia tabung. jika tidak terlalu lapar ia tidak akan jajan dikantin melainkan membaca buku diperpustakaan.
Masa sekolahnya Arinka anak yang periang, mudah bergaul dan ramah, sempat menjadi salah satu gadis populer di sma nya karena dia memang cantik dan tinggi, hanya saja penampilannya kampungan. karena untuk Fashionable itu membutuhkan banyak uang, lebih baik uangnya disimpan untuk keperluan mendesak suatu saat nanti pikirnya. banyak Lelaki yang mengejar-ngejarnya tetapi ia acuhkan, bukan karena sombong atau sok jual mahal tetapi ia sadar diri jika ia lebih banyak bermain, siapa yang akan mencari uang. Arinka juga kasihan jika ia mempunyai pacar, ia tidak akan mempunyai banyak waktu untuk pacarnya itu, daripada menyakiti dan melukai perasaan masing-masih lebih baik menjauh pikirnya.
Setelah kepergian Ibunya kepangkuan Ilahi, Arinka hidup seorang diri. Ia sangat terpukul dengan kedaannya itu. Sebelum Ibunya meninggal, Ibunya berpesan jika seandainya Beliau meninggal Arinka harus pergi kekota, hidup bersama dengan Bi Yati dan Paman Ali. dan semua perjalanan panjang Arinka dimulai setelah bertemu Nek Murti. tidak pernah terbayangkan oleh Arinka akan menikah dengan orang kaya, sungguh diluar nalarnya bahkan bermimpi pun dia tidak pernah. Pernikahan yang diidamkan buyar setelah tau dijodohkan. bukan hal yang mudah bagi Arinka untuk menerimanya tapi karena ia orang yang tau balas budi makanya ia menerima dengan ikhlas. sungguh perjuangan yang berat saat dia tau suaminya tidak membuka hati untuknya, lama kelamaan Arinka juga sadar dan menutup diri agar tidak terluka lebih jauh.
****
Pagi hari seperti biasa, rutinitas setiap hari selalu berulang. hari ini entah ada angin apa yang menerpa Renza. ia ingin mengantar Arinka pergi kerja. Arinka sudah menolak tetapi Deni keukeh menyuruh Arinka naik dimobilnya.
"Tapi masih terlalu pagi, Aku masuk kerja pukul 9 sedangkan sekarang pukul 8."
"Tidak apa-apa Nyonya, kita bisa pergi berbelanja sebentar. Iya kan ,Tuan?" ucap Deni.
"Hemm." Seperti biasa jawaban singkat padat dan berisi. mungkin bahasa orang kaya memang begitu.
"Tapi Aku belum bersiap? "
"Memang apa yang kau persiapkan, Cih! setiap hari tampilanmu seperti ini." celetuk Renza sambil menyeringai.
"Ya sudah sebentar aku keatas dulu."
Entah angin apa yang menghampirinya pagi ini, tiba-tiba ingin berangkat kerja bersama, bikin takut aja. ih aku merinding.
Selang berapa menit Arinka turun kembali dengan membawa tas selempang. menuruni tangga dengan tergesa-gesa kalau-kalau ia kelamaan Renza akan mengamuk. Renza duduk diteras Rumah dengan menyilangkan kaki kirinya keatas, setelan jas hitamnya sangat pas ditambah sepatu hitam yang mengkilap, saking mengkilapnya bisa dibuat untuk berkaca. Deni sudah dimobil menunggu sambil menggeser ponselnya, entah apa yang dilihatnya sekilas ia terlihat tertawa.
"Sudah, Ayo pergi." ucap Arinka.
Dia ngapain sih, keatas hanya untuk mengambil tas, aku pikir mengganti pakaian atau apa, haha konyol sekali penampilannya ini.
__ADS_1
Mereka berdua telah duduk dikursi belakang, Arinka memperhatikan penampilan Renza yang sangat stylist itu.
Kenapa dia sangat berwibawa sih memakai jas seperti ini.
"Kau kenapa? Aku lihat kau melirikku dari tadi."
"Aa-aku melirikmu," Gugup "Tidak kok." mengalihkan pandangan. dibenaknya dia mengagumi sosok Renza terkecuali dari sifatnya.
"Kau tidak menyangka ya bisa menikah dengan lelaki setampan aku yang kaya dan modis, aku juga tidak menyangka bisa menikahi wanita kampung yang jauh dari kriteriaku." tertawa percaya diri.
Pede sekali orang ini, yayaya kau memang tampan dengan pesonamu itu, tetapi kata-kata kau menggelikan tau! makin kesini kok dia makin banyak bicara ya tidak seperti dulu, tatapannya juga sudah berbeda. Ah bodo lah!
Selama perjalanan mereka hening, setelah berbicara tadi Renza tak berbicara lagi, Deni hanya memperhatikan lewat kaca depan dengan senyam-senyumnya. Renza sibuk dengan ponselnya melihat berita karen pagi tadi tidak sempat membaca koran.
"Aku mau tanya," celetuk Arinka sambil menghadap kearah Renza. Renza mendongak tapi tak menjawab.
"Ah tidak jadi." jawabnya lagi.
Aku mau tanya apakah ponsel yang aku miliki ini memang benar-benar mahal, Ah biarkan jangan ditanya.
Apa-apaan mau bertanya tidak jadi, bikin penasaran saja.
Mobil mereka telah berhenti disebuah tempat perbelanjaan, sangat sepi karena masih pagi dan baru buka.
haha, dia ingin belanja-belanja sepagi ini. dasar orang kaya.
Mereka turun, dengan cepat Deni membukakan pintu untuk Atasannya itu. Arinka turun sambil kebingungan menerka-nerka apa yang akan dibeli oleh orang kaya ini pikirnya. Mereka berjalan masuk ketoko kosmetik, Arinka mengekor dari belakang, ia terlihat asing dengan tempat mahal seperti ini.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pemilik toko.
"Pilih beberapa kosmetik, aku liat wajahmu banyak kerutan, haha kau mau jadi tua sebelum waktunya?" ucap Renza tertawa.
Huh! jadi dia malu melihat wajahku yang seperti ini. seenaknya saja berkata seperti itu. aku bisa beli kosmetik sendiri.
"Kenapa repot mencemaskan wajah tua ku, Tuan? lebih baik Tuan Kekantor saja?"
__ADS_1
"Kau ini, tinggal beli saja apa susahnya? sudah pilih saja, cepat!"
"Aku tidak mau! justru tinggal beli saja aku sangat tidak ingin, aku bukan orang yang bisa menghabiskan uang orang lain tanpa tau malu!"
"Hah!" mendengus kesal kemudian memanggil pemilik toko dan menyuruh mereka mengemas apa saja yang cocok untuk kulit Arinka, Renza tidak perduli dengan Arinka yang tak ingin menerimanya.
Arinka keluar dari toko kosmetik itu dengan perasaan kesal, dilihatnya counter Hp didepan toko kosmetik itu lalu bergegas berjalan masuk, Arinka ingin menanyakan harga ponselnya itu, ia akan pura-pura menjualnya. setelah medengar jawaban penjualnya Arinka terlihat bengong, kemudian ia keluar dari counter itu dengan langkah pelan. Deni yang memperhatikan terlihat senyum-senyum melihatnya.
Astaga semahal itukah, pantas saja Risa berkata begitu.
"Hey" teriak Renza memanggil Arinka.
Kenapa lagi sih orang ini.
Arinka beranjak menghampiri Renza, kemudian Renza masuk kedalam Butik pakaian. terlihat Deni keluar dari toko kosmetik membawa beberapa paperbag. lagi-lagi pelayan butik itu bertanya apa yang bisa dibantu. Arinka hanya diam tak mengindahkan pertanyaannya.
Renza duduk dikursi sambil melihat Arinka yang terlihat bodoh dan mematung, pelayan itu sibuk menawarkan model pakaian kekinian tetapi Arinka hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Ambil semua pakaian yang sedang tren? dan baris ini juga?" Ucap Renza santai sambil menunjuk sebaris pakaian wanita yang modis.
Wah, seperti didrama saja, membeli pakaian segitu banyak tanpa memilih, dia belanja pakaian sebanyak itu untuk apa?
Deni sedang berdiri di depan kasir mengurus pembayaran, lumayan lama, Arinka terlihat melamun, ia masih tidak percaya dengan harga ponselnya tadi.
mungkin aku harus mengumpulkan uang setahun tanpa belanja kebutuhan lain baru bisa membeli ponsel itu.
"Kartu Atm mu kenapa tidak pernah kau gunakan?" Tanya Renza membuat Arinka terperanjat pasalnya ia sedang melamun.
"Kenapa juga aku harus menggunakan uang orang lain" jawab Arinka cuek.
Renza hanya menghela napas mendengar perkataan Arinka, memang benar ia yang berbicara begitu dahulu, menganggap Arinka hanya ingin uangnya, tetapi sekarang malah semua anggapan itu salah. ia merasa sangat bersalah dan ingin memperbaiki semua pelan-pelan, tetapi hati Arinka sudah membatu, ia seakan menutup mata dari prilaku berbeda Renza sekarang ini.
**Bersambung..
jangan lupa vote dan comment ya 😍
__ADS_1
luv u 😘**