Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 36 : Perkenalan ulang


__ADS_3

Ke mana-mana selalu diantar ojek online atau naik taksi membuat Arinka belum terlalu mengenal daerah tempat tinggalnya itu, hanya beberapa tempat saja yang ia tau, itu juga tempat yang biasa ia kunjungi.


Setelah cukup lama berdiam diri di rumah, Arinka memutuskan untuk berjalan-jalan melihat matahari sore. Sekaligus, mencoba menghibur diri sendiri dengan mendengar kebisingan jalan ibukota. ia sangat ingin pergi ke pantai melihat sunset dengan sempurna, tapi pantai terlalu jauh. jadi, ia memutuskan untuk berjalan-jalan ditaman. suasana pepohonan yang rindang dan teduh, udara segar membuat Arinka betah berlama-lama disana, ia melihat ada bangku yang kosong, secepatnya ia berjalan menuju bangku itu dan segera duduk.


"Ahhh, segarnya... ternyata semenenangkan ini berdiam dibawah pohon rindang," gumamnya sambil memandang langit yang sudah mulai berubah warna. matanya melirik muda-mudi yang sedang asyik berselfie, ada juga yang asyik berlari sore sambil memakai earphone ditelinganya.


Arinka mengambil ponsel dari tas nya, ia melihat novel 'Benci jadi Cinta' didalam tas nya. ia memasukkannya tadi saat hendak pergi berjalan-jalan, mungkin memang suasana yang baik untuk membaca novel ini adalah ditaman pikirnya, tapi untuk saat ini ia sedang malas membaca novel. ia menggeser ponselnya dan mengirim pesan kepada Deni, ia memberitahukan keberadaannya jangan sampai Renza marah jika ia tidak memberi kabar keluar rumah. tidak lama ponsel yang masih berada ditangannya itu berbunyi, ia melihat balasan pesannya dan sedikit terkejut.


'INI AKU RENZA, JIKA INGIN MEMBERI KABAR KIRIM PESAN KEPADAKU LANGSUNG, DENI ITU BUKAN SUAMIMU!!' terdapat tanda seru yang lumayan banyak diujung pesannya. Arinka tergelak. itu peringatan keras baginya. "Yayaya, aku juga tau nomormu Tuan, aku hanya malas mengganggumu."


Arinka mengotak-atik lagi ponsel itu, ia mencoba menggunakan kamera untuk berselfie, ia membuka fitur kamera di ponselnya, "Ya ampun, apakah ini aku? apa aku secantik ini, padahal aku sedikit aneh. dasar kamera penipu!" terkekeh. tak lama ada seseorang gadis duduk disampingnya memainkan game diponselnya, Arinka melirik dengan ekor matanya, melihat game apa yang dimaikannya, ia bertanya kepada gadis itu, ternyata game Candy crush saga. dengan penasaran Arinka mengunduhnya juga dan mencoba memainkannya. cara baru mengusir bosan mungkin selain baca buku adalah main game.


Arinka kemudian berjalan-jalan kembali, ia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. tidak terasa sudah sejam ia berada di taman ini, pantas saja langit semakin berwarna orange.


Sementara itu, seorang pria yang duduk didalam mobil itu sedang menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau, pria itu memegang ponselnya tertawa, "Ayo kita mampir," ucapnya dengan lantang kepada pengemudi mobilnya.


Pria itu berjalan menyusuri pepohonan yang rindang itu dan tersenyum sepanjang perjalanan, ia menenteng plastik ditangannya, matanya memutar melihat keberadaan seseorang yang dicarinya. ia berjalan dengan cepat dan akhirnya menemukan seseorang itu sedang duduk di bangku dan memegang ponsel sambil tertunduk. tak lama wanita itu berdiri dan berjalan-jalan, pria itu masih mengikutinya dari belakang sambil melihat gerak-gerik wanita itu.


"Hey," teriak pria itu, namun wanita itu tidak menoleh. pria itu berteriak kembali, dan dengan segera wanita itu mencari-cari keberadaan seseorang yang memanggilnya.


"Tu-tuan Renza," ucap Arinka memekik kaget dengan leher memutar dan langkah terhenti. Renza dengan langkah cepat menghampiri Arinka.


"Kenapa Tuan kemari? Tuan tau dari mana aku disini?" wajahnya terlihat sedikit kesal, karena pasti mood baiknya akan berubah buruk seketika setelah berbicara dengan orang itu.


"Haha, kebetulan ini searah jalan pulang, aku melihat mu dari jauh? wanita dengan pakaian udik, makanya jangan macam-macam kepadaku?" terkekeh.


Apa ku bilang, sekejap aku menjadi badmood. bagaimana dia bisa melihatku, sedangkan aku jauh dari jalan besar. benar-benar aneh.


"Bagaimana Tuan bisa melihat, ini jauh dari jalan besar dan di taman ini begitu banyak orang." Arinka masih dilanda kebingungan.


Ternyata wanita ini tidak terlalu bodoh juga.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan, kau kenapa tertawa seperti itu tadi menatap ponsel, sini aku liat ponselmu" berusaha mengalihkan pembicaraan dengan topik lain jangan sampai Arinka curiga.


Kenapa dia seperti ini sih, beda banget dari biasanya. aku sedikit risih.


"Aku hanya memainkan game di ponsel, aku baru saja mengunduhnya tadi."


"Owh, begitukah? Jika kau ingin kesini setiap hari boleh, asal kau harus mengirim pesan kepadaku, jangan kepada Deni," ucapnya sedikit kesal.


"Hmm... baiklah. ngomong-ngomong apa yang Tuan bawa?" matanya melirik kekantong plastik yang ada ditangannya.


"Ini untukmu." memberikan dengan cepat seperti akan melemparkan. Arinka mengernyitkan keningnya melihat isi kantong itu dan kemudian tersenyum manis, "Batagor". kemudian ia menatap wajah Renza dengan mendongakkan kepalanya karena Renza jauh lebih tinggi daripada Arinka, matanya berbinar-binar seperti ada berlian disana.


"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya membelikanmu Batagor bukan hal yang mahal dan mewah," ucap Renza sedikit cool. sementara Arinka menundukan wajahnya, matanya berkaca-kaca karena ini pertama kalinya seorang Renza sangat perhatian kepadanya. hati wanita itu kadang lemah hampir saja ia menangis haru tapi ia tahan dengan sekuat tenaga.


"Hey, Kau kenapa?" menatap Arinka heran, ia setengah membungkukan badan untuk melihat wanita itu, dengan cepat wanita itu berbalik dan berjalan menjauh darinya. Renza mengernyitkan keningnya dan bibirnya sedikit manyun, ia heran dengan sikap wanita itu. ia berlari kecil mengejar wanita itu dan berusaha mensejajarkan langkahnya.


"Tuan, aku ingin bertanya? bisakah Tuan menjawab dengan jujur? Arinka menatap wajah Renza dalam-dalam.


Dia ingin bertanya apa? aku jadi gugup. bagaimana jika ia bertanya tentang perasaanku?


"Ayo kita duduk dulu," Arinka menunjuk bangku kosong dibawah pohon rindang dan dekat dengan lampu taman. mereka berjalan pelan dan duduk dengan santai walaupun hati mereka berdua sedikit gugup.


"Aku langsung saja ya Tuan, aku bingung dengan perubahan sikap Tuan kepadaku, akhir-akhir ini Tuan bersikap baik dan memperhatikanku, entah apa aku yang terlalu polos, hanya karena perhatian begitu aku sangat tersentuh, jika Tuan tidak menyukaiku jangan bersikap begitu, tetaplah seperti dulu membenciku, meneriakiku, memakiku, dan acuh, aku sudah terbiasa. aku tidak ingin perhatian dari Tuan ini membuat hatiku merasa bahagia, aku tidak ingin nantinya tersakiti lagi, sudah cukup bagiku, jika memang Tuan ingin mengakhiri hubungan pernikahan ini, aku siap mengakhirinya daripada nantinya akan semakin sakit, untuk apa hubungan pernikahan ini jika tidak ada rasa cinta diantara kita berdua." matanya berkaca-kaca, tangannya meremas jari-jari tanpa henti, terlihat ia sangat emosi mengatakannya.


Renza terdiam mendengar ucapan Arinka, pikirannya melayang jauh saat pertama kali ia bertemu dengan Arinka, kekacauan dengan giska dan selalu mengacuhkannya, bahkan dimalam pengantin ia meninggalkan pengantin wanitanya dan tidur dihotel terpisah.


"Karena kau sudah menanyakannya, Aku akan menjawab dengan jujur, jika kau berpikir dengan normal, untuk apa seorang pria yang dulunya bersikap kasar dan cuek bisa berubah? kau tau pasti untuk apa? aku juga tidak menyadari perubahan sikap ini, sejak kapan aku mulai berubah, sejak kapan aku mulai tersenyum, dan sejak kapan jantung ini mulai berdetak. Yah, tentang kebenaran novel yang kau beli itu, benci jadi cinta. benar adanya."


"Jadi...," ucap Arinka menunggu kelanjutannya.


"Kau ini bodoh atau apa? kau bisa berpikir sendiri, kan?"

__ADS_1


"Aku harus berpikir apa? jantungmu mulai berdetak, mulai tersenyum, dan novel benci jadi cinta?" Arinka sangat polos hingga tak mengerti arah ucapan Renza, dan emosi Renza mulai kambuh.


"Astaga! kau ini benar-benar bodoh ya?" mengepalkan kedua tangannya erat.


"Kau yang bodoh Tuan, bagaimana aku bisa mengerti?" menggerutu kesal.


"Beraninya kau menyebutku bodoh?" sini kau!" Renza sudah mendekatkan tubuhnya sedangkan Arinka bergegas menjauh. Deni yang menatap dari kejauhan tersenyum sambil menyilangkan lengan didadanya.


"Jadi? apa sebaiknya kita harus berpisah ? benci terlalu lama itu tidak baik," ucap Arinka memperlihatkan wajah sedihnya.


"Kauu ini!! Apa kau tidak tau dulu aku membencimu, dan sekarang aku mulai meny- ...." ucapannya terhenti dan mendengus kesal.


"Ya aku sadar, aku memang tidak pantas bertanya seperti itu tadi, untuk apa hidup bersama padahal kita bukan keluarga, mungkin jika harus berpisah, waktunya sudah tepat, sudah 8 bulan lumayan lamanya." memotong pembicaraan dengan nada lirih.


"Alih-alih berpisah dan menjelaskannya, Aku kan menunggu waktu yang tepat nantinya, bagaimana kalau kita saling mengenal," ucap Renza tanpa malu-malu lagi. Arinka tersenyum wajahnya sedikit ia tekuk, "Mengenal bagaimana maksudnya, Tuan?" tanya Arinka bingung.


"Kita mulai dari awal? saling mengenal seperti pertemuan pertama kali," ucap Renza sambil menyodorkan tangannya dan dengan semua kebingungan itu segera Arinka menyambut tangan Renza.


"Aku Renzaldi Al Fariq, senang bisa berkenalan denganmu."


"Aku Arinka Larasati, senang bisa mengenal Tuan."


Mereka berdua saling melempar senyuman dan saling memandang dengan bahagia.


****Bersambung....


Jangan lupa like dan comment, jika belum vote silahkan vote sebanyak-banyaknya 💗


Salam sayang dariku buat Readers semua.


Luv u 😘**

__ADS_1


__ADS_2