Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 81 : Rencana Renza


__ADS_3

"Pip, nanti sore mimom pergi ke kelas membuat kue lagi."


"Iya, nanti hati-hati, ya?"


Arinka berbisik di telinga Renza, berbisik sangat pelan. Renza kegelian mendengar Arinka berbisik. Renza merasa bahwa Arinka menggodanya.


"Nanti di sana ada Risa. Apa pipom mau buat rencana untuk menjodohkan mereka?" bisik Arinka.


"Huh, kalian mesra-mesraan di depanku. Aku seperti nyamuk, orang ketika dan set ...-" Deni tertawa tak melanjutkan perkataannya sendiri.


Renza dan Arinka tertawa mendengar ucapan Deni.


"Kau mau bilang apa? Setan? Iya, cocok untukmu!" ujar Renza tertawa terbahak.


"Giliran salah bicara seperti itu selalu aja bahagia. Dasar, manusia yang suka bahagia diatas penderitaan orang lain." gumam Deni pelan.


"Aku mendengarmu, Deni." Arinka tersenyum menutup mulutnya.


"Kenapa aku yang teraniaya disini?"


"Mana mungkin aku yang teraniaya. Di sini aku atasannya!"


"Siap, Pak bos."


"Sudah-sudah, jangan bertengkar." Arinka tertawa menengahi adu mulut Renza dan Deni.


Renza berbisik pelan kepada Arinka. Deni mengerutkan keningnya dan menekuk wajahnya dengan tangan.


"Baiklah, nanti pipom pikirkan rencananya." Bisik Renza pelan.


"Kalian ini mencurigakan sekali. Apa kalian membicarakanku?"


"Iya ... aku ingin menenggelamkan mu." Renza tertawa dan Arinka pun ikut tertawa melihat ekspresi Deni saat Renza berkata begitu.


"Wah, anda benar-benar kejam!"


"Sedikit."


"Ya sudah, Mimom pulang dulu, ya?"


"Iya, ayo pipom antar ke depan."


Renza dan Arinka bangkit dari sofa itu dan berjalan menuju ke luar ruangan. Deni mengikuti dan menutup pintu ruangan kerja Renza.


Sisil menundukkan pandangan dan tersenyum seraya menyapa, "Nyonya Arin, sudah mau pulang?"


"Iya," jawab Arinka singkat sambil tersenyum manis.


"Hati-hati di jalan."


"Terima kasih."


Beberapa karyawan di perusahaan itu menundukkan pandangannya. Renza menggenggam tangan Arinka dengan erat yang membuat karyawan wanita di kantor itu bergidik iri.


"Wah, istrinya pak Renza benar-benar cantik. Mereka benar-benar serasi. Aku sangat iri," ucap seorang karyawati yang langsung ghibah saat melihat Renza dan Arinka lewat.


Deni memperhatikan beberapa karyawan wanita yang tiba-tiba berbicara berbisik melihat Renza dan Arinka. Kemudian, Deni menatap mereka dengan tajam seraya menunjuk kedua dengan jarinya. Sontak karyawan wanita yang berbisik-bisik tadi menghentikan bicara mereka.


Di luar kantor, pak Ahmad sedang berbicara dengan security. Pak Ahmad mengobrol sambil menunggu Majikannya. Pak Ahmad segera berlari menghampiri Arinka dan Renza saat mereka berdua sudah keluar dari kantor.


"Pak Ahmad hati-hati, ya! Jangan ngebut." perintah Renza.


"Baik, Pak," jawab pak Ahmad seraya membukakan pintu mobil.


"Dadah," ucap Arinka seraya melambaikan tangannya saat sudah duduk di dalam mobil.


"Dadah, sayang."


Mobil itu melaju dengan kecepatan rendah meninggalkan gedung Fariq company. Renza berjalan masuk kembali ke dalam kantor. Deni terus mengikuti di belakang, seperti ekor yang tak bisa ketinggalan.


Aku ingin seperti pak Renza. Walaupun dulunya saling membenci, sekarang mereka mencintai satu sama lain ..., gumam Deni dalam hati.


Renza berjalan melewati beberapa karyawan. Pesona Renza selalu bisa membuat karyawan wanita berdecak kagum. Renza benar-benar sangat tampan saat melakukan apapun. Deni juga sangat idolakan di kantor. Deni tak kalah tampan dari Renza. Hanya saja Deni selalu terlihat dingin dan tegas. Deni jarang tersenyum sedangkan Renza semenjak mempunyai istri, ia sering tersenyum di kantor.


Sesampainya di ruangan kantornya, Renza duduk dan memeriksa lagi berkas pengeluaran kantor dengan teliti.


"Kau harus teliti mengawasi Dahlan. Jika dalam satu bulan mereka meminta support lagi, segera beritahukan kepadaku. Aku mencium bau-bau mencurigakan yang kuat sekali. Aku sangat was-was, karena Dahlan itu licik."


"Baik, Pak. Aku akan sangat teliti dengan mereka. Aku tahu ini menyangkut aliran dana yang besar. Mereka juga anak cabang kita. Jika mereka tidak berhati-hati buat saja Ganier's project menjadi milik Fariw company seluruhnya."


"Aku memang sudah sudah berpikir begitu. Pantau juga dekor yg mereka kerjakan di gedung cabang baru. Aku khawatir ada kerjasama yang ilegal nantinya."


"Baik, Pak."


"Oh ya, nanti sore Arinka sudah mengikuti kelas membuat kue lagi. Aku ingin pulang kerja kita mampir ke sana."


"Iyaa," ucap Deni menghembuskan napas kuat.


"Kau kenapa? Tidak mau ikut?"


"Tidak, bukan begitu. Aku bilang iya tadi."


"Seperti keberatan dan terpaksa," ujar Renza tersenyum.


"Tidak, aku biasa saja, Pak."


"Foto yang kau ambil di pantai, aku ingin melihatnya?"


"Iya, kamera itu di atas meja. Kebetulan aku lupa membawanya pulang. Nanti aku cetak semua foto Pak Renza."


"Oke, baiklah."


Di rumah, Arinka sudah sampai dan duduk di sofa. Ia mengambil ponselnya dan menggeser layar ponsel itu mencari kontak Risa. Arinka menelepon Risa.


Panggilan itu tersambung. Namun, belum ada jawaban apapun dari Risa. Arinka mengulangi panggilan itu kedua kalinya dan terdengar telepon itu di jawab oleh Risa.


"*Hai, kak Arin! Ada apa?"


"Hai, Risa! Nanti sore kamu ke tempat kursus?"


"Iya, kak. Kenapa?"


"Hari ini kakak juga ke sana."


"Wah, seru dong kalau ada kak Arin. Nanti aku tunggu."


"Baiklah*."


Sambungan itu terputus. Kemudian, Arinka memeriksa inbox facebook nya. Benar saja di sana ada Aldi yang sering mengiriminya pesan. Arinka selalu saja mengabaikan pesan itu. Bahkan membacanya saja, ia sangat malas.


"Kenapa juga Aldi sering mengirimiku pesan. Bukankah ia sudah tahu aku sudah punya suami." gumam Arinka pelan.


Arinka mengambil remote dan menyalakan televisi. Masih tersisa waktu satu jam sebelum ia memulai aktivitasnya kembali ke tempat kelas membuat kue.


Arinka melihat ada bunga di atas meja. Ia tersenyum dan menciumnya.


Pasti dari suamiku. Sudah lama ia tidak mengirim bunga. Uwuu ... indah sekali.


Arinka bersandar di sofa itu. Tanpa terasa ia sudah terlelap. Bi Ami mendekati Arinka dan melihat Arinka terlelap di sofa. Bi Ami mengecilkan volume televisi supaya Arinka tidak terganggu.


***

__ADS_1


Deni pergi ke luar kantor, karena harus mengurus beberapa tugas kantor. Deni berhenti di sebuah toko alat tulis, ia melupakan pulpennya. Tak sengaja Deni melihat Dahlan dan Deni di sebuah cafe di sebelah toko alat tulis itu.


Deni terlihat curiga karena mereka berbicara hal yang serius. Kemudian, Deni masuk ke dalam toko alat tulis itu. dan membeli pulpen dan notes.


Setelah keluar dari toko alat tulis, Deni menoleh dan melihat Dahlan dan Aldi sudah pulang. Dahlan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Apa mereka melihatku?" gumam Deni pelan.


Deni berjalan masuk ke dalam mobil. Kemudian, ia melajukan mobilnya. Melihat mini market, Deni berhenti kembali dan memarkirkan mobilnya. Ia akan membeli beberapa air mineral untuk pekerja di tempat yang akan ia kunjungi yaitu cabang Fariq company yang baru.


"Ini dekat daerah rumah Risa." gumam Deni lagi.


Deni masuk ke dalam mini market itu dan menuju tempat air mineral. Setelah berkata begitu tadi seperti takdir, mata Deni bertatap tajam dengan seseorang. Seseorang itu adalah orang yang ingin ia hindari. Karena perasaannya selalu mendadak error setelah bertemu orang ini.


Deni mengalihkan pandangannya. Kemudian orang itu juga mengalihkan pandangannya.


Kenapa harus bertemu dia di sini sih! Kenapa juga ia harus berkeliaran di daerah rumahku.


"Dinosaur ...-" ucap Risa terhenti.


"Alien, sedang apa kau di sini?"


"Apa kau tidak salah bicara? Harusnya aku yang bertanya kepadamu? Kenapa kau berkeliaran di daerah rumahku?"


Deni menjadi salah tingkah dan mengalihkan pandangannya. Sekilas Risa melihat Deni menatap apa sebelum menundukkan pandangannya. Yah, Risa memegang pembalut. Wajah Risa langsung memerah menyadari dirinya memegang pembalut di depan Deni. Buru-buru ia memyembunyikannya di belakang tubuhnya. Mereka berdua jadi salah tingkah.


Kenapa kebetulan aku membawa pembalut sih, sial! aku snagat malu. Aku harus bersikap cuek saja.


"Hei, Dinosaurus ... kenapa kau tersenyum begitu?"


"Tidak apa, tidak ada larangan tersenyum di sini."


"Apa kau tertawa melihatku membawa pembalut?"


Sial! aku berkata apa sih!


"Ya, kau kan wanita sudah sewajarnya membawa pembalut. Jika aku yang membawa pembalut kau pasti heran, 'kan?"


"Eh, iya juga, sih!" Risa terkekeh.


Risa tersenyum di depanku. Astaga ini pertama kalinya aku melihat ia senyum sedekat ini.


"Aku bertanya tadi, kenapa kau berkeliaran di daerah rumahku?"


"Aku ada kerjaan, kebetulan melewati daerah rumahmu. Aku pikir aku sengaja ingin melihatmu?"


"Aku pikir kau penguntit," jawab Risa datar.


"Penguntit? Maksudmu aku menguntitmu? Huh! Kau benar-benar percaya diri sekali."


"Sudah, aku malas berbicara denganmu."


"Aku juga malas!"


Risa menuju kasir, kemudian di susul oleh Deni yang membawa botol minum mineral lumayan banyak. Mereka datang ke kasir bersamaan.


"Sana minggir," ucap Risa sinis.


"Kamu yang minggir. Aku duluan."


"Enak saja, aku yang duluan."


"Aku dong."


"Dimana- mana Ladies first."


"Haha, kamu alien bukan ladies."


Risa dan Deni sibuk bertengkar. Kasir itu memperhatikan mereka seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Seseorang mendahului Risa dan Deni yang sedang bertengkar itu. Wanita itu langsung memberikan barangnya ke kasir seraya menoleh kepada Deni dan Risa heran.


Risa dan Deni melongo melihat wanita itu mendahului mereka. Mereka saling bertatapan dan refleks mereka saling melempar tawa satu sama lain.


"Ayo, siapa yang duluan?" tanya kasir wanita itu.


Ucapan wanita kasir itu menyadarkan Deni dan Risa yang sedang tertawa bersama. Seketika mereka langsung membungkam mulut.


"Aku duluan," kata Risa. Deni mengiyakan tanpa protes.


Setelah selesai membayar, Risa langsung keluar meninggalkan Deni. Deni melirik sekilas dan pura-pura acuh. Deni keluar dari mini market itu dan melihat Risa sudah berjalan jauh meninggalkan mini market itu.


Deni masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Risa berjalan kaki, karena memang sangat dekat dari rumahnya.


Risa membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam rumah. Risa duduk di kursi rotan di ruang keluarga seraya meletakkan belanjaannya di lantai.


"Lumayan panas, ditambah panas karena bertemu Dinosaurus. Huh! Menyebalkan."


"Risa!" panggil Mira.


"Kenapa, Ma?"


"Ini ada kiriman bunga!"


"Dari siapa? Wah ... bagus sekali!"


"Tak ada nama pengirim. Mama tanya pada kurirnya. Kurirnya tidak tahu."


"Mmm ... dari siapa ya? Cantik warna nya."


"Dari pacar?" ucap Mira terkekeh.


"Bukan, Ma. Risa tidak punya pacar."


"Ya ampun, kasihan sekali. Wajah cantik begini tapi tidak mujur."


"Bukan soal mujur, Ma. Ini soal hati."


"Iya, Mama juga tahu, kok."


Risa mengambil ponsel dari saku celananya dan memotret bunga itu. Segera ia unggah ke media sosial dengan caption : "Bunga yang cantik. Tapi lebih cantik lagi jika nama pengirimnya terlampir di sini."


***


Renza sibuk mengurus kerjaannya. Ia melihat jam sudah hampir jam 3. Renza menyempatkan menelepon istrinya. Renza mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja sofa dan duduk di sofa seraya menyilangkan kaki kirinya ke atas.


Telepon itu tersambung, tapi belum di jawab. Lama Renza menunggu. Akhirnya, Arinka menjawab.


"Halo, sayang. Sudah bersiap, ya?"


"Belum, aku ketiduran." Arinka terkekeh.


"Ya ampun, apa mimom lelah?"


"Tidak, tadi setelah tiba di rumah, mimom menyalakan televisi dan akhirnyan terlelap."


"Owh, ayo siap-siap. Nanti sore pipom ke sana sekalian membuat rencana untuk menjodohkan Deni."


"Haha ... iya."


"Ya sudah, ayo bersiap-siap."


"Iya, sayang."

__ADS_1


"Dadah ... muaacchh."


Renza meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali fokus bekerja.


Sementara Deni masih mengawasi pengerjaan kantor cabang baru. Di sana ada Aldi. Deni menatapnya sinis.


Aldi menghampiri Deni dan berbicara dengan akrab. Tapi Deni tetap tidak suka.


"Apa kabar, pak Deni?"


"Kabar baik." jawab Deni singkat.


Percakapan jadi panjang lebar. Tapi Deni tetap berbicara lugas. Deni tetap tidak bisa akrab dengan sembarang orang. Setelah satu jam di sana, Deni sudah mencatat apapun yang di butuhkan dan bergegas pergi.


***


Arinka sudah sampai di tempat kelas membuat kue. Di sana, Risa sudah menunggu di bawah pohon besar yang sangat rindang.


"Kak Arin!"


"Hmm ... kau sudah datang duluan?"


"Iya dong, ayo masuk kelas hampir di mulai."


Hari ini mereka akan di ajarkan cara membuat bolu gulung. Risa berbisik kepada Arinka bahwa ia sangat menyukai Bolu gulung. Setelah beberapa kali gagal menggulungnya dan akhirnya jadi bolu gulung yang cantik buatan mereka masing-masing.


Semua resep sudah Arinka catat di buku. Setelah semuanya selesai mereka bersiap pulang. Arinka dan Risa sangat senang karena bisa membawa pulang kue buatan mereka.


Risa menunjuk bangku di bawah pohon dan duduk disana. Arinka mengangguk mengiyakan. Mereka berbincang-bincang sebelum pulang. Tak lama, datang mobil mewah berwarna hitam yang tak lain adalah Renza. Renza turun dan bola matanya memutar mencari seseorang yang ia kenal. Arinka melambaikan tangannya dan kemudian Renza menghampirinya.


"Aku tepat waktu, 'kan? tanya Renza.


"Mmm ... On time."


"Deni!" panggil Renza.


Deni bergegas turun dari mobil. Sebelumnya, ia sangat malas untuk turun. Tapi jika sudah di panggil oleh Renza, ia tidak berkutik. Renza tersenyum melihat Deni turun dari mobil dengan wajah datar.


"Deni lagi, Deni lagi," ucap Risa.


"Kenapa?" tanya Arinka.


"Tadi kami bertemu. Dia ada di mini market dekat rumahku." ucap Risa ketus.


"Aku hanya kebetulan lewat, jangan terlalu percaya diri dong."


"Itu takdir," ucap Renza tersenyum.


"Takdir?" tanya Risa dan Deni bersamaan.


"Nah, lihat saja. Bahkan bicarapun kalian bersamaan."


"Kalian saling menyukai, 'kan?"


"Tidak!" jawab Deni dan Risa kompak.


"Wah, ini namanya Takdir cinta," ucap Arinka terkekeh.


"Jangan bohong!" ucap Renza tersenyum.


"Aku tidak bohong," jawab Deni.


"Aku juga tidak bohong." jawab Risa.


"Aku benar-benar tidak percaya."


"Kenapa anda tidak percaya, Pak?"


"Dari mata kalian, terlihat bahwa kalian saling menyukai."


"Hadeh. Mulai lagi."


"Ayo saling bertatapan. Jika kalian tidak bisa bertatapan selama dua menit berarti kalian memang saling suka. Iya 'kan, Deni." Renza menepuk bahu Deni kuat dan refleks Deni menyebut "iya."


"Aku tidak suka menatap orang!" ucap Risa.


"Aku tidak percaya. Kalian berdua pasti takut 'kan?"


"Aku tidak takut." jawab Deni tegas.


"Aku juga tidak takut." jawab Risa.


"Jika tidak takut ayo buktikan!" ucap Renza sengaja memancing emosi Deni.


"Aku tidak mau." jawab Deni dan Risa lagi-lagi kompak.


Renza berjalan ke arah mobil, Deni, Risa dan Arinka saling bertatapan satu sama lain. Deni memberi kode kepada Arinka. Namun, Arinka mengendikkan bahunya. Renza mengambil sebuah kamera dari tas nya dan kembali bersama tiga orang itu.


"Kamera? untuk apa?" ucap Deni heran.


Arinka menaikkan alisnya sebelah. Risa terlihat biasa saja.


"Bukannya itu kamera ku?" ucap Deni.


"Ini buktinya," ucap Renza memperlihatkan isi foto di dalam kamera itu hampir di dominasi oleh foto Risa.


"Semuanya foto Risa. Apa namanya jika bukan suka? Kenapa harus foto dia semua? Kalian juga saling memberi julukan di media sosial, 'kan? Kalian benar-benar pintar menyembunyikan perasaan. Uwuu ... romantis, ya?" Renza mengejek Deni.


Dengan begini kalian akan saling mengakui perasaan kalian masing-masing. Haha!


Deni salah tingkah tak bisa mengelak lagi. Airmukanya merah padam. Wajah Risa bersemu merah, ia benar-benar malu setelah mendengar kata saling suka. Arinka dan Renza tersenyum menutup mulutnya melihat dua manusia di depannya saling canggung.


"Coba kalian jelaskan dan cobalah saling bertatap muka nanti. Kami pulang dulu! Bye," ucap Renza menggenggam tangan Arinka, Arinka menoleh dan terseyum. Kemudian, pergi meninggalkan Deni dan Risa berdua yang sedang terpaku.


Epilog


Karyawan wanita berbisik-bisik melihat Renza menggenggam tangan Arinka yang di ikuti Deni berjalan di belakangnya.


"Pak Renza benar-benar keren, aku ingin mempunyai suami seperti pak Renza yang tampan."


"Aku juga ingin suami tampan, gagah, tajir seperti pak Renza. Benar-benar lelaki idaman."


"Istrinya cantik, mana bisa kita mendapatkan lelaki seperti pak Renza jika tidak cantik."


"Pak Deni juga tampan. Lihat saja gaya cool dan tegasnya. benar-benar dua lelaki type idaman."


Saat dua wanita itu sedang asyik mengobrol. Deni menunjuk mereka dan menatapnya tajam. Mereka berdua segera menghentikan pembicaraan.


Setelah Deni pergi, mereka berbicara kembali.


"Pak Deni itu tampan, tapi galak."


"Iya, setampan apapun jika galak, bikin takut dong."


"Tapi orang cool dan galak itu sangat romantis."


**Bersambung...


Jangan lupa like dan komen ya readers 💋


Vote kalian aku tunggu... 😁

__ADS_1


Salam sayang dariku untuk kalian semua 😙 Luv u all 😘**


__ADS_2