Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 72 : Kumpul bertiga


__ADS_3

Renza dan Deni kembali ke kantor setelah melakukan rapat dengan Reyn. Sepanjang perjalanan kembali ke kantor Renza terus mengolok- olok Deni.


Deni terlihat acuh, ia terus saja menyetir dan menatap kedepan. Sebenarnya ia sangat kesal kepada Renza setelah pembicaraan tadi sewaktu ketemu Risa.


Entah kenapa Deni masih kesal jika melihat Risa. Wanita itu benar-benar selalu membuat mood nya buruk. Renza tertawa terus menerus melihat reaksi Deni yang tidak bisa berkutik di hadapan kakaknya Risa.


"Apa kau suka pada Risa?"


"Pertanyaan konyol macam apa itu, Pak? Sudah jelas, aku tidak menyukainya."


"Awas saja kau jadi seperti aku, benci dan sering mengatainya. Eh, ujung-ujungnya jatuh hati."


"Jika mungkin di kemudian hari ada rasa yang tak bisa terelakkan, ya apa boleh buat." jawab Deni seraya tertawa.


"Kau jangan sombong, ya? Kau tahu? Cinta itu datangnya seperti hujan, yang tak bisa disangka-sangka. Pas mendung orang menyangka akan hujan, padahal saat cerah juga bisa hujan."


"Mmm, sekarang anda menjadi penasehat yang baik, Pak."


"Jika kau tidak suka Risa? berarti kau menyukai Milka, ya?"


"Milka? Mmm ... Dulu dia cinta monyetku, upss!" Deni menutup mulutnya.


"Apa? jadi benar Milka itu cinta pertamamu? Jika kau suka Milka, kejar dia?"


"Aku tidak bisa, aku sekarang sudah suka dengan wanita lain."


"Wanita lain? siapa?"


"Rahasia," jawab Deni tersenyum.


"Terserah kau saja!" Renza mendengkus kesal.


Sesampainya di kantor, ketika Renza berjalan melewati lobby, beberapa staff menyapanya. Renza tersenyum dan membalas sapaan itu.


Di ruang kantor Renza, ia masuk dan duduk di kursi kebesarannya seraya membuka jas dan menyangkutkannya. Ia duduk membaca berkas yang di berikan oleh Deni dan mempelajarinya.


Selang berapa menit, ia menutup berkas itu dan melakukan panggilan video kepada istrinya. Jika panggilan video ia bisa leluasa mencium istrinya nanti. Renza ingin menanyakan apakah Arinka sudah selesai makan dan minum vitamin.


Panggilan itu masih menunggu dan belum tersambung. Dua kali Renza menelpon tapi tidak tersambung. Renza menelpon ke telepon rumah. Baru saja berdering sudah di jawab dengan cepat oleh bi Ami.


"Halo, Arinka kemana? dia tidak menjawab panggilanku? Apa dia tidur?"


"Ya, Tuan. Ny. Arin baru saja tertidur. Ny. Arin baru saja berenang di kolam."


"Ya sudah, Jangan tinggalkan ia sendiri, ya? dan jangan sampai ia kelelahan. Vitamin dan susu apakah sudah di minum?"


"Sudah, Tuan."


"Baiklah, aku sudahi dulu."


Panggilan itu terputus. Kemudian, Renza meletakkan ponselnya di atas meja dan meninjau kembali berkas yang di berikan oleh Deni tadi.


Deni keluar dari kantor mengurus semua keperluan untuk pameran Time matchine di gedung milik Fariq company yang sangat besar. Gedung itu selalu di gunakan untuk acara mewah. Deni sampai di gedung itu dan melihat proses pendekoran yang di lakukan Ganier's project. Dan ia memerintahkan kepada pekerja dari Fariq company untuk memperketat keamanan 3 lapis sesuai permintaan Renza.


Deni duduk di bangku yang ada di dekat sudut. Ia memotret setiap tempat yang sudah di rampungkan. Ketika sibuk memotret, terdapat notif chat dari Mawar yang keluar dari atas ponselnya. Deni membukanya dan membalas chat itu dengan senyuman.


Di sela-sela pekerjaannya itu, Deni menyempatkan diri membalas chat dari Mawar.


"Aku sedang mengawasi pengerjaan pameran untuk pameran Time matchine," balas Deni ketika Mawar bertanya.


"Oh ya, Wah! Itu benar-benar menakjubkan!"


"Apa kau di undang di acara seperti ini?"


"Hmm ... undangannya sudah ada tiga hari yang lalu."


"Kau akan datang?"


"Pasti, jika tidak ada halangan nantinya."


"Apa kita kan bertemu?" tanya Deni.


"Entah lah, semoga saja," ucap mawar seraya menambahkan emoticon tertawa di belakang pesannya.


"Lagipula aku pasti akan sangat sibuk, mungkin juga tidak akan bisa bertemu."


"Tidak apa-apa, nanti jika sudah saatnya bertemu pasti akan bertemu. Kau bekerja saja, semangat!"


Deni standby di gedung itu sampai sore. Sedangkan Renza masih sibuk mengerjakan tugasnya di kantor. Mereka berdua benar-benar sangat sibuk.


Di rumah, Arinka sungguh sangat bosan. Ia tidak bisa mengerjakan hal seperti biasanya. Ia menelpon Risa menyuruhnya datang ke rumah. Risa mengiyakan dan akan segera pergi ke rumah Arinka. Arinka sangat senang, menyuruh bi Ami membuat bumbu rujak.


Arinka menyuruh Dina mengupas buah dan memotongnya. Kemudian bi Ami menggelar tikar di taman belakang rumah. Setelah selesai memotong buah dan membuat rujak. Arinka dan Dina duduk di atas tikar itu. Bi Ami juga membuatkan minuman dingin untuk mereka.


Tak lama kemudian, Risa datang membawa buah. Bi Ami menyuruhnya masuk dan segera menuntunnya ke taman belakang.


"Sudah sampai?" ucap Arinka.


"Sudah kak," jawab Risa terkekeh.


"Kenapa repot-repot bawa buah, sih?"


"Tidak repot kok, aku dengar kakak sedang hamil jadi aku bawa buah, ibu hamil kan harus banyak makan buah," ucap Risa seraya duduk bersila.


"Ah, terima kasih, sayang."


"Kalian sudah mempersiapkan ini? wah aku sudah lama sekali tidak makan rujak?"


"Ayo kita makan, ini lumayan pedas tapi enak, kok!"


"Aku suka pedas, ayo Dina kita makan bersama!"

__ADS_1


"Baiklah," jawab


"Iya, kita di sini sebagai teman. Jadi jangan sungkan," ucap Arinka.


Mereka bertiga tertawa bersama saat salah satu diantara mereka minum. Arinka sangat berkeringat tapi ia makan dengan lahap. Sedangkan Risa tak hentinya menjulurkan lidah karena kepedasan. Dina yang paling kuat memakan pedas, ia tidak mengeluh sedikitpun.


"Wah, ternyata Dina yang paling jago makan pedas." ucap Risa.


"Iya, aku lihat dia belum minum sama sekali."


"Aku mengalah, aku sudah terlalu banyak minum air es. nanti perutku bisa menyaingi perut kak Arin," ucap Risa tertawa.


"Haha, kau ini bisa saja, Ris."


"Eh, Din. Kita tukeran nomor telepon yuk?"


"Boleh," jawab Dina.


"Nah, kalian kan seumuran, kalian bisa jalan-jalan bersama dan nongkrong bersama."


"Baiklah." jawab Dina lagi.


"Oh ya kak, bagaimana hamil itu? apa menyenangkan?" tanya Risa.


"Ya begitulah, menyenangkan sih pasti karena ini buah hati kami, tapi yang lucu nya itu kakak tidak menyukai suami kakak sendiri." Arinka tersenyum lucu.


"Tidak suka? Maksud kak Arin, kakak tidak menyukai Pak Renza? Waaah .... "


"Ya benar."


"Kenapa? bukannya Pak Renza yang membuat bayi nya?"


Arinka tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Risa yang begitu polos. Arinka sampai sulit berkata-kata saking lucunya.


"Ya jelas, Renza adalah orang yang membuatnya. Maksudku tidak suka karena bau tubuhnya, padahal aku sangat suka bau tubuhnya saat sebelum hamil, gara-gara ini kami jadi jarang bersama."


"Owh begitu, Orang hamil memang begitu ya? bisa tidak suka sama suami sendiri?"


"Kan orang hamil beda-beda, Ris. Itu fase ngidam namanya," ucap Dina.


"Oh, aku baru tahu," jawab Risa.


"Kau harus banyak tahu, nanti kau juga akan menikah," sambung Arinka.


"Iya kak, pasangan saja belum ada." Risa tertawa.


"Nanti pasti ada kok, percayalah jodoh kalian sudah di siapkan oleh Tuhan."


"Mengenai pertanyaan Milka di saat kita makan, apa benar kak Arin itu menikah karena perjodohan?"


"Benar, kalian ingin mendengar ceritaku?"


"Mau, kak," jawab Risa dan Dina serentak.


"Jadi kalian hanya bertemu sebentar setelah itu kalian menikah?"


"Ya begitulah," ucap Arinka.


"Apa pak Renza dari awal sudah mencintai kak Arin seperti sekarang?" tanya Risa.


"Tidak, Renza itu sama sekali tidak mencintai kakak, bahkan kakak pun tidak mencintainya. Kami saat itu benar-benar saling membenci dan menyakiti."


"Apa benar begitu, kak?" tanya Dina.


"Mmm... hanya Deni yang tahu semua ini. Deni itu benar-benar banyak membantuku saat itu, bahkan masa lalu itu benar-benar saling menyakiti. Kalian tidak akan percaya jika melihat Renza bisa sesayang sekarang padaku."


"Hmm, aku pikir kalian sudah saling mencintai dari awal, pantas saja kakak bekerja di restauran saat itu?"


"Ya, karena aku malas melihatnya setiap hari, malas adu mulut atau saling merilik pun enggan."


"Tapi, siapa sangka sekarang pak Renza menjadi bucin kepada kak Arin, pak Renza takluk akhirnya pada pesona dan kecantikan kak Arin?"


"Bukan takluk sih, lebih tepatnya benci dan cinta itu tipis, karena dia terlalu membenciku, setiap hari ia memikirkanku, dan akhirnya benci itu lama kelamaan berubah menjadi cinta."


"Wah, benar ya benci dan cinta tipis? by the way**, kalian malam pertama saat sudah cinta apa sebelum saling jatuh cinta?" Risa terkekeh dan Dina malu-malu seraya menutup mulutnya mendengar ucapan Risa.


"Risa ini benar-benar, ya? Kamu penasaran sekali, ya? Begini, jika seandainya kau tidak menyukai seseorang dan kemudian seseorang itu meniduri kamu, apa kamu mau?"


"Ya, tidak lah kak."


"Nah, itu lah jawabannya."


"Haha, jadi liburan beberapa waktu lalu itu kalian bulan madu, ya?"


"Ahh, mau tau aja."


Mereka bertiga saling tertawa. Mereka saling bertanya dan mengobrol. Layaknya orang piknik mereka baring-baring di atas tikar dengan hembusan angin sepoi yang segar.


"Saat hamil aku jadi tidak pandai kenyang," ucap Arinka.


"Kan yang makan sudah dua orang," jawab Risa tertawa.


"Aku ingin sekali makan ice cream?" kata Arinka.


"Benarkah? sekarang?" tanya Risa.


"Mmm ... "


"Bagaimana kalau kita pergi sekarang ke kedai ice cream gelato, tidak jau kok dari sini?"


"Boleh," sahut Arinka.

__ADS_1


"Tapi, pak Renza bilang jangan bepergian?" ungkap Dina.


"Tidak apa-apa, aku akan menelpon suamiku nanti."


"Ya sudah, aku bilang pak Ahmad dulu ya Nyonya untuk menyiapkan mobil?"


"Oke."


"Belum pernah kita jalan-jalan bertiga, pasti seru 'kan?"


"Pasti, lagi pula kakak dulu nya tidak pernah jalan-jalan sama teman, walaupun kak Arin 3 tahun diatas kalian, kak Arin tidak malu, biar saja dianggap tua."


"Siapa yang berani bilang begitu, aku hajar nanti. Oh ya kak, tadi siang aku ketemu pak Renza sama Deni sedang makan. Aku bersama kakak ku kebetulan makan disana juga?"


"Benarkah? kau punya kakak?"


"Punya, kakak ku tentara kebetulan sedang cuti sekarang."


"Wah, benarkah? hebat sekali kakakmu, Ris."


"Sebenarnya, papa ku juga tentara, kak."


"Hebat, aku ingin melihat tentara dari dekat," kata Arinka.


"Jika kakak ingin melihat kakak ku, nanti aku menelponnya, jika kita sudah sampai di sana."


"Sip."


Mereka bertiga sudah naik ke dalam mobil. Arinka benar-benar bahagia bisa jalan-jalan bersama teman wanita seperti ini. Arinka mengambil ponselnya dan menelepon Renza. Sambungan itu terhubung, tapi belum ada jawaban, sekali lagi Arinka menelpon baru lah telepon itu di jawab.


"Iya, Mimom sayang, ada apa?"


"Aku pergi jalan-jalan di antar pak Ahmad, aku ingin makan ice cream."


"Mimom bersama siapa?"


"Risa dan Dina, dan pak Ahmad juga."


"Pak Ahmad sudah pasti pipom tahu lah, kan beliau supir mimom. Ya sudah hati-hati, jangan sampai kelelahan ya sayang. Maaf pipom lambat menjawab, pipom masih sibuk."


"Iya, tidak apa-apa, babay."


"Ya, muuuacchh."


Arinka tertawa mendengar Renza mengucapkan kecupan seperti itu. Risa dan Dina senyum-senyum mendengarnya.


"Ciyeee, dapat kecupan."


"Haha, nanti jika kalian punya pasangan kalian akan tahu."


"Aku ingin bercerita kak, sebenarnya aku pernah mengajak Deni pergi ke pesta ulang tahun mantan?"


"Jadi?" Dina menatap penasaran sedangkan Arinka heran.


"Deni mau kau ajak, sejak kapan kalian dekat?" tanya Arinka.


"Kami tidak dekat, kebetulan hari itu saat kak Arin tidak masuk kelas, Deni datang untuk mengatakan bahwa sementara kak Arin belum bisa datang, hari itu turun hujan lebat, ia ingin meminjam payung dariku. Kebetulan aku mendapat undangan dari mantanku, aku bilang pada Deni jika ia ingin meminjam payung, ada syaratnya. Deni berpikir, karena takut kebasahan ia menyetujuinya dengan wajah marah."


"Wah, kau benar-benar berani, ya, Ris? Dia itu type orang yang suka mengatai orang lain, jika orang itu tidak sesuai di matanya." kata Dina.


"Iya, aku heran Deni mengiyakan ucapanmu, jangan-jangan Deni menyukaimu?"


"Tidak mungkin, di pesta itu dia berbicara sangat keren dan aku terpukau. Sekalinya pulang ia langsung berubah ke sifat aslinya yaitu menyebalkan level dewa. Aku benar-benar kesal jika mengingat sikap nya yang dingin dan acuh. Ingin ku cincang hidup-hidup dan ku buang kelaut saja."


"Ahhahaha, kau benar-benar lucu, Risa. Jika kalian berjodoh, aku yakin Deni akan seperti pak Renza, bucin keturunan," ucap Dina.


"Aku juga merasa kalian ini sangat lucu, saat ketemu kalian selalu bertengkar, asu mulut bahkan memasang raut wajah masam. Tahu nya jodoh, bagaimana?"


"Iiihh, sudah-sudah."


Pak Ahmad yang menyetir tersenyum tipis mendengar obrolan tiga wanita di dalam mobil itu. Tak lama kemudian, pak Ahmad bersuara, "Sudah sampai, Nya!"


Pak Ahmad membukakan pintu untuk Arinka, sedangkan Risa dan Dina membuka pintu sendiri. Di kedai ice cream itu lumayan ramai pengunjung yang di dominasi oleh remaja.


"Wih, ramai," ucap Dina.


"Ayo masuk," ajak Risa seraya menggenggam tangan Arinka. Kemudian, Risa mengajak mereka semua duduk di tengah-tengah, karena bagian jendela sudah penuh.


Mereka memilih bermacam-macam varian ice cream dan menikmatinya disana seraya berbincang hangat dan saling bercanda.


Renza menelpon Deni. Renza mengatakam kalau Arinka pergi ke kedai ice cream Dina dan Risa. Maksud Renza menelpon, agar Deni kesana melihat mereka. Deni berkata kalau ia sangat sibuk, tidak bisa kesana. Deni mengatakan tidak akan apa-apa karena disana ada pak Ahmad. Renza akhirnya mengiyakan dan percaya kepada pak Ahmad.


Deni melihat sosial medianya, ternyata Mawar mengupload sebuah foto. Foto itu bergambar ice cream yang sedang di pegangnya. Deni menyukai foto itu dan meninggalkan komentar, "Ice cream? Um, yummi."


Mawar membalas komentar itu, "Do you like ice cream?"


Deni berpikir sejenak. Tak lama, Dina mengupload foto di story whatapp nya mereka bertiga sedang memakan ice cream. Deni memperhatikan ice cream itu seperti mempunyai kesamaan dengan seseorang. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mengamati lagi postingan Mawar.


"Kenapa aku berpikir begitu? Ice cream yang mereka makan sangat mirip dengan yang di upload Mawar, tapi bisa saja kan mereka sedang di kedai yang sama. Tunggu... Mawarni clarisya, apa benar Risa itu Mawar? Hah, mana mungkin? aku benar-benar sudah gila? Jika Mawar adalah Risa, selama ini aku menyukai Risa gadis menyebalkan itu. Tidak mungkin, Mawar dia sangat berbeda, lembut dan juga sopan. Sikapnya benar-benar berbanding terbalik dengan Risa. Ahh, berarti bukan 'kan? Huh, mana mungkin juga Risa adalah Mawar, benar-benar dua orang yang berbeda sikap. Jika benar dia Risa, aku harus bagaiamana?"


Begitulah, isi hati Deni yang dilema antara Risa dan Mawarni Clarisya?


**Bersambung...


Like dan komen ya 😊


Jangan lupa vote juga. 🤗


By the way, Author sakit lagi beberapa hari ini, tapi author bela-belain nulis terus 😭 Jadi mohon maaf, sementara author akan istirahat dulu ya, untuk pemulihan, Dokter bilang author harus istirahat yang cukup dulu. Paling besok author hanya akan memberikan visul Risa dan Deni. Mohom di maklumi yah, insyaallah author akan update tanggal 1 lagi ya.


Ditunggu ya Readers..

__ADS_1


Aku menyayangi kalian semua 💋💋


Luv u all 😘😘😘**


__ADS_2