
Deni dan Risa menuju kesebuah cafe. Risa sedikit canggung atas perlakuan Deni tadi di pesta. Risa tak menyangka lelaki seperti Deni bisa berbohong dengan tenang. Ucapannya benar-benar lihai, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Tatapan matanya tegas tanpa gugup sekalipun.
Risa dan Deni duduk berhadapan. Kemudian, Deni memanggil pelayan untuk membawakan menu. Risa menatap Deni diam-diam seraya Deni menyebutkan menu pesanannya.
Apa lelaki seperti Deni ini sebenarnya tukang bohong? kenapa dia bisa setenang itu tadi mengucapkan kebohongan.
"Hey, kau ingin pesan apa?" tegur Deni.
"Eh, iya." Risa menyebutkan makanan yang di pilihnya. Kemudian, ia permisi ke toilet.
Deni memainkan ponselnya seraya menikmati alunan musik, ia mengirim pesan kepada Mawar. Selang berapa menit, makanan yang mereka pesan sudah datang. Deni mulai memakannya tanpa menunggu Risa. Lagi pula Deni bukan type orang yang suka menunggu terlalu lama, ia hanya bisa menunggu kecuali kepada atasannya Renza.
Beberapa saat kemudian, Risa kembali dari toilet dan duduk ke kursinya. Risa mengerutkan keningnya melihat Deni makan dengan lahap tanpa menunggunya.
"Kau tidak menungguku?" tanya Risa.
"Menunggu apa?"
"Apa kau sudah sangat lapar?"
"Mmm, lagi pula untuk apa menunggu jika makanan sudah di atas meja." jawab Deni acuh.
Secepat ini kah perasaannya berubah, dasar tidak bisa di tebak.
Mereka berdua makan di temani alunan musik. Deni menggerakkan kakinya pelan seraya mengikuti alunan musik itu.
"Kau suka lagu ini?" tanya Risa.
"Tidak," jawab Deni acuh, "Jika sudah selesai, ayo kita pulang."
"Hmm .... "
Di dalam mobil Risa dan Deni tidak terlalu banyak bicara. Lagi pula Deni sebenarnya type orang yang banyak bicara, hanya saja tidak ke sembarang orang.
"Sekali lagi, terima kasih untuk hari ini."
"Mmm, dan itu payung mu, urusan kita selesai!"
"Oke, selesai. Siapa juga yang ingin berurusan denganmu?"
"Kau pikir aku suka berurusan dengan mu? wanita menyebalkan."
"Lelaki dingin! kau hebat dalam berbohong tadi, jangan-jangan sebenarnya kau ini tukang bohong."
"Ya, terserah saja! tidak tahu terima kasih!"
"Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Apa kau puas?"
"Tidak. Sana turun. Sudah sampai dirumah mu."
Risa membuka seat belt dan membuka pintu. Kemudian Risa keluar dan menutup pintu mobil itu dengan kuat. Kemudian, Risa kembali lagi mengambil payungnya. seraya menjulurkan lidahnya kepada Deni.
"Sialan, kenapa wanita itu begitu mengesalkan, sih?"
Tanpa berlama-lama Deni pergi melajukan kendaraannya dengan kencang kembali ke rumahnya.
***
Renza masih duduk di sofa ruang keluarga menonton televisi. Arinka sudah tidur di kamar. Sekarang Arinka tidur di kamar bawah. Ia tak di perbolehkan lagi naik tangga oleh Renza. Renza masuk ke kamar diam-diam. Ia duduk di tepi ranjang dan membelai puncak kepala Arinka berulang kali. Kemudian, ia menciup kening Arinka.
Renza hanya mempunyai kesempatan dekat dengan Arinka saat Arinka sedang tidur. Jika Arinka sudah bangun, jangankan mencium, dekat saja Arinka sudah merasa mual.
"Sehat terus ya, sayang." Renza kembali mencium kening Arinka.
Cukup lama Renza berdiam di kamar itu, kemudian ia memutuskan naik ke kamarnya dan mengambil selimut. Renza tidak ingin jauh dari Arinka, takut terjadi apa-apa padanya. Dan akhirnya, Renza tidur di sofa. Renza benar-benar mengalami persis apa yang di rasakan Arinka. Dulu, saat ia tidak menyukai Arinka, mereka tidur sekamar tapi Arinka tidur di sofa. Sekarang Renza benar-benar merasakan tidur di sofa seperti apa.
Setelah Renza terlelap, Arinka terbangun ingin ke kamar mandi. Arinka melihat lampu di ruang keluarga menyala, tapi tidak seterang biasanya. Arinka mendekat, ternyata ada suaminya yang sedang tidur berbalutkan selimut.
"Kasihan sekali, kenapa kamu harus tidur disini? kenapa tidak tidur di kamar saja, lebih nyaman dan luas. Maaf, bukannya aku sengaja ingin seperti ini, tapi aku benar-benar tidak suka bau tubuhmu, jika kau mendekat aku langsung merasakan mual yang sangat hebat. Benar-benar aneh."
Sejenak, Arinka berdiri memperhatikan Renza. Kemudian, ia berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Setelah menuang segelas air ke dalam gelas, Arinka berdiri didepan jendela kaca besar dan membuka gordennya sedikit. Arinka menatap bulan yang tengah bersinar dengan terangnya.
Lumayan lama ia berada disana, Kemudian mengisi lagi gelas ditangannya dengan air dan membawanya ke kamar. Arinka naik lagi ke atas kasur dan memejamkan matanya hingga terlelap.
Pagi hari, saat matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Bi Ami sudah bangun untuk beberes rumah. Ketika hendak membuka gorden. Bi Ami terkejut melihat Renza tidur di atas sofa.
"Ya ampun, Tuan Renza tidur di sini? Kasihan sekali, saking tidak ingin berjauhan dari Ny. Arin, Tuan rela tidur disini. Tuan benar-benar sosok suami siaga."
Renza terbangun dari tidurnya. Segera ia membawa selimut naik ke atas. Renza bergegas mandi dan setelah selesai ia berganti pakaian menggunakan pakaian kerjanya, kali ini ia belum memakai jas nya. Jas nya ia pegang di tangan dan turun ke bawah.
Renza membuka pintu kamar yang di tempati Arinka. Tapi, Arinka sudah tidak ada, ternyata Arinka sedang jalan-jalan pagi di lingkungan depan rumahnya bersama Dina. Kebetulan Dina datang sangat pagi membawa laundry jas kantor Renza dan pakaian lainnya.
"Bi, kemana Ny. Arin? Aku pikir sedang mandi, tapi tidak ada?"
"Kebetulan Ny. Arin sedang jalan-jalan pagi, Tuan."
"Sendiri? astaga?" Renza sudah bergegas akan berlari.
"Tidak, Tuan. Ny. Arin bersama Dina."
"Dina? tumben datang sepagi ini?"
"Iya, karena kemarin tidak datang, hari ini datangnya pagi."
"Aku ingin melihatnya sebentar, ini jas ku." Renza memberikan jas nya kepada Bi Ami kemudian ia keluar rumah dan membuka pintu gerbang sedikit.
Renza berjalan pelan seraya merileks-kan tubuhnya. Tidur di sofa semalam membuat badannya sakit.
"Jadi waktu itu, Arinka juga sakit badan karena tiap malam tidur di sofa? mungkin hari-hari pembalasanku sudah datang."
Arinka berjalan dengan santai, tangannya ia angkat keatas seraya menghirup udara segar. Sangat jarang di kota besar masih bisa menghirup udah segar. Polusi bertebaran dimana-mana. Arinka teringat ketika berada di pulau. Udaranya benar-benar alami, bau air laut yang menyengat hidung dan bau khas pepohonan benar-benar nyaman.
"Sangat segar, benar 'kan, Din?"
"Mmm ... mungkin karena masih banyak pohon di sini."
"Iya, makanya udara masih asri dan nyaman."
"Nyonya, bukankah lucu saat hamil seperti ini tidak suka bau suami sendiri?"
"Nah benar, aku juga berpikir begitu. Tapi kalau bau coklat aku sangat suka." ucap Arinka seraya tersenyum memperlihatkan semua deretan giginya.
"Ya ampun Nyonya, anda benar-benar unik." Dina tertawa.
__ADS_1
Renza melihat di kejauhan Arinka meliuk-liukan pinggang seraya mengangkat tangannya ke udara. Renza tersenyum melihatnya. Ingin sekali Renza mendekat dan memeluknya. Tapi pasti akan membuatnya mual.
"Sayang, Ayo masuk, jangan terlalu lama diluar!" ucap Renza seraya berteriak.
"Iya, Pip."
Arinka masuk ke dalam rumah di ikuti Dina. Renza menyusul setelah dua orang itu masuk. Renza sudah duduk di meja makan seraya meminum segelas air putih. Arinka tersenyum melihat suaminya yang sudah rapi.
"Jas mu di mana, Pip? maaf, sementara aku tidak bisa melayanimu dengan baik sekarang."
"Ada, belum di pakai. Tidak apa-apa sayang."
Sebenarnya aku sedih, aku ingin sekali bermanja-manja dengan istriku, mengelus perutnya setiap malam. Tapi apalah daya karena bau tubuh ini aku tidak bisa mendekat.
Arinka duduk di meja makan sambil memakan roti dan meminum susu hamil. Deni datang menyapa semua orang dan langsung duduk di meja makan.
"Morning!"
"Morning, Deni." jawab Arinka.
"Beri aku secangkir kopi, Bi?" pinta Deni.
"Ya, Tuan. tunggu sebentar."
"Oh ya, Pak. Perusahaan Time matchine mengatakan akan mengadakan pameran besar lusa, ini ada brosurnya, katanya mereka akan memamerkan jam tangan buatan terbaru mereka, harga nya di bandrol berkisar 18 juta - 700 juta."
Jam tangan saja harganya selangit, mendengar jumlah nominalnya saja aku sudah takut duluan... gumam Arinka.
"Aku benar-benar lupa, ini proyek kerja sama perusahaan, Tolong tingkatkan keamanan gedung dan fasilitasi semua dengan fasilitas no 1. Jangan sampai ada kesalahan, kau mengerti!"
"Baik, Pak."
"Jam berapa pamerannya besok?"
"Jam 14.00 dan bapak sebaiknya membawa Ny. Arinka juga."
"Tapi bagaimana? Arinka tidak bisa mencium bau tubuhku?" Renza melirik ke arah Arinka.
"Bagaimana, ya?" Deni memutar otak seraya berpikir keras.
"Aku benar-benar tidak bisa mencium bau tubuhnya? entah kenapa? benar-benar mual."
"Datang sendiri saja, atau aku akan mengajak Sisil."
"Iya, Pak Renza bisa mengajak Sisil, aku akan sangat sibuk soalnya mengurus keamanan, mungkin aku akan lembur."
"Baiklah, kerja yang bagus, Deni. Sekarang ayo kita berangkat."
Setelah menyeruput kopi, Deni bergegas beranjak dari kursi dan tak lupa mengejar Renza. Arinka dan Renza sekarang seakan memiliki jarak. Tidak ada lagi mesra-mesra seperti biasa, yang ada hanya saling lempar senyum saja.
Di kantor, Deni benar-benar sibuk dan tenggelam dalam urusan pekerjaan. Jika sudah berurusan dengan bekerja, Deni akan benar-benar totalitas. Deni sibuk mengurus keperluan pameran perusahaan Time matchine, karena perusahaan itu adalah perusahaan jam tangan mewah. Dan demi mendapatkan kerja samanya, Renza harus rela mengesampingkan kerja sama dengan perusahaan lainnya.
Siang ini Renza dan Deni akan bertemu Manager pemasaran dari Time matchine, managernya benar-benar orang yang sangat handal. Renza dan Deni bertemu untuk membicarakan kekurangannya. Pengaturan tata letak dan apapun yang di perlukan. Mereka memilih ruang Vvip di sebuah hotel.
Renza dan Deni sudah datang. Tak lama Manager Time matchine juga datang dan segera duduk. Mereka saling memperkenalkan diri.
"Maaf terlambat, Pak Renzaldi."
"Tidak apa-apa Reyn. Kami juga belum lama."
"Jadi kalian juga bekerja sama dengan Ganier's? kenapa tidak memberi tahu dari awal?"
"Bukannya sudah di pastikan karena Ganier's project adalah perusahaan dekor kelas atas untuk acara semacam ini sangat bagus? Kalian hanya urusan gedung dan keamanan barang. Jadi selebihnya biar kita bagi project ini."
Tok... Tok...
Terdengar suara pintu dari luar. Lalu dua orang laki-laki masuk dengan dengan setelan jas berwarna hitam.
"Maaf, terlambat."
"Tidak apa-apa, lagi pula kami baru saja memulai," ucap Reyn.
Renza melirik sinis dan Deni megerutkan dahinya. Deni seperti pernah mengenal lelaki satunya.
"Saya Dahlan Ghani."
"Saya Aldy. Senang bisa bertemu dengan anda."
"Silahkan duduk," ucap Reyn.
Reyn memulai pembicaraannya dan kemudian mereka menyetujui ide Reyn dengan terpaksa. Bagaimana lagi, Pamerannya mendadak dan harus butuh tangan banyak orang. Mereka saling bersalaman dan turun ke restauran untuk makan siang. Reyn sudah keluar terlebih dahulu.
"Kita sepertinya pernah bertemu?" tanya Aldy.
"Aku juga berpikir begitu, tapi sayangnya aku lupa." jawab Deni.
"Kau yang membawa boneka beruang besar 'kan?"
"Oeh, jadi kau yang mengaku teman Arinka itu!"
"Aku memang temannya."
"Keponakanku, apa kabarmu?" sapa Dahlan sok akrab.
"Seperti yang terlihat."
"Kau semakin sukses, ya?"
"Ya, begitu lah."
"Aku menunggu kau turun dari kedudukan itu," ucap Dahlan.
"Jangan di tunggu, aku tidak akan turun dari kedudukan ini, sudah cukup kau membuat kacau perusahaan dulunya hingga membuat nenek sakit, kau korupsi sangat banyak. Untung karena Nenek baik, beliau hanya menyuruh membayar denda. Jika pada saat itu aku sudah berkuasa seperti sekarang kau mungkin akan tinggal di penjara."
"Haha, kau benar-benar menakutkan. Tapi sayangnya aku tidak takut. Ayo kita sukses kan bersama proyek ini."
"Of course," ucap Renza tersenyum sinis.
Dasar tak tahu malu, sudah banyak memakan uang perusahaan masih saja ingin kedudukanku, tidak sadar ya bahwa dia hanya saudara tiri, tak tahu diri, Cih!
Mereka berlima duduk di restauran di dalam hotel. Renza benar-benar tidak berselera makan bersamaan dengan Dahlan dan Aldy. Ia hanya mengacak-acak isi piringnya dan minum segelas air, di tambah istrinya sangat jauh darinya. Membuat moodnya benar-benar rusak. Deni memperhatikannya tapi terus melahap makanannya.
Selesai makan, mereka segera berpisah. Tapi Renza meminta makan siang lagi, ia sangat ingin memakan pizza dan burger. Deni mengiyakan dan melajukan kendaraan ke tempat pizza terdekat.
__ADS_1
Sesampainya di sana, Mereka segera duduk. Renza benar-benar terlihat seperti orang yang banyak masalah. Wajahnya tidak senyum sedikitpun.
"Kenapa mereak harus melakukan kerja sama dengan Ganier's project sih? mereka memang perusahaan dekor ternama, tapi mereka sering melakukan banyak kecurangan."
"Aku juga bingung, Reyn tidak berbicara terlebih dahulu. Dan terlebih lagi aku sangat muak melihat Dahlan sialan itu."
"Apakah pak Renza tahu, orang yang bernama Aldy itu, orang yang sama yang duduk dengan Ny. Arin saat di taman?"
"Benarkah? aku tidak mengingatnya."
"Hmm, aku juga sempat mengingat-ingat, tapi tadi Aldy sendiri yang berkata bahwa aku adalah orang yang membawa boneka beruang besar."
"Wah, kita harus ekstra hati-hati, pengamanan 3 lapis. Aku sangat tidak mempercayai mereka, ini berhubungan dengan barang mewah yang nilai dari semua yang di pamerkan nantinya akan berjumlah milyaran."
"Iya, Pak."
"Ya sudah, ayo beli sana."
Renza melirik sekitar, sekilas matanya menatap orang yang di kenalnya. Renza tersenyum, tapi orang yang dilihat itu tidak menoleh sama sekali, orang itu hanya sibuk berbicara dengan orang di depannya.
Tak lama Deni datang dan duduk, pelayan itu sudah membawakan pizza dan burger. Renza langsung menyantap burger itu dengan lahap.
"Kau lihat wanita disana?" Renza menunjuk kearah seorang wanita.
"Risa?"
"Hmm, kau sudah kalah, haha. Dia sudah bersama lelaki lain."
Hati ku merasa aneh mendengar ucapan Renza. Kenapa memangnya, bukannya bagus jika dia sudah punya pacar baru, Bodo amat.
"Iya, haha." Deni tertawa kaku.
"Pacarnya sangat tampan, ototnya besar dan dadanya wow sangat bidang. Type lelaki nya seperti itu ternyata."
Sambil makan Renza terus berbicara kepada Deni. Deni melirik mencari kesempatan. Deni melihat Risa tengah tertawa bahagia dan lelaki itu mencubit pipinya.
Risa melirik keramaian disana saat sudah akan pulang, tak disangka ia melihat Renza. Demikian juga Renza melihat Risa. Renza melambaikan tangannya kearah Risa menyuruhnya mendekat. Deni menjadi canggung.
Risa mendekat kearah Renza, kemudian lelaki itu mengikutinya dari samping.
"Ris, main-main kerumah? Arin mungkin bosan, ia pasti suka jika kau datang."
"Iya, Pak. aku memang berencana main juga ke rumah kalian. Oh ya, selamat atas kehamilan kak Arin."
"Terima kasih."
Risa menatap Deni dengan sinis, sebaliknya Deni pun tidak menatap Risa sama sekali.
"Ini pacar baru kamu?" tanya Renza.
"Halo, perkenalkan saya Rasya."
"Halo aku Renza dan ini Deni."
"Wah, nama kalian bahkan sangat mirip, Risa dan Rasya."
"Yah, karena kami kakak beradik." ucap Rasya.
"Wah, aku pikir kalian pacaran. Kalian sangat mesra tadi."
"Kakak ku mengambil cuti libur 3 hari."
Ya ampun kenapa aku bisa tidak ingat bahwa Risa mempunyai kakak tentara.
"Deni, kau masih ada kesempatan buat dapatin Risa." Renza mengejek Deni, raut wajah Risa seketika merona merah seperti tomat, sedang Deni tersedak sedang makan pizza.
"Apa-apaan, Pak."
"Jadi, ini calon pacar adikku?" ucap Rasya.
"Bu-bukan, Kak. Kakak jangan salah sangka?" jawab Risa.
"Kami bahkan tidak saling kenal?" ucap Deni.
"Benarkah? bukankah kalian sudah sering bertemu?" ucap Renza seraya tersenyum mengulum bibirnya.
Sialan pak Renza ini, maunya apa sih?
"Jika kau menjadi pacar adikku, kau harus ekstra sabar. Risa ini benar-benar si bungsu yang keras dan manja. Mana ada sih lelaki yang mau sebenarnya?"
"Dia memang sangat menyebalkan." gumam Deni.
"Jangan bicara yang jelek-jelek, mana ada yang mau sama aku, jika kakak sendiri menjelek-jelekan adiknya, sebenarnya dengan jalan sama kakak saja sudah membuat lelaki lain menciut, haha." ucap Risa seraya tertawa.
"Kamu tentara?" tanya Renza.
"Mmm."
"Wah, dari postur tubuhmu sudah terlihat sih. Senang berkenalan denganmu?" ucap Renza.
"Sama, senang juga bertemu denganmu."
"Deni, beri salam sama kakak ipar?" Renza terkekeh.
"Jika kau yang menjadi pacar adikku, aku setuju. Sepertinya kau orang yang baik dan sopan."
"Sopan?" Risa bergumam pelan seraya menggerutu, "Dia kasar, dan tidak sopan." Kemudian Risa melirik Deni dan menajamkan tatapannya, Deni membalasnya dengan tatapan yang sama.
"Ya sudah, kami permisi dulu. Risa masih mau mengajak jalan-jalan."
"Ya silahkan."
***Bersambung....
Tak bosan-bosan aku ingatkan jangan lupa likez, vote dan comment ya 😊💋
Ada yang punya aku ******* ga? kalo ada bisa mampir di ceritaku berjudul "ARINDA*"
*Cerita itu aku ikutkan di challenge, jadi jika punya aku harap kalian bisa mampir dan kasih like disana ya.
Nama akuna Wp nya Chaindhiey juga sama kek akun ini.
Terima kasih ❤❤
__ADS_1
Salam sayang dari ku buat Readers semua, Luv u all 😘😘😘💋💋***