
Pagi itu mentari berwarna kekuningan menyinari bumi. Cahayanya yang terang menyemangati setiap insan untuk beraktivitas.
"Sayang, apa kau sudah bersiap?" ucap Renza seraya tersenyum manis layaknya madu.
"Sudah," jawab Arinka.
"Kita akan berangkat pagi ini, Deni sudah menunggu di depan!"
Renza dan Arinka turun dari tangga dengan hati-hati. Deni bergegas membawakan koper. Deni akan mengantar mereka ke bandara.
Tak perlu menunggu lama bagi Arinka dan Renza untuk menunggu pintu mobilnya terbuka. Hanya sekali melirik Deni segera membukakan pintu mobil itu cepat. Mobil itu melaju ke bandara dengan kecepatan sedang.
Setelah semuanya beres diurus, Arinka dan Renza terbang ke pulau pribadi, pulau wisata yang sering menjadi tempat bulan madu bagi pasangan yang sudah menikah.
Tidak butuh waktu lama, setelah dari bandara, seseorang menjemputnya menggunakan mobil mewah. Sebentar lagi Mereka akan naik kapal menyebrangi laut untuk menuju pulau wisata itu.
Ini pengalaman pertama bagi Arinka, ia sangat takut saat akan menaiki kapal itu, tetapi Renza selalu berada disampingnya, memeluknya dan mendekap sehingga rasa takut itu sirna seketika.
Mereka duduk berdua di atas kapal. Sepoi angin membuat rambut panjang Arinka melayang tak terarah. Sesekali Renza menyibak rambut Arinka dan tersenyum lembut.
Laut yang begitu tenang, menggambarkan perasaan hati mereka saat itu. Setelah puas duduk, Arinka berdiri mendongakkan kepalanya seraya menghirup kuat udara didekatnya.
Cekrek!
Renza memotret Arinka beberapa kali. Arinka tertawa lucu seraya menyibak rambutnya karena sangat berantakan.
"Kenapa di foto? rambutnya berantakan karena angin yang kuat."
"Tetap cantik, dari samping terlihat rahang mu yang tegas dan hidung mungil mu, sayang. Benar-benar sangat cantik."
"Jangan begitu, aku jadi malu."
"Malu kenapa?"
"Malu saja selalu dipuji, lama-lama aku jadi gila pujian."
"Uwuu."
Beberapa menit kemudian, kapal itu merapat di dermaga. Butuh 25 menit waktu untuk menyebrang. Arinka dan Renza sudah turun. Arinka di buat takjub dengan pemandangannya. Pohon-pohon tertata rapi, pasir putih seperti mutiara yang mengkilap, dan udara sangat nyaman dan sejuk.
Batu-batu menjajari setiap jalan setapak yang lurus. Bunga-bunga berwarna warni sedang mekar dengan sempurna, baunya semerbak tercium di penciuman Mereka, "Emm, wangi sekali," ucap Arinka.
Seorang pekerja dipulau itu mengantarkan Arinka dan Renza kesebuah resort penginapan yang unik ditepian laut. Angin benar-benar bertiup dengan kencang saat itu.
"Apa kau kedinginan sayang, anginnya lumayan kuat?" ucap Renza.
"Tidak, ini menyenangkan."
Setelah mengantar mereka ke resort penginapan, pekerja itu pergi meninggalkan mereka, tak lupa Renza memberinya tip.
Renza membuka pintu penginapannya itu dan bergegas masuk. Renza segera berbaring di atas sofa melepas penat sedangkan Arinka masih ternganga melihat seisi penginapan itu dengan ornamen serba putih.
Arinka berjalan membuka pintu, ia sangat takjub melihat kolam renang yang mengarah langsung kelaut lepas. Bagian belakang resort itu memiliki tangga yang mengarah kelaut, supaya pengunjung bisa langsung diving dari kamar melihat terumbu karang yang indah dan melihat ikan-ikan yang sangat cantik.
"Benar-benar indah," ucap Arinka.
"Kau suka, Mimom sayang?"
"Emm, suka sekali."
Renza berjalan menghampiri Arinka seraya memeluknya dari belakang. Suasana yang sangat romantis, seraya melihat laut dihadapan mata.
Suara deburan ombak benar-benar menambah romantisme di dalam kamar resort itu. Renza terus memeluk Arinka, sesekali ia mengecup pipi Arinka dan turun mengecup lehernya.
"Ayo kita jalan-jalan?" ajak Arinka.
"Memangnya Mimom tidak lelah?"
"Tidak." seraya menggelengkan kepalanya.
Arinka dan Renza keluar dari dalam resort itu. Kebetulan di luar disediakan dua pasang sandal untuk tamu yang ingin memakai sandal dengan santai. Arinka membuka flat shoes nya dan menggantinya dengan sandal. Renza pun mengikuti istrinya itu.
Mereka berjalan melewati pepohonan yang asri dengan pemandangan yang sangat indah dan tenang. Arinka dna Renza saling menggenggam.
Tiba-tiba Renza berhenti didepan Arinka, ia membungkukkan badan dan menepuk belakangnya seraya berkata, "Ayo naik biar pipom gendong!"
Arinka menurut, ia menaiki punggung suaminya itu. Mereka berdua berjalan pelan sambil menikmati keindahan pulau.
Kini Arinka dan Renza sudah sampai di bibir pantai. Mereka duduk begitu saja di atas pasir putih itu. Arinka dan Renza membuka sendalnya, membiarkan telapak kaki mereka terkena terpaan kecil air pantai sambil menikmati sore hari yang bahagia.
Renza tiba-tiba berlari meninggalkan Arinka. Arinka melongo heran dengan sikap Renza. Arinka melihat Renza masuk disebuah toko pernak pernik untuk cendramata.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Renza keluar dengan sebuah barang di genggamannya. Arinka terus mengernyitkan keningnya heran akan tingkah suaminya itu. Arinka memainkan lagi kakinya yang terkena deburan ombak kecil itu seraya tertawa.
Renza menghampiri Arinka dengan napas tersenggal, ia duduk disamping Arinka seraya memasangkan sesuatu dikaki Arinka. Arinka menundukkan kepalanya, ia tersenyum melihat sebuah gelang kaki yang telah melingkar manis dikakinya. Gelang itu adalah gelang kaki kerang.
"Apa kau suka?" tanya Renza.
"Sangat suka, kaki-ku jadi cantik." Arinka tertawa bahagia melihat Renza mengernyitkan dahinya. Akhirnya, mereka tertawa bersama.
"Semua yang ada pada dirimu selalu cantik, Arinka sayang." ucap Renza seraya mengusap pipi Arinka.
Arinka terdiam untuk sejenak, membiarkan dirinya terpaku pada tatapan hangat Renza. Hingga Arinka menundukkan kepalanya untuk memutus kontak mata diantara mereka berdua. Arinka masih canggung jika menatap mata Renza dan ia masih merasa malu.
"Kau benar-benar membuatku terpesona berkali-kali, pesonamu tidak dapat aku hindari, kau benar-benar menggoda di mataku."
Tanpa aba-aba dan tanpa canggung, Renza menempelkan bibirnya di bibir Arinka, kemudian Renza melumatnya dengan lembut.
"Hentikan!" ucap Arinka.
"Kenapa?"
"Ini tempat umum, lihat saja banyak pasangan di sekitar kita."
"Maaf, aku khilaf." ucap Renza terkekeh.
Renza merasa sudah gila dan sudah tidak waras jika berada didekat Arinka. ia sangat menyukai wanita disampingnya itu. Tidak ada alasan baginya untuk menolak pesona Arinka yang begitu cantik itu.
Suasana sore itu sangat indah, beberapa pasangan masih sibuk bermain ombak ditepi pantai, beberapa lagi sedang mengambil foto dan beberapa lagi sedang duduk menunggu sunset.
Renza dan Arinka beranjak dari bibir pantai dan memutuskan pulang ke kamar resort mereka. Mereka terus berjalan menapak jalan setapak lurus seraya menggenggam tangan satu sama lain.
Setelah dekat dengan kamar resort nya, Renza menggendong Arinka menuju kamar mereka. Arinka tersenyum lebar digendong seperti itu oleh Renza.
Arinka masuk dan duduk di sofa. Renza bergegas mengambil air minum dan menelpon layanan kamar. mereka akan memesan makan malam. Setelah memesan, Renza masuk ke kamar mandi sedang Arinka masih menatap langit senja.
Arinka melihat sebuah bath up disamping kolam renang, sebenarnya itu adalah Jacuzzi. Namun, jacuzzi itu hanya dianggurkan oleh Arinka.
Hari semakin sore dan matahari mulai hilang dari bumi. Arinka memilih duduk menatap lautan lepas yang ombaknya semakin besar di malam hari.
Tiba-tiba hujan mengguyur pulau itu. Arinka berlari masuk kedalam kamar. Terlihat air dikolam renang itu bergerak-gerak terkena tetesan deras air hujan.
Renza sudah selesai mandi, mereka tak mandi bersama karena memesan layanan kamar. Setelah Renza selesai, bergantian Arinka yang masuk kedalam kamar mandi.
Layanan kamar sudah datang, Renza membuka pintu dan mempersilahkan pelayan masuk untuk menata meja. Tak ketinggalan sebotol wine diatas meja itu. Setelah menata meja pelayan itu sudah keluar. Renza berkata jika selama tiga hari mereka akan menggunakan layanan kamar.
Arinka kebingungan, pakaian tidur yang baru dibelikan itu sangat seksi dengan tali sangat kecil dan pendek sepaha. Sedang Renza menggunakan celana pendek dengan baju kaos yang tipis, seaakan bisa memperlihatkan tubuhnya.
Renza memanggil Arinka dan mempersilahkannya duduk. Benar-benar sangat indah, meja itu ditata rapi seperti makan malam romantis yang dipenuhi lilin alias Candle light dinner.
Mereka benar-benar menikmati makanan itu. Arinka melirik botol wine dan mengerucutkan bibirnya.
"Bukankah ini minuman yang membuatku mabuk saat di hotel?"
"Iya, kau jangan meminumnya."
"Tidak akan."
Setelah makan, mereka berdua berdiri di depan jendela kaca yang besar. Arinka menatap kolam renang yang dijatuhi oleh tetesan air hujan.
Renza memeluk Arinka erat, Renza bergumam kecil ditelinga Arinka, "Kau benar-benar seksi dan cantik memakai gaun tidur ini." kemudian mengecup lembut tengkuk Arinka. Diperlakukan seperti itu membuat bulu kuduk Arinka meremang begitu mendengar suara berat dan serak Renza.
Renza sekali lagi mengecup tengkuk Arinka, mengecup lembut, lalu ciuman itu turun lagi ke bahu Arinka. Ciuman itu mulai panas dan bernafsu. Renza ingin mengecup seluruh inci kulit Arinka tanpa terkecuali.
Renza semakin tergoda ketika menghirup aroma manis kulit Arinka. Renza semakin tak sabar. ia mulai mencium bibir Arinka dengan lembut dan kemudian mengangkatnya dan membawanya ke atas tempat tidur.
Kasur dengan sprei putih yang berukuran King size ini menghadap pintu kaca yang memperlihatkan pemandangan laut lepas.
"Mimom, kau benar-benar menggoda!" ucap Renza seraya memeluk tubuh Arinka.
Arinka hanya terdiam dan tersenyum. Tangan Renza mulai menyentuh setiap lekuk tubuh Arinka. Renza sontak tepaku ketika melihat sosok yang sangat cantik terbaring pasrah dibawahnya.
Satu demi satu pakaian Arinka dilepas oleh Renza seraya menciumi setiap inci tubuhnya, tak lupa ia meninggalkan jejak kepemilikan ditubuh Arinka.
Degup jantung Arinka semakin kencang, bertabuh bagaikan genderang perang. Hasrat yang kuat menyatu didalam dada mereka. Sebuah aura nafsu yang besar dan membara seakan membakar tubuh mereka. Dua orang yang sedang menikmati indahnya cinta itu terbuai dalam surga dunia.
Renza menuruni tubuh Arinka, sementara tangan Arinka menyentuh tubuh Renza yang sensitif. Hal itu membuat Renza mendesah pelan. Mereka memulai ritual penyatuan tubuh mereka, dengan lembut Renza mulai memasukinya.
Kamar itu terasa panas ditengah cuaca dingin, diluar kamar hujan turun derasnya. Ruangan kamar yang tadinya sunyi senyap mendadak dipenuhi suara rintihan dan erangan penuh kenikmatan mereka berdua. Tak lama kemudian, Arinka menjerit penuh kenikmatan seraya mencegkram seprei putih itu karena puncak yang didapatkannya.
Dengan napas tersengal Renza berbaring disebelah Arinka. ia berbaring seraya mengecup kening Arinka, "Kau benar-benar hebat sekarang sayang."
Arinka tak menjawab, ia hanya tersenyum dan masih bernafas kasar. Malam itu dua insan yang sedang di mabuk cinta itu melepaskan semua hasrat dan gejolak cinta didalam dadanya. Tak satupun penghalang bagi mereka untuk melakukannya berkali-kali.
__ADS_1
"Aku ingin kita segera memiliki anak," ucap Renza.
"Iya, aku juga."
"Aku ingin mempunyai 3 anak."
"Banyak sekali, 2 saja sudah cukup."
"Tidak, aku ingin mempunyai anak yang banyak, supaya rumah kita nantinya akan ramai dan kau tidak akan kesepian."
"Kita lihat nanti saja."
Renza bangkit dan duduk seraya mencium perut rata Arinka seraya berkata, "Cepat tumbuh ya, nak."
Arinka tersenyum mendengar ucapan Renza. Renza menatapnya lekat kemudian mencium bibirnya lagi dengan lembut. Ciuman itu berangsur lama sehingga Arinka sempat tersenggal, lalu ia menghirup nafas kasar menghembuskan dan membuangnya.
Melihat Arinka bertingkah begitu, Renza semakin bersemangat untuk menciumnya lagi. Kembali ciuman itu diberikan oleh Renza, semakin lama semakin bernafsu. Tangannya mulai meraba lagi lekuk tubuh Arinka.
Suasana menjadi panas kembali, saat dua orang sejoli ini mulai menghela nafas. Berkali-kali Arinka mencengkram sprei karena permainan Renza yang sudah tidak lembut lagi.
Helaan nafas kasar saat aura cinta menyatu menjadi satu,
membuat gelora didalam dada bergejolak tak menentu,
gerakan demi gerakan dilancarkan dengan ritme seirama,
menambah indahnya penyatuan cinta dua insan yang di mabuk cinta.
Kamar itu menjadi saksi bisu penyatuan cinta mereka entah yang kesekian kalinya. Renza terus membuat Arinka lelah malam itu.
Bersambung...
**Hay Reader tersayang, part bulan madu ini akan banyak diisi oleh adegan percintaan ya, jadi mohon maaf yang tidak suka bisa menutup mata saja 😁😁
Jika selesai membaca silahkan tekan like..
Oh ya Author membuat puisi nih, ini author kasih buat kalian pembaca setia Novel author 😂😂
Jika mempunyai kritik dan saran silahkan comment, author dengan senang hati membacanya, mohon maaf jika tidak bisa membalas semuanya ya 💋
Jangan lupa vote dan comment ya 😊
Salam sayang dari ku buat Readers semua 💗
Luv u All 😘
Nah ini puisi dari author, maaf jika masih banyak salah. Author juga masih belajar 😂**
***Judul : Pupus
by Cha Indhiey
Sepahit obat yang pernah aku rasa
Lebih pahit ketika kau meninggalkan aku pergi
Meninggalkan segala cinta, mimpi dan asa
Menyisakan pekat yang masih lekat dalam hati
Berjuta Kenangan syarat akan makna
Terukir jelas dalam harapan tak pasti
Kau memilih enggan untuk berkata
Aku di sini masih merajuk dalam sepi
Pupus sudah segala cinta dan anganku
Semua memori nan indah dari bayangan semu
Hancur rasanya bagaikan teriris sembilu
Menyatu dan mengharu di lautan biru
Ku telan lagi semua kepahitan di hati
Meskipun rasa yang aku nanti telah mati
Melayang melewati batas mimpi penuh arti
__ADS_1
Bertahanlah, walaupun sulit harus tetap ku nikmati***.