
Hari semakin sore, Arinka terbangun dari tidurnya. Ia tak menyangka tidur begitu pulas, sampai-sampai tidak sadar bahwa ia sudah ada di kamarnya sekarang.
Arinka melirik jam dinding besar di dalam kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 3. Bola matanya memutar melihat seseorang disampingnya yang tengah tidur pulas. Arinka tersenyum menatap Renza, tangannya refleks mengusap pipi Renza lembut seraya bergumam, "Terima kasih karena sudah mencintai aku sebesar ini."
Arinka beranjak dari ranjangnya. Perutnya mulai keroncongan. Ia melirik lagi kearah Renza, pasti Renza juga kelaparan. Arinka berjalan mendekati cermin seraya membuka jaketnya.
Ya ampun, sebanyak ini.. Bagaimana aku akan keluar?
Arinka berjalan lagi mendekati Renza, kemudian duduk ditepi ranjangnya. Renza membuka matanya perlahan kemudian tersenyum dengan manja.
"Sudah bangun?" tanya Renza.
"Hmm ... Terima kasih karena sudah mengangkatku?" Arinka terkekeh.
"Sama-sama sayang."
Kreok!
Terdengar suara perut keroncongan itu dari arah Arinka. Renza bergegas bangkit dari ranjangnya.
"Kau lapar, ayo kita makan?"
"Tapi ...."
"Tapi, kenapa?"
"Ini," ucap Arinka seraya menunjuk lehernya, "Aku sangat malu jika mereka memperhatikannya nanti."
"Tidak apa, di bawah hanya ada Bi Ami. Bi Ami tidak akan bertanya walau melihat sekalipun."
"Baiklah."
"Nanti Deni yang akan membelikan baju turtle neck."
Renza memegang tangan Arinka dan mengajaknya turun. Renza menarik kursi makan itu untuk mempersilahkan Arinka duduk. Bi Ami bergegas menyajikan makanan diatas meja.
Benar saja, Bi Ami tidak akan berani bertanya kepada Arinka. Setelah makan mereka duduk ditaman belakang. Arinka duduk di ayunan, sedangkan Renza duduk di bangku. Bi Ami membawakan minuman dan cemilan.
Bunga-bunga ditaman itu bermekaran dengan sempurna, Pak Tino merawatnya dengan sangat baik.
"Ah, ternyata di taman rumah kita juga sangat nyaman," ucap Renza.
"Hmm, angin sepoi-sepoi, bunga berwarna warni, mirip seperti di pulau kemarin."
"Iya, anggap saja kita masih di pulau." Renza terkekeh.
Renza mendekatkan kursinya didekat ayunan, Kemudian menyuapi Arinka cemilan buah yang sudah di potong.
"Mimom harus banyak makan buah, biar sehat."
"Ya, Pipom juga."
Renza menyuruh Bi Ami mengambilkan ponselnya dikamar. Renza ingin melihat foto-foto momen nya di pulau bersama Arinka. Sore ini Renza ingin mengajak Arinka untuk jalan-jalan.
Bi Ami datang membawakan ponsel Renza dan segera memberikannya. Renza segera menelpon Deni.
"Ada apa, Pak?" tanya Deni.
"Nanti sore kau kerumah, aku membelikanmu ole-ole."
"Wah, Benarkah? iya saya kesana nanti."
Renza memutuskan sambungan telpon itu. Kemudian Arinka dan Renza beranjak duduk di kursi panjang dibawah pohon. Renza menunjukkan semua foto Arinka yang ia ambil selama di pulau.
Mereka tertawa, saling mesra dan kadang-kadang bercanda. Mereka benar-benar terlihat seperti pengantin baru. Kemudian, Renza mengusap perut rata Arinka seraya berbisik, "Tidak lama lagi dia akan tumbuh disini."
"Hmm ... semoga saja secepatnya."
Arinka mengambil ponselnya dan memberi tahu Risa bahwa Arinka mempunyai ole-ole untuknya. Arinka mengajaknya bertemu nanti sore di sebuah cafe.
Arinka mengatakan kepada Renza bahwa ia akan mandi. Renza mengiyakan. Hari ini Renza akan jalan-jalan sore selain hari minggu, biasanya ia bisa jalan-jalan setelah pulang kerja.
Setelah mandi, Arinka mencari baju turtle neck dilemarinya. Arinka menemukan dress bodycon abu-abu, Ia mencobanya dan berputar-putar didepan cermin.
"Ah, terlalu seksi, ga cocok."
Diam-diam Renza memperhatikan di balik pintu, ia tersenyum melihat istri kesayangannya itu mencoba pakaian. Arinka mengganti baju nya lagi mamakai turtle neck abu lengan panjang dan memakai celana cutbray.
"Seperti ini cocok apa tidak ya?"
"Sangat cocok," ucap Renza seraya masuk dan tersenyum menghampiri Arinka.
"Sejak kapan Pipom disana?"
"Sejak tadi, sejak Mimom mengganti dress bodycon itu."
"Ishh, itu namanya ngintip." ucap Arinka mencebikkan bibirnya.
"Tidak, itu keberuntungan." Renza terkekeh.
Renza memeluk Arinka dan mengecup keningnya. Bau manis ditubuh Arinka benar-benar menggoda.
"Pipom suka bau dari tubuh Mimom, manis."
"Hmm, benarkah?"
"Mmm." ucap Renza mencium hidung Arinka.
"Pipom ingin mandi dulu ya?"
"Oke."
Arinka duduk didepan meja riasnya. Sedikit demi sedikit ia memoles wajahnya, memakai bedak tipis dan tak ketinggalan memakai liptint kesukaannya.
Renza keluar dari kamar mandi, seperti biasa hanya menggunakan handuk dibagian bawah saja, sedangkan dibagian atas dibiarkan terbuka. Arinka menoleh dan tersenyum.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tidak, hanya ingin senyum saja."
Renza mendekat, kemudian menjulurkan tangannya memegang dagu Arinka dan otomatis Arinka mendongak.
Cup!
Renza mengecup bibir Arinka dengan seksi seraya berkata, " Bibir ranum ini yang selalu aku membuatku tergoda."
Belum sempat Arinka menjawab, Renza menciumnya lebih dalam. Arinka terengah dan melepaskan ciuman itu. Renza tersenyum menatapnya, "lipstiknya sudah hilang."
Arinka menoleh ke arah cermin dan kemudian tertawa, "Apa mau aku tarik handuk ini," ucap Arinka seraya mencubit dada bidang Renza.
"Jika Mimom tarik, berarti ini trik menggoda, dan kita tidak keluar dari kamar ini kalau belum tiga puluh menit," uca Renza mengusap pipi Arinka dan menyerigai.
"Aku sudah memakai baju cantik seperti ini, apa Pipom tega melucutinya lagi?"
"Tega dong, tapi sekarang Pipom biarkan karena kita akan jalan-jalan."
"Baik sekali." ucap Arinka seraya bangkit dan mengelus pipi Renza.
"Nah, ini menggoda lagi."
"Tidak, Mimom tidak menggoda."
"Sebagai imbalannya sini cium!"
"Nanti tergoda lagi."
"Tidak, sini cepat!"
Arinka mendekatkan diri kepada Renza, kemudian Renza mencium keningnya lembut dan tersenyum.
"Terima kasih, sayang," ucap Arinka.
Renza masuk ke ruang pakaian dan memilih baju. Ia memilih baju kemeja berwarna abu agar nampak senada dengan baju turtle neck Arinka. Celananya ia memakai celana panjang kain lurus.
Apapun yang di pakai Renza selalu nampak sangat modis. Renza benar-benar seperti model. Arinka sangat suka melihat Renza memakai kemeja, benar-benar manly.
Arinka dan Renza menuruni tangga. Renza menggenggam tangan Arinka dengan erat. Arinka pamit kepada Bi Ami, ia membawa paper bag dan kemudian mereka pergi dengan mobilnya.
Dijalan, Deni menelpon tapi tak di jawab oleh Renza. Renza sengaja, jika sudah sampai dia akan menghubunginya kembali.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah cafe berlantai dua, cafe itu sedang hits untuk anak muda yang suka hang out. Renza sengaja mengajak Arinka ke tempat ini, karena cerita Arinka yang dulunya tidak pernah merasakan hang out bersama temannya.
Renza menelpon Deni agar Deni segera menyusulnya ke cafe itu.
"Den, kau kesini ya ke cafe Nature."
"Aku dirumah kalian sekarang, kenapa tadi tidak menjawab telponku?"
"Aku sedang dijalan, kesini saja, cepat!"
Renza mematikan sambungannya dan memegang tangan Arinka seraya masuk mencari tempat duduk. Arinka sangat suka jika duduk didekat jendela. Maka dari itu mereka berdua duduk di meja dekat dengan jendela.
Deni benar-benar kesal setelah sambungan telponnya terputus, kemudian ia melajukan mobilnya lagi menuju cafe yang dimaksud.
Arinka mengirim pesan singkat kepada Risa, ia mengirim alamat cafe itu agar Risa bisa datang kesana.
Beberapa saat kemudian, Deni datang ke cafe tersebut dan mencari Renza dan Arinka. Deni berjalan celingukan mencari mereka berdua dan akhirnya menemukan Renza dan Arinka.
"Lama sekali, sih!" ucap Renza.
"Aku juga perlu mencari alamat nya." ucap Deni dengan raut wajah datar sebenarnya ia sangat kesal.
"Ayo duduk," ucap Arinka.
Arinka mengambil paperbag nya dan memberikan ole-ole berupa kaos sablon pulau tempat mereka bulan madu. Deni sangat berterima kasih kepada Arinka.
"Apa kau suka? berterima kasih lah yang benar kepada istriku, karena dia, kau jadi bisa mendapat ole-ole."
"Ya, aku sudah berterima kasih barusan, apa pak Renza tak mendengar?"
"Kau pikir aku tuli?"
Ya ampun, selalu saja jika sudah bertemu Renza. pasti akan terjadi adu mulut.
"Sudah-sudah, disini banyak orang. Jangan bertengkar!"
"Aku tidak bertengkar, Mimom. Hanya mengingatkan Deni, jika di beri sesuatu harus berterima kasih."
Karena aku waras, aku yang mengalah.
"Ya, pak. Terima kasih banyak atas kebaikanmu."
Dasar Deni! Selalu saja membantahku, haha.
Mereka berbincang-bincang dan saling tertawa. Tak lama Arinka tersenyum seraya melambaikan tangannya.
"Kak Arin!"
"Ayo sini duduk," ucap Arinka.
Renza tersenyum, kemudian Risa terdiam. Deni menoleh dan melihat sosok yang paling malas ia temui berada tepat di depannya.
"Ya ampun, kamu lagi, kenapa jadi sering bertemu sih!"
"Kau pikir aku suka bertemu denganmu, Aku juga sangat malas, Huh!"
"Kalian ini kenapa," tanya Renza.
"Tidak apa-apa, hanya malas saja bertemu manusia menyebalkan ini," gumam Risa.
"Huh! kau juga menyebalkan, pecicilan juga."
"Kau juga menyebalkan, idiot!"
"KAU!" teriak Deni.
__ADS_1
"KAU! teriak Risa.
"Hei ... hei, kalian ini kenapa sih? Ayo duduk Risa. Kalian ini kenapa saling adu mulut, seperti kucing dan tikus saja. Jelaskan, kenapa kalian saling bertengkar?" ucap Renza.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Pak. Hanya kebetulan kami saling bertemu dan saling adu mulut seperti ini, dia ini sangat menyebalkan."
"Kau itu yang sangat menyebalkan. Beberapa kali ketemu selalu saja mengatakan ku idiot, memangnya dia tidak idiot?" ucap Deni seraya tertawa sinis.
"Kalian tahu? orang yang sering bertengkar itu ujung-ujungnya saling membenci, dan antara benci dan cinta itu sangat lah tipis," ucap Arinka menjelaskan.
"Hmm, semua yang di ucapkan istriku itu benar. Aku ini contoh nyatanya bahwa benci dan cinta itu tipis." ungkap Renza seraya mencium kening Arinka.
Deni dan Risa mengerutkan keningnya dan saling berpandangan, "Iih, amit-amit," ucap Deni.
"Aku juga amit-amit."
"Jangan begitu, Takdir siapa yang tahu?" tutur Arinka.
"Benar, itu. Kalian pasti tidak percaya bahwa cinta pertamanya Arinka itu adalah aku."
"Bagaimana bisa?" ucap Deni.
"Sudah, jangan diceritakan." ucap Arinka malu-malu.
"Kami pernah bertemu sewaktu kecil."
"Ya ampun, seperti sinetron saja Nyonya dan Pak Renza ini." tutur Deni
"Kalau sudah takdir, mau apa lagi? Setiap orang wajib percaya takdir." ucap Risa melirik Deni sinis.
"Ya, seperti kalian, bisa saja kalian takdir." Arinka terkekeh.
"Benar, Jangan terlalu sering bertengkar nanti kalau jatuh cinta, kalian malu sendiri." ucap Renza.
"Jodoh siapa yang tahu?" tambah Arinka.
"Jodoh? tidak mungkin. Jika dia satu-satunya lelaki di bumi ini, aku tetap tidak akan menikahinya."
"Sekarang kau bicara begitu, nanti jika sudah cinta kalian akan sayang-sayangan." ucap Renza terkekeh.
"Ya, seperti anda, Pak. Bucin." Deni tertawa.
"Tidak apa ya sayang, aku hanya bucin kepada istriku." Renza mengelus rambut Arinka lembut seraya mengecup puncak rambutnya.
"Uwuu . . . kalian sangat romantis," ucap Risa.
"Benarkah? terima kasih." Renza tersenyum manis.
Mereka berempat memesan makanan, seraya menunggu Renza dan Arinka terus bercanda dan saling terlihat romantis. Risa tersenyum sekaligus sedih melihat mereka, sedangkan Deni acuh hanya memainkan ponselnya.
Sesekali Risa memainkan ponselnya seraya membalas pesan. Arinka melihat mereka berdua asyik memainkan ponsel tanpa berbicara sama sekali, sedangkan Renza hanya sibuk mengelus tangannya Arinka.
"Ris, bagaimana hubungan mu dengan pacarmu?"
"Aku sudah putus, kak."
"Benarkah? kenapa?"
"Dia selingkuh kak, aku memergokinya." ucap Risa menjelaskan, matanya berkaca - kaca.
"Selingkuh?" tanya Arinka.
"Wajar saja lelaki itu selingkuh, siapa yang tahan dengan wanita seperti ini? tidak sopan dan labil."
"Siapa yang tidak sopan? aku hanya tidak sopan kepadamu saja, huh!" ucap Risa seraya memelototkan matanya kearah Deni.
"Lagi-lagi kalian bertengkar, jika kalian berjodoh pasti lucu ya?" ucap Renza tertaws terbahak.
"Lucu dari mana?" ucap Deni memperlihatkan wajah kesal.
"Kau memergokinya dimana?" tanya Arinka lagi.
"Di cafe, dan setelah aku memutuskan dia tanpa sengaja aku bertemu orang menyebalkan ini," ucap Risa.
"Ya, dia melemparku dengan sepatu. Apa itu sopan? apa itu tidak kasar? siapa yang akan mempertahankan wanita seperti ini?"
"Hiks ... hiks ...." Risa terisak, " Karena kau tidak tahu yang sebenarnya, makanya kau hanya memandangku sebelah mata."
Renza hanya menyimak, jika urusan tentang perselingkuhan ia tidak bisa berkata apa-apa, karena ia pernah menyakiti hati Arinka saat itu, makanya dari raut wajahnya Renza sangat iba kepada Risa.
Deni terdiam melihat Risa terisak. ia tak bisa berkata-kata lagi. Deni merasa bersalah kepada Risa. Tapi ia sangat malas berurusan dengan Risa.
"Jangan menangis, kau sudah benar. Jika dia tidak setia kenapa harus dipertahankan, di luar sana masih banyak lelaki yang baik dan setia," ucap Arinka menenangkan.
Deg...
Jantung Renza berpacu, kata-kata Arinka itu sangat mengena kepadanya. Renza mendadak diam tak bersuara.
"Ya, kak Arin benar. Masih banyak lelaki yang baik dan setia diluar sana, jika pasangan berselingkuh memang tak pantas untuk dipertahankan." ucap Risa seraya menyeka air matanya.
Mendadak setelah percakapan itu, semua hening. Mereka makan tanpa bersuara sedikit pun. Suasana menjadi sepi dan sangat canggung, yang ada hanya suara dentingan sendok saja.
Bertengkar-tengkar dahulu, sayang-sayangan kemudian.
***Bersambung...
Hay Readers ku yang aku cintai dan sayangi, (Eaaa... Author jadi ikutan bucin juga kayak Renza)
Jangan lupa setelah membaca kasih likenya ya, Aku tunggu coment dari kalian ya 😁😁
Yang belum favorit novel ini silahkan tekan ❤
Dan jangan lupa juga berikan vote kalian ya 😊😂
Salam sayang dariku buat kalian semua 😊
Luv u all 😘😘***
__ADS_1