
"Renza itu selalu beruntung. Pekerjaannya selalu sukses dan rumah tangganya harmonis. Aku harus menghancurkannya. Jika kita tidak bisa mengambil alih perusahaan. Kita buat mereka bertengkar hebat. Fitnah dia," ucap seorang laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah Dahlan.
"Aku tidak paham. Kenapa anda ingin menghancurkannya?" tanya Aldi.
"Perusahaan itu harusnya jadi milikku, tapi karena aku hanya saudara tiri neneknya Renza, Aku tidak dapat apa-apa."
"Bukannya memang wajar kan? Renza itu cucu satu-satunya. Pasti semua asetnya jatuh ketangan dia."
"Harusnya mereka adil. Aku juga harus dapat bagian. Kau harus membantuku."
"Aku harus membantu apa?" tanya Aldy.
"Bantu aku mengancurkan Renza. Aku tidak suka keluarganya harmonis dan perusahaannya sukses."
"Caranya?"
"Fitnah dia, buat dia bertengkar dengan istrinya."
"Arinka? Istrinya Renza itu adalah Arinka. Wanita yang aku sukai semasa SMA.".
"Bagus kalau begitu? Kau bisa memulai nya dari istrinya."
"Tapi aku kasihan. Arinka itu baik."
"Apakah kau sudah melupakan rasa sukamu? Kau bisa dapat peluang mendapatkan istrinya jika kau berhasil membuat mereka bertengkar."
"Sepertinya Arinka bukan type wanita yang mudah menyerah. Ia setia dan berpendirian teguh."
"Kau harus mencobanya?"
"Aku memang masih menyukainya. Tapi ia sudah menjadi istri orang. Aku tidak ingin merusaknya."
"Kau ingin aku hancurkan juga? Kau harus berterima kasih kepada ku, karena aku sudah membantumu selama ini."
"Baiklah, aku akan mencobanya."
"Nah gitu, kau harus nurut. Bawakan wanita yang akan membuat Arinka cemburu. Atau kau yang harus menggodanya."
"Baik, Pak. Aku akan berusaha."
"Bagus, aku tunggu kabar baik darimu."
***
Renza sedang berdiri di depan jendela kaca di ruangannya. Bola matanya memutar melihat pemandangan di luar kantor yang sangat panas. Tangannya memegang secangkir kopi dan menyeruputnya pelan.
Tok ... Tok ...
Suara pintu di ketuk. Renza menoleh menatap ke arah pintu. Ternyata, seseorang yang sangat ia sayangi dan kasihi datang berkunjung ke kantor.
"Mimom sayang," panggil Renza.
Arinka tersenyum menatap Renza yang sedang berdiri sambil menyeruput kopi panas. Tangan sebelahnya ia masukkan dalam kantong. Dan gaya itu benar-benar cool. Arinka seperti jatuh cinta berkali-kali kepada Renza.
"Kejutan!"
"Wah! Pipom senang dapat kejutan seperti ini."
"Aku bawa cupcake, bentuknya lucu. Karena sudah makan jadi ini untuk ngemil saja."
Arinka menuju sebuah sofa yang empuk di depan meja kerja Renza untuk meletakkan kue yang di bawanya.
"Huh! Di luar benar-benar panas!" ucap Arinka seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.
Renza tersenyum menghampiri Arinka dan duduk di sampingnya. Renza mengambil remote AC. Ia menambah suhunya menjadi sangat dingin.
"Apa sekarang sudah tidak panas lagi?" tanya Renza seraya mengelus rambut Arinka.
"Tidak lagi. Aku suka rambutku di elus seperti ini."
"Pipom juga suka mengelus rambut Mimom yang lembut. Rambut yang selalu membuatku rindu."
"Uwuu ..., gombalnya sudah bereaksi."
"Ini bukan gombal, ini pujian, sayang."
"Kenapa terdengar seperti gombal?" Arinka terkekeh.
"Ichh, minta di gelitikin, ya?"
"Tidak, jangan ..., aku marah, ya?"
"Cup ... Cup ..., jangan marah. Sini disayang-sayang."
"Di sayang. Mau?"
"Unch, benar-benar menggemaskan istriku ini."
"Suamiku juga," ucap Arinka seraya mencolek hidung Renza.
"Kenapa semakin hari Mimom semakin cantik, sih? Pipom makin bucin, tahu?"
"Astaga, Mimom jadi malu."
"Kenapa harus malu, sih, sama suami sendiri?"
"Hehe ..., soalnya tidak sesuai kenyataan."
"Siapa bilang tidak sesuai kenyataan?"
"Mimom sendiri." Arinka tertawa.
Renza mendekat dan memeluk Arinka dengan tulus dan hangat seraya mengelus rambutnya. Kemudian, Renza mengecup pipi Arinka lembut.
"Pipom benar-benar menyayangi Mimom!"
"Mimom juga dong."
"Love you," ucap Renza seraya menatap Arinka.
"Love you too, sayang."
Di saat Renza sedang memeluk Arinka, Deni datang tanpa mengetuk pintu. Deni terperanjat melihat Renza sedang memeluk seorang wanita. Setelah ia perhatikan ternyata itu adalah Arinka.
"Upps ...."
"Hei, jika masuk ke ruanganku harap mengetok pintu dulu."
"Aku memang seperti ini 'kan? Hanya aku yang tidak di kecualikan. Kenapa jadi marah? Aku sudah biasa melihat kalian bermesraan begitu, lanjutkan saja."
"Deni ngambek?"
"Tidak, Nyonya. Mana berani saya ngambek?"
"Kenapa tidak berani?" Arinka tertawa.
"Lihat saja mata tajam lelaki di sebelah Nyonya, belum ngambek udah kena pelototin."
"Haha ... Suamiku ini baik."
"Iyaaa ...."
"Ah, istriku memang jago nya buat suami klepek-klepek."
__ADS_1
"Hadeeh!" Deni menghembuskan napas, lalu membuang muka.
"Haha. Oh ya ... bagaimana pertemuanmu tadi?"
"Pertemuan apa?"
"Kau menemui wanita, 'kan?
"Tidak ...."
"Deni sama Risa, kenapa sering bertengkar, sih? Risa itu baik."
"Dia itu menyebalkan!"
"Masa sih? Dari matamu tidak mengatakan begitu?" ujar Renza.
"Ah, aku malas membahasnya ... aku keluar dulu, masih ada pekerjaan yang harus aku tangani."
"Ciyee ... mengelak lagi, 'kan?
"Tidak, aku memang sedang ada kerjaan. Aku permisi dulu."
"Giliran permisi pamit, masuk nyelonong. Otakmu itu benar-benar sudah konslet."
"Iya, maaf, Pak." Deni tersenyum meninggalkan ruangan itu dan menutup pintu.
"Deni itu aneh dan keras kepala," ucap Renza.
"Sudah terlihat dari wajahnya, dia memang aneh. Mau saja mengikuti perintah atasan yang seperti pipom."
"Maksunya apa ini?"
"Hahaha, ya perintah yang tidak masuk akal biasanya?" Arinka tertawa mengalihkan pandangan dari wajah Renza.
"Aku selalu memberi perintah yang masuk akal dan bermanfaat."
"Masa?" Arinka tersenyum menutup mulutnya.
"Iiihh, mulai nakal, ya, Mimom!"
"Tidak, ini fakta." Lagi-lagi Arinka tersenyum.
"Apa faktanya?"
"Menyuruh Deni membawa boneka beruang yang sangat besar, yang besarnya melebihi dia. Dia mau? Padahal itu sangat konyol, haha ...."
"Itu memang konyol, tapi dia tidak berani menolak perintah. Lagi pula dia juga sering mengejekku."
"Kalian memang lucu, sering adu mulut tapi tetap akur."
"Ya begitu lah, karena Deni sudah seperti keluarga bagiku."
"Iya. Ayo cicipi cupcake nya?"
"Suapin!"
"Manja."
"Biar, sama istri sendiri memang harus manja."
"Iya ... iya."
Renza dan Arinka benar-benar sangat manja satu sama lain. Mereka saling melengkapi dan saling menyayangi. Siapa sangka ada seseorang yang akan membuat mereka retak? Apakah sanggup seseorang itu memisahkan mereka?
Deni berjalan ke ruangan Tio. Tio adalah manager keuangan yang mengurus keuangan perusahaan. Deni meminta beberapa daftar pengeluaran perusahaan. Tio memberikan beberapa berkas kepada Deni. Deni memeriksanya sebentar dan membawanya ke ruangan Renza.
Sambil menuju ke ruangan Renza. Deni memainkan ponselnya. Akhir-akhir ini Deni sangat aktif di sosial media. Demi melihat postingan Risa, jika ada waktu luang dia akan memainkan ponselnya.
Semenjak rajin membaca status Risa. Deni menjadi sangat puitis. Deni sering memposting kata-kata romantis atau quotes.
Renza memainkan ponselnya. Ia mengupload foto Arinka yang sedang tersenyum di media sosial. Renza memperlihatkan foto yang di uploadnya dan ditandai kepada Arinka. Caption nya benar-benar menyanjung istrinya itu.
"Senyummu, bagaikan candu bagiku. Saking manisnya senyum itu. Kata-kataku kepadamu pun menjadi manis setiap harinya."
"Ahh, Pipom ...."
"Kenapa?"
"Terlalu manis." Arinka tertawa.
"Kenyataannya, karena Mimom memang sangat manis, 'kan?"
"Dasar gombal!"
Renza tersenyum mendengar ucapan Arinka. Sambil menggeser ponselnya naik turun, Renza tertawa melihay postingan Deni.
"Mimom, lihat ini?" ucap Renza memperlihatkan ponselnya kepada Arinka.
"Ini siapa? Kata-katanya juga romantis."
"Ini media sosialnya Deni. Lihat saja dia sok puitis di sana."
"Namanya Dino?"
"Dia merubah namanya, tapi profilnya tetap sama. Gambar setengah wajah yang diblur." Renza tertawa terbahak.
"Kenapa dia merubah namanya?"
"Mungkin dia mau menyembunyikan identitas dirinya yang asli. lihat saja di sini mana ada foto asli dirinya? Isinya hanya kata-kata bijak dan foto tempat-tempat yang ia kunjungi. Deni benar-benar ngenes." Lagi-lagi Renza tertawa terbahak setelah menjelaskan kepada Arinka.
"Nama aslinya Denista, 'kan?"
"Iya. Denista Ferdian."
"Jangan-jangan yang di pantai kemarin menanyakan nama Risa itu, mereka saling menyamar?"
"Menyamar?"
"Iya, apa mereka sudah saling kenal di media sosial?"
"Bisa saja. Apa nama Risa di media sosial?"
"Namanya Mawar Clarisya."
"Coba Pipom cari, ya?"
Renza mengetikkan nama Risa di pencarian facebook nya. Benar saja, kontak yang berteman di sana terdapat 2 teman yang sama, Arinka dan Deni.
"Wah, benar! Ayo cari menggunakan ponsel Mimom, apakah mereka sering berbalas komentar atau tidak. Pipom tidak bisa melihat karena tidak berteman."
"Kita jadi kepo, ya?"
"Biar saja, aku benar-benar penasaran sama mereka berdua."
Arinka mengelurkan ponselnya dari dalam tas selempangnya. Kemudian, ia membuka media sosialnya. Renza mengambil alih ponsel Arinka dan mengetikkan nama Risa. Setelah membuka profil Risa, Renza menggesernya ke bawah. Benar saja, Deni dan Risa sering saling balas komentar.
"Nah, benar 'kan? Ternyata Mereka saling mengenal!"
"Benarkah?" Arinka melihat komentar Deni dan Risa yang terlihat akrab di sana.
"Mereka akrab di sini. Kenapa saat bertemu mereka seperti kucing dan tikus?"
"Ya ampun, ada apa dengan mereka ini?"
__ADS_1
"Bagaimana jika kita bantu jodohkan?" ucap Renza.
"Caranya?"
"Mmm ... nanti Pipom pikirkan."
Mereka berdua tertawa. Renza masih memegang ponsel Arinka. Renza melihat ada pesan di inbox Arinka. Renza membukanya. Permintaan pesan dari Aldi.
Renza membacanya, sedangkan Arinka masih sibuk mengunyah cupcake.
"Aldi ini siapa?" tanya Renza.
"Aldi?"
"Mmm ... Dia sering mengirim pesan, tapi tidak Mimom buka."
"Coba aku lihat, ada fotonya?"
Renza memperlihatkan fotonya. Renza seperti pernah melihatnya tapi ia melupakannya.
"Oeh, Aldi temannya aku waktu di kampung. Teman sekolah. Dia yang waktu itu ada di taman."
"Di taman yang pada saat Deni membawa boneka beruang besar itu?"
"Iya."
"Lihat saja, dia memang menyukai mimom. Dia mengirim kata-kata manis di sini. Huh!"
"Biarkan saja. Aku malahan tidak pernah membukanya."
"Beraninya dia menggoda istriku? Awas saja nanti."
"Ya sudah, dia kan hanya mengirim pesan. Dan lagi, aku tidak membalasnya."
"Aku cemburu!"
"Jangan cemburu. Nanti tampannya hilang."
"Ketampanan ini bersifat mutlak, tidak akan bisa hilang." Renza terkekeh.
"Iya aku tahu, Dasar Narsis!"
Renza tertawa seraya mencubit pipi Arinka gemas. Terdengar suara ketukan pintu dan langsung di buka begitu saja. Deni masuk dan menundukkan kepala kepada Renza sambil memberikan laporan keuangan perusahaan.
Renza dan Arinka tersenyum lucu menatap Deni. Mereka berdua saling berpandangan kemudian tertawa cekikikan. Deni terlihat heran melihat tingkah dua orang di depannya itu.
"Kalian ini kenapa? Apa kalian kerasukan?"
"Hussttt! Kerasukan? Kau pikir gampang merasuki seorang Renza."
"Iih, Deni. Bicaramu itu aneh." Arinka tertawa.
"Iya, tidak gampang ... setan saja takut kepada anda, Pak," gumam Deni pelan.
"Kau bilang apa?" tanya Renza melebarkan matanya.
"Tidak ada! Itu laporan keuangan perusahaan silahkan di lihat."
"Oke."
Deni duduk di sofa. Renza meletakkan ponsel Arinka di atas meja dan mengambil berkas keuangan perusahaan. Kemudian, ia melihat dengan teliti sedangkan Arinka memainkan ponsel Renza.
"Aku boleh makan cupcake ini?" tanya Deni.
"Silahkan, aku lupa menawarimu." Arinka tersenyum.
Renza melirik sekilas mendengar ucapan Deni dan kemudian fokus kembali dengan kertas yang di bacanya. Deni mengambil cupcake itu dan memakannya. Dalam hitungan detik, kue itu sudah masuk seluruhnya ke dalam mulut Deni.
"Pengeluaran lumayan besar ini untuk support apa?"
"Itu untuk proyek dekor. Dekor untuk perusahaan anak cabang."
"Bukannya dekor itu dari Ganier's project?"
"Iya. Ganier's project ada di bawah naungan perusahaan kita, karena saham perusahaanya setengahnya milik Fariq company."
"Iya aku tahu. Tapi kenapa pengeluarannya banyak ke bagian Dekor? Apa mereka membutuhkan banyak dana?"
"Mungkin karena pengerjaan proyek anak cabang baru, makanya butuh dana lebih untuk mendekor ruangan barunya."
"Tetap awasi, aku merasakan sebuah kejanggalan!"
"Aku akan terus mengawasinya, Pak."
"Ganier's itu milik paman Dahlan. Aku tahu paman Dahlan itu licik. Jangan sampai kita mengeluarkan dana yang sia-sia nantinya yang akan merugikan perusahaan."
"Baik, Pak. Aku akan berhati-hati."
Arinka menatap Deni sambil tersenyum. Deni menaikkan alisnya melihat Arinka yang tersenyum terus menerus kepadanya.
"Ada apa, Nyonya? Aku perhatikan anda tersenyum tanpa sebab?"
"Kenapa sayang?" tanya Renza.
"Tidak ada, hanya lucu saja menatap Deni. Deni kau benar-benar juara menyembunyikan sesuatu."
"Sesuatu apa, Nyonya?"
"Tidak ada."
Renza tertawa, ia mengerti maksud perkataan Arinka, pasti menyangkut tentang Risa. Sedangkan Deni terlihat heran dan mengendikkan bahunya. Arinka masih memaikan ponsel Renza. Tiba-tiba ada notif komentar dari Sinta.
Arinka membukanya dan melihat komentar apa yang dikirim Sinta.
"Aku iri, dulu senyumku yang menjadi candumu."
Arinka mencebikkan bibirnya membaca komentar dari Sinta. Renza menoleh. Ia heran kenapa Arinka mencebikkan bibirnya.
"Kenapa sayang?" tanya Renza.
"Ini komentar Sinta." Arinka menbacakan dengan nada manis. Deni tertawa mendengarnya sedangkan Renza bersikap kesal.
"Jangan di hiraukan! Jika mimom ingin membalas, silahkan saja?"
"Aku harus membalas apa?"
"Apa perlu aku ajarkan?" tanya Deni.
"Misalnya?"
"Tulis begini saja: Kau bukan candu yanhmg manis, tapi racun yang mematikan."
Renza tertawa mendengar ucapan Deni. Sontak Arinka pun ikut tertawa. Deni memang benar-benar selalu bisa mengumpat, menyembunyikan perasaan dan bersikap tegas bersamaan. Renza mengambil ponsel dari tangan Arinka dan memblokir Sinta.
"Selesai." ucap Renza.
Arinka tertawa dan menepuk pundak Renza pelan, "Benar-benar kejam."
***Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like dan komentar ya...
minta vote nya juga donk, jangan pelit 😂😂
__ADS_1
Ceritanya pelan-pelan saja ya dulu. Nanti akan banyak kejutan lainnya.
Aku sayang kalian semua, luv u all ❤😍💋***