
Sepulang dari dokter kandungan, Arinka dan Renza langsung pulang kerumah. Renza mulai overprotect kepada istrinya itu. Arinka sudah di protokol ga boleh ini itu oleh Renza.
"Sayang, apa sebaiknya jangan terlalu berlebihan. Aku mau bebas melakukan banyak hal. Terkekang juga takutnya tidak baik untung pikiranku."
"Hmm ... Pipom takut terjadi hal yang kedua kalinya kepada Mimom."
"Kita percaya saja kepada Tuhan, Semoga tidak akan terjadi lagi. Banyak-banyak berdoa pokonya."
"Iya, sayang. Ya sudah, pokoknya jangan terlalu letih, ya?"
"Oke, sayang."
"Pipom balik ke kantor dulu, ya?"
"Iya, hati-hati, ya, sayang."
"Jaga kesehatan, ya? Jangan lupa makan. Apapun yang ingin dimakan tinggal telepon saja. Pipom pasti cariin yang mimom mau."
"Iya, baiklah sayang."
"Pipom berangkat dulu, ya."
"Ya, hati-hati di jalan."
Renza masuk kedalam mobil dan melambaikan tangannya. Setelah itu mobil itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman rumahnya.
Sesampainya di kantor, Renza melihat Deni berjalan memasuki ruang kerjanya. Renza memperhatikan gerak-gerik Deni yang agak sedikit aneh.
"Deni!" panggil Renza sambil berjalan santai penuh wibawa. Kali ini Renza memakai setelan jas hitam favoritnya.
"Ada apa, Pak?" sahut Deni datar.
"Kamu kenapa?" Sepertinya ada yang tidak beres?"
"Masalah pribadi, Pak. Aku malas bicara masalah pribadi di kantor."
"Ya, aku tahu kamu profesional. Tapi jika kamu perlu cerita bisa cerita, jangan pendam sendiri. Kamu sudah seperti keluargaku sendiri."
"Apa aku bisa bercerita masalah pribadi di dalam pekerjaan, aku tidak ingin mencampur-adukkan. Nanti jika pulang kerja aku bisa cerita."
"Ya baiklah, jika itu maumu."
"Hemm, Aku mau mengatakan kalau istriku sekarang sedang hamil."
"Wah, selamat, Pak. Aku turut bahagia."
"Iya, aku tidak menyangka bisa secepat ini mendengar kabar bahagia ini. Kau juga harus bahagia, Deni."
"Iya, Pak. Terima kasih atas doanya."
"Kau ada masalah sama Risa, kah?" tanya Renza sambil duduk dikursi kebesarannya.
"Hmm ... iya, aku yang salah. Aku benar-benar bodoh jika menyangkut wanita."
"Wanita itu sensitive, mereka mudah marah dan mudah tersinggung. Tapi kalo bisa di handle, mereka cepat baikan, kok."
"Iyakah?" Deni menatap Renza lekat.
"Benar, wanita itu harus selalu di mengerti dan di manja. Jika ia salah tegur baik-baik. Jangan menegurnya secara spontan. Tegur mereka dengan ucapan manis."
"Baik, Pak. Aku akan berusaha memahami wanita."
"Jangan di pahami, kamu tidak akan paham. Cukup kasih pengertian saja."
"Hmm ... Ya sudah, Pak. Ini bukan masalah pekerjaan. Jangan dibahas lagi." Deni bangkit dari sofa. "Ini berkas yang harus diperiksa," katanya.
"Iya, terima kasih."
"Apa kita akan mengunjungi cabang baru sore ini?" ucap Deni.
"Iya, kemarin tertunda gara-gara kasus Dahlan. Sekarang sudah bisa normal kembali 'kan?"
"Iya, sudah berjalan normal kembali. Kalau begitu sebenyar lagi kita berkunjung."
"Hmm, baiklah. Aku menyelesaikan tanda tangan berkas penting dulu."
"Iya, aku juga ingin ke ruangan Tio, meminta daftar keuangan bulan ini."
Deni keluar dari ruangan Renza. Sebisa mungkin ia berusaha bersikap normal, walaupun suasana hatinya sedang tidak baik. Para karyawan wanita tersenyum menatap Deni. Namun, Deni dengan cepat memasang wajah killernya. Semua karyawan sontak menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Kerja yang benar, jangan hanya bisa bermain-main saja saat kerja. Kalian mengerti?" ucap Deni dengan tegas. Para karyawan sontak menyahut dengan tegas juga. Kalau tidak Deni akan berteriak.
Deni masuk kedalam ruangan Tio. Sedangkan Tio masih menelepon. Deni duduk dan memainkan ponselnya sambil membuka chat dari Risa. Deni benar-benar bingung jika harus menjelaskannya lewat telepon. Ia harus bertemu dan bertatap wajah biar semua persoalannya menjadi jelas.
Deni berusaha mengirim pesan kepada Risa. Pesan itu hanya dibaca tapi tak ada balasan. Deni seperti anak baru gede yang baru mengenal cinta. Ia ingin mengirim pesan terua menerus tapi otak pintarnya berpikir kalau nantinya akan menambah masalah.
"Ada apa, Pak? tanya Tio duduk di kursinya kembali.
"Laporan keuangan?" sahut Deni singkat sambil mengulurkan tangannya. Tio memberikan kertas itu dan Deni langsung beranjak. Tio kebingungan karena Deni tidak berbicara sama sekali dan pergi meninggalkan
"Ada apa dengan, Pak Deni?" Tio menggaruk kepala, tapi tidak gatal sama sekali.
Deni berjalan pelan memasuki ruangan Renza. Saat berjalan ia terus memainkan ponselnya dan tangan lainnya memegang berkas keuangan ditangannya. Dengan tak terduga, Deni menabrak pintu ruangan Renza.
Jeledukk!
"Aw, Sialan!" Deni memaki dirinya sendiri. Sisil yang melihat kejadian itu sontak ikut tertawa. Deni menoleh dan menatap Sisil lekat. Sisil segera menundukkan kepala dan mengulum bibirnya.
"Isshh, malu sekali." batin Deni dalam hati. Kemudian, ia masuk dan berjalan menuju kursi kebesaran Renza.
"Suara apa didepan pintu tadi?" tanya Renza mengernyitkan dahi.
"Suara kepalaku menabrak pintu," sahut Deni dengan ekspresi datar.
"Hah? Kamu? Mana mungkin kau lupa ada pintu. Bahkan mata tertutup saja kamu sudah tahu karena setiap hari beraktivitas disini."
"Aku bener-bener lupa ada pintu, mana pikiranku juga sedang tidak konsentrasi."
"Sadar! Ini tempat kerja. Kenapa kau seperti ini?" ucap Renza dengan suara setingkat lebih tinggi.
"Huh! Gara-gara wanita, aku benar-benar tak bisa berpikir jernih. Ini memenuhi otakku, aku harus bertemu dengannya segera dan menjelaskan apa yang terjadi."
"Iya jelaskan, Dia akan mengerti nantinya."
"Ya sudah, Pak. Ayo pergi ke tempat cabang baru. Masalah ini biar nanti malam aku akan kerumahnya."
Setelah meninjau berkas keuangan, Renza bangkit dari kursi dan memakai jasnya lalu berdiri dan mengantongi ponselnya. Renza berjalan didepan Deni dengan berwibawa. Wajahnya sumringah, lekuk bibirnya tergambar jelas bahwa ia sedang bahagia.
Setelah masuk kedalam mobil, Renza teringat bahwa ia akan mengadakan makan malam untuk anniversary 1 tahun pernikahannya.
"Deni, besok hari anniversary 1 tahun kami. Aku ingin mengajak istriku makan malam romantis. Tolong, kau reservasi tempat yang paling romantis."
"Hemm, baiklah, Pak. Aku akan menyiapakannya."
"Baiklah terima kasih, Pak."
"Iya, sama-sama."
Dirumah, Arinka masih sangat berbahagia atas kehamilannya itu. Sore ini, Arinka duduk di taman belakang rumahnya sambil memandang bunga-bunga bermekaran. Bi Ami membawakan Arinka jus semangka.
"Bi, aku punya kabar bahagia."
"Apa itu Nya?"
"Aku hamil," ucap Arinka.
"Ya Tuhan, selamat, Nyonya. Bibi benar-benar bahagia mendengar kabar baik ini."
"Hmm, aku juga sangat bahagia, Bi. Akhirnya bisa mengandung lagi."
"Nyonya harus berhati-hati, jika ada apa-apa jangan sendiri. Beri tahu Bibi apa yang Nyonya Arinka butuhkan."
"Siap, Bi."
"Ny. Besar sudah tahu, kah?"
"Belum, ini aku akan meneleponnya. Aku akan mengobrol dengan beliau."
"Baiklah, Bibi permisi kedapur dulu."
"Iya, Bi."
Arinka mengambil ponselnya yang ia kantongi itu. Kemudian, ia menggeser-geser layarnya dan meletakkan ponselnya ditelinga. Tak lama, panggilan itu tersambung.
"Halo," ucap Arinka.
"Halo, uh ... cucu nenek, ada apa?"
"Nenek sedang apa?"
__ADS_1
"Nenek sedang duduk membaca buku. Arin sedang apa?"
"Arin sedang duduk di taman, bersantai saja."
"Ada apa menelepon? Apakah nenek akan mendapatkan kabar bagus?"
"Wah, hati orang tua memang tak bisa dibohongi."
"Hu'um ... ada apa, sih?"
"Nek, Arin sudah mengandung kembali, dan usia kandungannya sudah 3 minggu."
"Wahh, selamat! Nenek benar-benar terharu. Jaga kesehatanmu, ya, sayang."
"Iya, Nek. Renza juga melarang Arin melakukan aktivitas. Tapi Arin tidak ingin terkekang."
"Ya sudah, lakukan aktivitas apapun asal tidak berat dan tidak membahayakan kandunganmu. Nenek akan mendo'akan yang terbaik untuk kalian berdua."
"Terima kasih, Nek."
"Jangan sampai telat makan, minum vitamin, olahraga ringan juga."
"Iya, Nek. Arin terharu. Ada yang selalu memperhatikan seperti ini. Arin sangat bahagia bisa menjadi istrinya Renza."
"Hmm, kesabaran Arin berbuah manis."
"Benar, Nek. Tak ada yang mustahil didunia ini asal kita bersabar dan bersyukur."
"Iya, sayang. Nanti jika Nenek ada waktu. Nenek akan berkunjung. Jangan lupa beritahu kabar baik ini pada bibimu."
"Iya, Nek. Nanti Arin akan memberi tahu."
"Hmm, ya sudah. Arin istirahat, ya?"
"Nenek juga istirahat, jangan lupa minum obat tepat waktu."
"Iya."
Sambungan telepon itu terputus. Arinka meletakkan ponselnya diatas meja. Tak lama telepon itu berbunyi. Notif whatapp dari Renza.
"Mau dibelikan apa? Mumpung Pipom di luar?" Arinka tersenyum membaca pesan tersebut dan kemudian membalasnya.
"Mimom ingin dibelikan sate, Mimom ingin makan sate ayam dan pizza. Makan ice cream juga." Arinka tertawa setelah membalas chat itu. Apakah Renza akan membelikan semuanya nanti pas pulang kerumah. Arinka benar-benar menguji kesiagaan suaminya itu.
"Wihh, banyak sekali, muatkah perut itu memakan makanan sebanyak itu. Buat Mimom apapun akan Pipom beli."
Balasan pesan Renza membuat Arinka tak bisa berkata apa-apa. Arinka hanya tersenyum menatap layar ponselnya itu dan tak membalas pesan apapun.
"Sehat-sehat terus, ya, sayang. Papamu berusaha membelikan apapun yang mama mau, kamu harus sayang sama mama dan papa," ucap Arinka bermonolog sambil mengusap perutnya.
Arinka menghirup napas dan memandangi bunga-bunga didepannya. Tiba-tiba teleponnya berdering. Arinka menantap ponselnya. Nama penelepon itu adalah Risa. Arinka tersenyum dan menjawab telepon itu.
"Haloww!" ucap Arinka sumringah.
"Halo, Kak," sahut Risa lesu.
"Kenapa ini? Jawabannya seperti itu. Ada masalah kah?"
"Huum, aku lagi sakit hati sama Deni."
"Deni kenapa lagi?"
"Dia benar-benar tak mengerti wanita. Bagaimana perasaan wanita. Aku benar-benar kesal."
"Coba cerita biar perasaanmu lebih lega."
"Aku mau kerumah kakak saja, tidak enak cerita ditelepon."
"Baiklah, jika itu maumu.
"Sampai nanti."
"Ya, dadah."
Telepon itu terputus. Risa menutup telepon dan akan mengunjungi rumah Arinka.
***Bersambung...
Jangan lupa like dan comment ya 😁
__ADS_1
Jaga kesehatan ya Readersku.
Aku sayang kalian semua 😘😘***