
Terkadang kita seolah betanya-tanya, bahagia itu apa? dan apakah difinisi bahagia setiap orang sama? Tentu tidak. Apa dengan memiliki keluarga lengkap bisa disebut bahagia? Apa dengan membeli barang mahal kita bisa disebut bahagia? jawaban setiap orang pasti berbeda.
💗💗💗
Mereka memutuskan pulang dari acara amal tersebut, walaupun belum sepenuhnya selesai. Renza sangat gerah, hatinya sangat panas dengan kejadian tadi.
Ketika Arinka dan Renza keluar dari tempat acara itu, seseorang memanggilnya dengan suara cukup keras.
"Kak Arinka!"
Risa...
Arinka menghentikan langkahnya. Ia sangat senang melihat Risa setelah beberapa waktu tidak pernah bertemu. Renza masih berdiri melihat dua orang itu saling menyapa dan tertawa. Deni menatap sinis kepada Risa, kemudia Risa mengerucutkan bibirnya.
"Kak Arin, sudah lama kita tidak bertemu. Wow! kak Arin semakin cantik saja."
"Ah, Risa. ini karena make up saja dan pakaian bagus. Jadinya aku sedikit cantik."
"Tidak kok, Kak Arin memang sangat cantik alami walaupun tanpa riasan. Kapan-kapan aku ingin kita bertemu lagi? apa boleh?"
"Tentu, boleh."
"Oh ya, suami Kak Arin itu sangat tampan ya? uwuu... aku mau juga satu yang seperti itu."
"Haha... kau ini, memangnya dia barang."
"Just kidding, Kak."
"Ya sudah, Kakak harus pergi. Nanti suami Kakak kelamaan menunggu. Nanti aku kabari ya Kak, jika kita ingin bertemu."
"Oke," ucap Arinka seraya berjalan meninggalkan Risa dan menghampiri suaminya.
Renza dan Deni masih sibuk dengan ponselnya. Renza tidak menyadari kehadiran istrinya itu. Arinka duduk dikursi tepat didepannya. Ia cemberut melihat Renza yang fokus kepada ponselnya padahal Renza mengetahuinya, ia hanya sengaja membuat istrinya itu marah.
Cekrek...
Suara ponsel mengambil foto, Arinka memutar bola matanya, ia mencari asal suara itu. Renza tertawa menatap Arinka yang kebingungan. Arinka tidak menyangka Renza mengambil fotonya itu.
"Lihat ini, kau sedang cemberut. Uwuu ... menggemaskan sekali. Kau pikir siapa yang akan mengambil fotomu? tidak akan aku biarkan seseorang mencurimu, walaupun hanya sekedar foto saja. jika ada yang berani akan aku penjarakan. Aku sangat mencintaimu." seraya tersenyum menunjukkan hasil jepretannya dari ponsel miliknya.
"Aku juga bukan artis, kenapa fotoku harus dicuri." Arinka terkekeh.
Deni yang mendengarkan menarik napas panjang dan menggaruk kepalanya padahal tidak gatal sama sekali. Ia berpikir kenapa Renza mulai kumat lagi, ia sangat malu mendengarnya, untung saja tidak ada orang yang mendengar kebucinan Renza yang hakiki itu.
Pak Renza ini benar-benar berbeda, apa dia benar-benar Pak Renza, jangan-jangan hanya orang lain yang mirip.
"Kau kenapa menggeleng-gelengkan kepala begitu, seperti orang bodoh saja!"
"Aku hanya berpikir saja, Kau ini sebenarnya Pak Renza apa bukan, sih?" seraya mengerutkan keningnya.
"Apa sih maksudmu ini?"
"Ya, sepertinya anda ini bukan Pak Renza, bicara anda benar-benar aneh akhir-akhir ini? Apa anda merasa ada keanehan juga, Nyonya?"
"Iya sedikit." Arinka terkekeh.
"Sialan kau Deni! Aku tidak berubah, ini aku. Tidak ada orang yang sama sepertiku didunia ini, aku hanya aku dan satu-satunya. Jadi berhentilah mengatakan hal yang tidak-tidak, Mana ada duplikat orang sepertiku yang tampan dan nyaris sempurna ini." Membenarkan dasi yang sama sekali tidak perlu dibenarkan.
"Hadeuh... Yah, aku yakin anda Pak Renza, tingkat kenarsisan anda masih sama." Deni tertawa seraya berjalan meninggalkan mereka.
"Kau pulang saja naik taxi, aku akan pergi dengan Istriku ke Taman."
"Astaga, jangan keterlaluan Pak. Dasar kejam!" ucap Deni dengan suara lumayan tinggi.
"Bodoh amat."
"Kasian, Deni. Jangan ditinggal. Kan bilangnya mau nongkrong sama teman? satu-satunya teman kita hanya Deni. biarkan dia pergi juga."
"Hmm... aku paling tidak bisa membantahmu, permohonanmu itu sangat manis. Kau dengar Deni, kau ikut kami saja. ini perintah Ratu ku tercinta."
"Eeaaa... mulai lagi, Aku Jijik deh," ucap Deni tertawa jahil.
"Haha, Deni ini ada-ada aja tingkahnya. Kadang ia terlihat konyol, tapi jika bekerja ia sangat tegas. Aku saja sangat takut."
"Yah... begitulah Deni, si Bodoh yang Arogan."
"Aku mendengarmu, Pak."
Mereka berdua berjalan kearah mobil. Deni dengan sigap membukakan pintu mobil itu, Renza tersenyum menatap Deni.
"Kemana?"
"Taman."
"Kalian ini mau nongkrong atau kencan?"
"Ya terserah donk," ucap Renza.
Arinka tersenyum kecil menatap dua orang lelaki yang selalu saja bertengkar itu. Suasana menjadi ramai jika mereka saling adu argumen.
Sesampainya di taman, Deni turun membukakan pintu. Mereka keluar dengan bergandeng tangan. Deni layaknya pengganggu dan orang ketiga diantara mereka.
Apa sih ini? aku seperti obat nyamuk saja.
__ADS_1
"Terima kasih." ucap Arinka tersenyum.
Mereka berjalan berdampingan, masih saling bergandengan tangan menyusuri jalan setapak dengan pohon-pohon rindang. Udara sejuk dan asri dirasakan oleh Arinka, berkali-kali ia menghirup napas dalam dan menghembuskannya.
"Apa kau sudah tenang?" tanya Arinka seraya menatap wajah tampan Renza.
"Hemm... sudah baikan." seraya menghirup napas kuat dan membuang sembarang.
"Mulai sekarang ini menjadi tempat favorit kita, ya?"
"Iya," jawab Renza seraya tersenyum, ia merapatkan tubuhnya sembari memeluk erat Arinka.
Mereka sangat bahagia menyusuri jalan setapak itu dan berharap jalan setapak itu tidak pernah ada ujungnya.
Renza merasa sudah gila dan sudah tidak waras. Ia sangat menyukai wanita di sampingnya itu. Mata teduhnya itu sangat menenangkan.
"Aku ingin tahu? Kenapa kalian selalu bertengkar mengenai wanita yang bernama Sinta?"
Arinka sebenarnya sudah tahu dari Deni, tapi Arinka ingin mendengar langsung dari mulut Renza tentang kejadian yang sebenarnya ia alami.
"Aku tidak ingin membicarakannya, tapi aku tidak ingin ada rahasia lagi diantara kita."
Renza mulai menceritakan kisahnya, masa lalunya kepada Arinka. Arinka mencoba menjadi pendengar yang baik tanpa memotongnya.
"Jadi, bisa dibilang Sinta itu menduakan? Aku mengerti dan sangat mengerti, pasti rasanya sakit 'kan? Aku sangat tahu itu."
"Mmm... Aku tahu, aku pernah berbuat begitu padamu." Renza menundukkan pandangannya.
"Padahal aku tahu rasanya sangat sakit, tapi aku tidak menyadarinya waktu itu, mungkin karena rasa cinta itu belum tumbuh dan terlalu banyak rasa benci mendominasi hatiku."
"Iya, aku mengerti. Aku sangat tahu bahwa perjodohan itu sangat sulit bagimu. Dijodohkan dengan wanita yang tidak dikenal dan kampungan sepertiku pasti sangat sulit."
"Sangat sulit, karena aku sulit sekali mempercayai orang lain. Aku pikir kau itu seperti Sinta, hanya menginginkan harta saja. Sinta meninggalkan aku dan pergi bersama Jefran karena dulu keluarga kami belum sesukses ini sedang keluarga Jefran sudah lebih dulu sukses. Jefran mempunyai keluarga lengkap sedangkan aku hanya mempunyai nenek saja."
"Kenapa kau menyimpulkan aku mirip seperti Sinta?"
"Karena kau menerima perjodohan ini dengan cepat, tanpa banyak berpikir. Lagi pula saat itu aku bersama Giska. Dari awal aku bersama Giska itu karena Giska temannya Sinta. Aku putuskan mendekatinya dan menjadikannya pacar untuk membuat Sinta cemburu. Kebetulan sewaktu dekat dengan Giska, perusahaan Nenek mengalami kemajuan pesat. Setelah aku bersama Giska, benar saja Sinta cemburu dan memohon untuk kembali. Dia bilang hanya mencintaiku sedang Jefran hanya pelarian sesaat."
"Jadi semuanya berawal dari Sinta? Kau menjadi Arogan dan dingin?"
Kenapa aku merasa kesakitan mendengar semua cerita ini.
"Tidak sepenuhnya karena Sinta. Sewaktu aku ditinggalkan, aku banyak berpikir. Aku sudah bertekad untuk sukses dan membuat orang yang meninggalkanku menyesal hanya gara-gara memandang materi."
"Jadi, kau itu sangat mencintai Sinta, ya?"
"Itu hanya masa lalu, jangan dibahas lagi. sekarang aku hanya mencintaimu seorang diri dan tidak akan pernah ada wanita lain dihatiku."
"Tidak, aku sudah lama sering mendengar kabar bahwa dia mempunyai lelaki lain. Akhirnya aku memutuskan menyuruh Deni menyewa orang untuk mengikutinya. Dari awal aku tahu Giska tidak menyukaiku. Tapi aku sengaja terus pura-pura menyukainya gara-gara ingin menyakitimu, dengan begitu kau akan membatalkan perjodohan kita."
"Segitu bencinya dulu kau kepadaku?" Raut wajah Arinka berubah pias.
Mereka masih terus berjalan menyusuri jalan setapak itu, sesekali mereka berhenti dan kemudian melanjutkan lagi. Jalan setapak itu seperti tak ada ujungnya karena memutar-mutar.
Burung-burung beterbangan kesana kemari, angin bertiup cukup kencang. daun-daun berguguran layaknya musim gugur. Perasaan Arinka sangat kacau mendengar ucapan Renza. Yah, memang benar itu hanya dulu, tapi jika ia mengingatnya hatinya sedikit sakit.
"Kenapa diam saja?"
"Tidak apa-apa."
Renza memperhatikan Arinka, senyumnya mulai pudar. Ia tahu bahwa Arinka mungkin tidak suka dengan cerita tadi. Arinka benar-benar berbeda, raut wajahnya tidak sama seperti tadi.
"Kau marah, ya?"
"Tidak."
Wanita, bagaimanapun keadaannya jika menyangkut urusan hati pasti sangat sulit untuk menyembunyikannya. Jika cemburu pasti akan nampak jelas terlihat.
Arinka berjalan lebih cepat. Ia melepas genggaman tangan Renza. Renza tahu betul wanitu itu pasti tidak baik-baik saja. Renza melihat sekeliling. Bola matanya memutar. Ia berlari meninggalkan Arinka sendiri. Arinka semakin marah karena Renza pergi tidak pamit.
Pada dasarnya lelaki memang begitu, walaupun setiap hari menyebut kata cinta kepadaku, tetap saja ia tidak peka dengan perasaanku.
Arinka berjalan pelan. Ia melihat kursi yang kosong, lalu ia duduk dan termenung. Ada yang mengganjal dihatinya seperti sebuah batu besar. Yah, karena ia saat ini sangat cemburu. Arinka ingin mengutarakan semua kecemburuannya itu, tapi tidak mungkin. Mungkin terdengar berlebihan jika cemburu dengan masa lalu pikirnya.
Renza berlari mencari Deni. Ia melihat Deni sedang duduk dibawah pohon besar seraya memainkan benda tipis ditangannya. "Deni!" Teriak Renza.
Deni segera menoleh mencari asal suara yang memanggilnya. Ia bergegas bangkit dan menghampiri atasannya itu.
"Ada apa, Pak?"
"Aku ingin kau membelikanku bunga dan coklat, sekarang!"
"Kenapa mendadak?"
"Jangan banyak tanya, cepat pergi!"
Napas Renza masih tersenggal. Ia berlari cukup kencang. Renza segera kembali, ia sangat takut meninggalkan Arinka seorang diri. Renza sangat peka bahwa istrinya itu sedang marah dan kesal. Ia ingin mengembalikan senyum istrinya itu dengan memberinya bunga dan coklat.
Renza berlari lagi menuju tempat terakhir ia meningggalkan Arinka. Sayangnya, Arinka tidak ada disana. Renza sangat panik. Bola matanya terus berputar dengan liar mencari sosok istri tercintanya.
Renza terus menyusuri jalan setapak itu. Ia terus melihat disetiap sudut. Pikirannya mulai berkecamuk tak karuan.
Ya Tuhan, kemana istriku? Aku sangat bodoh meninggalkannya seorang diri.
__ADS_1
Renza masih mencari dengan raut wajah cemas. Ia membuka jas itu dan meninggalkannya dikursi taman. Ia sangat berkeringat berlarian mencari Arinka. Renza bertanya kesetiap orang yang ia temui. Namun ia tidak mendapat jawaban yang menyenangkan.
Setelah lelah berlari, Renza tersadar bahwa Arinka membawa ponsel didalam tasnya. Ia bergegas mengambil ponsel disaku celananya dan menelpon. Terdengar telpon itu berdering. Tak lama, telpon itu mendapat jawaban. Renza dengan cepat mencecarinya banyak pertanyaan.
"Sayang, kamu dimana?"
"Di taman."
"Di dekat mana? Aku sudah mencari-cari tapi tidak menemukanmu, Ahh ... cepat beri tahu aku?"
"Aku disini, dibawah pohon dekat danau."
Renza bergegas berlari, ponselnya masih menempel ditelinganya. Pandangannya menatap kesatu arah, yaitu : Istri tercintanya.
"Mom, kau membuatku panik? Ya ampun, aku sangat ketakutan," ucap Renza seraya menghampiri Arinka dan mematikan sambungan telponnya.
"Jangan berlebihan," ucap Arinka singkat.
Aku tahu wanita ini sedang marah.
"Kenapa duduk disini sendiri?" tanya Renza tersenyum lembut.
"Tidak ada."
Lagi-lagi hanya percakapan singkat yang keluar dari mulut Arinka. Ia masih terus menatap air danau yang dipantuli sinar matahari yang sudah berubah warna.
Renza duduk mendekatinya dan memegang kedua pipinya. Namun, Arinka masih saja memperlihatkan ekspresi wajah datar.
Cup ...
Renza ingin mengecup bibir Arinka. Sontak Arinka menolak dan memundurkan wajahnya. Namun, Renza segera memeluk wanita itu dengan erat dan berbisik pelan.
"Aku sangat panik saat kau tidak ada didepan pandanganku, aku sangat khawatir setengah mati. Aku berlari seperti orang gila mencarimu. Jangan seperti ini, maaf jika aku melakukan kesalahan." seraya memeluk erat tubuh Arinka. Tapi Arinka belum bergeming.
Wanita jika sudah ngambek, akan sangat susah untuk di bujuk. Apalagi ini menyangkut masalah kecemburuan. Butuh penjelasan yang sangat detail agar mereka bisa menerima dan mengerti.
Dering ponsel Renza memecah suasana. Renza merogoh saku celananya itu dan menjawab telpon singkat.
Tak lama kemudian, Deni membawakan bunga dan sekotak coklat.
Nasib, ya nasibku. hanya jadi obat nyamuk.
Sesudah memberikan bunga dan coklat, Deni pergi meninggalkan mereka berdua. Entah kemana Deni akan pergi, hanya Deni lah yang tahu.
"Bunga dan coklat ...," ucap Renza tersenyum lebar.
Arinka hanya tersenyum tipis ketika menerima bunga dan coklat itu. Renza kewalahan mengatasi wanita yang sedang marah ini. Ia kehabisan akal.
Renza melepaskan bunga dari tangan Arinka, dan coklat itu ditaruh dikursi. Renza berjongkok, padahal itu di depan umum. Seraya menggenggam tangan Arinka dan mengecupnya lembut.
"Tatap mataku?" ucap Renza sambil menatap Arinka dengan tatapans sendu. Ia mulai mengeluarkan jurus kebucinannya.
Arinka masih menundukkan pandangannya. Renza melepas tangannya seraya memegang dagu Arinka. Arinka mulai menatapnya dengan tatapan ragu.
"Jika kau marah karena cerita masa lalu, lupakan saja. Karena masa laluku itu tidak penting. Masa depanku yang sangat penting lebih dari apapun. Masa laluku dan wanita yang aku ceritakan hanyalah keping-keping dari kisah panjang mendapatkanmu. Percayalah, cintaku hanya satu dan tidak akan pernah ada cinta lain selain kamu. Aku mencintaimu sampai selamanya sampai hembusan napas terakhirku."
Arinka akhirnya luluh dan segera memeluk Renza dengan erat. Renza sangat bahagia. Terlihat seulas senyum Arinka tampilkan diwajah cantiknya itu.
"Kau sangat cantik jika tersenyum, maka dari itu teeuslah tersenyum."
"Mmm ..." ucap Arinka seraya menganggukan kepala.
"Janji tidak marah lagi?"
"Iya," ucap Arinka dengan senyuman lembut daei bibirnya.
"Jangan cemburu hanya karena masa laluku, dia tidak berarti apapun lagi, dimataku hanya kamu dan aku akan menatap lurus kedepan."
"Aku tidak cemburu."
"Iyaa, kau tidak cemburu hanya marahan sedikit," ucap Renza tertawa.
"Ya sudah, makan coklatnya biar rileks. kata orang coklat bisa menenangkan."
"Haha, benarkah? Jas kamu mana, Pom?"
"Aku tinggalkan, aku sangat panik tadi dan gerah. makanya aku meninggalkannya. Masih tidak percaya bahwa aku mencintaimu?"
"Percaya ... Kau sangat tampan jika hanya menggunakan kemeja putih seperti itu."
"Fffffttt, benarkah?"
"Iya sangat tampan."
Renza sangat malu mendengar pujian dari istrinya itu, ia terus tersenyum mendengar ucapan Arinka. Untuk pertama kalinya Renza bertingkah konyol ketika dipuji. padahal yang memuji itu adalah istrinya.
**Bersambung....
Jangan lupa like jika selesai membaca dan jangan lupa tekan vote dan kirim komentar kalian ya...
Salam sayang dariku untuk pembaca semua 💗
Luv u 😘😘
__ADS_1