Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 32 : Pengakuan


__ADS_3

*****Sebelumnya aku minta like yang banyak yaa..


dan jangan Lupa Vote sebanyak-banyaknya 😘


Happy Reading***....


Apa maksud perkataan ini, apa jangan-jangan Tuan Renza ingin mengakui aku sebagai istrinya didepan Pak Jefran, Ahh tidak mungkin, itu bukan dirinya.


"Di-dia ini sebenarnya?" ucapannya terhenti dan raut wajahnya terlihat bingung.


"Apa? kau mau bilang apa sih?" tanya Jefran.


Kurang ajar si Jefran ini, DIA ITU ISTRIKU. BODOH!


"Ayo kita pergi Pak Renza," kata Deni memotong pembicaraan.


"Ayo, Arinka. Ibu sudah menunggu kita." ucap Jefran sambil mendorong kecil Arinka.


Hiss, berani-beraninya dia mengajak istriku.


"Aku ingin makan bersama kalian!" berjalan cepat mendahului Jefran dan Arinka, Deni yang kebingungan menarik nafas panjang dan membuang sembarang sambil mengikuti atasannya itu.


Mereka berempat sudah menuju meja, Bu Maria tersenyum ramah melihat Renza, ia segera mempersilahkan Renza duduk, namun Renza tak bergeming dengan ucapan Bu Maria itu, dihatinya dan dimatanya diliputi kecemburuan besar. Arinka dan Jefran duduk berdampingan sedangkan Renza duduk bersebelahan dengan Deni. wajahnya tampak tidak tenang dengan situasi itu.


"Bagaimana kabarmu Renza?" tanya Ibu Maria.


"Aku baik-baik saja seperti yang ibu lihat."


"Nenekmu sehat?"


"Ya, beliau sangat sehat."


Kenapa orang ini tidak sopan sih kepada orang tua. Arinka mendengus kesal.


"Bagaimana kalian bisa makan bertiga seperti ini?" ucap Renza penasaran, Deni hanya diam mendengarkan ucapan Atasannya itu.


"Kebetulan Ibu mengenal Arinka."


"Oh ya, kenal dimana?"


Dia kan orang kampung, memang kenal dimana? pasti di restauran anakmu kan. huh!


"Beberapa bulan yang lalu ibu pernah bertemu dengannya, waktu itu kondisinya sedang tidak baik, ibu memberhentikan taxi untuknya, waktu itu ia terlihat masih baru di sini."


"Hmmm, Ibu sangat baik. aku sangat berterima kasih." ucap Arinka tersenyum sangat manis.


"Kenapa waktu itu kau menangis rin, ibu penasaran juga?"


"Haha, begini bu waktu itu saya akan menikah tetapi suami saya mengenalkan pacarnya kepada saya, pacarnya bilang saya perebut pacar orang, Huh begitulah!" menarik napas panjang dan membuang sembarangan.


"Kasihan sekali kau Arinka" ucap Jefran dengan nada lembut.


Jangan-jangan itu waktu aku mengenalkan dia kepada giska sialan itu. kasian sekali kau,aku sangat banyak berbuat salah padamu.


"Ya sudah, jangan dibahas lagi.itu sudah berlalu." melirik kearah Renza.


Seketika suasana mendadak berubah dan hening, mereka saling pandang satu sama lain, tiba-tiba terdengar celetukan.


"Aku tidak nyaman dengan kursi ini, bisa aku duduk ditempatmu?" menunjuk Jefran dengan santainya, Renza telah berdiri sementara Jefran masih kebingungan.


"Memang kenapa?" ucap Jefran merasa aneh.


"Kursinya tidak empuk, pemandangannya tidak enak dilihat, jadi aku ingin duduk di kursimu menghadap jendela." tertawa seperti orang bodoh, Deni hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas.


Kenapa lagi ini orang, aneh-aneh saja permintaannya. Gumam Arinka.


"Aku tidak mau." jawab Jefran singkat.


"Kau harus mau, cepat pindah!" menaikan suara setingkat lebih tinggi. Arinka yang tidak nyaman dengan suasana itu segera mengambil tindakan.

__ADS_1


"Tuan pindah ketempat duduk saya saja." seraya berdiri ingin merubah posisi tempat duduknya.


"Aku tidak mau, aku mau kursi Si Brengsek itu."


Mereka yang ada di meja itu tampak saling memandang, apalagi Ibu Maria, ia tampak bingung dengan dua pemuda itu. tapi beliau tau mereka pernah berselisih, makanya beliau hanya tersenyum.


Brengsek katanya, tidak sopan sekali sih ucapannya ini.


"Ya sudah, karena Ibu sudah selesai makan, Ibu akan pulang lebih awal. sopir Ibu sudah didepan." ucap Bu Maria seraya bangkit dari kursi.


"Biar Jefran antar ya Ma."


"Tidak usah, kan ada sopir Mama didepan sudah menunggu."


"Bagus, antar Ibumu daripada disini." ucap Renza pelan namun masih terdengar. Jefran menoleh dan memandangnya dengan tatapan tajam.


"Ayo Arinka kita juga pulang." sambil memegang tangan Arinka.


"Haisss, Sialan!" menaikan suara lebih tinggi, Jefran dan Arinka mendadak menoleh kepadanya, Sementara bu Maria sudah berjalan menjauhi mereka. namun tangan Jefran masih memegang tangan Arinka, Arinka yang peka dengan teriakan itu langsung menepis tangan Jefran dan melepaskan tangannya.


"Kau ini kenapa sih? berteriak tidak jelas. amarahmu itu harus kau kendalikan." ucap Jefran merasa aneh dengan kelakuan Renza.


"Beraninya bertanya, Kau itu yang kenapa?" Jefran masih memandangnya dengan heran.


"Ayo" Jefran memegang tangan Arinka sekali lagi.


"Brengsek, sudah ku bilang jangan menyentuh tangannya!


"Memang kenapa? karena dia sudah bersuami?" jawab Jefran datar. Renza terdiam. Arinka bengong. dan Deni mulai panik sekali lagi, takut emosi Atasannya ini meledak tak karuan.


"Kau su-sudah tau?" berbicara sedikit gugup.


"sudah, dia kan pegawaiku. aku tau semua tentangnya." tersenyum menyerigai.


"Jadi kau tau siapa suaminya?" tanya Renza dengan nada penuh penekanan. Arinka mulai terlihat gugup melihat tatapan kedua lelaki itu.


"Tidak, lagian tidak penting juga."


Aku akui atau tidak, Ah sudah lah. diam saja.


"haha, mana mungkin. kau jangan melawak. dan mana mungkin kau lebih tau dari aku, kau saja baru sekali menemuinya, jika dia single mungkin nasibnya sudah sama seperti Sinta berada diantara kita."


"Haiss... kau ini!!" emosinya sudah mulai tidak terkontrol.


"Kau sedikit menggelikan kawan." Jefran tertawa.


"Aku lebih tau dari kau, lebih banyak tau.haha" tertawa lebih keras.


"Ayo pergi jangan dengarkan dia" menarik lengan untuk ketiga kalinya. dan emosi Renza sudah tidak bisa terbendung lagi.


"Berhenti Arinka, Ayo pulang sekarang!" Teriak Renza, Deni hanya menghela napas tidak bisa ikut campur.


"Kau kenapa? aku akan mengantarnya," ucap Jefran.


"Lepaskan tanganmu itu brengsek, tanganmu itu sudah tiga kali menyentuhnya."


"Kau bahkan menghitungnya. kau sangat aneh sekarang." Jefran terkekeh


"Aku pulang sendiri saja" ucap Arinka.


"Kau pulang denganku" ucap Renza dan Jefran bersamaan.


"Kenapa dia harus pulang denganmu, SIALAN! DIA ITU ISTRIKU." ucap Renza, ucapan itu lolos begitu saja tanpa ia sadari karena cemburu.


"Aa-apaaaaaa??" Jefran melongo kemudian tertawa, "Mana mungkin."


"DIA ARINKA LARASATI FARIQ, ISTRI SAHNYA RENZALDI AL-FARIQ." berteriak, kemudian tersenyum penuh kelegaan.


Pak, akhirnya kau mengakuinya. Deni tersenyum.

__ADS_1


Aa-apaa, Dia mengakuiku sebagai istrinya. apa aku mimpi. Mencubit dirinya. Sial ini sakit, kenapa dia seperti ini sih.


"Apa benar yang dikatakanya rin? menatap Arinka penuh harap.


"Benar, Pak." tersenyum masam.


"Biar saja kau suaminya, Aku menyukainya! lagian kau bilang kau belum pernah menyentuhnya, jangan-jangan kau tidak mencintainya, kenapa dia bekerja direstauranku? kau tidak peduli kan padanya, tenyata benar ini pasti pernikahan perjodohan seperti yang diberitakan.


"Menyukainya?? Apa kau sehat? Apa pedulinya kau, yang jelas dia ini istriku yang sah." mengepal tangan dengan erat.


"Sudah Pak Jefran, nanti akan saya bicarakan kepada Bapak, saat ini kami harus pulang. Bapak juga harus pulang, hati-hati dijalan." ucap Arinka dengan wajah kecewa.


Jefran pergi meninggalkan mereka, dalam hatinya ia masih tidak percaya, tapi ia bertekad akan tetap menyukai Arinka. kemudian Arinka dan Renza berjalan keluar sedangkan Deni sudah lebih dulu. mereka diam tanpa sepatah katapun, dimobil pun hening seperti tanpa orang, yang terdengar hanya hembusan napas masing-masing.


Mereka sampai dirumah sudah larut,


Deni hanya mengantar sampai depan rumah, Renza menyuruhnya pulang. terdengar pintu dibukakan oleh Bi Ami. Renza tanpa basa basi langsung masuk dan naik keatas, sedangkan Arinka masih berbicara dengan Bi Ami. terdengar teriakan dari Atas menyuruh Arinka naik. Arinka bergegas naik keatas, langkahnya dipercepat tapi sedikit ketakutan. ia membuka pintu dengan pelan, dilihatnya Renza tengah duduk disofa dengan kemeja putih yang telah dibuka setengah dada.


"Siapkan air panas, aku ingin berendam. cepat!"


Arinka tidak menjawab tetapi langsung melaksanakan perintah, dengan cepat ia mengisi air itu dan keluar.


"Kau kenapa berpenampilan seperti ini saat bertemu Jefran? kau memakai pakaian cantik dan berdandan. apa kau menyukainya?"


Aku benci mengatakan hal sperti ini.


"Tidak Tuan. aku hanya ingin berpenampilan sedikit berbeda di depan ibunya."


"Kenapa!! kau ingin mendapat simpati dari ibunya. percuma! kau itu istriku." Renza mendekat kearah Arinka,Arinka gugup melihat tatapan Renza yang tajam itu seakan bisa menyayatnya kapan saja.


"Kau suka dipegang begini." Renza memegang tangan Arinka kedua-duanya, wajah mereka sangat dekat. bibirnya hampir mengenai satu sama lain. Renza kemudian mendorong Arinka ke ranjang.


"Tu-tuan? kau kenapa? Aku minta maaf." ucap Arinka lirih.


"Aku menarik ucapanku tidak akan menyentuhmu, mulai hari ini aku akan menyentuhmu sesukaku." Renza berada diatas tubuh Arinka dengan kemeja yang terbuka.


"Tapi kenapa? bukannya kau sudah berjanji tidak akan menyentuhku." ucap Arinka dengan wajah ketakutan.


"Itu bukan urusanmu, kau itu istriku!" berbicara dengan penuh penekanan.


"Tolong jangan seperti ini Tuan, aku minta maaf." Arinka memohon dengan nada memelas.


"Tidak mempan." tertawa sinis. "Jefran bilang dia menyukaimu, Huh! brengsek itu."


"Pak Jefran pasti hanya menyukai sebagai pegawainya Tuan, mana mungkin dia menyukai lebih dari itu, aku sadar diri karena aku kampungan, tidak pantas untuk orang seperti kalian."


"Mana mungkin, aku melihat dari tatapannya kepadamu."


"Apa kau suka dipegang Jefran dengan lembut seperti ini" mengusap tangan Arinka dengan pelan, Arinka merinding.


"Lepaskan!" mendorong


"Kau bilang kau tidak menyukaiku, kau benci kepadaku, kenapa kau menyentuhku, sungguh kau juga Brengsek!"


"Kau bilang aku brengsek, apa kau ingin merasakan kebrengsekan ku malam ini." menyerigai licik.


"Ti-tidak. " Arinka meronta.


Kenapa aku berdebar begini sih. aku sungguh menyukaimu sekarang, bodoh! karena cemburu aku memberanikan diri memegangmu. aku hanya menakutimu, sial!


"Aku tidak sebodoh itu Arinka." melepaskan tangan dan berjalan masuk ke kamar mandi.


Huh! apa yang aku lakukan. aku sungguh gilaaaaaaaaaa.


*****Bersambung...


Like dan comment ya, jangan lupa vote dan tekan ❤


salam sayang 😘

__ADS_1


salam Army 💜


Luv u 😍***


__ADS_2