Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 61 : Honeymoon 4


__ADS_3

Karena banyak yang request honeymoon 4, Author lanjutin deh... Sebenarnya Author juga ga terlalu bisa bikin cerita hot, tapi dibisa-bisain demi kalian..


Sebelum membaca tarik nafas dulu ya 😂😂


***


Renza dan Arinka masih memandangi sunset diatas jembatan. Entah kenapa momen yang paling manis bagi pasangan adalah melihat sunset bersama, lalu saling berpelukan.


Begitu pula dengan mereka berdua, mereka sedang menikmati indahnya sunset seraya melihat burung-burung beterbangan kesana kemari. Laut yang begitu biru dan menenangkan itu sangat indah ditambah kemesraan mereka disana.


Renza memegang pipi Arinka lembut dengan kedua tangannya, ia mengelusnya pelan.


"Sedih rasanya memikirkan kita harus pulang besok," ucap Renza.


"Emm ... tempat ini benar-benar indah. Ah, ingin rasanya tinggal di rumah dekat pantai," ucap Arinka tersenyum menatap mata Renza.


"Sayangnya kita tidak bisa pindah rumah."


"Iya, sayang sekali."


Renza masih memegang pipi Arinka, lalu pelan-pelan ia mendekatkan bibirnya ke bibir Arinka. Renza mengecup bibir Arinka lembut berulang kali sampai dirasa cukup.


"Ayo kita pulang!" ucap Arinka.


Renza menggenggam tangan Arinka, mereka berjalan menuju kamar resort mereka. Perasaan cinta selalu menggebu-gebu diantara mereka.


"Sayang, entah kenapa saat berada didekat mu, melihat kemolekan tubuhmu, saraf-saraf ku mulai tegang."


"Dasar lelaki mesum!" Arinka terkekeh.


"Benar, aku selalu mesum jika berada didekatmu. Sekarang saja aku bisa-..." ucap Renza yang terpotong.


"Bisa apa?" jawab Arinka tertawa.


"Mmm, kau tidak ingin bangkit dari kasur ya karena menggodaku seperti ini!"


"Haiss, benar-benar ya ini orang!"


"Haha, aku sedang berusaha keras membuat bayi untukmu."


"Iss, padahal Modus!"


Renza terus tertawa, tak dirasa mereka sudah dekat kamar resort nya. Renza membuka pintu kamar itu, Arinka masuk melangkahkan kaki, ruangan itu gelap karena lampu belum dinyalakan sama sekali.


Renza menutup pintu kamar itu dan segera memeluk Arinka. Dengan cepat Renza mencium bibir Arinka. Arinka tersandar didinding sebelah pintu dengan bibir terbungkam oleh ciuman Renza.


Ciuman itu berjalan terus menerus tanpa dilepaskan, sampai Arinka terduduk diatas sofa. Arinka melepaskan ciuman itu dan berkata, "Aku ingin mandi dulu, apakah boleh?"


Renza tersenyum manis menjawab Arinka, "Ayo mandi bersama."


Renza menggendong Arinka masuk ke dalam kamar mandi. Renza benar-benar sudah kehilangan akal jika menyangkut Arinka.


Air didalam bath up sudah terisi. Renza menambahkan aroma mawar untuk berendam. Arinka hanya bisa pasrah dengan perlakuan Renza yang melucuti pakaiannya satu persatu dan kemudian mereka berendam bersama.


Tangan Renza mulai meraba tubuh Arinka. Wajah Arinka mulai memerah malu. Renza mendekatkan bibirnya lalu mengecup lembut bibir Arinka. Lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman panas yang penuh nafsu.


Arinka membalas ciuman itu, Renza mengabsen satu persatu gigi Arinka. Mereka saling bertukar saliva dalam ciuman yang memabukkan itu. Arinka sontak melepaskan ciumannya ketika Renza menyentuh dada Arinka dan meremasnya gemas.


"Eum," rintihan itu lolos dari mulutnya. Renza yang mendengar Arinka mendesah menyerigai licik. Renza terus meraba bagian sensitif Arinka yang membuat tubuh Arinka mengelijang.


Renza benar-benar sudah kehilangan akalnya jika menyangkut tubuh Arinka. Renza terus memberikan kissmark di dada Arinka.


Kembali Renza memangut bibir ranum Arinka, sampai bibir itu terlihat tebal dibagian bawahnya. Nafas Arinka tersenggal ketika melepaskan ciuman itu. Renza mengusap pipi Arinka kemudian ia melakukan pekerjaannya dibawah sana.


Kelopak mata Arinka kadang terpejam dan terbuka menikmati ritme hujaman dari Renza. Setelah permainan itu selesai, mereka benar-benar mandi.


"Kau benar-benar liar?" ucap Arinka tersenyu seraya memakaikan kimono di tubuhnya.


"Ini baru permulaan, malam ini akan menjadi malam yang panjang. Aku akan lebih liar dari ini, haha."


Arinka menarik nafas panjang, dan keluar dari kamar mandi. Renza mengikutinya keluar. Tak lama kemudian layanan kamar datang, datang Arinka dan Renza mengisi tenaga mereka untuk memulai malam yang sangat panjang.


Arinka duduk di sofa dan menyalakan televisi. Suara ombak di luar sana benar-benar sangat menenangkan. Renza duduk kemudian berbaring di pangkuan Arinka. ia terus menggoda Arinka.


"Cium aku," ucap Renza tersenyum.


"Kenapa?"


"Memangnya minta cium sama istri harus ada alasannya?"


"Tidak sih."

__ADS_1


"Aku ingin mipom mencium duluan."


Arinka menundukkan kepalanya, ia mencium pipi Renza.


Anehnya, ketika Renza dicium oleh Arinka, darahnya seorah berdesir. Ia sangat menyukai sosok dihadapannya.


Renza menatap Arinka dengan tatapan menggebu penuh cinta. Di tatap seperti itu membuat wajah Arinka menjadi bersemu merah.


"Sayang ..."


Suara Renza terdengar menggoda sehingga membuat Arinka tidak mampu menatap wajah Renza. Arinka seperti merasakan tubuhnya membeku, ketika tangan Renza mulai tak bisa dikondisikan.


Renza bangkit dari pangkuan Arinka, kemudian jemarinya terulur memegang dagu mungil Arinka dan memaksa Arinka untuk menatapnya. Sejenak Renza menatap mata coklat Arinka yang mampu membuat tubuhnya berdesir.


Renza membiarkan hidung mereka bersentuhan, dan berbisik, "Kau benar-benar menggoda!" Sebelum akhirnya memangut bibir Arinka lembut.


Dengan pelan Renza membaringkan tubuh Arinka di sofa itu, satu tangannya memegang telinga sekaligus wajah Arinka agar ciuman itu lebih dalam. Sementara tangan lainnya meraba menelusup dibalik baju Arinka.


Lidah Renza mulai menelusuri bibirnya, perlahan-lahan masuk kedalam, mengabsen giginya, mencecap dan memberikan beberapa kecupan ringan dibibir Arinka. Renza menginginkan hal lebih dari ini.


Mata tajam Renza seolah memerangkapnya dan menghipnotisnya sehingga tanpa sadar Arinka luluh kepadanya.


"Ayo kita lakukan dikamar, lebih luas dan lebih empuk," ucap Renza tersenyum nakal.


Renza mengangkat Arinka dengan posisi kaki Arinka melingkar di pinggangnya seraya mengecup bibir manis Arinka hingga sampai ditempat tidur.


Sementara itu tangan Renza bergerilya, ia mulai mengelus perut datar Arinka dan perlahan merambat keatas, meremas lembut dada penuh Arinka dan mulutnya menelusuri rahang dan leher sambil mengecapnya disana.


Renza memberikan tanda kepemilikan ditempat yang ia lewati, padahal tanda kepemilikan kemarin saja belum pudar. Arinka menahan desahannya, saat Renza kembali mencium bibir ranumnya. Tetapi Renza sangat ingin mendengar Arinka mendesah, lalu ia menjauhkan wajahnya sedikit dan berbisik pelan, "Jangan ditahan."


Tapi Arinka tetap menahan desahannya dengan menggigit bibirnya dalam-dalam, ia menarik napas panjang seraya menarik rambut Renza.


Renza sangat menggila setelah rambutnya itu di tarik pelan oleh Arinka. Sentuhan Renza kali ini benar-benar memberikan sensasi yang berbeda tapi Arinka tak mengakuinya, ia masih berusaha menahan rintihannya.


Hingga Renza mengecup lembut dan pelan di perut rata Arinka dan menuruninya. Seketika Arinka mengerang. Renza merasa sangat antusias seperti telah menaklukan ratunya. Ia merasa dapat melakukan apa pun dan entah kenapa ada kesenangan tersendiri yang perlahan menyusup didalam benaknya.


Gairah mulai membakar cinta mereka. Gairah itu tak akan padam jika belum dituntaskan. Perasaan dua insan yang menggebu-gebu dengan dentuman ritme jantung yang tak seirama menambah kenikmatan tanpa mengenal lelah.


Renza mulai membuka pakaian yang melekat pada tubuh Arinka. Lalu ia mulai membiarkan tubuhnya melekat erat diatas tubuh Arinka. Renza memulai penyatuannya dengan lembut dan pelan, sedang Arinka memejamkan matanya.


Arinka tersentak saat sesuatu itu masuk kedalam tubuhnya. Kemudian tanpa ia sadari ia mendesah keras tanpa bisa tertahan lagi. Sesekali Renza membungkam mulut Arinka dengan ciuman yang sedikit kasar sesuai dengan ritme tempo hujaman dibawah sana.


"Apakah ini terlalu kasar?" tanya Renza berbicara terengah-engah.


"Ti-dak ... Aahh!" ucap Arinka seraya mendesah pelan.


Renza tersenyum penuh kesenangan melihat istrinya itu mulai menerima pemainan yang ia lakukan. Arinka lagi-lagi menggigit bibirnya menahan desahannya. Lalu tanpa Renza duga, Arinka mencium bibir Renza dan memeluk erat tubuh Renza disela hujamannya itu.


Renza terus menyetakkan tubuhnya ke bagian terdalam istrinya itu, menciptakan sensasi menggelitik di sekujur tubuh mereka berdua. Arinka menggeliatkan tubuhnya karena hentakan yang lumayan keras dan merintih, "Ah!"


Kemudian dengan gerakan sengaja diperlambat, Renza menggoda Arinka, ia benar-benar sudah tahu bagaimana menggoda tubuh Arinka. Napas yang berpadu dalam kegiatan penyatuan mereka itu membuat Arinka ingin berteriak.


Renza berbaring di atas kasur dan membiarkan Arinka berada diatas. Renza benar-benar tergoda melihat tubuh istrinya itu bergerak kesana kemari. Tangan Renza terus bermain di daerah dada Arinka.


Cukup lama kegiatan bercinta mereka malam itu, mereka berganti-ganti posisi, hingga hentakan terakhir cukup membuat tubuh mereka berdua bergetar hebat. Renza membungkam teriakan Arinka dengan ciuman.


"Kau benar-benar seperti orang yang tidak waras," gumam Arinka setelah napasnya kembali normal.


"Iya, aku benar-benar tidak waras karenamu."


Setelah melakukan percintaan panas berkali-kali malam itu, Arinkabenar-benar tertidur hanya berbalut selimut saja. Renza mengusap pelan puncak kepala Arinka seraya berkata, "Terima kasih."


Kemudian ia mengusap lagi perut rata Arinka dan mengecupnya, "Cepatlah tumbuh disana ya, Nak!"


Malam sudah larut. Namun, Renza tidak lelah sama sekali. ia bahkan tidak bisa tidur. ia berdiri didepan jendela kaca yang besar itu seraya melihat kerlap kerlip bintang dan menatap air laut. Deburan ombak benar-benar membuat suasana itu semakin romantis sekaligus berisik.


Renza duduk di tepi ranjang. Ia mengusap lembut rambut Arinka dan mengecup keningnya berulang kali. Renza sangat mencintai Arinka. Tiba-tiba Arinka membuka matanya pelan seraya berkata dengan suara dalam, "Kau belum tidur, Pipom?"


"Hmm ... belum, aku belum mengantuk, Mimom tidur saja."


Arinka tersenyum tapi matanya ia pejamkan kembali. Namun, Renza mengecup bibirnya lembut dan mencium lagi, lalu menjilati bibir Arinka pelan.


Dia menyuruh tidur, tapi perlakuannya seperti ini! Bagaimana aku bisa tidur?


"Sayang, aku menginginkanmu lagi."


Arinka menatap Renza dengan tatapan tidak percaya, ia hampir saja menolak karena tubuhnya sudah lemas. Dan Seolah mengetahui apa yang hendak dikatakan oleh Arinka, Renza langsung berkata, "Sekali lagi!"


"Apa kau tidak lelah?" tanya Arinka pelan.


"Tidak."

__ADS_1


Perlahan Renza mulai membuka selimut tebal yang membungkus tubuh Arinka, kemudian tanpa aba-aba Renza mengecup kembali setiap inchi tubuh Arinka dan memberikan tanda kepemilikan lagi. Tubuh putih Arinka menjadi belang-belang akibat tato buatan Renza.


Arinka benar-benar lelah, ia ingin menolak tapi sentuhan demi sentuhan itu membuat tubuhnya mulai mengelijang kembali. Renza menginginkan tubuh Arinka lagi dan lagi. Tubuh itu benar-benar telah menjadi candu untuk Renza. Melihatnya terbuka sedikit, ia langsung ingin memakannya habis.


Renza tidak membiarkan Arinka istirahat malam ini. Hujaman demi hujaman membuat Arinka mendesah keras. Tidak puas dengan itu, Renza membalikkan tubuh Arinka hingga kesamping, ia menaikkan salah satu kaki Arinka ke bahunya. Sepertinya posisi ini sangt disukai Renza. Arinka ingin protes tapi dengan segera Renza menutup protesan itu dengan ciuman panjang.


Peluhnya mulai menetes, Renza memasuki tubuh Arinka lebih dalam dan seolah memaksa tubuh Arinka untuk menerimanya secara menyeluruh. Dan beberapa saat kemudian, Arinka menjerit untuk kesekian kalinya karena tingkat kenikmatan yang tak bisa ia ungkapkan.


Tiga puluh menit kemudian, Arinka merasa akan mati karena semua siksaan yang penuh dengan kenikmatan yang diberikan oleh Renza. Arinka ingin melakukan protes atau memohon kepada suaminya itu untuk menyudahi penyiksaan ini, tetapi ketika Renza memegang pinggangnya dan menghentakkannya beberapa kali ia mendesah, "Aahh!"


Arinka menyerah dan pasrah mengikuti apa yang diinginkan Renza.


Malam seolah tidak ada akhirnya bagi mereka, menit berikutnya mereka melakukannya lagi dan membiarkan bintang-bintang yang berkerlipan itu menyaksikan percintaan mereka.


Kali ini mereka benar-benar telah terlelap. Bahkan matahari sudah muncul pun mereka belum bangun. Jadwal kepulangan mereka hari ini pukul 11 pagi.


***


Di kantor, Deni merasa sangat lega. Bekerja tanpa Renza membuatnya santai.


Hari ini, Deni akan melakukan kencan buta disebuah cafe yang sudah mereka setujui. Deni sudah berpakaian rapi memggunakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hampir sesiku.


Deni sampai disana dengan perasaan campur aduk, jantungnya berdegup kencang. Deni duduk di kursi yang letakny tak jauh dari jendela. Seorang wanita datang celingak-celinguk seperti kebingungan.


Wanita itu berjalan menghampiri dan berkata, "Apa kau yang bernama Deni?


"Hmm, iya," ucap Deni


Wanita itu duduk dan memperkenalkan diri. Wanita itu benar-benar bukan type nya Deni, baru kenal saja wanita itu sudah memegang tangan Deni dan bersikap sok manja. Ingin rasanya Deni pergi meninggalkan wanita itu, tapi ia masih berpikir. ia tidak ingin meninggalkan kesan yang tidak baik.


Tak jauh dari tempatnya duduk, Risa datang mampir untuk membeli minuman hits yaitu boba. Risa berdiri dan menunggu pesanan. Risa melirik sekitar melihat Deni bersama seorang wanita.


Wah, pria menyebalkan itu ternyata punya pacar? Sikap dingin dan cuek begitu siapa yang mau, haha.


Tak lama, wanita itu telah pergi. Deni masih duduk sendiri di kursi itu termenung.


Aku tidak akan menyebutkan nama asliku mulai hari ini. akan aku rubah menjadi Dino.


Risa keluar setelah memesan minuman dan mendadak mematung. Hujan lebat tiba-tiba mengguyur tempat itu. Deni keluar dan berdiri didepan pintu. Risa memperhatikan dan menyapa sok akrab, "Kau disini juga?" ucap Risa. Namun, Renza hanya diam acuh.


*Benar-benar menyebalkan! ish aku tarik ucapanku menyapanya*.


Mereka saling bediam didepajn pintu itu, hingga akhirnya Risa mengadangkan tangan menjamah air hujan, maksudnya ingin memastikan saja, tapi air yang jatuh ditangannya terpantul ke kemeja Deni.


"Hey, si bodoh!"


Risa tak menoleh, karena ia merasa tidak bodoh. sekali lagi Deni memanggilnya, "Hey, kau sengaja ya?"


Risa menoleh kearah Deni dan melirik tajam.


"Kau ini kenapa, sih?"


"Kau membuat bajuku basah!"


"Bisa tidak jangan memanggilku bodoh! aku tidak bodoh, dasar kau idiot!"


"Kau bilang aku apa?"


"I-D-I-O-T. "


Deni menggeram kesal menatap Risa. tatapan matanya selayaknya dapat menggores mata Risa.


"Tarik kembali ucapanmu!" pekik Deni.


"Tidak, kau harus menarik ucapanmu dulu!"


"Tidak bisa, dasar menyebalkan, sombong dan arogan,Huh!"


"Kau dasar pecicilan, tidak sopan.Huh!"


"Bodo amat," ucap Risa seraya berlari hujan-hujan, "Lebih baik kena hujan, daripada berteduh dengan orang sepertimu."


Bersambung....


Hay Readers, apa kalian suka part ini? author kehabisan ide membuat adegan seperti ini 😂😂


Bantu like yang sebanyak-banyaknya ya, dan jangan lupa comment, sebisa mungkin akan aku balas.


Salam sayang dariku buat pembaca semua 😊


Luv u all 😘😘💋💋

__ADS_1


__ADS_2