
Pagi hari, saat sang mentari muncul dengan warna kuning cerah, embun jatuh menetes dari daun hingga ke tanah. Burung-burung bersemarak dengan kicauan paling merdua. Semua makhluk hidup bersuka cita. Setiap insan mulai melakukan aktivitas berulang setiap harinya.
Arinka sudah selesai menyiapkan sarapan. Membuat minuman kesukaan suaminya. Ia duduk di meja makan sebentar dan melamun. Seketika, ia teringat kampung halamannya. Senyum manis terulas dari bibirnya sambil menopang kedua tangannya di dagu. Yah, wanita itu rindu dengan tanah kelahirannya.
Bi Ami yang memperhatikan mengernyit melihat Arinka yang tengah duduk dengan senyuman manis dengan sorot mata tajam menatap luar jendela besar memadang searah ke pohon rindang di taman. Meja makan rumah itu tepat menghadap jendela besar yang langsung bisa melihat dan menghirup udara fresh dari berbagai tanaman di taman.
"Nyonya!" panggil Bi Ami.
Sontak Arinka tersentak dan kaget. "Apa?" katanya.
"Nyonya melamun sepagi ini? Ada apa?"
"Eum ... aku hanya rindu kampung halamanku, Ah ... sudah lah."
"Wajar sih, kan Nyonya sudah lama tidak pulang. Kenapa tidak pergi saja?"
"Pergi? Ide bagus, sih. Tapi aku masih harus bilang kepada suamiku dulu."
"Iya, Nyonya harus tetap bilang kepada suami, jangan sampai terjadi pertengkaran."
"Iya, Bi. Terima kasih. Aku naik ke atas dulu, mau membangunkannya."
"Baik, Nya."
Arinka berjalan menaiki tangga satu persatu. Kemudian, ia membuka pintu kamar dan berjalan mendekati ranjang besar. Terlihat wajah polos Renza yang masih tertidur pulas dengan selimut sedada.
Arinka duduk di tepi ranjang itu. Ia tersenyum manis memandangi Renza yang masih pulas dalam dunia mimpi. Jari Arinka mulai bergerak menjahili wajah Renza. Jari itu mendarat di pipi Renza dan menekannya sedikit. Namun, orang yang di sentuh tidak mengernyit sedikitpun.
Wah ... setiap hari aku mengagumi lelaki ini. Wajahnya benar-benar sangat tampan. Setiap hari seperti mimpi tinggal bersama dan hidup dengannya.
Sambil melamun, Arinka tidak sadar kalau lelaki yang disentuhnya itu sudah membuka matanya. Arinka masih saja menusuk-nusukkan jarinya tanpa sadar di pipi Renza. Tangan Renza dengan sigap menangkap jemari lentik nan mungil Arinka.
"Kena!" ucap Renza dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Aa-apa?" jawab Arinka terkejut.
"Mimom, memikirkan apa?" tanya Renza yang bangkit dan langsung memeluk Arinka. Arinka terkesiap, kemudian ia tersenyum.
"Tidak ada." Arinka tertawa. "Ayo lekas mandi, Mimom sudah selesai membuat sarapan."
"Hmm ... masih malas bangun, nanti saja, masih ingin meluk," ucap Renza manja.
"Ini sudah siang, nanti Pipom bisa terlambat pergi ke kantor."
"Sebentar lagi, ya."
"Eum, ya sudah."
"Mimom, ada yang ingin di katakan?"
"Tidak ada, sih. Kenapa?"
"Mimom terlihat ingin mengatakan sesuatu? Apa? Mau belanja? Mau jalan-jalan? Apa mau ikut ke kantor?" ucap Renza seraya memeluk erat Arinka dengan gemas.
"Tidak ada. Hanya saja tadi kepikiran kampung halaman. Itu saja, sih."
"Kampung maksudnya desa Mimom? Mimom ingin pulang?"
"Hanya rindu saja, bukan apa-apa, kok."
"Hmm, nanti jika ada waktu, ayo kita ke sana. Pipom temanin, Pipom tidak ingin Mimom pergi sendirian."
"Ini hanya rindu saja, bukan berarti ingin datang ke sana, sih."
"Tidak apa-apa, jika ada waktu luang. Apa Mimom punya teman di kampung?"
__ADS_1
"Punya, dia tetangga sekaligus teman."
"Emm, ya sudah. Nanti, ya. Jangan sedih."
"Mimom tidak sedih, kok. Hanya rindu saja. Ya sudah, Ayo lekas mandi, tak lama lagi Deni akan datang."
"Baik istriku." Renza melepaskan pelukannya dan mengecup kening Arinka pelan, lalu ia bangkit dan beranjak ke kamar mandi.
Jika aku pulang kampung, bagaimana anggapan orang disana? Suamiku kaya dan tampan.
Arinka berjalan membuka pintu balkon. Ia melihat Deni sudah sampai dibawah menggunakan setelan jas hitam garis-garis. Arinka langsung tertawa mengingat kejadian malam itu. Deni benar-benar sangat bucin melebihi Renza.
Arinka masih menggunakan piyama. Ia duduk terkena angin sepoi-sepoi. Keringat yang membasahinya perlahan mengering di terpa angin. Tak lama, terdengar suara derap kaki. Yah, Renza sudah selesai mandi.
Renza menggunakan handuk seperti biasanya hanya menutupi bagian bawah saja. Dada kotak itu sangat menggoda ketika terkena tetesan air.
Arinka duduk di sofa melihat Renza mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Ciyee, ada yang terpesona?" ejek Renza.
"Siapa?" sahut Arinka.
"Siapa lagi, hampir saja air liurmu menetes gara-gara melihat dada ini." Renza tertawa seraya mengibaskan rambutnya.
"Enak saja, tidak seperti itu juga. Sudah, aku turun saja kebawah. Itu jas nya di gantung," sahut Arinka ketus dan berjalan menuju pintu. Buru-buru Renza berlari mengejar dan memeluknya.
"Kenapa, sih? Kan hanya bercanda? Sensi sekali. Apa mau pms?"
"Tidak, siapa yang pms? Lagipula semenjak sesudah keguguran aku tidak menstruasi lagi." Arinka berucap tanpa menoleh.
"Benarkah? Apa jangan-jangan ada kemungkinan sudah jadi lagi?"
"Jadi lagi? Semoga saja. Amiin."
"Bagaimana jika siang nanti kita pergi ke dokter kandungan?" tanya Renza.
"Baiklah. Nanti jika tidak ada jadwal, siang kita pergi periksa, ya, sayang."
"Hmm ... iya, sayang. Ya sudah cepat pakai pakaianmu, Deni sudah berada dibawah."
"Oke," sahut Renza seraya tertawa.
Renza bergegas memakai setelah kerjanya dengan jas dan celana chino senada. Hari ini, Renza menggunakan setelan merah marun. Tidak biasanya Renza mau memakai setelan dengan warna mencolok seperti itu. Padahal, Arinka sudah menggantung jas warna hitam.
Arinka yang memperhatikan pakaian yang dikenakan Renza tersenyum sambil menutup mulutnya. Padahal Arinka sudah menyiapkan setelan jas warna favoritenya yaitu warna hitam.
"Kenapa?" tanya Renza melirik Arinka.
"Tidak apa-apa, kok." jawab Arinka masih menutup mulutnya.
"Apa aku terlihat aneh memakai setelan warna mencolok seperti ini? Ah, biarkan saja. Lagipula aku selalu jadi panutan juga, 'kan? Apa yang aku pakai akan menjadi trend," ucap Renza tersenyum penuh dengan kepercayaan diri. Arinka yang menatapnya seketika merinding.
Ya Tuhan, ternyata senarsis ini suamiku ... batin Arinka tertawa dan mengelus dadanya pelan.
Renza turun dari tangga dan di ikuti Arinka dari belakang. Arinka terus mengulum bibirnya menahan tawa melihat suaminya yang memakai setelan warna mencolok. Deni yang sudah duduk di kursi sofa sambil menyeruput kopi tersentak dan tersedak.
"Uhuk! ... uhuk!"
Deni terbatuk dan memukul dadanya pelan.
"Kau kenapa, Den?" tanya Renza.
"Apa anda baik-baik saja, Pak?" jawab Deni masih memukul dadanya pelan.
"Iya, aku baik-baik saja, ada apa?"
__ADS_1
"Aneh saja! Biasanya anda tidak suka warna setelan marun. Kenapa hari ini tiba-tiba memakainya?" Deni tertawa menatap Renza dari ujung kaki sampai pangkal kepala.
"Apapun yang aku kenakan terlihat bagus di tubuhku."
"Haha ... ya sudah lah, Anda atasannya. Anda bebas berekspresi," ucap Deni sambil melirik Arinka. Arinka tersenyum dan mengendikkan bahunya.
"Ayo berangkat," ajak Renza. Deni bergegas berdiri. Arinka mendekat dan mencium tangan Renza. Renza mencium kening Arinka lalu beranjak pergi dan masuk kedalam mobil. Seketika, mobil itu melaju dengan kencang.
Deni yang memperhatikan Renza dari kaca spion tersenyum simpul. Entah apa yang di pikirkan Renza hari ini sehingga ingin memakai pakaian berwarna mencolok. Deni khawatir Renza akan marah-marah. Karena dulu saat Renza memakai pakaian nyentrik seperti ini orang lain terus memperhatikan dan membuatnya risih.
"Ada apa, Deni? Aku lihat kau terus memperhatikanku dari kaca spion?" tanya Renza seraya membenarkan dasinya.
"Aku hanya heran saja," ucap Deni.
"Heran dengan warna pakaian ini?" Renza tertawa.
"Iya, Pak. Apa Pak Renza tak masalah jadi pusat perhatian?"
"Aku memang mau jadi pusat perhatian. Lagipula sekarang aku sudah punya istri. Aku tidak risih sedikitpun."
"Apa hubungannya?"
"Dulu karena aku masih sendiri, ya aku risih di lihatin. Sekarang tingkat percaya diriku meningkat semenjak beristri."
"Iyain aja, deh," jawab Deni tertawa.
"Sialan kau, Deni! Aku tahu kau mengolokku!"
"Tidak, Pak. Mana berani saya," ucap Deni mengulum bibirnya.
Seketika keadaan menjadi hening. Renza dan Deni tak berbicara lagi sampai mobil itu melaju dan berhenti di gedung parkiran kantor. Deni membukakan pintu dan Renza turun dari mobil dengan sepatu oxford hitam mengkilapnya.
Pria itu berdiri dengan gagahnya. Deni tersenyum dari belakang sambil melirik setelan Renza. Lagi-lagi Deni gagal menahan tawa. Ia tetap menutup mulutnya. Renza menoleh dan mengernyit ketika Deni sedang menahan tawa. Seketika Deni mengalihkan pandangan dan pura-pura bersiul.
Para karyawan menatap heran dan takjub. Tak biasanya atasan mereka menggunakan pakaian warna seperti itu. Sebenarnya merah marun itu tidak terlalu mencolok. Hanya saja, pakaian khas Renza biasanya warna-warna gelap seperti hitam dan abu.
Renza berjalan dengan berwibawa. Para karayawan menatap seketika berbisik-bisik melihat Renza. Sebenarnya, Renza selalu tampak ganteng dan gagah walaupun menggunakan warna dan pakaian apapun.
Yang lebih mengejutkan dan membuat karyawan tercengang yaitu Deni untuk pertama kalinya menyapa para karyawan dengan senyuman manis. Bak tersambar petir di siang bolong, Renza menoleh saat Deni mengucapkan selamat pagi.
"Hei, are you ok? " tanya Renza mengernyitkan kening menatap Deni.
"Yes, im ok," jawab Deni.
"Jika kau sakit sebaiknya pulang!" titah Renza tegas.
"Sakit?" tanya Deni. Namun, Renza tak menggubrisnya lagi.
Hari ini di kantor menjadi mendadak riuh. Atasan yang menggunakan setelan agak mencolok dan sekretaris yang menyapa dengan ramah. Mendadak Renza dan Deni jadi trending topik seketika.
Epilog.
Beberapa karyawan mendadak tercengang. Ada yang cubit dan ada yang diam sambil menutup mulut mereka.
"Duo killer mendadak menjadi favorite, ya? Wah ... Pak Renza memakain setelan jas marun terlihat sangat keren. Sedangkan yang tak kalah mencengangkan itu Pak Deni. Ada angin apa dia menyapa?"
"Ya benar. Aku jadi merinding. Apakah kita akan kesulitan hari ini?"
"Entahlah," sahut karyawan lainnya.
"Berdoa saja, mudah-mudahan kita mendapat keuntungan hari ini bukan kesialan."
**Bersambung...
Hellow Readersku tersayang.. Author back. Maaf ya lama hiatus, sekarang Author usahakan update setiap hari seperti biasanya.
__ADS_1
mohon dukungannya, berikan like dan jangan lupa komentar, ya?
Luv u all 💋😘**