Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 48 : Bucin 2


__ADS_3

Pada kenyataannya, perasaan adalah hal yang paling sulit untuk disembunyikan. Dan nyatanya, tidak semua kebersamaan menemui kebahagian.


💗💗💗


Renza gusar memikirkan istrinya pergi seorang diri. Ia sangat khawatir kepada istrinya karena pergi sendirian. Padahal sebelumnya, Arinka selalu pergi sendiri.


Renza ingin sekali menyusul istrinya, tapi pekerjaan sedang menumpuk. ia terlihat melonggarkan dasinya karena gusar.


"Deni!" teriak Renza keras.


Deni segera masuk kedalam ruangan Renza, ia melihat wajah atasannya itu sedang kusut.


"Kau carikan supir untuk istriku, dia sering pergi sendiri naik ojek online, aku sangat khawatir."


Deni menolehkan wajahnya sembari tersenyum tipis, sebegitu khawatirnya Renza kepada Arinka sekarang, seperti seorang yang protektif.


"Pak Renza mau supir wanita apa pria?"


"Aku mau supir nya wanita, jika tidak ada wanita yang mau kerja sebagai supir, cari pria tapi yang sudah agak tua, aku tidak ingin pria yang muda, nantinya dia akan terus menerus bersama istriku."


"Ya ampun, Pak, mengapa anda seperti ini? anda seperti Bucin beneran." Deni tertawa seraya menutup mulutnya tertahan.


"Aku memang Bucin sekarang kepada istriku, aku ingin dia bahagia setiap hari, dengan memberinya perhatian dan kasih sayang."


"Sayang sih sayang, Pak. kalo seperti ini namanya bukan sayang lagi, over protektif."


"Ahh... kau mana tahu, ini bentuk kasih sayang tahu."


"Yayaya... terserah yang punya kuasa saja."


"Cepat carikan supirnya!"


"Bukankah Pak Renza bilang kalau Nyonya suka naik motor, kenapa tidak membeli motor baru saja."


Terlihat dari raut wajah Renza yang sedang mengerutkan keningnya. ia sedang berpikir.


"Hm... jika aku beli motor seru juga sih, buat jalan-jalan di akhir pekan."


"Iya, Pak."


Apa saja ide yang disarankan oleh Deni, Renza selalu menerimanya. Renza tahu semua ide Deni itu sangat luar biasa. Deni belum pernah mengecewakannya.


"Bagaimana jika besok kita membelinya? sekalian kejutan."


"Bisa diatur."


"Pulang kerja, aku ingin pergi ke toko perhiasan. Aku ingin membelikan Arinka cincin, dan perhiasan lainnya."


"Sepertinya malam ini Pak Renza harus lembur, banya berkas yang harus diurus dan ditanda tangani."


"Huh! padahal aku ingin selalu dekat dengan istriku."


Dasar! dia berkata begitu tanpa malu-malu lagi didepanku.


"Kau pergi sana, jemput istriku. Dia sedang membeli batagor, ini sudah 5 menit, aku harus menelponnya lagi."


Renza mengambil ponselnya lagi, sedang Deni masih mematung didepan Renza, menatapnya dengan lekat.


"Kau kenapa belum pergi?"


"Bagaimana bisa aku pergi, aku tidak tahu Nyonya Arinka membeli batagor dimana?" Deni terkekeh.


"Hahaha, aku lupa, sebentar aku akan menelponnya."


Di sebrang sana, Arinka sedang menunggu batagor. ia mendapat telpon, seperti tadi, nomornya masih sama. Yah, telpon dari suaminya.


"Apa kau sudah pulang, Mimom?"


"Belum, sebentar lagi. Ini sedang menunggu batagor sebentar. sesudah ini pasti langsung pulang."


"Deni sebentar lagi akan menjemputmu, tunggu saja dimana, kirimkan alamatnya?"


"Ya ampun, tidak usah. Aku kan naik ojek."


"Deni sudah pergi, kirim alamat padanya. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa? di luar banyak orang jahat."


Arinka menarik napas kuat dan menghembuskannya. kelakuan suaminya itu bisa dibilang lucu sekaligus mengesalkan.


"Padahal aku suka naik motor, tidak apa'kan?"


Kenapa sih wanita ini suka sekali naik motor? ia juga suka sekali makanan tidak hieginis itu. Apa aku harus mempekerjakan orang untuk membuatkan batagor setiap hari?


"Jangan! tunggu saja disana. Deni sebentar lagi akan menjemputmu, hati-hati ya? aku malam ini pulang telat. Sayang sekali, padahal aku ingin pulang cepat."


"Heum, baiklah," jawab Arinka pelan.


"Kiss dulu?"


"Aku malu disini ramai orang," ucap Arinka melihat sekeliling.


"Aku saja yang cium, Muacchh. sampai nanti dirumah."


Sudut bibir Arinka terlihat berkedut, ia tersenyum malu.


ia berusaha menahan tawanya dengan menutup mulutnya.


Arinka mengatakan kepada driver ojek itu untuk pergi. ia membayar ongkos. Tak lama kemudian, ojek itu pergi meninggalkannya.


Arinka bergegas mengambil ponselnya lagi. Ia segera mengirim lokasi kepada Deni. Arinka duduk di samping tempat jualan itu sambil memainkan ponselnya. Sambil menunggu Arinka memainkan game diponselnya, satu-satunya game yang terpasang di ponselnya adalah candy crush saga.


Seseorang duduk disampingnya, duduk dikursi tepat disebelahnya. Seorang lelaki itu menoleh kearahnya, sedang Arinka hanya fokus memainkan ponselnya. laki-laki itu melirik lagi, dan menyapanya.


"Arinka..."


Arinka menoleh kearah lelaki itu. Arinka memperhatikan lelaki yang menyapanya itu.


"Kau ingat aku?"


"Yaa, Aldi, kan?"


"Hmm... iya, kau kenapa disini?"


"Aku sedang memesan batagor," ucap Arinka tersenyum.

__ADS_1


"Kau tinggal disini? aku pikir kau masih dikampung? aku tak menyangka kita akan bertemu disini."


"Iyaa... kau tinggal di daerah sini?" tanya Arinka masih sambil tersenyum.


"Lumayan jauh sih, tapi aku mampir membeli batagor juga, batagor disini katanya sangat enak."


"Iya, benar. jika sudah nyoba sekali pasti ketagihan."


"Kau disini kerja?" tanya Aldi.


"Tidak," ucap Arinka menggelengkan kepalanya.


"Kau masih sama seperti dulu, belum banyak berubah."


"Kau juga masih sama," ucap Arinka tersenyum.


"Kau sudah menikah?"


Arinka menganggukkan kepalanya pelan. Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan jualan batagor, lelaki itu turun dengan setelan jasnya dna menghampiri Arinka.


"Apa sudah selesai?" ucap Deni.


"Belum, masih antri."


"Siapa? suamimu?" ucap Aldi menatap Arinka.


"Bukan."


"Pak, tolong pesanan Nyonya ini didahulukan? aku bayar 3x lipat."


"Ya ampun, Deni kau jangan begitu. Tunggu saja dulu, tidak akan lama." Arinka merasa malu dengan kelakuan Deni.


"Wah, hebat juga orang ini memanggilmu Nyonya?"


Arinka hanya tersenyum malu, ia hanya manggut-manggut.


"Dia siapa, Nyonya?"


"Aku Aldi, teman Arinka sewaktu sma." seraya menjulurkan tangannya ingin bersalaman.


Deni hanya ber-oh ria, tapi ia menyambut salaman itu sekedarnya. Deni bukan orang yang mudah dekat dengan orang lain. Ia type orang yang sangat hati-hati.


"Dia teman sekolahku," ucap Arinka.


"Heum, aku pernah mengejar-ngejarnya dulu, tapi ia tidak pernah menggubrisku." Aldi tertawa.


Arinka tertawa sekaligus salah tingkah dengan ucapan Aldi. Deni hanya menatapnya sinis.


"Aku tidak bertanya," ucap Deni dingin. wajah lelaki itu seketika masam.


"Nyonya, membeli kue?"


"Heum... ini untuk Pak Renza," ucap Arinka pelan.


Kalian ini menjadi sangat berbeda sekarang, masing-masing saling memberikan kejutan, so sweet banget sih.


"Sudah selesai, Nyonya. ayo pulang."


"Aku duluan," ucap Arinka tersenyum.


"Nyonya, sejak kapan kalian bertemu?"


"Bertemu siapa?"


"Bertemu lelaki tadi, anda harus hati-hati, jangan terlalu baik kepada sembarang orang."


"Dia temanku dulu dikampung, kakak kelas."


"Aku bukan ingin mengetahui tentangnya. aku tidak peduli dia siapa? Maksudku jangan tersenyum atau dekat dengan lelaki lain. Apa anda tahu, Nyonya? Pak Renza sekarang sangat Bucin kepada anda. Dia bisa cemburu kapan saja."


"Ya, baiklah. aku hanya bersikap ramah saja tadi, tidak bermaksud apa-apa kok."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Ini bunga dari Pak Renza, ini bunga sebagai penebus beliau tidak bisa mengantar anda."


Arinka tersenyum seumringah mendapatkan bunga mawar itu, lagi-lagi Renza memberinya bunga. Ia sangat bahagia.


"Anda lihat, kan? seberapa bucinnya Pak Renza kepada anda?"


"Haha, kau ini bisa saja."


"Pak Renza akan mempekerjakan sopir pribadi untuk anda, jadi jika Nyonya ingin bepergian, sopir akan selalu senantiasa mengantar anda kemanapun."


"Padahal tidak perlu."


"Di rumah itu banyak sekali mobil, ada 2 mobil lagi yang menganggur. Anda sebenarnya harus belajar menyetir. Apa sebaiknya aku sarankan Nyonya harus kursus mengemudi saja, ya?"


"Tidak usah, aku takut. Naik mobil mewah saja aku sudah sangat berterima kasih."


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah. Deni hanya turun membukakan pintu, setelah itu ia kembali lagi ke kantor.


Arinka berjalan menenteng kue coklat kesukaan Renza dan batagor. sedang tangan kirinya mengapit buket bunga. Bi Ami segera menghampiri Nyonya rumahnya itu. Arinka membelikan Bi Ami juga batagor.


Renza hari ini akan pulang telat. padahal Arinka sudah memasakkan sup ayam kesukaannya. Arinka sangat mengerti karena suaminya itu memang seorang yang sangat penting, pekerjaannya sangat banyak.


Malam hari pukul 8, Arinka masih duduk menonton televisi ditemani Bi Ami. Bi Ami membawakan buah sebagai camilan. 1 jam mereka menonton tapi tak banyak mengobrol hingga Bi Ami pergi ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Arinka merasa bosan, sesekali ia mengambil ponselnya memainkan game favoritnya. sebenarnya Arinka menunggu pesan dari Renza, tapi tidak ada kabar sama sekali.


Mungkin ia sangat sibuk hari ini.


Arinka mulai mengantuk. Matanya mulai berayun-ayun manja. ia memejamkan matanya seraya bersandar disofa itu. Seketika ia terlelap. Samar-samar ia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Tetapi ia pikir itu hanya mimpi.


Renza datang dengan wajah sumringah. Ia tidak sabar ingin bertemu kekasih hatinya itu. Renza melihat Arinka sudah terlelap di sofa.


Wanita ini pasti menungguku, kasian sekali kamu sayang.


Renza menghampirinya dan duduk disofa. Deni ikut turun karena ingin membicarakan tentang sopir pribadi Arinka. Deni sudah mendapatkan nama dan foto orang yang akan menjadi supir itu, hanya tinggal memperlihatkan saja kepada Renza.


"Uwuu, Ditunggu istri pulang kerja itu rasanya seperti apa ya?" ucap Deni tersenyum jahil.


"Sangat bahagia, makanya jangan jomblo terus. cepat menikah!"


"Jodoh belum ada, Pak." Deni terkekeh.

__ADS_1


"Wajah tampan, hidung mancung, dan postur tubuh yang bagus, pekerjaan menjanjikan, lengkap sudah. Tapi kenapa tidak ada satupun yang mengejarmu? Wajar sih, kau tidak lebih tampan dariku?"


"Huh! sifat narsisnya muncul lagi. Tapi terima kasih atas pujian anda, Pak."


"Itu bukan pujian, tapi penghinaan bodoh!"


Sial! omongannya kenapa sih selalu mengena sekali dihati.


"Ya sudah, nanti saja bahas calon istriku? ini foto-foto orang yang akan menjadi supir pribadi Ny.Arinka." Seraya menyodorkan Tablet nya kepada Renza.


Renza mengambilnya, ia mulai melihat foto dan reviewnya. ada 3 orang pelamar wanita dan 5 orang pelamar lelaki, tapi 4 orang masih muda dan 1 orang yang berumur 48 tahun.


Renza menunjuk foto seorang wanita dan memperlihatkannya kepada Deni.


"Anda ingin wanita ini, ya, Pak?"


"Tidak."


"Lalu? kenapa anda menunjuknya?"


"Ini cocok untuk jodohmu." Renza tertawa lepas, seketika ia menghentikan tawa dan menutup mulutnya. Ia sadar ada Arinka disebelahnya yang sedang terlelap.


"Hais, bisa-bisanya bercanda." Deni mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa? ini cocok untukmu. Jika kau mau besok aku panggilkan untukmu."


Pak Renza benar-benar mengolokku. tunggu saja sampai aku punya pacar.


"Tidak, terima kasih atas kebaikan anda, Pak."


Deni terdiam, wajahnya sangat masam menatap Renza. Renza hanya cuek dan terus tersenyum. Ia sama sekali tidak menyadari orang di depannya sedang tertikam rasa kesal.


"Jadi, Pak Renza memilih siapa?"


"Aku memilih wanita ini. wanita yang nantinya akan menjadi jodohmu. haha."


"Anda serius, Pak?"


"Heum... aku sangat serius. Biar nantinya Arinka mempunyai teman juga."


"Jadi anda memilih wanita ini?"


"Tunggu dulu, aku harus berpikir. jika wanita yang menajdi supirnya, nanti kalau terjadi apa-apa dia bisa apa? memang lebih aman seorang lelaki sih? Apa lelaki paruh baya ini."


"Mmm, bisa sih." sambil berpikir sejenak.


"Bagaimana jika Nyonya Arinka kita ikutkan kursus menyetir saja?"


"Jika ia kursus menyetir, nantinya ia akan pergi sendiri juga."


"Ya sudah, kita pekerjakan lelaki paruh baya ini. namanya Pak Ardi. Jika sudah mantap besok akan aku suruh kekantor?"


"Ok."


"Kalau tidak ada perihal lagi, aku pamit pulang."


"Ya, pulanglah. dan istirahat."


Renza mendekati istri tercintanya lalu mengecup keningnya. karena tidak ingin membangunkan istrinya, Ia menggendong istrinya itu naik ke kamar. Deni yang memperhatikannya tersenyum penuh takjub.


Benar-benar sungguh romantis, sejak kapan Pak Renza berubah seperti itu.


Renza menggendong istrinya perlahan-lahan menaiki tangga yang cukup tinggi itu. wajahnya terus tersenyum memandangi wajah yang ia rindukan sedari tadi di kantor.


Kenapa aku baru sadar sekarang sih? wanita ini sangat manis dan juga sangat cantik, tidak ada celah untuk menjelekkannya. Aku akan berusaha membahagiakanmu seperti ratu di rumah ini, sebagai penebus dosaku dulu.


Renza berjalan membuka pintu. Ia membaringkan istri tercintanya itu diatas ranjang dan menyelimutinya. Tak lupa ia juga mencium kening istrinya sebagai tanda sayangnya.


"Aku sangat merindukanmu Mimom sayang, good night."


Renza membuka bajunya, tubuhnya lumayan berkeringat mengangkat istrinya itu naik keatas ke kamarnya. tiba-tiba Arinka terbangun dan mengusap matanya.


Hoam... Arinka menguap, menandakan ia masih sangat mengantuk. Arinka melihat Renza yang telah bertelanjang dada masuk ke kamar mandi.


"Aku ketiduran. Astaga! jadi ia mengangkatku, pantas saja rasanya seperti digendong. ya ampun padahal aku ini berat."


Arinka bangkit dari ranjang King size nya itu. Ia segera menyiapkan piyama untuk suaminya.


"Ia pasti sangat lelah, pasti ia juga belum makan?"


Arinka duduk disofa, piyama yang ia siapkan ada diatas ranjang. kakinya bergerak-gerak menunggu suaminya selesai mandi. Arinka akan mengajak suaminya makan.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, terlihat otot-otot sempurna dan dada kotak-kotaknya. Entah mengapa bagi Arinka Renza sangat seksi jika rambutnya basah. Renza memutar bola matanya, ia melihat Arinka tidak ada lagi diatas ranjang.


"Kau bangun, sayang?" seraya berjalan menghampiri Arinka.


Dia ini kenapa sih sangat seksi jika rambutnya basah.


Glek ... Arinka menelan saliva ketika Renza mendekatinya. baunya sangat harum, bau khasnya sudah memabukkan Arinka.


"Aku terbangun, tadi aku seperti terbang. Apa aku berat..." Arinka terkekeh.


Renza segera memeluk tubuh Arinka seraya berbisik, "Aku merindukanmu, hampir saja aku tidak kuat menjalani hari tanpa melihatmu?"


"Tukang gombal."


"Tidak, aku sangat merindukanmu, aku sangat menyukaimu, aku sangat mencintaimu, semua tentangmu hampir membuat kepalaku meledak."


"Heumm..." Arinka sangat tersentuh dengan ucapan Renza, mereka saling memeluk dengan erat.


"Ayo kita bulan madu minggu depan."


Arinka mengangguk dan tersenyum seraya berkata, "Pakai bajumu dulu, ayo kita makan. Kau belum makan, ini sudah larut, sup ayam kesukaanmu sudah menunggu, dan aku juga membeli kue coklat kesukaanmu."


"Benarkah? Terima kasih, sayang." seraya mengecup bibir Arinka lembut.


**Bersambung....


Jangan lupa likenya jika sudah selesai membaca 💋


Aku tunggu vote dan comment nya.


salam sayang dariku buat Readers semua 😘😘

__ADS_1


Luv u ❤💗**


__ADS_2