Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 35 : Toko buku


__ADS_3

Selalu ada luka di dalam kisah cinta, selalu butuh pengorbanan untuk mempertahankan dan menyatukan cinta. dan semuanya akan berbuah manis jika bersabar.


🏵🏵🏵


Arinka masih mengernyitkan keningnya, ia seperti tidak percaya bahwa Renza akan mengantarnya pulang.


Benarkan ada yang tidak beres, setelah makan dia ingin mengantarku pulang, ah aku benar-benar takut.


Mereka telah berjalan menuju parkiran, tangannya memegang kunci dan menekan tombol di kunci itu, terdengar suara mobil itu berbunyi, Arinka masih kebingungan melihat tingkah pria itu yang membukakan pintu mobil untuknya, tidak biasanya ia seperti ini.


"Aku membukakan pintu itu, karena aku tau kau tidak bisa membukanya, jangan kege-eran, ya?" tertawa karena canggung. wanita itu cemberut.


Renza menoleh dan mengeryitkan keningnya melihat Arinka masih diam sambil memegangi sabuk pengaman yang belum dililitkan ditubuhnya. Renza segera mendekat dan mengaitkan sabuk pengaman itu yang membuat Arinka tersentak.


"Arrggh, kau kenapa Tuan?" berteriak terkejut karena Renza sangat dekat dengannya. Dengan cepat Renza menarik tangannya dan duduk kembali, ia lalu menghembuskan nafas kuat.


"Huh, kau ini tidak bisa kan memakai sabuk pengaman itu, aku bukan cari-cari kesempatan ya?"


Wajah Arinka tampak bodoh saat menoleh dan berkata, "Iya maaf, aku tadi hanya melamun sedikit, aku masih tidak percaya Tuan mau mengantar pulang, padahal aku bisa naik taxi."


Tawa Renza tidak dapat ditahan. Namun, ia mengeluarkannya dalam batas normal sedikit jaga Image didepan Arinka.


"Kenapa tertawa?" tanya Arinka bingung.


"Apa aku terlihat seperti akan membunuhmu hari ini, bersikap baik seperti ini apa tidak boleh."


"Ah, bukan begitu Tuan," ucap Arinka menatap mata Renza yang membuat Pria itu salah tingkah. Pria itu mengusap-usap wajahnya dan kemudian melajukan kendaraannya dengan lumayan kencang.


Tak lama kemudian mobil mewah itu berhenti di depan sebuah toko buku yang lumayan besar, wanita itu menatap heran, kenapa mereka bisa berhenti disana. terdengar suara mesin mobil sudah dimatikan, pria itu membuka sabuk pengaman dan membuka pintu mobilnya.


"Turun!" ucapnya sambil berjalan memutari mobil ingin membukakan pintu untuk wanita itu. wanita itu lagi-lagi mengernyitkan keningnya heran, ia masih diam sambil memegangi sabuk pengaman yang masih menempel ditubuhnya.


"Kau tidak mau turun? kita sudah sampai." Wajah Arinka tampak bodoh dan menoleh menatap wajah Renza dan bergegas membuka sabuk pengamannya. ia bertanya-tanya untuk apa dia mampir ke toko buku ini. Renza menutup pintu mobil lumayan keras dan segera berjalan masuk kedalam Toko itu.


"Kenapa kita kesini Tuan?" bola mata Arinka tampak memutar melihat-lihat toko itu yang lumayan ramai. Dengan ekor mata, Renza melirik Arinka dan tersenyum.


"Kita akan membeli beberapa buku, untuk mengusir rasa bosan Mu, kau kan tidak bekerja lagi, jadi kau bisa membaca buku sepuasnya dirumah nanti, apa Kau suka?"


Benar-benar ide yang bagus, aku sungguh jenius. Arinka pasti akan sangat berterima kasih.

__ADS_1


"Hemm, ya aku suka." tersenyum kaku.


Renza berjalan dengan cepat sambil melihat-lihat judul buku yang bagus menurutnya, sedangkan Arinka terhenti melihat buku masakan, ia mengambilnya dan membawanya ditangan. ia melihat beberapa buku lagi dan membacanya sejenak. tiba-tiba Renza mengejutkannya dengan membawa tumpukan buku yang sangat banyak dan tebal.


"Apa ini? kenapa banyak sekali? tebalnya ya ampun," ucap Arinka sambil melongo. Diambilnya buku-buku itu dan melihat beberapa judul. Wanita itu tertawa geli melihat semua judul bukunya, 'Perjalanan Sukses'. Ia kemudian melirik lagi judul buku lainnya yang berjudul '101 Cara Sukses'.


Astaga! untuk apa aku membaca buku begitu, baca novel kan masih asyik.


"Kau tidak akan bosan setelah membaca buku yang tebal begitu kan, dijamin kau akan suka pokoknya, sehari satu buku," ucap Renza dengan nada datar tanpa ekspresi itu.


"Astaga, Tuan. ini buku atau kamus? setebal ini bagaimana aku akan membacanya satu hari langsung habis? dan kenapa semua tema nya sukses sih?" tertawa cekikikan namun masih pelan.


"Memangnya kau ingin buku apa? aku tidak paham selera wanita." Renza benar-benar terlihat bodoh, untung saja Arinka juga sangat polos jadi tidak menyadari kebodohan Tuannya itu.


"Wanita itu suka yang berbau romantis," ucapannya terhenti, Arinka malas melanjutkan lagi.


"Kau ingin membeli novel romantis seperti itu?" menunjuk kearah buku yang tebalnya seperti roti bantal. Renza berjalan memutari buku-buku itu dan mengambil beberapa novel dan komik, ia segera meletakkannya dimeja kasir. Arinka menutup mulutnya tak percaya melihat tumpukan buku yang dibeli oleh Renza, sangat banyak.


Seleranya benar-benar payah. Gumam Arinka pelan. Ia memegang sebuah novel roman yang menarik baginya, Ia membaca sinopsisnya dan tertarik untuk membelinya, dua buku dipegangnya sambil berjalan Ia melihat sepasang kekasih yang lucu memakai baju couple berwarna pink. Tatapan nya tidak lepas mengamati dua sejoli itu, bola matanya memutar ke kiri dan ke kanan mengikuti gerak-geriknya kemudian ia tersenyum. Renza dari kejauhan menatap Arinka dengan senyum diwajahnya, rona wajahnya sedikit memerah. Pria itu terus saja menatap Arinka, ia melihat Arinka tersenyum sangat manis berdiri didepan rak-rak buku itu.


Manisnya, kenapa dulu aku menyia-nyiakan dirinya. aku ingin menebus kesalahanku dan mencintainya seumur hidupku.


Wanita itu segera berjalan menghampiri Pria didepan mesin kasir itu, Ia masih melongo melihat tumpukan buku yang sangat banyak itu. wanita itu tersenyum lembut dan pria itu merasa canggung.


"Apa Tuan ingin membuka perpustakaan? membeli buku sebanyak ini? bagaimana cara membawanya?"


"Deni yang mengurus semua ini," ucapnya singkat dan tegas.


"Hemm baiklah." Tatapan mereka bertemu. Arinka tersenyum kaku dan Renza langsung membuang muka saat Arinka melayangkan tatapan balik.


Haduh, kenapa aku jadi deg-degan begini..., batinnya sambil meletakan dua buku yang ada ditangannya tadi. Renza melirik dengan ekor mata, sekilas ia melihat judul Novel itu 'Benci jadi Cinta'. Mulutnya terbuka dan tertawa refleks tapi masih batas normal.


"Cerita mainstream," ucap Renza masih tertawa jahil.


"Apa?" tanya Arinka.


"Kau membeli novel berjudul begitu, Cinta!? Sama partner berantem!? Sama cewek yang menurut buku itu paling nyebelin."


"Hm... benci itu pilihan, tapi jatuh cinta itu sama sekali tidak bisa dipreksi. Pernah benci bukan berarti mengurangi kemungkinan jatuh cinta, kan?" ujar Arinka dengan wajah polosnya berkata begitu seperti pukulan keras bagi Renza.

__ADS_1


Yah, kau benar. sepertinya aku yang merasakannya sekarang.


"Aku baru tau kalau cinta bisa semenyeramkan itu," ucap Renza membuat Arinka tergelak seketika. tiba-tiba Arinka ingat tentang perubahan sikap Renza belakangan ini. Pria menyebalkan yang dulunya kasar, sering memakinya dan sangat membencinya mendadak bisa berbicara halus. seperti hari ini pria itu bersedia mengantarnya pulang dan membeli buku demi untuk dirinya supaya bisa mengusir bosan dirumah, walaupun sifatnya masih kasar dan sedikit canggung, tapi ada perubahan yang nyata pada diri pria itu. Semua kode yang baru Arinka sadari itu seperti membuktikan bahwa ia ingin berubah dan membuka hati.


Jangan terlalu yakin, bisa saja ini hanya sementara..., gumamnya dalam hati.


Hanya, masalahnya jika mereka bisa saling jujur tentang perasaan masing-masing mungkin akan berbeda. faktanya Renza belum lama putus dari pacarnya, mungkin perasaannya masih tertata rapi dan belum berubah sama sekali.


"Sudah selesai, Ayo pergi," ucap Renza membuyarkan lamunan Arinka. namun dua buah buku yang dipegang tadi langsung dibawa tanpa di pack kedalam kardus.


Mereka bergegas berjalan keluar, suasananya sudah sedikit sejuk karena hari sudah sore, mereka berjalan mendekati parkir mobilnya dan masuk kedalam mobil mewah itu. wanita itu duduk dan masih memegang buku ditangannya, ia memasang sabuk pengaman dan mobil itu melaju meninggalkan toko buku tersebut. tak lama mobil itu berhenti kembali didepan kedai kopi.terdengar mesin mobil itu mati, Pria itu turun dan lagi-lagi membukakan pintu untuk wanita yang ada didalam mobil tersebut.


"Kenapa kita kesini Tuan? ada yang ingin dibeli di kedai kopi ini?" ucap Arinka masih terheran-heran.


"Ayo masuk, kita minum kopi dulu, bawa buku mu itu?"


"Tuan, apa Tuan kesambet, habis kepentok, lagi demam atau apa? kenapa hari ini sangat aneh?"


Ia aku juga merasa aneh, kenapa aku seperti ini, Huh! aku malu.


"Jika kau tidak ingin tidak usah! Ayo pulang!" pekiknya sedikit frustasi.


Huh! Mulai lagi emosi nya itu.


"Ti-tidak, aku mau kok. aku juga haus!" berbicara dengan nada selembut mungkin, sepertinya Arinka mulai mengerti sifatnya sedikit, Renza adalah type orang yang tidak suka dibantah, apa yang diucapkannya harus dituruti kalau tidak ingin kena teriakannya.


Mereka memesan dua buah kopi dan duduk dengan santai.


setelah bersantai lumayan lama mereka berdua segera pulang kerumah, sesampainya dirumah tumpukan kardus telah tiba dari toko buku tadi dan ekor matanya melirik sebuah benda merah yang cantik, yah sebuket bunga mawar sudah berada di meja ruang keluarga, namun pengirimnya masih rahasia.


**Bersambung...


Like dan comment jangan lupa ya beb 😍


Yang belum vote ayo dong vote 😁


setelah baca jangan lupa tekan like ya


Salam sayangku, Luv u 😘💗**

__ADS_1


__ADS_2