Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 41 : Menyatakan cinta


__ADS_3

Mereka masih berpelukan dengan erat, tiba-tiba Renza melepas pelukan itu dan berlari masuk kedalam rumah, Arinka menatap heran dengan tingkah Renza. ia hanya duduk sambil memperhatikan kepergian Renza.


Apaan sih orang itu, masih pelukan tiba-tiba lari kedalam, Aneh banget!


Arinka mengerucutkan bibirnya, terlihat dari pintu Renza telah berganti pakaian dan menyembunyikan satu tangannya kebelakang, Arinka mengernyitkan keningnya.


Kenapa tiba-tiba berganti pakaian memakai jas sih.


Renza berjalan menghampiri Arinka dengan senyum sumringah diwajahnya, namun Arinka masih heran dan memicingkan matanya. Renza tiba-tiba berlutut dihadapan Arinka, dan membawa sebuket bunga mawar yang cantik. Arinka masih kebingungan menatapnya.


"Dulu, aku memang menyebalkan, tak bisa bersikap lembut kepadamu, banyak membuat salah. tapi hari ini aku bukan lagi Renza yang dulu, aku akan berusaha menjadi yang terbaik bagimu, membahagiakanmu, membuat harimu lebih indah." Menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapan,


"Maukah kau mencintaiku, mulai hari ini dan seterusnya, sampai kita menua bersama. Mimom, Aku mencintaimu dengan tulus dari hati yang terdalam, maukah kau menjadi satu-satunya untukku?" Sambil memberikan sebuket bunga mawar yang cantik.


Arinka merasa tersentuh, matanya makin berkaca-kaca. ia mengambil bunga itu dan menciumnya, wajahnya sangat berseri-seri.


"Kau boleh ragu, tapi jangan sampai terlalu lama mengulur waktu, karena orang yang menunggu rawan di hampiri fase jenuh, tapi disini sampai kapanpun aku akan menunggu tanpa kata jenuh."


"Kenapa harus menyatakan cinta seperti ini sih? lihat aku, aku bahkan belum mandi, sedangkan kau sudah memakai pakaian rapi dan tampan, aku malu...." Arinka menundukan pandangan.


"Tidak apa, kau bahkan selalu cantik, walau mandi atau tidak." Renza tertawa geli.


"Bohong.., dulu kau bilang aku ini norak, kampungan dan menyebalkan, kenapa tiba-tiba berubah? sejak kapan kau mulai menyukaiku?"


"Seperti bumi berputar, seperti turunnya hujan, hal yag bernama cinta selalu bisa datang tanpa bisa diperkirakan, begitu juga dengan perasaan adalah hal yang paling sulit untuk disembunyikan, aku tak tau pasti kapan tepatnya aku mulai tersenyum diam-diam, jantung ini berdetak tak karuan, tapi satu hal yang pasti setiap kata butuh suara agar maknanya terdengar, dan setiap cinta butuh pengakuan supaya tidak terpendam sia-sia."


"Jadi?? tanya Arinka masih bingung.


"AKU MENCINTAIMU ARINKA, MAUKAH KAU MENJADI ISTRIKU HINGGA KITA MENUA BERSAMA SAMPAI MAUT MEMISAHKAN," teriak Renza


Arinka mengangguk pelan, wajah Renza seolah baru saja disiram madu, ia terus tersenyum dengan manis. Renza dengan cepat memeluk Arinka kembali, sambil mengangkatnya dan berputar. Bi Ami yang melihat tersenyum haru campur tawa melihat kelucuan mereka. saking senangnya mereka terus berpelukan sambil berputar, "Awaa-...," belum selesai Arinka berteriak,


Bbluurrbbb


Air kolam yang tadinya tenang, menjadi bergelombang ketika Arinka dan Renza tercebur kedalam kolam renang itu, Bi Ami yang panik melihatnya segera berlari menghampiri, terlihat didalam sana mereka tertawa konyol, Renza masih memeluk Arinka.


"Kau bilang kau belum mandi kan? akhirnya kita mandi bersama?" tawa Renza membuat Arinka malu-malu.


"Sudah lah, ayo naik, aku kedinginan, ini juga sudah gelap," ucap Arinka masih dengan pipi bersemu merah.


"Jadi, Apa kau menerimaku?" tanya Renza sekali lagi sambil memandangi wajah Arinka, Bi Ami segera berlari kedalam rumah mengambilkan handuk.


"Hmm... Iya, semua usahaku untuk menjauhi mu itu sia-sia, meskipun aku banyak berpikir dengan logika, pada akhirnya aku tetap bertidak sebagaimana hatiku berkata."


Tanpa berpikir panjang Renza segera mencium kening Arinka, menatapnya lagi dan mencium bibirnya yang ranum dengan bergairah, Arinka yang terkejut buru-buru ingin melepaskan ciuman itu, "Ngg..., aku sulit bernapas," ucap Arinka sambil mengulum bibirnya.


"Kenapa? Apa ini pertama kalinya untukmu?"


"Aa-apa? tanya Arinka malu-malu.

__ADS_1


"Ciuman bibir itu." Renza tersenyum penuh kemenangan.


Arinka mengangguk pelan dan membuang pandangannya kelain arah, mereka belum beranjak dari kolam itu. Renza memegang kepala Arinka dan menghadapkan kepalanya lagi hingga wajahnya mereka menjadi saling berhadap-hadapan.


"Bolehkah aku menciummu lagi?" tanya Renza tersenyum sangat manis. sedang Arinka tak menjawab hanya mangut-mangut saja. Dengan cepat Renza melumat bibir ranum Arinka tanpa mendengar jawaban Arinka, air kolam itu menjadi saksi bisu pernyataan cinta Renza dan ciuman pertama Arinka.


Bi Ami yang berlari mengambil handuk, langkahnya terhenti melihat dua orang manusia itu sedang asyik melakukan hal intim, Bi Ami menjadi salah tingkah dan menaruh handuk itu di kursi dekat kolam, Bi Ami bergegas masuk kedalam rumah dan membuat kopi dan teh panas.


"Bbbrrrrr..., Aku kedinginan," ucap Arinka yang bibirnya sudah membiru, Renza secepat kilat mengangkatnya ke atas dan memakaikan handuk. Arinka bergegas masuk kerumah, naik keatas dan mandi berendam didalam bathup dengan air panas.


Ciuman tadi, ya ampun aku melakukan ciuman pertama ku, jantungku rasanya mau copot, Ahhh aku sangat malu.


Arinka menyiprat-nyipratkan air didalam bathup itu, ia sangat malu memikirkan adegan tadi, bunga yang diberikan Renza ikut mengapung didalam kolam, besok akan jadi tugas Pak Tino membersihkannya.


Tok..tok...


"Apa kau masih lama, aku juga kedinginan?" ucap Renza.


"Sudah," Arinka bergegas mengambil kimononya dan keluar dari bathup lalu berjalan kearah pintu, ia memegang handle pintu dengan ragu, ia masih malu atas kejadian dikolam tadi.


"Aku masuk ya?" tanya Renza, pintu terbuka alangkah terkejutnya Renza karena Arinka sudah berdiri didepan pintu, "Silahkan," ucap Arinka pelan malu-malu. Renza segera masuk dan bergegas menutup pintu.


Arinka mengganti pakaiannya, ia duduk memeluk kakinya diatas sofa, ia sedikit termenung dengan beberapa adegan hidupnya dari mulai perjodohan, dikhianati, diberi perhatian dan kemudian pernyataaan cinta. benar-benar sangat berat. Jikalau luka adalah konsekuensi untuk bisa mencintai, seseorang harus siap untuk menanggungnya dikemudian hari.


Renza keluar dari kamar mandi, ia melihat Arinka sedang duduk memeluk kakinya dalam keadaan termenung, ia mendekat dengan pelan, ia berniat ingin mengejutkan tapi belum sampai didekat Arinka, Renza malah jatuh duluan.


"Awhh" pekik Renza kesakitan.


"Kenapa?" Arinka mengerucutkan bibirnya menahan tawa.


"Kau menertawakanku?" ucap Renza masih dalam raut wajah menahan sakit.


"Sedikit," ucap Arinka menyerigai.


"Haiss, tunggu ya nanti kau aku gelitiki?"


"Jangan, awas saja ya kalau berani."


Renza bangkit dari tempatnya terjatuh dan mengeratkan handuknya, ia bergegas masuk keruang ganti. Arinka menyalakan televisi dan menonton drama. Renza keluar dari ruang ganti setelah beberapa menit.


"Kau tau adegan aku jatuh tadi seperti dejavu pada malam pernikahan kita?"


"iyaa, dan kau menertawakanku tanpa kasihan."


"Maafkan aku waktu itu." wajahnya memelas.


"Ya sudah janga diingat lagi," ucap Arinka tersenyum.


"Kalau begitu Ayo kita makan," ucap Renza.

__ADS_1


"yuk aku juga sudah lapar," jawab Arinka.


"Malam ini kau tidur di ranjang ya? bukan apa maksudku biar kita tidur bersebelahan, badanmu pasti sakit kan selama ini tidur disofa." menolehkan wajah kearah berlawanan dan menarik nafas panjang.


"Hmm baiklah..., aku tak masalah sih tidur dimana saja!"


Untung dia tidak berpikiran macam-macam. bisa malu aku jika ia berpikir aku mesum.


Mereka menuruni tangga dengan hati-hati, Bi Ami masih tersenyum lucu mengingat kejadian tadi, Bi Ami dengan cepat menyajikan kopi dan teh panas di meja makan. mereka berdua duduk dimeja makan masih saling pandang.


"Makasih, Bi, tehnya."


"Makasih juga Bi, kopinya."


Aa-apa, pertama kali aku mendengar Pak Renza berbicara terima kasih, pasti moodnya sedang baik.


Bi Ami menganggukan kepalanya, mereka segera makan hidangan yang tersedia dimeja. disela-sela makan mereka asyik bercanda, Renza tak henti-hentinya memandangi Arinka, Arinka sampai salah tingkah dan tersedak. Renza mengambilkan air padahal air sangat dekat dengan Arinka sukses membuat air itu tumpah, kini yang ada hanyalah kekacauan diatas meja makan yang sedikit menyulitkan Arinka. Bi Ami dengan cepat mengambil lap untuk membersihkan tumpahan air itu. Mereka mendadak menjadi canggung.


Mereka sudah selesai dengan makan malamnya, mereka berdua duduk di depan televisi ruang keluarga. ditengah kecanggungan yang mendera, Arinka senyum sendiri melihat Renza yang begitu santai tertawa menonton televisi.


"Rin, apapun yang berubah diantara kita, jangan terlalu kau pikirkan, biarlah berjalan wajar dengan sendirinya."


Arinka hanya menatap wajah Renza lekat. kemudian Renza memutar posisi duduknya kesamping agar lebih mudah menatap lawan bicaranya.


"Heum.. aku yakin kita bisa, bersikap layaknya suami-istri biasanya, bercerita-cerita bareng tanpa banyak aturan. Bahkan, berantem kecil seperti dulu seperti musuhan juga boleh! yang penting kita merasa nyaman," ujar Arinka menyakinkan.


Renza sedikit tertegun mendengarnya, kalimat terakhir tadi, terdengar sangat menenangkan,padahal ia kira Arinka akan merasa kesal dengan tingkah aneh dan bodohnya beberapa hari kemarin. ia kemudian tersenyum.


"Mimom...," panggil Renza, Arinka menoleh dan mengambil posisi yang sama persis seperti Renza, dan posisi mereka menjadi berhadapan.


"Apa?" Arinka menaikkan sebelah alisnya.


"Aku mau kau bersiap-siap besok sesudah aku pulang kerja."


"Hah? memang ada apa?"


Senyumnya merekah penuh arti ditampilkan Renza, ketika bergerak mencondongkan wajahnya kedepan, membuat wajah mereka sangat dekat, dan Arinka menjadi salah tingkah, Renza kemudian berbisik, "Mau ngajak bekas musuh makan malam?"


**Bersambung...


Mohon maaf ya, aku updatenya lelet karena aku lagi sakit udah 4 hari, ga bisa pegang hape. jadi mohon dimakluminya ya Readers..


jika sudah baikan aku pasti bakalan cepat update..


Yang baik silahkan tekan like jika sudah selesai membaca, bikin 1 chapter ini butuh perjuangan, author lagi sakit kepala sambil nulis ini 😭


jangan lupa vote sebanyak-banyaknya ya 😊


Luv u 😘😘**

__ADS_1


__ADS_2