Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 46 : Belanja bersama


__ADS_3

Seperti Hujan, cinta itu tidak bisa diprediksi, kapan seseorang akan jatuh cinta? bersiaplah, karena jika sudah berani jatuh cinta, maka harus siap juga merasakan patah hati.


💗💗💗


"Jangan mulai lagi, kita harus pulang, kau harus bekerja." Arinka melepaskan pelukan Renza dengan lembut, "Cepat pakai bajumu."


"Kenapa? aku masih ingin..." menarik Arinka hingga terduduk ke atas ranjang, seringai liciknya terlihat jelas.


"Jangan," ucap Arinka pelan.


Renza tersenyum jahil, ia sengaja menjahili istrinya itu, ia ingin melihat istrinya itu salah tingkah.


"Aku hanya mengerjaimu saja, haha."


Seketika wajah Arinka merah padam, ia sangat malu memdengar ucapan Renza.


"Baju apa yang kau pakai ini? kenapa kau sangat suka memakai rok seperti ini?"


"Suka saja, kenapa?"


"Kau terlihat sangat feminim, aku sering menertaimu karena penampilanmu ini, tapi lama kelamaan terlihat lucu."


"Bukannya kau sering mengejekku, jika aku memakai rok seperti ini."


"Sebenarnya itu bukan mengejek, karena terlalu suka jadi aku sering salah tingkah, jadi untuk mengalihkannya aku mengejekmu," ucap Renza tersenyum kecil sambil memakai baju.


"Ya sudah jangan dibahas. ayo kita pulang."


Arinka malas membahasnya, ia tak ingin nantinya merusak mood nya pagi hari, nantinya mereka berdua akan menjadi canggung dan bisa saja Renza uring-uringan jika diteruskan.


Mereka keluar dari kamar bersamaan, Paman Ali dan Andre sudah pergi berangkat kerja, hanya Bi Yati, istri, dan anaknya Eca yang sedang sarapan.


"Rin, sudah mau pulang? sini sarapan dulu," ucap Bi Yati.


Arinka dan Renza berjalan menuju kursi makan, dan kemudian mereka berdua duduk bedampingan.


"Iya, Bi. Renza mau kerja."


"Iya, soalnya nanti siang, saya ada pertemuan dengan klien penting dari Singapura, lain kali kami menginap lagi."


"Ya sudah, kalian sarapan dulu, ya?"


"Hmm... Uuuhh si Eca udah mandi, ya? bau nya harum sampai sini," ucap Arinka memanjakan keponakannya, sedang Renza hanya tersenyum memperhatikan istrinya, tiba-tiba Echa turun dari pangkuan Mela, ibunya. Si kecil itu berjalan mendekati Renza. ia seperti ingin bermain dengan Renza, ia menarik-narik celana Renza, Mela dengan cepat berdiri ingin mengegendongnya, tapi keduluan Arinka bangkit dari kursinya dan segera menggendongnya.


"Uncch, gemesnya! pipinya chubby banget," ucap Renza sambil menyentuh pipi Eca. Arinka mencium pipi Eca, ia sangat suka dengan bau anak-anak.


"Kalian sudah cocok punya anak,? kapan Eca ada temennya?" ucap Mela, Bi Yati yang mendengar tersenyum sambil memperhatikan mereka.


"Secepatnya ya, nanti Eca akan punya temen," ucap Renza tersenyum merona, sedang Arinka hanya tersenyum tipis, ia malu.


"Semoga secepatnya kalian bisa dapat momongan, ya?" ucap Mela sambil menyuap makanan terakhir ke mulutnya.


"Amiin," ucap Bi Yati.


Mela segera mengambil Eca dari gendongan Arinka, Mela ingin Arinka sarapan dulu, lagi pula Mela akan memberikan Eca ASI.


Selesai sarapan Arinka mengemasi piring yang kotor, Bi Yati mencegah Arinka untuk mencucinya, karena Bi Yati takut Renza akan kesiangan. lagi pula Bi Yati tahu, dirumahnya Arinka tidak pernah lagi mencuci piring karena ia mempunyai pembantu.


"Kami pamit dulu, ya, Bi." ucap Renza.


"Lain kali kami akan kesini lagi," ucap Arinka.


"Iya, hati-hati dijalan." Bi Yati memperhatikan plastik yang di pegang oleh Arinka, Bi Yati mengerutkan keningnya heran, "Plastik apa itu, Rin?"


"Mmm... ini seprai, Arin ingin mencucinya."


"Kenapa harus dibawa, biar Bibi saja yang mencucinya."


"Tidak apa-apa, Bi. Arin sedang ingin mencucinya. jika Arin kesini, Arin bawa lagi."


"Ya sudah, hati-hati."


Renza dan Arinka sudah mencium tangan Bi Yati, dan melambaikan tangan kepada Eca dan Mela, lalu mereka berdua masuk kedalam mobil mewah Renza. dan dengan cepat mobil itu melaju meninggalkan rumah Bi Yati.


"Aku tahu kenapa kau membawa seprei itu, Mom?" ucap Renza.


"Memangnya kau tahu apa?" Arinka tersenyum tipis.


"Ada sesuatu, kan, disana?" Renza tertawa, "Harusnya jangan di cuci, tapi di abadikan."


"Huh, Dasar!" Arinka menggerutu sebal.


"Eca bilang Ia ingin teman, Ayo kita buat teman buat Eca?"


Ya ampun lelaki ini, ia terus saja menggodaku.


"Mmm... tidak disini juga, kan?"


"Kenapa? aku sih dimana pun ok saja." tertawa jahil.

__ADS_1


"Dasar mesum!"


"Hahahaa, kau ini sangat lucu, Ahh... aku makin mencintaimu, Mimom." tangannya seraya memegang tangan Arinka, lalu ia menariknya dan menciumnya.


Mata Arinka mengerjap kikuk. Mendengar Renza yang berbicara begitu terus terang malah membuat Arinka salah tingkah. Arinka tidak habis pikir. Kemarin lelaki itu bahkan sangat sulit berbicara dengan lancar dihadapannya, tapi sekarang sudah sangat jago membuat dadanya berdebar tak karuan. bahkan mengatakan cintapun ia tidak canggung lagi, benar-benar The power of love.


"Pi... pom...?"


Panggilan itu membuat Renza, yang sedang menikmati wajah cantik istrinya dan memegang tangannya itu terkesiap.


"Hmm... ada apa Mimom sayang?"


"Menyetirlah dengan hati-hati." ucap Arinka tertawa sambil melepaskan tangannya dari tangan Renza. terlihat wajah Renza mendadak cemberut.


"Ciyee, ngambek niyeee?" ucap Arinka tertawa.


Renza tidak menggubrisnya, ia fokus menatap kedepan tanpa menoleh kepada Arinka.


"Ya sudah." Arinka menolehkan wajahnya ke kaca jendela dan memperhatikan jalanan.


"Uh, lagian aku hanya ingin memegangi tangan istriku, masa tidak boleh."


Aku mulai bucin kepadamu.


"Bukan tidak boleh, nanti jika tidak menyetir pegang saja sepuasnya," ucap Arinka terkekeh.


"Janji, ya? jika pegang yang lain apa boleh?" seringai liciknya muncul.


"Isshh... mulai lagi, kan!"


"Awas saja, ya, nanti sampai di rumah! tidak akan aku beri ampun." ucap Renza melirik Arinka dengan tawa jahil, namun Arinka hanya tersenyum kaku.


"Apa boleh jika kita mampir ke Market, aku ingin belanja, ingin masak sop ayam."


"Boleh, lagian aku kekantor jam 1, berarti bisa makan dirumah."


"Kau ingat, dulu pertama pindah rumah, aku pernah memasak sup ayam, tapi tidak kau makan sama sekali, malah dibuang."


Airmuka Renza mendadak pias mendengar ucapan Arinka, senyum yang mengembang itu tiba-tiba mengerucut.


"Haha, kenapa, Pipom? kau mendadak tidak enak, ya? dulu kau begitu, kan? sangat keterlaluan padaku." Arinka terkekeh.


Renza tetap saja diam, ia merasa sangat bersalah setelah Arinka berbicara begitu. Mobil itu melaju dengan cepat, ke supermarket untuk belanja bahan makanan.


"Maaf, jika dulu aku begitu keterlaluan. aku akan menebus semuanya kepadamu, aku akan selalu membuatmu bahagia selamanya." lirih.


"Tidak apa-apa, aku sudah memaafkanmu, aku juga hanya bercanda, kok, ayo senyum." Arinka mencolek pipinya Renza.


"Masa sih," ucap Arinka dengan tatapan tak percaya.


"Benar kok, kalo kau mau bukti, kita tanyakan saja kepada Pak Tino, malam itu Pak Tino memergoki memakannya, aku bilang beliau harus diam saja, Pak Tino ingin memanggil Bi Ami, tapi aku bilang jangan."


"Hahahaa. kenapa harus seperti maling, sih." Arinka reflek tertawa ngakak. Renza yang pertama kali melihat Arinka tertawa begitu tanpa jaim langsung tersenyum lucu.


"Kau sangat lucu dan manis, jika tertawa begitu lepas. ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa begitu, biasanya kau selalu menahannya."


"Upss, Maaf. Aku keceplosan tadi."


"Uhh, gemasnya," ucap Renza sambil mencubit pipi Arinka.


"Sakit, tahu!" Arinka mengusap pipinya.


"Hihi, kok semakin imut sih."


Ya ampun ini orang kenapa sih?


"Kenapa juga kau harus seperti maling, jika ingin mencicipi kenapa harus bilang dibuang, dasar tukang gengsi."


"Maafkan, Si Tukang Gengsi ini." sesekali melirik dan tersenyum.


"Ah sudah lah, sudah berlalu. Tetapi masa lalu itu harus menjadi cerminan dimasa depan, supaya kita lebih baik lagi."


"Iya, Bu Bos."


"Kok, Bu Bos?"


"Iya, kau kan memang Bu Bos, Bu Bos nya Renzaldi Alfariq, yaitu Arinka Larasati Alfariq."


Wajah mendadak berubah berubah warna mendengar ucapan Renza, Arinka ini type orang yang mudah malu. jika mendengar kata-kata yang tidak biasa ia dengar, atau sebuah pujian, wajahnya mendadak memerah seperti tomat.


"Sudah sampai," ucap Renza sambil membuka seat belt, "Ayo turun."


Arinka baru saja ingin membuka sabuk pengamannya, tapi dengan cepat Renza membukakannya, wajahnya sangat dekat membuat Arinka menahan napas dan memalingkan wajahnya.


Cup...


Renza mengecup pipi Arinka dengan cepat. kemudian ia tertawa. Arinka tersenyum malu-malu. Renza turun dengan cepat, ia berlari membukakan pintu untuk kekasih hatinya itu. Arinka dimanjakannya layaknya Ratu. Renza menggenggam tangannya Arinka, Arinka hanya diam dan tersenyum tipis.


Mereka berjalan masuk ke sebuah Pusat pembelanjaan yang lumayan besar, untuk pertama kalinya mereka berbelanja bersama setelah menjadi sepasang suami istri.

__ADS_1


Renza terus menggenggam tangan Arinka, mereka menuju tempat bahan makanan. Renza melepas tangan Arinka, Arinka terdiam dan memperhatikan Renza meninggalkannya.


Dia kenapa? aku ditinggalkan?


Arinka berjalan melihat bahan makanan apa yang ingin ia beli, tiba-tiba Renza muncul dengan mendorong troly. Arinka tertawa melihatnya.


Aku pikir ia ingin meninggalkanku? aku salah sangka.


"Kenapa menatapku seperti itu? bukankah aku sangat tampan, kan? walaupun aku belum berganti pakaian." Renza tersenyum jahil.


"Iyaaa..., kau memang sangat tampan dan tidak dipungkiri," ucap Arinka tertawa.


"Ahh... ingin rasanya aku memelukmu disini, menciummu dan...."


"Apa?" Arinka mencolek hidung Renza. Renza mendekat dan berbisik, "Kau beraninya menggodaku disini? jika dirumah mungkin sudah aku mangsa." ia kemudian tertawa sambil berlalu mendorong troly.


Arinka mengejarnya dan berbisik, "Dasar, tukang mesum!" Arinka tertawa.


Ya ampun, aku benar-benar sedang dimabuk cinta, aku seperti ingin cepat-cepat pulang kerumah.


Mereka berjalan berkeliling, mencari bahan makanan yang ingin Arinka masak, satu persatu bahan makanan mereka masukkan, mereka membeli buah, ayam, daging, bahan sop, dan lain-lain. tak terasa troly itu penuh padat dengan bahan belanjaan.


"Ya ampun, kapan troly ini menjadi penuh," ucap Arinka seraya memperhatikan isi troly itu.


"Kita ambil troly lain lagi, ya?" ujar Renza, namun Arinka mencegahnya.


"Sudah cukup, ini sudah banyak, ini seperti belanja bulanan saja." Arinka terkekeh.


"Haha, mana aku tahu belanja bulanan seperti apa?" jawab Renza.


"Jelas saja, kau kan Bos nya dirumah. kau tinggal makan saja." Arinka tertawa menatap Renza.


"Iya, ini juga pertama kalinya aku belanja begini."


Mereka berjalan mengantri di depan meja kasir, mereka harus sabar mengantri. Renza mengatakan kepada Arinka ingin ke toilet, Arinka mengiyakan. ia bergegas berlari meninggalkan Arinka.


Beberapa menit kemudian, hampir giliran Arinka membayar. namun Renza belum kunjung datang.


selesai sudah orang didepan Arinka, kini giliran Arinka, barang-barangnya sudah dihitung, totalnya sangat banyak dan butuh 5 kantong plastik besar untuk membawanya, Arinka sudah membayarnya dengan kartu Atm dari Renza. ini kedua kalinya ia menggunakan kartu itu.


Arinka menunggu Renza, dikejauhan terlihat Renza berjalan, Arinka mengernyitkan keningnya. pakaiannya sudah berbeda pakaian tadi, ternyata ia membeli pakaian dan langsung menggantinya, ia sudah menggunakan pakaian kemeja biru polos. ia membawa paperbag ditangannya dan tangan satunya lagi ia kebelakangkan.


"Huh, maaf terlambat. aku membeli baju dan menggantinya, aneh rasanya memakai pakaian itu saja dari kemarin."


"Yayaya... Sultan mah bebas," ucap Arinka pelan.


"Apa?" tanya Renza menatap Arinka meminta ucapannya diulang dengan isyarat memajukan bibirnya.


"Tidak-ada."


"Kau marah?"


"Kenapa harus marah?"


"Surprise," ucap Renza sambil memberikan sebuket bunga mawar putih.


"Mmm... kau membeli ini? Ya ampun, terima kasih, Pipom." Sudut bibir Arinka naik, ia tersenyum lebar.


"Kau suka?" tanya Renza.


"Heum..." sambil menganggukan kepalanya berulang kali.


Renza tersenyum bahagia menatap Arinka yang tersenyum memegang bunga itu, beberapa orang melihatnya berbisik-bisik menatap mereka.


Arinka benar-benar tersentuh dengan perlakuan Renza kepadanya. ingin rasanya ia melompat kegirangan, tapi ia bukan anak-anak lagi. tiba-tiba Renza menatap belanjaan mereka, ia melongo karena belanjaan itu sangat banyak. bagaimana ia akan membawanya? ia tidak ingin Arinka membawanya. ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, jari-jarinya menggeser ponsel itu dengan cepat, ia meletakkan ponselnya ditelinga, tak lama terdengar suara, "Cepat kesini, kami belanja sangat banyak, bawa semua belanjaan."


"Yang benar saja, aku sedang bekerja sekarang," ucap Deni membantah.


"Kau berani membantahku, ya?"


"Disitu pasti banyak pegawai, suruh pegawai disitu membawakan, dan beri mereka tip nanti."


Renza benar-benar tidak tahu, karena semuanya Deni yang selalu menghandle, sampai urusan seperti ini pun Deni harus ikut campur. Renza memanggil petugas kasir dan mengatakan kalau barang bawaannya harus dibawa kemobilnya. kasir itu memanggil beberapa pegawai untuk membawa plastik belanjaannya.


Renza dan Arinka berjalan kearah parkiran, mereka saling berpegangan tangan, sedang tangan Arinka satunya memegang buket bunga dan paperbag. pegawai itu mengikuti mereka dari belakang. Renza membuka bagasinya dan pegawai itu memasukkan 5 kantong plastik belanjaan mereka. Renza memberi 3 pegawai itu Tip masing-masing seratus ribu rupiah. pegawai itu tersenyum dan bilang jika masih butuh bantuan bisa bilang pada mereka. Arinka tersenyum melihat suaminya itu, kadang Dia seperti orang yang berbeda, jika menyangkut kantor, ia sangat tegas, tapi jika diluar kantor ia sangat ramah, dan jika menyangkut Arinka, ia sangat lemah lembut.


Aku sangat beruntung, Ya Tuhan terima kasih atas semua nikmatMu.


"Ayo naik." Renza membukakan pintu mobilnya, Arinka bergegas naik. Renza langsung memasangkan sabuk pengaman dari situ, Arinka benar-benar seperti Ratu. ia lalu menutup pintu mobil itu dan berjalan memasuki mobil. mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah mereka.


**Bersambung...


Jangan lupa Vote dan comment ya 😁


jika selesai membaca tekan like nya ❤


Terima kasih atas comment kalian, maaf aku tidak bisa membalas satu persatu, tapi aku baca semuanya.


Salam sayang dariku buat Readers semua 💋💋

__ADS_1


Luv u 😘**


__ADS_2