Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 62 : Tentang Deni


__ADS_3

Deni menggeram kesal ketika melihat Risa mencebikkan bibirnya dan berlari hujan-hujanan meninggalkannya.


Memangnya aku suka bersamanya? Huh, jelas tidak. tapi apa maksudnya mengatakan lebih baik hujan-hujanan daripada berteduh bersama, apa aku semenyeramkan itu, Issh, bodo lah!


Deni membuka pintu mobilnya kemudian naik, Deni melajukan mobilnya ditengah hujan itu. Deni melihat Risa berlari ditengah hujan.


Dasar wanita sombong, ish kesal sekali mendengarnya menyebutku idiot.


Di lampu merah, Deni berhenti seraya memainkan ponselnya. Ia mendapat chat dari aplikasi kencannya. wanita yang tadi ingin menemuinya lagi. Deni hanya membaca dan tidak membalasnya.


Kemudian ia membuka sosial medianya. Sejak Renza berlibur, Deni lebih sering meninjau dunia maya nya sekedar mengusir bosan.


Tiba-tiba berseluyuran diberandanya foto makanan dari akun wanita bernama Mawarni Clarisya. Deni sangat suka melihat postingan makanan yang dibuatnya, karena tampilannya benar-benar menggugah selera. Deni meninggalkan komentar disana, "Semangat, aku suka setiap postinganmu."


Komentar Deni itu mendapat balasan emoticon love. Deni tersenyum. Lampu merah berubah menjadi lampu hijau, tak lama kemudian Deni melajukan mobilnya kearah rumahnya.


Sore itu sesampai di rumahnya, Deni membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya. Ibunya masuk kedalam kamar dan duduk disamping kasurnya.


"Den, kau ini hanya bekerja saja, belum pernah ibu melihatmu membawa wanita? apa jangan-jangan kau tidak suka wanita."


"Astaga, ibu yang benar saja. Aku bukan tidak suka wanita hanya karena aku tidak punya pacar, aku masih suka wanita, suka sekali." ucap Deni penuh penekanan.


"Haha, jika kau tidak suka wanita. Kau akan ibu coret dari kartu keluarga, kau kan setiap harinya hanya bersama Renza. makanya ibu bilang begitu." ucap Ema ibunya Deni terkekeh.


"Bersama Pak Renza itu kan bagian pekerjaan, bukan berarti aku berada disampingnya setiap hari aku menyukaimya sebagai pasangan. Jika aku menyukai Renza, bagaimana dengan ibu?" ucap Deni menyerigai.


"Kau gila, masih banyak wanita diluar sana. Apa kau mau ibu jodohkan?"


"Ya ampun, hari gini harus dijodohkan? aku bukan pewaris perusahaan kenapa harus dijodohkan? ibu aneh-aneh saja!"


"Kau itu sepertinya sulit mendekati wanita, cara bicaramu yang seenaknya itu, cara melihat dengan tatapan mengerikan mana mau wanita-wanita, malah bikin takut saja."


"Aku tidak mengerikan, aku sangat lembut kok, Bu!" ucap Deni seraya memeluk tubuh ibunya dan mencium pipinya.


Deni memang sangat manja kepada ibunya, ia hanya mempunyai ibu saja. Lagi pula Deni anak tunggal. Ibunya sering kesepian, tapi Dina sering datang berkunjung.


"Kau sudah makan?"


"Sudah tadi."


"Ya sudah, istirahat saja."


Ema - ibunya Deni keluar dari kamar Deni dan menutup pintu. Deni berbaring lagi, kemudian ia memainkan ponselnya dan membuka sosial media.


Deni melihat ada pesan dikotak masuknya, segera ia membukanya. Deni tak percaya mendapat pesan dari Mawarni, isi pesannya mengucapkan terima kasih karena Deni selalu meninggalkan komentar dan menyukai postingannya. Deni membalas pesan itu seraya senyum mengembang di bibirnya.


Percakapan mereka panjang lebar. Berikut percakapan yang mereka bicarakan.


"Karena sudah bicara panjang lebar, aku ingin tahu namamu?"


"Bisa panggil aku Dino saja, nama kamu siapa?"


"Oh, Dino... dinosaurus."


"Haha, kau ini bisa saja"


"Panggil aku Mawar."


"Oke, salam kenal." ucap Deni.


"Salam kenal kembali, semoga kita bisa akrab," ucap Mawar.


Mereka mengobrolkan banyak hal, hingga akhirya chat itu terus berlangsung setiap hari.


Keesokkannya, hari kedua Renza berlibur. Deni pergi bekerja seperti biasanya. Hari ini, Deni sibuk mengerjakan tugasnya di kantor, menghandle semua pekerjaan Renza.


Tok... Tok...


Suara pintu terdengar dari luar. Deni mempersilahkan masuk seseorang yang mengetuk. Ternyata Sisil, Sisil berkata ada seorang wanita yang ingin menemui Pak Renza.


Deni menyuruh wanita itu masuk. Wanita dengan pakaian modis itu masuk dengan heels tingginya. Deni mempersilahkan wanita itu duduk.


"Kau sudah mengenalku?" ucap wanita itu.


"Yah, Sinta. kau mantannya Pak Renza." ucap Deni menekankan, "Ada apa?"


"Aku ingin memohon tentang gedung kemarin. Mana Renza?"


"Kebetulan pak Renza sedang tidak di kantor."


"Di mana? aku ingin menemuinya?"


"Maaf sebelumnya, anda ini sebenarnya tidak punya muka atau muka badak?" ucap Deni melirik sinis.


"Kenapa? lagi pula Renza itu mantanku? dia pasti akan memberikan keringanan kepadaku."


"Haha, anda jangan bermimpi ketinggian, Nona. Pak Renza itu sudah lama sekali membuang perasaannya kepada anda."


"Benarkah? bukankah jika sudah menjadi mantan, walaupun sebenci-bencinya tetap dulunya pernah menyayangi."


"Itu sudah lama sekali. Sebaiknya anda jangan mengganggunya. Jadi wanita itu jual mahal, jangan seperti ini, tidak bagus."


"Huh! terserah apa katamu saja."


"Jangan mendekati pak Renza lagi!"


"Aku hanya berusaha akrab kepadanya."


"Jangan! pak Renza tidak akan suka, Jika tidak ada keperluan sebaiknya anda pergi saja."


"Baiklah."


Wanita seperti harusnya musnah saja, aku tahu didalam otaknya itu dia ingin mendekati Renza lagi.


Deni mengerjakan lagi berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Siang ini dia akan pergi makan diluar. Deni akan makan diluar bersama Sisil sekaligus membicarakan urusan pekerjaan.


Sesampainya di restauran, Deni dan Sisil duduk di meja yang dekat dengan jendela, karena memang makan sekaligus melihat orang lalu lalang itu menyenangkan. Deni membuka kunci ponselnya. ia memeriksa sosial medianya, benar Saja Mawar mengirimkan pesan.


Deni sontak tersenyum membaca pesan dari Mawar yang mengatakan selamat siang dan jangan lupa makan. Sisil yang melihat gerak gerik Deni otomatis mengernyitkan dahinya heran, ini pertama kalinya melihat Deni tersenyum. Biasanya ia selalu dalam keadaan yang serius.


"Lagi kasmaran ya?" ucap Sisil.


"Tidak." ucap Deni seraya merubah wajah sumringahnya menjadi biasa saja.

__ADS_1


"Apa kau pacar?" tanya Sisil.


"Kenapa?"


"Bukannya pacaran itu momen terbaik, rasa suka dan bahagia datang bersamaan."


"Mungkin."


Deni segera mengubah topik pembicaraan menjadi membahas masalah pekerjaan. Setelah berbicara panjang lebar, Deni dan Sisil melahap makanannya.


Sebuah kebetulan lagi, Risa datang untuk makan siang juga. Risa datang sendiri sebenarnya ingin mengawasi pacarnya, dalihnya hanya ingin makan siang, rumor mengatakan jika pacarnya selingkuh, ia ingin memergoki. pacarnya Risa itu adalah orang yang selalu menjemputnya saat ia bekerja bersama Arinka di restauran Jefran.


Memang hubungan mereka tidak lagi harmonis akhir-akhir ini, jadi Risa curiga kalau pacarnya mempunyai hubungan dengan wanita lain. Risa berniat memutuskan pacarnya itu didepan wanita yang menjadi selingkuhannya.


Deni masih melahap makanannya, seraya berbincang-bincang kepada Sisil.


"Kenapa kau belum menikah?" tanya Sisil.


"Nanti jika waktunya aku akan menikah."


"Apakah pernikahan sebahagia itu? Aku lihat pak Renza selalu tersenyum akhir-akhir ini, tapi bersamaan itu sikapnya menjadi aneh. Pak Renza menyukai istrinya itu berlebihan, lebih tepatnya Bucin."


"Bukankah sewajarnya orang yang menikah seperti itu, pak Renza seperti sekarang kan karena dulu beliau tidak pernah mencintai Ny. Arinka, setelah pak Renza membuka hatinya dan perasaan saling berbalas maka sangat tak canggung lagi mengatakan cinta san sebagainya. Dan saat ini beliau benar-benar ada di fase manis-manisnya cinta."


"Uhm, begitu ya? kalau kau bagaimana? apa pernikahanmu masih manis sampai sekarang?"


"Cukup manis, walaupun tak semanis pernikahan Pak Renza."


"Apa kau pernah bertengkar dengan suamimu?"


"Pernah, sering malah."


"Bertengkar karena wanita lain?"


"Bukan, karena ekonomi."


"Masalah uang, ya? pak Renza tidak akan mengalami pertengakaran seperti ini."


"Hmm, iya. Lagian pak Renza kan berbeda, beliau mempunyai segalanya, harta yang bergelimang. Jadi untuk kemungkinan bertengkar karena uang tidak mungkin. Kalau masalah dalam pernikahan orang seperti kita yang keuangannya tidak seberapa akan merasakan yang namanya pertengkaran karena masalah ekonomi. Rasa sayang seketika pudar karena hal-hal seperti itu. jika orang seperti pak Renza, permasalahannya pasti meliputi pertengkaran karena perselingkuhan dan harta warisan."


"Hmm, benar."


"Makanya menikah!"


"Nanti."


Setelah selesai makan, Deni dan Sisil masih duduk disana seraya menunggu makanan yang mereka makan itu sampai diperut.


Terdengar suara adu mulut di meja yang tak jauh dari mereka. Deni sedang memainkan ponselnya berbalas pesan, pesan itu tidak dibalas lagi. Deni menaruhnya dikantong celananya. Deni melirik kearah meja itu.


"Pasti orang yang ketahuan selingkuh," ucap Sisil.


"Mungkin juga," sambung Deni.


Sisil mendapat telpon dari suaminya, kebetulan suaminya makan siang didekat restauran itu, jadi Sisil pergi meninggalkan Deni.


"Aku duluan," ucap Sisil.


"Hmm, hati-hati!"


Bruukk!


"Maaf," ucap wanita itu.


Deni melirik, wanita itu seperti sangat familiar. Suaranya tidak asing ditelinga, Kemudian Deni melihatnya berlari.


Seorang lelaki memanggilnya, "Risa!"


Deni langsung ingat. Yah, wanita itu Risa. wanita yang tidak pernah akur kepadanya. Deni melihatnya menangis, ia sedikit iba.


Kenapa wanita menyebalkan itu menangis?


Deni berjalan keluar restauran itu. Deni melihat Risa yang sedang menghapus air matanya, tetapi Risa sama sekali tak melihat Deni. ia melihat lelaki yang berteriak itu memegang tangan Risa cukup kuat, dan membuat Risa meringgis kesakitan, "Aww."


Biarkan saja, jangan ikut campur.


"Aku sudah bilang, kita sudah putus! kau pergi saja dengan kekasih barumu itu." pekik Risa kepada lelaki itu.


"Jangan begini, biar aku jelaskan dulu."


"Hah, tidak perlu. Kau ingin mengatakan jika itu temanmu lagi 'kan? sudah tidak mempan ini sudah ketiga kalinya."


"Ya sudah, kita putus. Untuk apa mempertahankan cewek bodoh dan polos seperti mu!" ucap lelaki itu seraya meninggalkan Risa.


Risa membuka sepatunya dan melemparkannya kepada lelaki itu, tapi sayang sepatu itu meleset malah mengenai Deni.


"Apa-apaan ini?" ucap Deni.


"Kau lagi! disaat aku bersedih, disaat aku senang kenapa selalu ada kamu."


"Ini hanya kebetulan."


"Kau pikir ini takdir, tidak mungkin lah. Tolong Ambilkan sepatuku."


"Tidak, ambil sendiri saja." ucap Deni.


"Kau keterlaluan, dimana-mana semua lelaki sama saja." ucap Risa terisak.


Menyebalkan sekali sih, kenapa aku harus selalu bertemu dengannya. Melihatnya menangis aku jadi iba.


Risa menginjitkan kakinya, ia berjalan mendekati Deni ingin mengambil sepatunya.


"Kau menertawakanku 'kan? aku tahu itu!" ucap Risa menghela napas.


"Kau pikir aku sebodoh itu menertawakan orang yang menangis."


"Lalu, jika tidak bodoh pasti idiot kan?" ucap Risa seraya mengambil sepatunya dan berbalik pergi meninggalkan Deni, tapi Risa menjatuhkan foto dari tasnya.


Lagi-lagi seperti ini, dia selalu meninggalkanlu setelah menyebutku idiot.


Renza mengambil foto itu dan memanggil Risa.


"Tunggu!" teriak Deni seraya berjalan mendekati Risa.

__ADS_1


"Aku tidak punya waktu bertengkar denganmu," ucap Risa masih terisak sambil menyeka air matanya.


Siapa juga yang ingin bertengkar, benar-benar wanita aneh.


"Ini punyamu." ucap Renza sembari mengambil tangan Risa dan meletakkannya.


"Buang saja, itu foto brengsek tadi. Aku berniat memulangkannya."


Dengan langakah gontai, Risa berjalan meninggalkan Deni. Deni masih termenung melihat Risa berjalan menjauh.


Wajar saja ia diputuskan. Tingkah lakunya saja sangat meyebalkan, siapa yang akan betah dengan wanita seperti itu, pecicilan dan juga agak bodoh!


Deni masuk kedalam mobil, ia akan kembali ke kantor. ia melajukan kendaraan lumayan kencang.


Masih tersisa satu hari lagi, hari yang damai tanpa Renza.


***


Sepulang kerja, Deni mampir ke rumah besar Renza seraya memantau aktivitas rumahnya dan membawa beberapa berkas untuk ditaruh dimeja kerja.


Renza duduk di sofa seraya meminum kopi buatan Bi Ami. Rumah ini benar-benar sepi tanpa penghuni rumahnya.


Dina berjalan menghampiri Deni dan duduk di sofa.


"Kapan Ny. Arinka pulang liburan?" tanya Dina.


"Dua hari lagi. Kenapa?"


"Tidak ada, hanya bertanya saja. Oh ya, ternyata Ny. Arinka tidak tahu kalau kita sepupu. Aku melihat Ny. Arinka terkejut."


"Iya, tidak ada yang tahu! Jika mereka tidak bertanya, aku tidak akan bercerita."


"Hari itu Ny. Arinka tertawa saat menceritakan bahwa kak Deni terlihat acuh melihatku."


"Iya, aku hanya mengendikkan bahu."


"Ny. Arinka itu sangat lucu."


Terdengar suara Pak Tino berbicara di luar, Dina keluar dan menghampiri. Ternyata Risa yang datang berkunjung. Benar-benar kebetulan lagi.


Dina mempersilahkan Risa masuk dan duduk. Risa menenteng kantong plastik yang berisi batagor, makanan kesukaan Arinka.


"Siapa?" tanya Deni seraya menyeruput kopi.


"Temannya Ny. Arinka berkunjung."


"Persilahkan duduk."


Deni berbicara tidak menatap sama sekali. Risa duduk di sofa itu berhadapan dengan Deni. Dina ssgera kedapur untuk membuatkan minuman.


"Kau lagi!" ucap Risa.


Deni mendongakkan kepalanya dan menatap tajam.


"Kau ini membuntutiku, ya?" ucap Deni.


"Huh! yang benar saja."


"Mana ada kebetulan seperti ini, kebetulan itu hanya sekali."


"Kau menuduhku mengikutimu! atas dasar apa?" ucap Risa, nada bicaranya sedikit meninggi.


"Tidak ada, hanya aku terlalu malas bertemu orang seperti mu berkali-kali."


"Kau pikir aku suka bertemu denganmu, Huh yang benar saja, dasar sombong!"


"Pantas saja tadi kau di putuskan, mana ada lelaki yang tahan dengan sikap mu seperti ini, bisanya meneriaki orang saja."


"Dengar ya? disini aku yang MEMUTUSKAN, bukan aku yang DIPUTUSKAN, kau dengar." ucap Risa memberi penekanan.


"Jangan gengsi, jika diputuskan kenapa harus malu."


"Kau ini benar-benar idiot ya, tidak tahu perbedaan."


"Tarik kata-katamu itu!"


"Tidak, tidak akan."


"Dasar pecicilan!"


"Bodo amat! i don't care."


Wanita ini benar-benar menyebalkan sekali.


"Semoga aku tidak bertemu dengan wanita seperti ini kedepannya."


"Semoga juga aku tidak bertemu lelaki seperti itu kedepannya. Meskipun didunia ini hanya ada satu-satunya lelaki, aku memilih menjomblo."


"Huh! Apa lagi aku."


Dina datang membawakan minuman dam cemilan. Dina mendengar dua orang ini saling adu mulut.


"Dengar ya kalian berdua, orang yang sering bertengkar ada kemungkinan mereka berjodoh." ucap Dina tertawa.


"Jodoh, mana mungkin!" ucap Deni dan Risa serentak.


"Benci dan cinta itu tipis, percayalah! jika terlalu benci pasti akan mencintai, begitu pula sebaliknya." ucap Dina lagi menambahkan.


"Huh, aku lebih baik tidak pernah menikah jika berjodoh dengan dia," ucap Risa seraya menunjuk Deni.


"SAMA!!" ucap Deni menatap Risa lekat.


**Bersambung...


Siapa yang setuju Deni sama Risa, atau Deni harus bertemu orang baru? komen ya? 😁


Jangan lupa setelah baca kasih like ya 😊


Vote dan comment kalian aku tunggu...


Salam sayang dariku untuk pembaca semua, Luv u all 💋😘😘


Jangan bosan ya membaca karyaku ini.

__ADS_1


Author lagi memikirkan untuk membuat novel baru juga. Kasih semangat donk! 😊**


__ADS_2