
Risa sudah bersiap-siap dengan pakaian tercantik menurutnya. Ia terus saja berputar di depan cermin. Sesekali ia memotret dirinya sendiri sembari menunggu kedatangan Deni.
Mira masuk ke dalam kamar dan melihat anak gadisnya tengah berselfie. Ia tertawa tp sambil menutup mulutnya.
"Ahem ...." Mira berdeham.
"Eh, Mama. Sudah lama masuknya?" tanya Risa.
"Baru saja, kok. Tapi sudah melihat kau narsis begitu."
"Hehe ...." Risa nyegir kuda.
"Jam berapa kau pergi?" tanya Mira.
"Sebentar lagi, sih, Ma."
"Apa kamu benar-benar yakin, bahwa kamu benar-banar ingin menjadi suaminya kelak?"
"Hemm, aku menyukai sifatnya yang seperti itu. Aku benar-benar yakin, Ma."
"Ya sudah, temui lah orang tuanya. Bersikap sopan dan tunjukkan attitude yang baik di keluarga kita."
"Makasih, Ma."
Suara mobil terdengar pelan dari luar. Segera Risa keluar dari kamarnya dan berlari. Ia tersenyum sumringah ketika lelaki dengan pakaian kemeja hitam itu keluar dari mobil.
Deni melambaikan tangannya ketika mereka saling beradu tatap. Risa membuka pintu gerbang dan mempersilakan Deni masuk.
Deni dan Risa berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Risa menyuruh Deni duduk dahulu dan mengobrol dengan Ibunya. Mira mendekat dam duduk di sofa tepat depan Deni. Deni bangkit dan memberi salam kepada Mira sembari mencium tangan.
"Kau berbeda, ya? Pakaian seperti ini kau sangat tegas."
"Aku sehari-harinya memakai pakaian ya yang seperti ini. Aku setiap hari harus bekerja."
"Benar sekali, jika kau tidak bekerja bagaimana mungkin kau akan menghidupi anakku nanti?"
Deni tersenyum mendengar ucapan Mira. Bagaimanapun semua orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya.
Tak lama setelah berbincang-bincang, Deni dan Risa mencium tangan Mira bergantian dan masuk ke dalam mobil.
Deni dan Risa terlihat bahagia. Sepanjang perjalanan mereka selalu tersenyum dan saling meleparkan perhatian.
"Kita ke danau dulu, ya?" ucap Deni.
"Boleh, saja. Aku, sih, terserah supir." Risa terkekeh.
"Baiklah, kita meluncur pergi ke danau. Apa kita akan membeli camilan dulu?" tanya Deni.
"Tidak usah. Kita langsung aja, ya."
"Sip."
Dalam perjalanan mereka saling bernyanyi. Mereka benar-benar sedang menikmati masa kasmaran.
"Kau menyukai makanan apa?" tanya Risa.
"Aku semua makanan suka. Aku tidak pilih-pilih, sih. Kamu?"
"Aku juga tidak pilih-pilih, asal enak dan cocok dilidah, aku makan saja."
"Wah, selera kita benar-benar sama."
"Iya ternyata."
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah danau. Danau itu adalah saksi bahwa mereka saling meyukai. Deni memberanikan diri menggenggam tangan Risa. Risa tersenyum dan membalas genggaman itu dengan erat juga.
"Tidak apa-apa, 'kan?" tanya Deni.
"Tidak, kok."
Mereka berjalan menapaki jalan setapak kecil. Di jalan itu daun-daun berguguran di terpa angin sepoi. Daun orange itu beterbangan di setiap laman. Terdengar beberapa orang menginjak daun itu dan berbunyi krasak-krusuk.
Deni dan Risa terus berjalan. Sampai mereka melihat bangku. Deni menunjuk bangku itu untuk mereka berdua duduk. Setelah duduk, mereka saling tersenyum.
Deni mengeluarkan earphone. Mereka akan mendengarkan lagu bersama. Risa menyandarkan kepalanya di bahu Deni tanpa ia sadari. Deni tersentak tapi tetap menyuruh kepala Risa bersandar dibawahnya.
Burung-burung berkicau dengan riuh. Di sana, langit berwarna cerah. Awan-awan berarak dengan bergerombol. Begitu indah apalagi mereka saling bersama.
"Apa kau tahu? Aku sangat menyukai danau ini." Risa berucap.
"Benarkah? Aku juga menyukainya," jawab Deni.
"Suasana yang sejuk dan udara yang segar bisa menenangkan diri."
"Heumm, tempat yang luar biasa."
Setelah satu jam di sana. Deni memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Takutnya nanti akan kemalaman. Deni menarik tangan Risa lembut dan menyuruhnya berdiri.
"Ayo kita pulang, takutnya nanti kemalaman."
"Yuk, biar bisa lama nanti bertemu Ibu kamu."
"Oke."
Deni berjalan dan masih berpegang tangan. Tak lama terlihat seorang lelaki yang familiar oleh Risa. Lelaki itu berjalan menghampiri mereka.
Dengan sinis lelaki itu menatap Deni dan Risa yang sedang bergandengan tangan.
"Kau itu memang pacar asli apa pacar bayaran?" ucap Gion.
"Terus? Jika lelaki ini adalah pacarku, kau mau apa?"
"Kau tidak bisa berpaling dariku, Risa." Gion menatap Deni sinis.
"Kau? Jangan berani-beraninya mendekati Risa. Dia ini calon istriku." Deni berucap tegas.
"Calon istri? Hah, yang benar saja. Jangan mengada-ngada."
"Kita lihat saja nanti, siapa yang mengada-ngada disini. Aku malas ya mencari ribut dengan seseorang yang tidsk penting."
'Tidak penting? Aku ini mantan pacarnya?"
"Ya, kau hanya mantan pacar, tidak lebih. Dan masa depannya ada padaku."
"Bermimpi saja!" Gion mengayunkan tangan ingin memukul Deni. Dengan cepat Deni menangkisnya.
"Kau ingin bermain kasar? Maaf, ini di depan wanita, bung. Jika tidak kau sudah ku pukul sampai babak belur."
"Kau berani? Ayo sini kita duel satu lawan satu."
__ADS_1
"Maaf, bung. Aku benar-benar tidak suka bertengkar."
"Kau banyak bacot!"
"Ayo, Risa. Kita pergi, jangan ladeni orang yang kurag waras itu."
Deni menggenggam tangan Risa dan berlalu dengan cepat. Tapi sekali lagi, Gion menarik tangan Risa dengan kuat. Sampai Risa meringis kesakitan.
"Sialan! !Berani-beraninya kau menarik tangan calon istriku." Tangan Deni bergetar hebat. Ia ingin segera memukul lelaki ini. Deni mendorong Gion dengan kuat hingga Gion jatuh terduduk.
Risa ketakutan, ketika Gion bangkit ingin melayangkan pukulan. Sekali lagi, gerak Deni lebih cepat. Ia menarik Risa kebelakangnya dan menangkis pukulan Deni. Malah, Gion yang terkena pukulan nyasar oleh Deni.
"Lihat saja kau akan aku laporkan!" ucap Gion memegang perutnya kesakitan.
"Silahkan! Aku tidak pernah takut sama sekali."
Setelah Deni berbalik dan berjalan. Gion menendangnya dari belakang dengan keras. Hingga Deni tersungkur.
"Arrgggghh!" teriak Risa.
"Haha ...." Gion tertawa keras. Sementara itu, Deni bangkit. Dengan tangan mengepal, Deni memukul Gion dengan kuat. Hingga bibirnya berdarah.
Beberapa orang yang melihat segera melerai pertengkaran itu. Deni dan Gion di pisahkan dan di bawa ke kantor polisi.
"Jangan bawa kami ke kantor polisi," teriak Gion.
"Bawa saja. Aku ingin tahu sampai mana kegigihan kamu kepada Risa."
Risa panik. Dia benar-benar tidak bisa berpikir sekarang. Wajahnya menjadi kecut. Kakinya bergetar hebat melihat pertengkaran dua lelaki itu.
"Maafkan aku. Kita jadi terlambat pergi ke rumahku bertemu Ibu."
"Tidak apa-apa. Apa kau kesakitan? Aku benar-benar takut dengan Gion."
"Jangan takut, aku akan menuntut dia dengan perihal menguntit. Biar saja ia akan mendekam di dalam penjara. Kau benar-benar tidak menyukai lelaki semacam ini."
"Dia terlihat nekad, apa dia sudah tidak waras?" tanya Risa.
"Mungkin saja otaknyaa error. Manusia tak berguna!" maki Deni dengan kasar. Ia sebenarnya sangat membenci lelaki belagu."
Sesampainya di kantor polisi, Deni turun dan membuka pintu untuk Risa. Deni mengusap belakanganya karena tendangan tadi, benar-benar sakit. Lehernya seperti keseleo.
Gion memberi pembelaan diri di depan polisi. Dia mengeluarka ucapan palsu. Deni tertawa.
"Pak Deni," ucap David yang tiba-tiba muncul di sana.
"Kau urus lelaki ini, dia menendangku dan melakukan tindakan penguntitan kepada Risa. David mengangguk mengerti.
"Aku tidak akan lama, urus yang benar. Aku masih ada urusan."
"Baik, Pak."
Deni pergi ke luar dari kantor polisi. Risa melongo menatap Deni yang mempunyai bawahan setia.
"Siapa?" tanya Risa.
"Dia bawahan kami, dia itu bertugas menjadi mata-mata."
"Wah, keren, ya."
"Benarkah?" Deni tersenyum melihat Risa yang berkata seperti itu. "Kau benar-benar manis," katanya.
"Kenapa harus malu?'
"Ya, karena kau yang memujiku."
"Mau aku puji setiap hari? Dengan senang hati."
"Uwu ... mau dong di puji setiap hari."
Deni tertawa mendengar ucapan Risa yang begitu menggemaskan. Ingin rasanya Deni menarik pipinya.
"Jangan risih, ya. Aku akan mengirimkan kata-kata cinta kepadamu setiap hari," ucap Deni.
"Tidak lah. Aku malah sangat berterima kasih."
"Terima kasih?"
"Emmm, karena sudah menjadi pacarku."
"Iya, aku juga berterima kasih karena sudah di izinkan menjadi pacarku."
"Sama-sama."
Deni melajukan mobilnya. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di depan rumah Deni. Deni turun dan membukakan pintu mobil untuk Risa. Risa tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Risa mengucapkan salam sembari masuk ke dalam rumah. Ema sedang duduk di sofa menonton televisi. Risa melangkah menuju Ema dan tersenyum. ia segera mencium tangan Ema.
"Silahkan duduk," ucap Ema kepada Risa.
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama. Kau sangat cantik aslinya."
"Aku tersanjung, terima kasih sekali lagi."
"Iya. Apa kalian langsung kesini?"
"Kami singgah di danau tadi sebentar."
"Kalian jalan-jalan ya?" tanya Ema.
"Iya, Bu. Sebentar tadi," ucap Deni.
"Kalian sudah makan?" tanya Ema.
"Belum, sih. Nanti saja, Bu."
"Ibu sudah memasak banyak tadi. Ayo kita makan!"
Risa bangkit dari sofa dan beranjak mengikuti Ema. Ema mempersilakan Risa duduk. Risa mengikuti dengan patuh.
Ema mengambilkan piring untuk Risa dan Deni.
"Wah, makanannya enak-enak semua," puji Risa.
"Benarkah? Lidahmu cocok dengan masakan ini?"
"Sangat cocok. Ini benar-benar sangat enak."
__ADS_1
"Wah, Ibu di puji terus. Terima kasih."
"Sama-sama, Bu."
"Silahkan makan yang banyak, jangan malu-malu."
Risa tersenyum manis dan sangat bahagia. Ternyata Ibunya orang di cintainya itu sangat baik dan sopan. Ucapannya juga lembut dan sangat cantik.
"Iya, Bu."
"Siapa namamu? Ibu sampai lupa bertanya."
"Namaku Risa. Mawarni Clarisya."
"Namaku Ema. Nama yang bagus."
"Wah, aku mendapat pujian terus."
"Tidak apa-apa, kau cantik dan namamu bagus. Apa kau benar-benar mau serius dengan Deni. Deni tak mempunyai Ayah."
"Aku tidak memandang keluarga seperti itu. Tapi yang akau tahu, Deni itu baik dan sangat sopan kepada wanita."
"Wah, kau memujiku? Terima kasih, Risa."
"Sama-sama, Dinoku."
"Ehem, panggilan sayangnya sudah keluar," ucap Ema tertawa.
"Maaf, Bu. Aku memanggilnya begitu, merubah nama pemberian dari Ibu."
"Tidak apa. Deni juga memanggilmu Alien, 'kan?"
"Iya, Bu." Risa terkekeh.
"Itu bahkan panggilan terjelek yang pernah ibu dengar."
"Benarkah?" Risa tertawa.
"Tapi itu unik," ucap Deni.
"Unik, sih, iya, tapi terdengar aneh. Bisa panggil dia dengan sebutan lain. Wanita secantik ini di panggil Alien. Benar-benar tidak masuk akal."
"Iya, nanti aku panggil dia dengan sebutan lain,"ucap Deni.
"Padahal aku suka," ucap Risa.
"Jangan lah, masa orang cantik di bilang Alien."
"Ibu bisa saja." Risa tertawa malu.
"Ayo habiskan makanan jangan malu dan sungkan."
"Iya, Bu. Ini aku makan banyak, kok."
"Hemm, ngomong-ngomong kau berapa bersaudara?"
"Aku dua beradik. Kakakku seorang tentara "
"Wah, Ibu dengar dari Deni, Ayahmu juga tentara, ya?"
"Iya, Bu."
"Apakah mereka mau menyetujui kalian?"
"Ayahku sangat baik. Walau beliau tentara, beliau sangat lembut tapi juga tegas."
"Benarkah? Kau sangat beruntung."
"Iya, aku beruntung punya keluarga yang mencintaiku."
"Keluarga itu mahal. Jadi jangan sia-siakan."
"Iya, Bu. Terima kasih sarannya."
"Sama-sama."
"Aku akan berusaha menjadi menantu terbaik, kelak."
"Wah, Risa. Aku tahu kau baik, janga berusaha,"ucap Deni tertawa.
"Iya, aku memang baik." ucap Risa terkekeh.
"Aku juga baik," sahut Deni.
"Kalian berdua sangat baik. Ibu berdoa semoga kalian berjodoh dan berbahagia selamanya."
"Amiin, aku sangat berterima kasih doanya."
"Sama-sama. Ibu berdoa begitu biar kalian berjodoh sampai maut memisahkan."
Deni segera bangkit dan memeluk Ema. Deni benar-benar sangat menyayangi Ema lebih dari apapun.
Manisnya anak beranak ini. Aku benar-benar beruntung bisa kenal dengan Deni. Keluarga yang baik. Semoga saja mereka selalu di ber kesehatan dan keselamatan.
"Deni, kau benar-benar manis."
"Benarkah? masih manisan kamu, ah."
"Ya udah kita sama-sama manis kalau begitu."
"Ya, jangan berebutan," ucap Ema.
"Iya, Bu. Kami akan bersikap adil."
Ema merasa Risa itu bukan lagi pacar Deni. Tetapi sudah ke menatu. Risa sangat baik dan membuat Ema gampang untuk berbicara. Sifatnya mudah bergaul menjadi nilai plus baginya tersendiri. Ema benar-benar sudah mengagumi karakter Risa.
Ema terus memperhatikan Deni dan Risa sedang bercanda. Mereka tak lagi canggung seperti awal mereka jadian. Sekarang yang ada mereka seperti teman yang sedang bermain bersama.
Risa menatap lekat Deni yang sedang tersenyum kepadanya. Risa benar-benar yakin, bahwa Deni adalah jodoh yang di kirim Tuhan untuknya. Jodoh yang sudah di takdirkan bersama selamanya.
Bersambung....
Jangan lupa like dan vote ya novel ini. Jika belum Rate, silahkan Rate bintang 5.
Yang belum masuk Grup chat, bisa langsung masuk aja. kita bisa sharing-sharing banyak hal di sana.
Jika ingin bertanys, silahkan. Bebas chat 24 jam.
Jangan lupa jaga kesehatan ya, waspada selalu dengan cara cuci tangan teratur.
__ADS_1
Salam sayang dariku Readers semua.i Love u so much 😘😘