Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 99 : Menginap rumah Risa


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.45, tapi hujan belum juga kunjung reda. Arinka yang sudah mengantuk tersandar di lengan Renza. Matanya benar-benar sudah tidak bisa membendung semua kantuk yang dirasakan. Sesaat tanpa sadar, ia telah tertidur dengan pulas.


Renza mengelus rambut istrinya itu. Ia sangat tahu bahwa Arinka sudah mengantuk sedari tadi. Mira menyarankan agar mereka menginap dulu. Lagi pula besok juga hari minggu. Renza sangat malas, tetapi hujan tidak berhenti malah semakin deras, suara petir menyambar dengan keras. Sehingga mereka memutuskan untuk menginap di rumah Risa.


"Bagaimana tidak menginap, lihat saja istriku sudah tidur," ucap Renza.


"Aku menunggu saja sampai hujan reda," ujar Deni.


"Sekarang sudah pukul 12, sebaiknya menginap saja," ucap Mira.


"Iya, lagi pula istriku sudah tidur. Dengan sangat terpaksa aku akan menginap."


"Apa anda bisa tidur di tempat sembarang, Pak?" tanya Deni.


"Itu tidak penting. Lihat istriku ini sangat keletihan."


Renza menggendong Arinka ala bridal. Risa menunjukkan kamarnya kepada Renza. Setelah masuk kamar, dengan cepat Renza membaringkan Arinka yang sudah tertidur pulas.


"Selamat malam," ucap Risa dan Mira. Renza menganggukkan kepalanya.


Hujan turun semakin lebat. Guntur menggelegar semesta.


Deni masih duduk di sofa. Ia juga hampir tertidur karena pengaruh antibiotik yang ia makan.


"Ma, Dino ku tidur di mana" tanya Risa.


Dino ku, astaga anak ini. Dia benar-benar jatuh cinta pada lelaki ini. Benar-benar anak gadis yang tidak tahu jaim.


"Tidur di kamar Kakakmu saja," ucap Mira.


"Sepertinya aku sangat mengantuk. Apa karena obat ini, ya? Padahal aku masih ingin mengobrol," ucap Deni mengusap matanya.


"Mungkin juga." Risa tertawa.


"Benar-benar beruntung, ya. Hari pertama jadian dapat nginap di rumah pacar sendiri." Deni tertawa menatap Risa, setelah menoleh ia langsung mengulum bibirnya. Mira masih ada di situ.


"Aku benar-benar menyukai lelaki ini, Ma. Nanti jika ia melamarku, aku ingin langsung menikah." Risa bicara seperti orang yang hilang kesadaran, padahal Deni masih ada di situ. Tapi sudah setengah tidur.


"What?" Mira ternganga. "Kau benar-benar ingin menikahinya? Padahal baru pacaran hari ini. Dasar ya, anak-anak."


"Aku bukan anak-anak, usiaku sudah pantas untuk menikah."


"Astaga, anak ini benar-benar sudah error."


"Tidak, kok. Aku benar-benar waras."


"Lihat saja pacarmu itu sudah tertidur. Dia benar-benar di bawah pengaruh obat."


"Kasian sekali, aku akan pergi mengambilkan selimut dan bantal dulu."


Risa berjalan menuju kamar Rasya untuk mengambil bantal dan selimut. Tak butuh waktu lama, ia sudah berada di ruang tamu lagi dan memakaikan bantal untuk Deni. Deni tak bergeming, ia tertidur pulas.


"Jangan lupa tidur, jangan keasyikan di sini. Sekarang sudah jam 00.00, kau harus tidur juga."


"Iya, Ma," sahut Risa.


Mira sudah pergi meninggalkan Risa. Sedangkan Risa masih menatap lekat wajah Deni sambil menyelimutinya.


Kenapa kau setampan ini sih, aku benar-benar gila karenamu. Jantungku bergetar hebat. Sadar Risa, kau harus kontrol jantungmu. Apa aku boleh menyentuh hidungnya?


Tangan Risa mulai bergerak ingin menyentuh hidung Deni. Namun, tangan itu langsung terhenti seketika ketika Deni menggeliat.


Duaarrr ...


Suara guntur menggelegar, Risa terperanjat. Hampir saja ia jatuh menimpa tubuh Deni. Risa segera melangkah mundur. Buru-buru ia memutar langkah menuju kamarnya dan tidur.


Renza gelisah tidak bisa tidur. Arinka sudah tidur dengan pulas di sampingnya. Suara hujan tidak terlalu terdengar, karena rumah Risa lumayan kedap suara.


Dekor di kamar tamu itu benar-benar mewah. Renza memutar bola mata melirik sekitar. Ia benar-benar seperti berada di hotel.


Renza terus menatap langit-langit kamar. Tangannya mengelus lembut rambut legam Arinka. Pikirannya menerawang jauh. Ia benar-benar tidak bisa tidur di tempat sembarangan.


Risa sedang termenung menatap layar ponselnya. Ia ingin mengucapkan selamat malam. Tapi sekali lagi, pacarnya sedang menginap di rumahnya di atap yang sama. Benar-benar tidak bisa di percaya. Risa gelisah, berkali-kali ia membolak-balikan badannya, menutup matanya tapi matanya tidak merasakan kantuk sama sekali. Risa terus berpikir dan tersenyum tentang semua ucapan Deni.


Deni terbangun setelah mendengar gelegar guntur. Ia terkejut setelah sadar tidur dirumah pacarnya. Bibirnya langsung tersenyum sumringah. Tiba-tiba saja, ia kebelet ingin ke toilet. Deni lupa bertanya di mana toilet di rumah ini.


Deni mengambil ponselnya, ia mencoba mengetik pesan. Namun, ia urungkan. Tapi ia kebelet. Akhirnya, Deni memberanikan diri chat Risa, walaupun ia tahu bahwa Risa sudah tertidur pulas.


Setelah chat Risa, ia beranjak dari sofa. Lampu di ruangan itu di buat redup. Deni mencoba berpikir, jika ia sembarangan berjalan di rumah ini yang terjadi ada 2 kemungkinan yaitu: dituduh maling dan dituduh ingin berbuat mesum.


Kakinya seketika melemah setelah mengingat dua hal dalam pikirannya itu. Tapi, hasrat ingin buang air kecil itu tidak bisa ditahan.


Ini benar-benar menyiksa. Bagaimana bisa aku ketiduran tadi tanpa bertanya di mana toilet. Gara-gara obat antibiotik tadi sih. Sekarang aku harus apa? Menggedor kamar Risa? Mana aku tahu kamarnya. Rumah ini terlalu besar. Huh, mau pulang tidak mungkin. Di luar masih hujan deras. Mobil sangat jauh.


Deni mengecek lagi ponselnya dan ternyata pesannya terbaca. Terdengar suara langkah kaki samar-samar air hujan. Deni terus menatap ke arah suara langkah itu dan benar saja Risa sudah berada tak jauh dari sofa.


"Kamu mau ke toilet?" tanya Risa dengan suara samar-samar.


"Kau tetap cantik walau di dalam gelap sekalipun," ucap Deni tertawa kecil.


"Eumm ... benarkah?" Risa tersipu malu.


"Iya, tapi sekarang tolong tunjukan toilet di mana, aku benar-benar sudah kebelet."


"Astaga, aku lupa kasih tahu. Ayo cepat aku tunjukkan."


Deni bangkit dan beranjak dari sofa. Ia segera mengikuti Risa berjalan ke arah toilet.


"Kamu tidak tidur?" tanya Deni.


"Belum," ucap Risa.


"Kau sering begadang?"


"Tidak juga, sih. Aku sedang nonton drama," ucap Risa berdalih. Padahal ia sangat gugup sampai tak bisa tidur karena se rumah dengan Deni.


"Kau suka drama apa?" tanya Deni pelan.


"Drama korea." Risa terkekeh.


"Astaga! Kesukaannya sama dengan Dina."


"Drama korea itu bagus, romantis dan lelakinya selalu pengertian."


"Drama apa yang kau tonton? Nanti aku mau nonton juga, biar bisa pengertian juga," ucap Deni polos.


Seketika Risa tertawa tapi masih batas normal. Risa benar-benar merasa lucu dengan ucapan Deni. Kadang Deni ini terlihat menggemaskan. Apa karena ia belum pernah pacaran jadi seperti ini? Pikiran Risa benar-benar membuat ia tertawa geli sendiri.


"Nah, itu toiletnya? Aku tunggu disini, ya?"


"Baiklah," ucap Deni.


Sembari menunggu Risa menatap keluar jendela. Toilet itu berada di dapur berdekatan dengan jendela kaca besar yang terhubung dengan taman belakang. Risa menatap air hujan yang jatuh menetes ke tanah. Tangannya disilangkan di dada. Tiba-tiba saja ia teringat ucapan Deni tentang drama korea tadi. Risa benar-benar tertawa.


Tak berapa lama, Deni keluar dari toilet. Risa tersenyum lucu. Deni melihat Risa yang tersenyum menjadi salah tingkah.


"Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Deni menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Tidak ada, hanya lucu saja, hehe." Risa nyengir kuda.


"Wah, kau ini bisa saja buat orang salah tingkah."


"Jangan salah tingkah, aku hanya senyum saja."


"Bagaimana aku tidak salah tingkah, senyummu itu bikin jantungku berdebar hebat."


"Wah, Dinoku sudah bisa gombal, ya, sekarang."


"Bukan gombal, kok. Malah lebih ke jujur."

__ADS_1


"Uwwuu, jujur niyee ..."


"Eum, pasti tidak percaya, 'kan?"


"Percaya, kok."


"Ngomong-ngomong, kau punya sikat gigi? Aku belum sikat gigi?"


"Ada, sebentar." Risa membuka rak yang tak jauh dari tempatnya berdiri, kemudian ia mengambil sikat gigi.


"Ini, ambil." Risa menjulurkan tangannya.


"Pak Renza kamu kasih?"


"Apa?"


"Sikat gigi."


"Ada sudah si siapin dari Bi Siti tadi."


"Oke, kamu sudah sikat gigi?"


"Sudah dong."


"Aku sambil sikat gigi, ya, di westafel itu."


"Iya. Alergimu bagaimana? Sudah mendingan?"


Deni tak menjawab ucapan Risa karena sedang sikat gigi. Risa bermaksud mendekat ingin melihat tangan Deni. Namun, langkahnya ia urungkan.


Setelah selesai sikat gigi, Deni mengambil tisu dan membersihkan wajahnya.


"Kau menanyakan alergiku?" tanya Deni.


"Iya, bagaimana?"


"Masih gatal, tapi sudah mending, sih."


"Aku pikir kau berbohong waktu mengatakan alergi kena air hujan. Ternyata tidak berbohong."


"Aku tidak suka berbohong. Aku orangnya jujur walaupun jujur itu menyakitkan."


"Iya, baguslah ... dalam hubungan memang tidak boleh ada kebohongan.


"Iya, aku tahu itu."


Deni dan Risa berjalan menuju sofa tempat Deni tidur tadi. Deni membuka hoodienya dan hanya memakai baju kaos. Sebenarnya hoodienya itu kebasahan. Risa langsung menjerit tapi tertahan di tutupi oleh kedua tangannya.


"Arggh, kau kenapa buka baju di sini?" Pipi Risa merona merah.


"Maaf, tapi hoodie ini basah. Jadi aku lebih nyaman pakai baju dalam saja. Sekali lagi, maaf."


Sial, aku malu sekali. Otakku isinya apa sih? Kebanyakan nonton drama korea ini jadi mikirnya aneh-aneh.


"Tidak apa-apa, aku hanya kaget saja." Risa meremas kedua jari-jari tangannya.


"Kau tidak tidur?" tanya Deni. Aku sudah selesai, kalau mau ke toilet aku bisa sendiri nanti.


"Kau tidur di kamar Kak Rasya saja, ya?"


"Kenapa? Di sini juga enak. Lagipula sebentar lagi pagi."


"Tapi kan tidak enak tidur di sini seperti ini."


"Tidak apa-apa. Sudah sana, Alien harus tidur. Nanti mata mu jadi mata panda. Mau?"


"Tidak la. Aku hanya tidak tega melihatmu tidur di sini. Di kamar kau bisa tidur dengan nyaman."


"Aku nyaman di sini, serius."


Duaarrrr ...


"Kau takut guntur?" tanya Deni tersenyum.


"Takut sekali. Suaranya benar-benar keras dan hampir saja membuat aku memelukmu."


"Memeluk?" Deni tersipu malu.


"Maaf, salah bicara." Risa tertawa.


"Apa kau siap jika aku lamar dalam seminggu ini?"


"What?!" Mulut Risa ternganga dan matanya membelalak sempurna.


"Kenapa? Kau belum siap, ya?"


"Bukan begitu, keluargaku saja belum tahu. Hanya Mama yang tahu."


"Aku benar-benar takut kehilangan kamu."


"Astaga! Deni jadi bucin." Risa tertawa lucu.


"Apa bucin seperti ini?" tanya Deni.


"Sepertinya begitu." Risa masih saja tertawa.


"Tapi Pak Renza itu bucin juga, tapi bukan seperti itu."


"Dasar, ya. Nanti kamu bakalan tahu."


"Tapi bucin sama Alien, unik juga 'kan?"


"Sangat unik." Risa tertawa.


"Ya sudah, ayo tidur sana. Sebentar lagi pagi."


"Iya, aku pergi tidur. *Good night."


"Good night too*, Alien."


Risa beranjak dan berjalan sambil melambaikan tangannya. Mereka berdua benar-benar di fase kasmaran. Mereka berdua bisa menghabiskan malam bersama tanpa kantuk dan saling mengobrol tentang diri mereka masing-masih. Jatuh cinta itu indah, ya? Apa Readers ada yang sedang jatuh cinta? (Nanya aja, hehe.)


Renza yang gelisah di dalam kamar, akhirnya bisa tidur dengan nyenyak. Malam mulai berganti menjadi pagi. Namun, sangat di sayangkan pagi itu tidak ada matahari yang muncul. Hanya titik-titik gerimis hujan yang jatuh menyatu dengan tanah yang basah.


Pagi itu, udara sangat dingin. Hujan tak kunjung berhenti. Arinka sudah terbangun dari tidurnya. Semalaman Renza memeluk tubuhnya. Sekarang lelaki itu sedang nyenyak terbuai di alam mimpi.


Arinka mengangkat tangan Renza yang berada diatas tubuhnya. Pelan-pelan, ia menuruni ranjang itu dan bergegas mencuci wajah. Tak lupa ia sikat gigi juga. Setelah selesai. Arinka berdiri di depan jendela kaca besar, ia membuka gorden ungu yang menutupi indahnya pemandangan di luar kamar itu.


Wah, rumah Risa benar-benar bagus. Tamannya sangat cantik. Banyak bunga yang sedang bermekaran. Tapi sayang masih hujan. Kalau tidak, aku sudah keluar ingin menghirup udara pagi dengan bunga bermekaran di taman itu.


Arinka mendekat ke arah ranjang dan duduk di tepi ranjang. Tangannya mengelus wajah mulus suaminya itu untuk membangunkannya.


"Pip, sayang. Sudah siang? Apa tidak mau bangun"


"Hemm," ucap Renza masih memejamkan matanya.


"Apa Pipom tidak bisa tidur, ya, semalam?"


"Benar, Pipom susah tidur semalam."


"Tapi kita harus pulang, ini kan di rumah Risa."


"Astaga, aku lupa." Renza bergegas membuka matanya dan bangun dari tidurnya. "Ahh, padahal weekend. Harusnya bisa bangun siang," katanya.


"Sayang sekali sekarang tidak bisa, karena kita sedang berada di rumah orang lain. Masa bisa lah. Tamu kok bangunnya kesiangan." Arinka tertawa sambil mencolek pipi Renza.


"Sudah berani jahil, ya, sekarang?" Renza memeluk erat tubuh Arinka dan membaringkannya di atas kasur. Kemudian, Renza menciumi bibir Arinka berkali-kali.


"Sana cuci muka dulu." Arinka menepuk punggung Renza.

__ADS_1


"Iya, tapi cium sekali lagi," ucap Renza.


Cup ... cup ...


Dua kali Arinka mengecup Renza dan membuat Renza tertawa lucu. Arinka mencium Renza sambil memejamkan mata.


"Kenapa mata ini terpejam? Apa mau hal lainnya?" Renza menyerigai licik.


"Tidak. Aku hanya Malu. Sana cuci muka, setelah itu kita keluar."


Sementara itu di sofa. Deni belum bangun. Deni sedang asyik bermimpi. Wajahnya tertutup habis masuk kedalam selimut. Deni terlihat seperti kepompong saja yang sedang menunggu proses menjadi kupu-kupu.


Mira yang sudah cantik dan selesai mandi itu memerintahkan pelayan rumah tangganya untuk membuatkan sarapan yang banyak. Setelah menyuruh mengatur piring dan kelengkapan makan. Ia berjalan ke ruang tengah. Mira terkejut melihat Deni yang tidur menutupi semua bagian tubuhnya sampai kepala.


Apa dia kedinginan semalam? Astaga, ini lelaki calon menantuku nanti. Dia baik dan tampan juga. Yang paling penting mereka saling mencintai. Aku akan mengundangnya sekali lagi ke rumah, jika papa sudah pulang tugas. Pantas saja lelaki ditempat makan itu ia kasari. Ternyata, Risa sudah jatuh cinta kepada lelaki ini.


Mira sengaja tak menggubris tamu-tamu Risa ini. Biarkan mereka menikmati tidurnya. Kemudian, Mira berjalan menuju kamar Risa. Ia mengetuk pintu kamar Risa berulang kali. Yah, wanita itu selalu bangun kesiangan.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu. Akhirnya, pintu itu terbuka. Wanita yang membuka itu terlihat sangat menyeramkan. Rambutnya berantakan tak karuan.


"Astaga, kenapa kau begitu menakutkan, sih?" Mira mengurut dadanya.


"Ada apa, Ma. Kenapa membangunkanku? Ini masih pagi," ucap Risa sembari menguap.


"Kau bicara nyaring sekali. Mau pacarmu terbangun nanti?"


"Pacar? Astaga, aku lupa bahwa mereka menginap. Ya sudah, aku harus mandi dan berhias." Risa terkekeh.


"Dasar anak nakal. Bilangnya sudah mau menikah? Tapi kelakuannya masih saja seperti anak-anak."


"Hehe ... maaf, Ma." Risa menutup pintu kamar itu dan bergegas mandi.


Aku harus mandi dan berdandan cantik dong. Astaga menjamah air saja aku sudah kedinginan. Brrr ... dingin sekali, sih. Ya sudah aku mandi air hangat saja lah.


Beberapa menit melakukan ritual mandi, Risa sudah keluar dan memakai kimono. Ia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Setelah rambut itu kering, ia mengganti pakaiannya dengan celana pendek santai dan memakai baju kaos kebesaran. Di rumah style Risa seperti ini, simple tapi nyaman untuk bergerak.


Risa duduk di depan cermin. Ia menyisir rambutnya dan memoles liptint kesukaannya, tak lupa ia memakai cushion tipis supaya wajahnya cerah maksimal.


Risa berusaha tampil cantik di depan pacar barunya itu. Risa bertekad, kalau hubungannya dengan Deni itu tidak akan berlama-lama sebagai pacar. Sesuai ucapan Deni, mereka akan menikah jika keluarga dua belah pihak telah saling setuju.


Arinka keluar dari kamarnya beserta Renza. Renza sangat risih karena tidak mengganti pakaiannya. Renza itu orang yang sering berganti pakaian. Jika dalam keadaan begini, ia menjadi emosian.


"Aku gerah dengan pakaian ini. Aku ingin mengganti baju. Ayo pulang."


"Iya, kita pamitan dulu. Di luar masih hujan. Bagaimana mau pulang?"


"Minta antar Risa, bisa 'kan?"


"Iya, kita minta antar Risa nanti."


Renza dan Arinka berjalan ke ruang keluarga. Tak disangka di sana ada seseorang yang sedang tidur. Renza mengernyit dan melangkahkan kaki ingin mendekati seseorang yang berselimut itu.


Tiba-tiba Risa berjalan menghampiri mereka dan tersenyum seraya mengucapkan selamat pagi. Renza dan Arinka membalas dan menjawab dengan tersenyum juga.


"Siapa itu?" tanya Renza.


"Astaga, Deni belum bangun. Kasihan sekali dia, tubuhnya memerah semalam, pasti ia baru bisa tertidur pulas setelah pagi."


"Heum ... yang belain pacarnya," ejek Arinka.


"Kak Arin ini membuatku malu."


Mendengar suara percakapan, orang yang berada di dalam selimut itu langsung bergegas bangun dan duduk. Rambutnya acak-acakan. Namun, tak mengurangi ketampanannya sedikitpun. Begitulah pikiran Risa.


"Kalian sudah bangun?" ucap Deni.


"Kau bangun kesiangan di rumah pacarmu? Wah, ini bukan seperti sifat Deni. Kau orang yang rajin. Apa karena kau gugup, jadi tidak bisa tidur semalaman. Benar-benar beruntung. Malam jadian bisa menginap di rumah pacar." Renza tertawa terbahak.


"Maaf, aku kesiangan. Ini pengaruh obat, aku tidak makan obat sembarangan, sih. Tapi jika tidak minum obat, alergiku bisa parah."


"Kamu berdalih, ya, Den." Renza tertawa.


"Tidak," Deni merasa malu.


"Aku ingin ke toilet. Ingin cuci muka."


"Iya, ayo.. Kak Arin dan Pak Renza mari sarapan dulu. Mama sudah di meja makan."


"Hmm, baiklah."


Risa berjalan beriringan dengan Deni. Sedangkan Renza dan Arinka berjalan menuju meja makan. Mira mempersilakan Arinka dan Renza duduk. Tak lama Bi Siti-pelayan rumah tangga mereka menyiapkan piring dan sendok untuk mereka semua.


"Selamat pagi," ucap Mira.


"Selamat pagi," jawab Renza dan Arinka serentak. Mereka berdua tersenyum dan saling menatap.


Sementara itu, Deni dan Risa saling mengobrol. Deni sangat malu karena bangun kesiangan.


"Aku benar-benar malu karena bangun kesiangan."


"Tidak apa-apa, kamu kan tidurnya sudah hampir pagi."


"Tapi aku tidak enak, harusnya kesanku baik."


"Sudah, tidak apa. Jika sudah selesai, ayo kita sarapan dulu."


"Baiklah. Ayo!"


"Nanti siang jadi, 'kan?"


"Kita pergi menemui ibuku dulu, ya. Apa kau mau?"


"Boleh saja," jawab Risa malu-malu.


Mereka sudah sampai dan duduk di meja makan. Risa duduk bersebelahan dengan Deni. Mira tersenyum melihat kedua orang itu.


"Makan yang banyak, jangan sungkan-sungkan." Mira tersenyum.


"Iya," jawab Arinka.


"Kau benar-benar serius dengan anakku?" tanya Mira menatap Deni.


"Aa-aku? tanya Deni gugup.


"Iya, kau bilang mau serius 'kan?"


"Iya, aku serius. Aku ingin mengenalkannya dulu kepada Ibuku nanti siang."


"Ahem ... baru jadian semalam, hari ini sudah mau mengenalkan pada tante Ema. Wah, Deni kau benar-benar hebat."


"Aku tidak ingin berlama-lama, aku sudah yakin bahwa aku sangat mencintainya."


"Uwuu ... ternyata Deni begitu sweet, ya?" ejek Arinka.


"Tidak juga. Aku merasa yakin saja, bahwa Risa itu wanita yang tepat untukku dan akan menyayangi Ibuku."


"Baiklah, nanti siang kau boleh mengajak Risa pergi," ucap Mira memberi izin.


Setelah itu, mereka hening. Mereka makan bersama dengan khidmat. Tak lama, setelah selesai sarapan, Arinka, Renza dan Deni berpamitan pulang. Mereka diantar oleh Risa pergi ke tempat mobil mereka berada.


***Bersambung...


Jangan lupa like dan vote ya 😊


Tetap jaga kesehatan ya. Jangan lupa jaga kebersihan dan cuci tangan dengan rutin.


Yang belum masuk grup chat. Silahkan gabung. Kita bisa sharing-sharing di sana. Tanyakan apa saja pada Author, sebisa mungkin akan Author jawab. Area bebas chat 24jam.


Salam sayang dariku buat Readers semua 🤗

__ADS_1


I love u 😘😘***


__ADS_2