Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 113 : Sinta bertamu


__ADS_3

Di kantor, raut wajah Renza terlihat menakutkan. Biasanya setiap pagi ia selalu tersenyum ramah tapi tidak dengan hari ini. Rasa kesalnya masih terasa setelah melihat Sinta bersama Arinka. Ada perasaan tidak tenang didalam dirinya.


"Deni!" Panggil Renza.


"Kenapa, Pak?" sahut Deni sambil bergerak kearah Renza.


"Tadi pas jalan-jalan pagi, Arinka bertemu Sinta."


"Sinta? Mantan pacar?" ucap Deni memperjelas.


"Iya, siapa lagi memangnya." Renza memelototkan matanya.


"Lah? Kenapa Sinta di kompleks perumahan kalian pagi-pagi."


"Dia penghuni baru. Aku tidak suka Arinka dekat-dekat dengan Sinta. Bukan karena cemburu atau apapun. Hanya saja, aku takut Sinta menyakiti Arinka. Sekarang aku harus hati-hati. Apalagi Arinka sedang hamil."


"Aku cari info dulu. Hmm ... Berarti mereka sudah menikah, dong."


"Yah, cari info dulu yang akurat."


Sesudah percakapan itu, dengan sigap Deni menelepon relasi nya. Sekejap mata, Deni sudah mendapatkan informasi ditangannya.


"Ternyata benar, Pak. Jefran sudah menikah dengan Sinta. Tapi resepsinya dua minggu lagi."


"Aku tidak mau tahu tentang pernikahannya. Hanya saja, kenapa mereka harus membeli rumah dikompleks yang sama? Bikin kesal saja." Renza membelalakkan matanya menatap Deni.


"Aku tak tahu juga, Pak."


"Kau harus awasi mereka. Pokoknya aku tak ingin terjadi apapun pada keluargaku."


"Siap, Pak."


"By the way, kapan kamu akan melamar Risa?"


"Secepatnya, Pak. Pak Hendarta juga mau bertemu."


"Semoga lancar."


Wah, ada angin apa, sih? Tadi pagi cuek setengah mati, sekarang malah ngucapin selamat. Dasar hati dingin, ga bisa ketebak isi otaknya.


Deni tersenyum menatap Renza yang tengah asyik me bolak-balik beberapa tumpukan kertas dimeja nya. Deni duduk di sofa sambil memegang kertas. Ponsel disakunya mendadak bergetar. Segera ia membukanya. Senyumnya kembali mengembang melihat kontak yang mengiriminya chat.


*From : Alienku


"Jangan lupa makan siang, ya, Dinoku*."


Tak lupa Risa menambahkan emoticon senyum dan hati berwarna merah. Deni segera mengetik kan huruf-huruf membalas chat itu.


Reply chat : " Kamu juga, Alienku."


Deni lantas memasukkan ponselnya kembali kedalam sakunya. Diam-diam Renza melirik Deni dan tersenyum kecil. Kemudian, mereka berdua mulai sibuk mengurus pekerjaan masing-masing.


Jadwal hari ini sangat padat. Renza dan Deni harus menemui beberapa kliennya. Makan siang pun mereka terlambat. Walau sesibuk apapun, Renza berusaha menyempatkan diri untuk mengetik pesan kepada istrinya sekedar mengingatkan makan siang.


Sore hari di rumah ...


Arinka ingin memasak makanan sendiri. Semua bahan-bahan sudah tersedia diatas meja. Ia ingin sekali membuat sayur asem dan sambal. Sepertinya jarang bayi dalam perutnya ingin makan-makanan rumahan.


Beberapa hari ini, Arinka merindukan masakan ibunya. Dan yang paling dia rindukan adalah sayer asam. Dengan dibantu bi Ami, Arinka mulai memotong semua sayur-mayur.


Sembari menunggu air mendidih, Arinka mengupas bawang merah untuk membuat sambal. Disela-sela pekerjaannya, ia sesekali mengelus perutnya. Setelah airnya mendidih, Arinka memasukkan semua sayuran kedalam panci.


Tak menunggu waktu lama, masakannya selesai. Dibantu bi Ami semuanya menjadi lebih cepat. Arinka menyendok sayur asem buatannya itu kedalam mangkuk dan kemudian membawanya keatas meja makan. Selesai sudah ia memasak. Keringatnya bercucuran membanjiri tubuhnya. Pasalnya, Arinka sudah jarang sekali memasak.


Arinka hampir tak ingat kapan terakhir kali ia memasak. Karena semenjak pindah kerumah ini Arinka sudah menjadi nyonya besar. Semua aktifitasnya dikerjakan oleh pembantu rumah tangganya.

__ADS_1


Dari luar terdengar suara ketukan pintu. Bi Ami dengan segera berjalan keluar. Arinka mengambil pisau dari meja itu kemudian ia mengupas buah.


"Nyonya. Ada temen," ucap Bi Ami.


Arinka menoleh dan menatap sosok wanita yang tengah berjalan menghampirinya. "Kamu?"


"Apa kau kaget?" tanya wanita itu.


"Lumayan lah, ada keperluan apa kemari?" tanya Arinka. "Eh iya, silahkan duduk."


"Makasih," sahut Sinta. "Oh ya, aku bawain kue sebagai tanda terima kasih."


"Terima kasih buat apa?" Arinka mengernyitkan keningnya.


"Gak apa-apa biar kita semakin akrab, ya."


"Haha ... iya," sahut Arinka canggung.


"Bi, bawakan piring." Sinta memberi perintah kepada Bi Ami. Arinka menoleh kepada Sinta, kemudian tersenyum kecil.


Bi Ami segera mengambilkan piring. Bi Ami meletakkan piring diatas meja dengan wajah datar tanpa ekspresi. Arinka memang hanya diam. Bi Ami tahu jelas bahwa Arinka lembut kepada siapa saja.


"Tuan memberi perintah, jika ada makanan pemberian dari orang lain untuk Nyonya, Biar bibi dulu yg makan," ucap Bi Ami seraya memakan kue pemberian Sinta. Sinta mencoba memaksakan senyuman. Entah ia bersikap baik dengan tulus, atau ada maksud lain dibalik kedatangannya ini.


"Wah, sampai segitunya si Renza. Memang dia romantis, sih. Dulu masa pacaran saja dia sangat romantis."


Sabar, ini ujian.


"Iyakah? Sudah tahu dia romantis, kenapa ditinggalin?" sahut Arinka menjawab dengan santai.


Sialan, dia berani juga menjawab. Aku kira dia lugu. Batin Sinta.


"Dulu kan beda, ya sudah jangan dibahas, hanya masa lalu." Wanita itu tertawa tanpa malu-malu. Kemudian, Sinta mengambil kue itu dan memakannya. "Ayo dimakan," katanya, seakan dia pemilik rumah.


"Nanti 2 minggu lagi resepsi pernikahan kami, kalian harus datang, ya?"


"Iya, jika tidak ada halangan."


Mereka berbincang-bincang disana, walaupun Arinka sangat risih tetapi ia berusaha ramah kepada tamunya. Rasa kesal menghampiri dadanya karena sedari tadi wanita itu menceritakan masa pacaran dirinya dengan Renza. Padahal jelas-jelas dia sendiri yang tak mau membahasnya.


"Bi Ami, buatkan minuman untuk Sinta. Kasian dia kehausan berbicara terus dari tadi," tutur Arinka sambil tertawa. Namun, sebenarnya itu sarkas.


Sialan, wanita ini menguji kesabaranku. Dia pikir aku suka berteman dengannya. Huh! Liat saja nanti, puas-puasin saja tertawa.


"Oh ya, Risa masih sering datang kesini kah?" tanya Sinta sembari memegang segelas orange jus buatan bi Ami.


"Masih, kok."


"Kata bi Mira, dia akan segera dilamar 'kan?"


"Iya, katanya seperti itu," jawab Arinka singkat.


"Dia tidak cerita? Bukannya kalian sangat dekat. Aku juga sepupunya gak sedekat itu. Dia sering bikin kesel."


"Dia baik, kok. Ga pernah bikin kesal sama sekali."


"Masa? Haha ... dia lagi pencitraan itu, sih."


Mendengar ucapan Sinta, Arinka berdiri dari kursinya. Ingin rasanya dia mengusir wanita dihadapannya itu. Tetapi Arinka bukanlah orang kejam seperti itu. Ia berusaha tersenyum. Walau senyumnya itu terlihat kecut.


"Dia sepupumu, bukannya tidak pantas jika kau menjelek-jelekkan keluargamu sendiri?" ucap Arinka sambil berjalan ke dapur. Arinka mengambil susu hamil nya di rak atas lemari dapur.


"Ya, kan karena aku tahu sifatnya," jawab Sinta sambil tersenyum seperti wajah tanpa dosa.


"Aku tidak melihat dia seperti itu. Lagipula aku kenal Risa sudah lama, dia selalu baik dan sopan."

__ADS_1


"Itu kan dia masih menutup-nutupinya."


Arinka berjalan kembali ke kursinya setelah selesai membuat segelas susu. Kemudian ia duduk. "Tujuan kamu berkata seperti ini buat apa?" kata Arinka tersenyum sambil meletakkan segelas susu diatas meja.


"Tidak ada tujuan dan maksud apapun, hanya ingin bilang saja."


"Bukannya tidak baik membicarakan orang lain?" Arinka melirik sekilas kemudian meneguk susunya sampai habis.


"Iya, sorry deh. By the way, udah berapa bulan?"


"2 bulan." Arinka menjawab dengan singkat.


"Aku juga sekitar segitu, sih."


"Hmm ... jadi kamu hamil juga?"


"Iya, bukannya kita samaan hari periksa nya, nanti boleh bareng."


Arinka menoleh dan tersenyum manis menatap Sinta. "Suamiku selalu setia menemani, dia tidak akan mengizinkan kalau periksa kandungan tanpa dirinya. Dia selalu penasaran dengan perkembangan anaknya."


"Hmm ... iya kah? Suamiku juga begitu, sih."


"Iya harusnya begitu. Suami siaga."


Sementara sedang berbincang-bincang, ponsel Arinka berdering. Bi Ami segera mengambilkan ponsel Arinka yang berada diatas meja ruang keluarga. Suara ponsel itu sedikit nyaring. Sehingga dengan mudah Arinka bisa mendengar panggilan dari suaminya.


Bi Ami bergegas setengah berlari memberikan ponsel kepada Arinka. Benar saja memang Renza yang menelepon. Secepatnya Arinka menggeser tombol hijau di layar dan meletakkannya ditelinga.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Arinka. Terdengar suara khas bariton Renza dari dalam telepon itu. Sinta yang melihatnya memainkan kukunya sambil memasang telinga dengan lebar.


"Sudah makan, kok. Barusan selesai minum susu," sahut Arinka sambil meletakkan ponsel diatas meja dan mengeraskan suaranya.


"Nanti mau dibawakan apa?" ucap Renza dari dalam telepon.


"Hmm ... mau makan batagor," sahut Arinka tertawa.


"Baiklah. Nanti pulangnya Pipom mampir ke tukang batagor."


"Makasih, sayang. Makin cinta, deh." Arinka sengaja bermanja-manja didepan Sinta. Sinta berlagak cuek, padahal dia mendengar dengan jelas.


"Pipom juga sangat cinta kepada mimom. Ya sudah ... jaga kesehatan, jangan capek-capek. Dadah."


"Iya, Dadah, sayang."


Sambungan itu terputus. Sinta kembali memulai pembicaraan dengan Arinka.


"Jefran juga sering menelepon, mungkin dia panik aku tak membawa ponsel. Kalau begitu aku pulang dulu."


"Iya, dia pasti panik. Jangan buat dia cemas," tambah Arinka.


"Hmm ... aku pulang dulu. Kamu mampir ya kerumah kapan-kapan."


"Iya," jawab Arinka tersenyum.


Sinta berjalan keluar pintu, Arinka mengantarnya kemudian dengan ramah Arinka melambaikan tangannya. Wanita itu pulang dengan mobil walaupun sangat dekat ia tak mau berjalan kaki.


"Aku kira dia berjalan kaki, tahunya naik mobil," gumam Arinka sambil tertawa melihat kepergian mobil itu meninggalkan halaman rumahnya.


Bersambung ....


Jangan lupa like dan komen ya Readers ku sayang..


maaf jarang update, Author ada kesibukan akhir-akhir ini. Tapi sekarang diusahakan update setiap hari kok..


Salam sayang dari Author 😘😘

__ADS_1


__ADS_2