Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 29 : Sakit part (2)


__ADS_3

Orang ini walaupun sakit, emosinya masih saja seperti ini.


"Tuan, apa ingin makan?"


"Kau pikir aku sesuka itu makan disini?" ketus.


Huh, aku mengalah karena ia sedang sakit.


Renza masih fokus menonton televisi, sambil menyandar di bantalnya. terbesit dibenaknya tentang kue yang dibeli Arinka hari itu, kue coklat yang cantik. Renza sangat penasaran dengan kue itu apakah pemberian Jefran atau bukan, memikirkannya saja langsung membuatnya emosi.


Deni masuk setelah mendapat telpon dari Arinka tadi. wajahnya tersenyum melihat gerak-gerik mereka berdua.


"Wah, Nyonya anda sangat cantik memakai baju itu?" tersenyum


"Cantik kau bilang," Potong Renza dengan nada serak tingginya itu, "Kau tidak tau kalau dia terlihat seksi sekali seperti itu, mataku sampai sakit melihatnya."


"Seksi?" tanya Deni tersenyum dan Arinka menjadi sangat malu.


"Aku juga sebenarnya tidak nyaman pakai baju begini" ucap Arinka berbicara sambil menunduk.


"Bu-bukan, maksudku dia terlihat lebih kampungan dari biasanya." gugup sambil meremas jarinya, karena salah bicara.


"Sebentar lagi Karyawan kantor akan menjenguk Bapak, Nyonya harus terlihat berkelas. makanya saya membawakan baju itu."


"Issh, kau ini! beli baju lain kan bisa, kenapa juga harus baju yang memperlihatkan lekuk tubuhnya seperti itu." berbicara sangat pelan seperti bergumam kecil.


"Tuan bicara apa?"


"Terserah!!!" menarik selimut sampai menutupi wajahnya karena kesal.


Kenapa sih ini orang emosi terus.


"Di paperbag satunya ada kosmetik, Nyonya harus pake riasan sedikit."


"Aku tidak terlalu bisa. tapi akan aku coba."


"Awas jangan seperti ondel-ondel nanti" celetuk Renza di balik selimutnya itu, sambil tertawa.


Huh, sesuka itu dia mempermainkanku sampai tertawa keras.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Deni berjalan untuk membukakan pintu itu,


Cekrek..


Pintu terbuka, ternyata Tio. Kepala divisi keuangan datang bersama satu orang lainnya. Deni segera mempersilahkan masuk. Arinka terlihat memakai lipstik dengan cepat, ia segera menaruh paperbag nya didalam lemari dan segera beranjak duduk disofa. Renza yang menutup selimutnya sampai kepala itu segera mendongak. dan berusaha untuk menyandar, Arinka dengan cepat membantunya bersandar.


"Bagaimana keadaanmu, Pak Renzaldi?" tanya Tio


mereka bertiga dipersilahkan duduk disofa, Tio membawakan banyak buah, kue, dan parsel.


"Sudah lumayan." jawab Renza berwibawa.


"Kami sangat mengkhawatirkan Bapak."


"Terima kasih."


Mereka berbincang-bincang banyak hal, tentang pekerjaan dan banyak hal. Arinka duduk di samping ranjang kesakitan itu, tiba-tiba terdengar suara ponsel yang memecah suasana, dan arah suara itu dari dalam tas nya. ia segera bergegas menjawab panggilan yang tidak ada nama tersebut, dan kemudian ia menjauh. terlihat dari raut wajahnya berubah tersenyum, Renza semakin penasaran dengan penelpon itu. suara itu tidak terdengar sama sekali hanya terdengar Arinka menutup telpon dengan ucapan selamat malam. setelah menaruh ponsel nya ia duduk kembali di samping ranjang kesakitan Renza.


Siapa yang menelpon, jangan-jangan si Jefran sialan!


Deni masih asyik mengobrol dengan Tio. Tio melihat kearah Arinka dan tersenyum, Arinka kemudian tersenyum sambil menunduka kepalanya sopan.


"Nyonya Renzaldi, ternyata anda sangat cantik walau memakai make up tipis," ucap Tio kepada Deni.


"Hemm begitulah." Deni tersenyum tipis.


"Pak Renzaldi sangat beruntung sekali, jika aku bisa memohon, aku ingin jodoh seperti Nyonya Renzaldi."


"Haha, jika kau berkata begini didepan Pak Renza pasti kau akan kena masalah, soal istrinya ia sangat sensitive."


"Wajar sih, Nyonya Renzaldi sangat cantik. jika aku jadi beliau aku juga akan sensitive mencintainya sampai mati" terkekeh

__ADS_1


"Dasar jomblo" ucap Deni, (Ciyee sesama jomblo saling mengolok)


Terdengar suara pintu dibuka, yaitu perawat memeriksa keadaan dan mengatakan jam besuknya sudah habis, maka tamu harus segera pulang, karena pasien harus istirahat. Tio dan rekannya bergegas berpamitan.


"Semoga lekas sembuh, Pak Renzaldi." ucap Tio sembari berbalik pergi. Renza hanya tersenyum, kemudian raut wajahnya berubah masam dan kesal seperti semula. perawat sedang memeriksa tekanan darahnya dan kebetulan sudah normal. perawat keluar dan menutup pintu, sedang Deni pergi mengantar Tio keluar.


"Apa Tuan ingin makan?" tanya Arinka pelan.


"Lagi-lagi kau menanyakan makan, apa tidak ada kalimat lain selain makan, huh! menyebalkan."


Kenapa harus marah sih hanya karena bertanya makan, jika tidak mau ya tidak usah.


"Siapa yang menelpon tadi?" pelan sambil berbalik memunggungi Arinka karena malu.


"Tuan bertanya apa? aku tidak bisa mendengarnya."


"Tidak ada, Bisa kupaskan buah apel? aku ingin memakannya sekarang."


Renza berpikir keras, ia ingin bertanya tentang kue dan telpon tadi, tapi ia sangat malu menanyakannya. keningnya berkerut tanda ia memikirkan banyak hal.


Ah, aku tanyakan saja.


"Aku pikir aku ingin makan kue yang waktu itu, kue coklat?"


Jika ia tidak tau tempat membelinya berarti itu kue pemberian Jefran. gumamnya sambil tertawa licik.


"Kue coklat tempo hari ya? Arinka terlihat berpikir. "Apa Tuan sangat ingin memakannya?"


"Iya aku sangat ingin memakannya, aku ingin kau membelikannya yang sama persis tanpa beda sedikitpun."


Haha, mampus kau jika itu pemberian seseorang kau tidak akan bisa membeli yang sama persis seperti itu.


"Tapi..." Omongannya terpotong, Renza harap-harap cemas mendengar ucapan Arinka, tangannya meremas selimut saking penasarannya.


"Tapi kenapa? Apa itu pembelian seseorang? jika pembelian orang siapa yang membelinya? jika benar aku tidak ingin membelinya." memasang raut wajah masam.


"Tidak, itu bukan pembelian seseorang. itu aku sendiri yang beli, masalahnya aku membeli ditoko kue arah kerumah kita, mungkin jika malam tokonya tutup."


Ternyata Dia membeli sendiri, ahh aku lega. Aku pikir si Jefran sialan itu yang membeli.


Kenapa lagi orang ini, tadi hampir seharian wajahnya kesal, sekarang malah tersenyum tanpa sebab. jika lucu masa iya nonton berita bencana alam lucu.


Arinka menyodorkan buah apel yang telah dikupas kulitnya itu kepada Renza, ia menerimanya dengan senyum lebar diwajahnya dan berkata terima kasih.


Apa aku tidak salah dengar? terima kasih? apa otaknya juga perlu diperiksa yah.


Tring.. suara ponsel Arinka berbunyi menandakan ada pesan masuk, ia mengambil tasnya itu dan merogoh ponselnya, terlihat pesan dari Deni yang bilang ia pulang, jika ada keperluan bisa langsung telpon saja.


"Siapa?" tanya Renza sambil memasukan beberapa buah apel ke mulutnya sekaligus dan mengunyahnya dengan pelan, matanya fokus menonton televisi.


"Deni, ia bilang ia sudah pulang. jika perlu bisa menelpon."


"Hemm" jawaban kebangsaan yang mendarah daging terdengar kembali.


"Tadi siapa yang menelpon?" Tanya Renza masih dengan fokus mata ke televisi dan mulut mengunyahnya.


"Pak Jefran, Tuan." sambil tersenyum.


"Ahemm.." Renza seketika tersedak, Arinka segera mengambil air minum dan memberikan kepada nya dengan cepat. Raut senyumnya langsung berubah menjadi masam. Arinka menepuk belakangnya karena ia masih saja tersedak.


"Singkirkan tanganmu itu dari tubuhku, dan menjauh dari ranjang ini" setengah berteriak membuat Arinka terperanjat.


Apa lagi? tadi sudah tersenyum, sekarang marah lagi. jangan-jangan ia mempunyai gangguan bipolar.


"Memang kenapa Tuan, apa yang salah?" Arinka mencoba mendapat penjelasan, malah bukan penjelasan yang didapat, Renza segera mematikan televisi dan berbaring menarik selimut sampai menutupi wajahnya. lagi-lagi kelakuannya kekanakan.


Arinka berjalan menjauh dari kursi itu, dan beranjak ke sofa, ya seperti biasa dirumah dan dirumah sakit pun tetap saja masih betah dengan yang namanya sofa sebagai tempat tidurnya.


"Hah!" menarik nafas panjang dan menghembuskan sembarang. ia juga lelah kerja seharian. dipandanginya Renza yang bertingkah seperti orang ngambekan itu, matanya membulat seketika melihat selang infus Renza sudah berwarna merah. ia bergegas berlari kearah Renza.


Kenapa lagi ia mendekat, aku sangat kesal. menyebut nama Jefran saja ia senyum kegirangan,dasar!

__ADS_1


"Tuan, selang infusnya berdarah." Arinka memegang tangan Renza keatas, "Apakah sakit Tuan?" tatapan matanya sangat panik. ia berusaha mengangkat tangan Renza keudara, ia pikir jika diangkat keatas darahnya bisa turun kembali.


"Da-darah" Seketika wajah Renza pucat pasih melihat darah, ya ia sangat penakut soal darah. disuntik saja ia sangat takut.


"Bagaimana ini? aku panggil dokter dulu." panik sampai tangan Renza semakin diangkat tinggi.


"Awwww" Renza meringis kesakitan. Arinka semakin ketakutan. "Tekan tombol diatas itu, dokter akan datang dengan cepat, tidak perlu keluar dan berlari, bodoh!"


Arinka dengan sigap menekan tombol itu, hatinya sedikit lega. tanpa sadar ia mengusap tangan Renza dengan halus yang membuat Renza otomatis lupa akan ketakutannya dengan darah. wajahnya menyunggingkan senyum lebar.


"Tetap seperti ini, aku sangat membutuhkanmu." ucap itu lolos begitu saja dari mulut Renza, tapi dokter segera datang sehingga ucapannya kalah dengan suara kepanikan. dokter bergegas memeriksa kemudian Arinka menunjuk selang infusnya berdarah.


Ah, untung ia tidak mendengar. aku berkata apa sih? hampir saja aku membuat kesalahan.


Dokter dengan segera menggerakan pengontrol infus turun naik, ternyata jarumnya tercabut jadi harus dipasang ulang. mereka mengganti infus itu dengan cepat dan mulai mengambil jarum.


"Tidaaakk, bisakah jangan diinfus lagi aku sudah sehat." ucap Renza panik dan ketakutan.


"Maaf, Pak. Bapak harus diinfus dulu untuk sementara karena Tubuh bapak masih lemah."


Dokter mulai ingin menusuk tangannya, "Tunggu" ucap Renza mengulur waktu karena takut. Arinka dengan lembut memegang tangan Renza dan berkata, "Tidak apa-pa Pak, ini hanya sebentar tidak akan sakit."


Ahh, aku sangat malu karena ketauan takut jarum suntik.Tapi lumayan sedikit lega karena ada dia simpingku.


"Bisa tolong pelan-pelan, Dok?" ucap Renza sambil menoleh kearah sebuket bunga mawar di vas dan ia tersenyum. tanpa ia sadari dokter sudah selesai memasang jarumnya. dan Dokter berpesan jangan banyak bergerak. dokter itu lalu keluar dari kamar kesakitan itu.


"Tuan, kenapa takut jarum suntik?" wajah Arinka girang menahan ketawa.


"Jangan mengolokku ya, Aku tau kau akan menertawakanku kan? huh! jika kau berani awas saja, kau jangan mimpi bisa tidur malam ini."


"Memang kenapa? kau ingin berbuat apa?" berpikir dari hal yang paling buruk dari yang terburuk lalu ia merinding.


"Kau memikirkan apa? Bodoh!" tersenyum tipis.


"Tidak Ada." dalam mode kebingungan.


"Dirumah sakit banyak hantu loh." tertawa girang seperti memenangkan lotrai.


"Apaa?? Tuan kau jangan menakutiku ya? huh!"


"Aku tidak menakutimu, namanya juga rumah sakit." berbaring sambil mematikan lampu.


"Jangan matikan lampu!" teriak tapi masih kategori normal.


"Aku mau tidur, aku harus istirahat cukup. ya sudah dadah." tertawa geli sambil memejamkan mata dan berbalik memunggungi.


Wkkwk, memangnya enak. tapi sejak kapan kami jadi banyak bicara seperti ini, sungguh kemajuan yang pesat.


Arinka berjalan pelan menuju Renza dalam cahaya remang, ia telah berdiri disamping Renza menghadapkan wajah. ia ingin menyalakan lampu dengan remote disamping Renza.


"Tuan" memanggil namanya dengan pelan.


"Arggghhhh, sialan! kau mengejutkanku. ada apa?" terperanjat.


"Aku ingin mengambil remote?"


"buahahaha.." seketika Renza tertawa terbahak.


"Kenapa tertawa?" tanya Arinka polos.


"Kau ketakutan sekali ya?" sudah berhenti tertawa dan mengulum senyumnya.


"Ti-tidak."


"sstttt.. itu dibelakangmu seperti ada..." belum selesai Renza berbicara Arinka sudah melompat kekasur Renza, dan gerakan refleks ia memeluk karena ketakutan, "Arrrrrrgghhh."


***Bersambung.....


Hay teman-teman, aku lihat grafik pembaca Arinka dan Renza ini banyak, tapi yang like hanya sedikit 🙄🙄


jika kalian ingin aku cepat update kalian bisa memberikan Like atau jempol yang banyak sebagai bentuk menghargai penulis.

__ADS_1


dan jangan lupa vote juga agar novel ini bisa naik peringkat. aku tunggu coment yang luar biasa dari kalian semua 😘


Luv u ❤😍***


__ADS_2