
Deni benar-benar gusar memikirkan postingan Mawar. Pikirannya berkecamuk tak karuan. Deni tak henti-hentinya memandang foto Mawar dan foto Dina. Deni membandingkan dan mencocokkan kesamaan foto tersebut.
Jika Risa itu adalah Mawar, aku harus apa? pura-pura tidak tahu saja dan mengubur perasaanku pada Mawar mungkin lebih baik.
Tiba-tiba, Renza menelpon. Deni segera menjawab teleponnya.
"Ada apa, Pak?"
"Jika kau sudah selesai di sana, kau bisa pulang dulu."
"Sepertinya aku akan lembur disini, Pak."
"Jika kau lembur, jangan lupa makan dan jaga kesehatan. Kau dengar itu?"
"Baiklah."
"Nanti aku akan menyusul juga ke sana? jika sudah selesai urusan di berkas di kantor."
"Iya, Pak. Oh ya, aku ingin bertanya?"
"Apa?"
"Tidak jadi."
"Apa-apaan kau ini!"
"Haha .... "
Renza mematikan sambungan teleponnya. Ia sangat kesal dengan sikap Deni. Kemudian, Renza teringat akan istrinya yang jalan-jalan bersama Risa dan Dina. Ia segera meneleponnya kembali.
Sambungan itu berdering. Tapi tak ada jawaban dari Arinka. Mungkin karena ponselnya di dalam tas dan suasana cafe yang berisik jadi Arinka tidak mendengar.
Renza menelpon pak Ahmad untuk memastikan keadaan Arinka. Akhir-akhir ini hubungan mereka benar-benar renggang. Renza sangat merindukan saat-saat mereka bercanda bersama, saling mesra dan saling perhatian satu sama lain.
"Aku benar-benar merindukan istriku," ucap Renza seraya duduk di kursi kebesarannya.
Arinka, Risa dan Dina benar-benar hanyut dalam suasana kebersamaannya. Mereka saling cerita dengan sangat bahagia dan tertawa bersama.
"Risa, Mana kakakmu?" tanya Arinka.
"Astaga! aku hampir lupa, Kak. Aku kirim pesan dulu sebentar."
"Apa Nyonya benar-benar ingin melihat seorang tentara?" tanya Dina.
"Hmm ... tapi aku ingin melihatnya memakai seragam lengkap."
"Wah, aku lupa mengatakan kepada Kakakku untuk memakai seragamnya. Aku telepon sebentar, ya?"
"Maaf, merepotkan."
"Tidak apa-apa, Kak."
Risa menelpon kakaknya agar datang ke cafe tersebut menggunakan seragam lengkap. Arinka sudah membayangkan jika bertemu tentara apa yang akan ia lakukan.
Sebelumnya, tidak ada keinginan untuk bertemu tentara. Tapi setelah Risa mengatakan bahwa kakaknya seorang tentara, Arinka menjadi sangat antusias.
Ice cream yang mereka makan sudah hampir habis. Risa sudah resah jika seandainya kakaknya tidak datang.
Tak lama kemudian, dari arah pintu terlihat lelaki gagah nan tinggi memakai pakaian seragam tentara lengkap. Lelaki itu menghampiri Risa.
"Kak Rasya, lama sekali, sih." ucap Risa.
"Hehe, jangan marah." jawab Rasya terkekeh.
Arinka dan Dina melongo menatap Rasya. Tidak seperti kebanyakan tentara yang terlihat menakutkan. Justru Rasya terlihat tegas tapi sangat berbeda. Rasya sangat tampan dan sangat mirip dengan Risa.
"Kak, ini Kak Arin. Kak Arin yang ingin bertemu dengan kakak! Ayo perkenalkan diri."
"Saya Arinka. Maaf sudah menyuruhmu memakai seragam lengkap."
"Saya Rasya. Tidak apa-apa! Jika wanita hamil yang menyuruh, aku harus patuh. Kasihan nantinya dengan bayi dalam perutnya jika tidak di penuhi."
"Terima kasih," kata Arinka tersenyum manis.
"Oh ya, Ini Dina," ucap Risa.
"Mmm, hai ... Aku Dina," ucap Dina agak gugup.
"Hai, Aku Rasya."
Rasya duduk se meja dengan Arinka. Rasya tersenyum sangat manis dan ramah. Benar-benar sangat berbeda dari tentara kebanyakan pikir Arinka.
"Kak, Ini adalah istri pak Renza yang kebetulan kita temui waktu makan siang."
__ADS_1
"Owh, ternyata istrinya sedang hamil."
"Iya, Kak."
"Aku pikir seorang tentara akan terlihat sangat menyeramkan," ucap Arinka.
"Haha, benarkah?"
"Iya, ternyata tidak." Arinka tertawa.
Mereka berbincang panjang lebar. Menceritakan banyak hal. Rasya mendengarkan cerita mereka dan ikut tertawa bersama. Tak lama, Rasya pamit karena mendapat telepon dari temannya ingin berkumpul bersama.
Arinka, Risa dan Dina keluar dari cafe itu. Kemudian, mereka masuk mobil. Risa berkata akan segera pulang. Arinka bersikeras ingin mengantarnya. Pak Ahmad mengantar Risa pulang kerumahnya. Arinka benar-benar terkejut melihat rumah Risa. Ternyata Risa dari keluarga kaya.
"Kak, terima kasih. Kapan-kapan aku mampir lagi ke rumah kakak." ucap Risa seraya melambaikan tangan.
"Baiklah."
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di rumahnya. Arinka benar-benar lelah. Ia masuk ke dalam kamar dan mandi. Setelah itu, ia meminum susu hamil dan tak lupa meminum vitamin.
"Akhir-akhir ini aku benar-benar jauh dari suamiku. Tiba-tiba, aku sangat merindukannya."
Arinka berbaring di dalam kamar. Ia mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video. Renza segera menjawabnya dan tersenyum manis.
"Tiba-tiba, Mimom kangen sekali kepada pipom?"
"Sama, Pipom kangen mimom setiap hari, setiap saat dan setiap waktu."
"Maaf ya karena mimom tidak menyukai bau tubuh pipom."
"Tidak apa-apa."
"Mimom tetep sayang pada pipom, jadi jangan bersedih ya?"
"Iya sayang. Pipom memang bersedih tadi, tapi jika mimom sudah mengatakan hal demikian, pipom tak jadi sedih."
"Uwwuu, tayang ... " ucap Arinka memanjakan Renza.
"Aku mencintaimu, sayang."
"Sama, aku juga mencintaimu."
"Malam ini aku lembur, jadi tidur malam ini di temani bi Ami, ya?"
"Baiklah. Maaf sekarang pipom masih banyak kerjaan. Jadi pipom matikan dulu, ya."
"Mmm ... dadah."
"Dadah, mmmuuacchh!"
Sambungan telepon itu terputus. Kemudian, beberapa saat Arinka sudah tertidur. Bi Ami masuk ke dalam kamar dan menyelimuti Arinka lalu mematikan lampu kamar itu.
Renza sudah memberi tahu Bi Ami bahwa ia akan lembur malam ini. Bi Ami sudah mengunci semua pintu dan kemudian mereka semua terlelap di alam mimpi.
Di kantor, Renza sedikit lega karena sudah mendapat semangat dari istri tercintanya. Walaupun mereka tidak bertemu, tapi mereka sudah saling bertatap. Rasa rindu itu perlahan sedikit memudar karena ucapan dari sang kekasih.
Renza tidak tidur sama sekali. Ia masih sibuk mengurus keperluan pameran besok. Mereka kerja dua kali lipat. Deni masih sibuk mengurus keperluan lainnya. Bahkan untuk memejamkan mata pun ia belum bisa. lagi pula hatinya teringat akan perbedaan Mawar dan Risa.
Deni sebenarnya ingin bertanya kepada Arinka nama asli Mawar. Tapi jika ia bertanya, pasti akan dianggap kepo. Deni sangat tidak ingin. Makanya ia memilih akan menyelidiki sendiri.
Renza tertidur di atas meja kerjanya seraya memegang berkas di tangannya.
Tak terasa hari sudah pagi. Renza terbangun, tubuhnya benar-benar sakit karena tidak tidur dengan benar. Renza pulang ke rumah untuk berganti pakaian.
Renza benar-benar lelah. Wajahnya ia tekuk. Sesampainya di rumah, Renza naik ke kamarnya dan membaringkan diri di kasur kemudian mandi dan berganti pakaian. Arinka sudah duduk di meja makan. Arinka melihat bahwa Renza benar-benar lelah.
Renza turun dan duduk di meja makan. Senyumnya seumringah melihat istri tercintanya. Tapi sayang, Arinka belum bisa mencium bau tubuh Renza. Oleh karena itu, mereka hanya bisa saling menatap. Renza benar-benar ingin mencium istrinya itu dan mengelus perutnya. Tapi dari pada membuatnya mual, Renza urungkan niatnya.
"Sepertinya hari ini aku akan pulang telat lagi, maaf ya sayang. Aku benar-benar sibuk."
"Ya, tidak apa-apa."
Setelah selesai sarapan, Renza santai meminum kopinya sebentar dan membaca koran. Arinka hanya melihat dan tersenyum. Jika ia mendekat sedikit saja perutnya benar-benar kan mual.
Deni juga pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian. Sesampai di rumah, ia masuk ke kamarnya dan membaringkan diri di ranjangnya. Deni benar-benar sangat lelah. Ia bahkan tidak sempat memikirkan Mawar karena tugasnya yang begitu menguras otak.
Tak butuh lama, setelah selesai sarapan. Deni pergi ke rumah Renza dan menjemputnya. Renza dan Deni berangkat bersama ke kantor.
Hari ini, hari pameran produk Time matchine. Renza sudah memesan produk jam tangan wanita yang harganya lumayan mahal untuk istri tercintanya.
Deni masih penasaran dengan Mawar. Jika hari ini yang datang ke pameran adalah Risa. Fix, berarti Risa itu adalah Mawar pikir Deni.
Jika benar Risa adalah Mawar, aku akan berhenti menyukainya. Bagaimana mungkin aku menyukai wanita yang menyebalkan itu. Sedangakan Aku juga sudah mengatainya banyak hal. aku sangat malu. jadi sebaiknya aku pura-pura tidak tahu saja dan berhenti saling membalas pesan nantinya.
__ADS_1
Persiapan pameran sudah 99%. Renza dan Deni sudah bisa bernapas lega. Semua produk sudah di susun dan dekor juga sudah sangat rapi. Dahlan pun ikut memberikan selamat, tapi tidak terlalu di gubris oleh Renza.
2 jam lagi acara pameran peluncuran produk baru Time Matchine akan di buka. Renza sudah berganti menggunakan jas yang baru. Para staf sangat sibuk mengurus semuanya.
Sambil menunggu 2 jam itu. Renza dan Deni makan siang dengan santai. Mereka bisa sedikit rileks karena persiapannya benar-benar sudah sempurna.
Tiba-tiba, terdengar kekacauan di ruangan itu. Kaca tempat produk terbaru itu pecah dan pelakunya adalah Dahlan. Renza sangat murka. Renza tahu bahwa Dahlan sengaja ingin mengacaukan persiapan yang sudah sempurna ini.
Dahlan tersenyum dan berkata bahwa ia tidak sengaja menyenggol kaca tempat produk itu. Sebisa mungkin Deni membereskan kekacauannya. Deni sudah tahu pasti Dahlan akan bertindak. Dahlan itu sangat iri dengan kesuksesan Renza. Jadi ia pasti akan menggunakan segala cara.
Semua ruangan itu di lengkapi dengan Cctv. Mungkin jika lengah, ia kan mencuri produk baru itu.
"Tidak apa, walau kau pecahkan tetap kami akan menggantinya." ucap Deni.
"Kau terlalu setia kepada Tuanmu, kenapa? apa karena bayaranmu mahal?"
"Haha, iya. sangat mahal," jawab Deni.
Aku akan menghancurkannya, bagaimanapun caranya nanti... gumam Dahlan.
Acara pameran udah di mulai. Deni terus gelisah menatap tamu undangan. Deni benar-benar takut jika manusia itu adalah Risa.
Semoga dia bukan Risa. mau di apakan wajahku jika aku menyukainya nanti.
Di kejauhan, Renza sudah duduk di sofa depan. Sisil menemani Renza untuk hal-hal lain. Renza duduk di kursi ditemani Sisil. Deni memperhatikan setiap tamu yang datang.
Jantung Deni berdetak kencang ketika menunggu seseorang. Tapi hampir selesai tamu undangan berdatangan yang di tunggu Deni tidak datang. Deni merasa sangat lega, berarti Mawar bukanlah Risa pikirnya.
Deni mengirim pesan kepada Mawar. tapi pesan itu tidak di balas. Deni sangat terkejut ketika mendapati wanita yang bergandengan dengan lelaki di depan matanya hadir memasuki acara pameran.
Renza menyapa Hendarta, alangkah terkejutnya Renza bahwa ayahnya Risa adalah Hendarta. Seorang tentara dan juga pebisnis yang handal. Renza mempersilakan Hendarta duduk. Deni kaget bukan kepalang melihat Risa yang hadir di acara itu bersama Hendarta. Pasalnya, waktu melihat foto Deni tidak mengenali Hendarta.
Produk dari Time Matchine sudah terjual laku satu persatu. Para tamu berebut-rebut mendapatkan jam tangan edisi terbatasnya.
Deni terus mengecek ponselnya. Deni menjadi salah tingkah. pikirannya mulai berkecamuk lagi. Deni ingin sekali menanyakan kepada Risa nama lengkapnya.
Deni terus menerus menatap Risa. Risa yang menyadari tatapan tajam itu menatap sebal dan menghampiri Deni.
"Kau kenapa dari tadi menatapku?" tanya Risa.
"Tidak ada, hanya saja kau merusak pemandangan." jawab Deni.
"Aku ini tamu, kau harus sopan." ucap Risa.
"Aku sangat sopan," jawab Deni.
"Tapi dari cara kau menatapku seakan kau tidak menyukai keberadaanku?"
"Tidak, aku biasa saja. Lagi pula tamu disini banyak. Kenapa juga kau harus merasa?"
"Ishh, aku merasa karena pandanganmu kearahku terus menerus. Ada apa? jika tidak suka sebaiknya kau tahan."
"Aku memang menahannya."
"Susah ya berbicara dengan orang seperti mu."
"Iya, aku juga susah berbicara dengan orang sepertimu."
"Ya, terserah. Dasar menyebalkan."
"Kau yang menyebalkan, iihh."
"Kau berkata iihh, lihat saja akan aku doakan jika suatu hari nanti kau kan menyukaiku."
"Menyukaimu? hah, kau gila."
"Yaaa, karena kau meremehkanku lihat saja. aku sangat yakin Jika kau akan jatuh cinta padaku." ucap Risa seraya berbisik dan tersenyum sinis.
"Benar-benar tidak waras."
*Aku memang menyukai mawar, tapi tidak menyukai wanita macam Risa ini. Jadi, Mawar itu siapa? hanya karena Risa yang datang bukan berarti dia Mawar 'kan? aku benar-benar penasaran. Sesudah acara ini akan aku cari tahu sendiri.
Tapi, jika berhadapan dengan Risa aku juga sudah mulai gugup. Kenapa? apa aku mulai menyukainya? Tidak!!
**Bersambung...
Jangan lupa vote dan coment ya!
Maaf aku tidak memberikan visul Deni, karena foto sangat lama proses reviewnya. jadinya aku akan memberikan visualnya kapan-kapan ya. kalian bebas berimajinasi sendiri dengan karakter Deni dan Risa.
Salam sayang dari ku untuk pembaca semua.
Luv u all 💋😘***
__ADS_1