
Arinka sudah selesai mandi. Ia segera berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, Arinka duduk di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Ia melihat kalung cantik terpampang lehernya. Arinka memegangnya dan tersenyum manis menatap dirinya di depan pantulan cermin.
"Benar-benar cantik. Tidak pernah terbayangkan aku akan mendapatkan kalung cantik seperti ini. Aku ingin menangis saking harunya. Suamiku benar-benar sangat baik." Arinka bermonolog di depan cermin.
Setelah selesai mengeringkan rambut, Arinka keluar dari kamar dan menuruni tangga. Terlihat Renza sedang menyandar di sofa sambil menonton televisi. Renza menoleh dan tersenyum manis.
"Sini, duduk di dekat pipom."
Arinka mendekat dan duduk persis di sampingnya. Renza segera merangkulnya dan mengecup keningnya.
"Hemm, baunya wangi sekali, sih yang sudah mandi ini."
"Iya, kah?"
"Iya dong, rambutnya harum begini."
"By the way, terima kasih sudah membelikan kalung yang cantik ini."
"Hmm ... kalung yang cantik, sesuai dengan pemiliknya juga cantik." Renza tersenyum mengusap rambut Arinka.
"Terima kasih, suamiku." ucap Arinka bergelayut manja di lengan Renza.
"Sekarang baru jam setengah 8, ayo keluar jalan-jalan," ajak Renza.
"Boleh, Mimom sudah mandi juga, 'kan? Nanti kita beli cemilan dan cokelat, ya?"
"Beres, mau berapa kotak cokelatnya, haha." Renza tertawa mencolek hidung Arinka. "Di beliin 10 kardus, mau?" katanya.
"Terlalu banyak, buat apa? Jualan?" Arinka terkekeh.
"Mimom mau jualan cokelat? Kalau mau nanti kita jadi tukang jual cokelat saja, ya?" Renza tertawa lucu.
Kemudian, Renza dan Arinka naik tangga menuju kamarnya. Mereka berdua berganti pakaian, Renza mengenakan pakaian santai, kaos oblong dan celana pendek, sedangkan Arinka memakai dress motif garis selutut.
Mereka keluar rumah menggunakan mobil. Mereka akan jalan-jalan ke alun-alun kota sambil membeli cemilan di sana.
Dua insan manusia itu sekarang sudah berada di dalam mobil. Arinka memandang ke luar jendela memperhatikan gemerlip lampu jalanan ibukota. Mulutnya sesekali membentuk 0 besar ketika melewati jalan yang ramai.
Mereka berdua turun dari mobil sambil bergengaman tangan. Arinka terperanjat betapa orang-orang ramai beralan kaki saat malam hari.
"Mau jalan kemana? Kiri apa ke kanan?"
"Terserah, Pipom." Arinka tersenyum manis.
Suasana malam yang indah, angin semilir sejuk. Udara pun bersahabat. Renza dan Arinka mulai melangkah sejajar. Mereka melihat hiasan lampu taman yang begitu indah. Arinka masih bergelayut manja di lengan Renza seraya menunjuk hiasan lampu taman itu.
"Beli minuman dulu, yuk! Nanti kita duduk di sana,"ucap Renza menunjuk sebuah bangku.
"Hmm ... mau beli apa, ya? Aku jadi pusing."
Mereka berjalan-jalan di pelan sambil celingak-celinguk melihat makanan apa yang akan mereka beli.
"Aku hanya ingin minum air putih saja," ucap Renza.
"Aku ingin makan cilor," jawab Arinka.
"Cilor?"
"Hmm, rasanya enak. Coba saja nanti."
Arinka menarik lengan Renza. Kali ini Renza yang mengikuti Arinka. Langkah kakinya bersejajar di belakang.
"Aku mau cilor satu porsi," ucap Arinka tersenyum. Renza hanya tertawa melihat istrinya itu. Sebenarnya, Renza kurang suka jika melihat Arinka makan-makanan sembarangan. Tapi jika sesekali, ia bisa mentolerilnya.
Arinka memberikan uang kepada penjual itu. Penjual itu tersenyum lebar ketika Arinka menyuruh mengambil kelebihan uangnya untuk disimpan.
"Istriku ini baik sekali, sih." Renza mecubit manja dagu Arinka.
"Kita beli minuman dulu, situ di mini market. Mimom mau duduk di sini atau ikut kesana? Ikut sajalah. Pipom takut terjadi apa-apa nantinya."
Mereka berdua masuk ke dalam minimarket. Renza hanya menuju etalase air mineral. Sedangkan Arinka sudah berasih melihat minuman lain. Arinka membei jus dalam kemasan untuk di minumnya. Ia membeli dua botol kemasan 400ml.
Mata Arinka tertuju kepada cokelat merk silverqueen. Yah, Arinka sangat suka makan cokelat. Semenjak Renza selalu pernah membelikannya, ia menjadi ketagihan memakannya. Renza melirik dengan ekor mata ketika di depan kasir, Arinka masih melihat varian silvelqueen berbeda. Renza sangat peka dan meminta kasir itu mengambilkan masing-masing satu kotak rasa berbeda.
Arinka fokus melirik suasana di dalam minimarket itu yang lumayan ramai. Ia tersenyum menatap setiap orang yang melewatinya. Tiba-tiba, Arinka terperanjat ketika ada tangan yang menggenggam lengannya. Arinka menoleh denggan denga cepat.
"Issh, pipom mengagetkan saja." Arinka membuang napas lega. "Apa yang di beli? Mengapa begitu berat isi dalam kantong plastik itu?" katanya.
"Rahasia dong." Renza tertawa lucu.
"Aku buka lah, jadi kan tidak rahasia lagi." Arinka terkekeh.
"Dasar, ya, si penasaran."
Mereka berjalan duduk melangkah menuju kursi di taman dekat alun-alun. Lalu, mereka berdua duduk. Renza melepaskan tentengan plastik di samping bangku.
Arinka memakan cilor yang di pesannya tadi. Renza mengernyit melihat Arinka memakan makanan itu. Kemudian, Arinka menjulurkan tusukan ke arah mulut Renza. Renza segera merapatkan bibirnya dan membuka plastik mengambil air mineral.
"Coba dulu, ini enak, kok."
"Makanan apa, sih, itu? Aku belum pernah memakannya."
"Coba dulu, ini tidak beracun, kok." Arinka mencebikkan bibirnya. Renza terpaksa membuka mulutnya itu demi istri tercintanya. Lidahnya merasai, lumayan dilidah.
"Enak, kah?"
"Lumayan lah. Mimom tidak boleh sering-sering, ya, memakannya."
"Iya ...." Arinka menjawab pelan.
"Ini tidak terlalu baik bagi tubuh. Makanan lain masih banyak," ucap Renza tersenyum.
"Iya, aku tidak akan memakannya lagi. Aku ikut saja."
" Etsss, tak boleh ngambek, dong. Sekarang boleh makan, kok."
"Iya, akan aku habisakan," ucap Arinka ketus.
"Bau-bau ngambek ini." Renza mendongakkan dagu Arinka dan menatap matanya. "Ini untuk kesehatan Mimom. Apa Mimom tidak ingin punya baby?" katanya.
__ADS_1
"Mau, kok."
"Makanya harus makan-makanan sehat, makan buah yang banyak dan minum susu."
"Iya, suamiku sayang." Arinka tersenyum.
"Nah, gitu dong. Untung di tempat ramai. Kalau tidak, sudah aku makan bibir itu." Renza tertawa jahil.
"Dasar! Huh!" Arinka mencebikkan bibirnya tapi kemudian tertawa terbahak.
"Ayo minum, ini ada jus buah. Mimom membelinya tadi, ya? Mau air putih atau jus?"
"Air putih saja dulu."
Renza membukakan tutup botol air mineral itu dan memberikannya kepada Arinka. Arinka meminumnya menenggak. Renza memperhatikannya Arinka dan tersenyum gemas.
Setelah memakan cilok. Arinka ingin membuang sampah. Renza segera mengambil sampah di tangannya dan segera membuangnya.
Arinka tersenyum memperhatikan Renza yang berjalan melangkah mendekat kepadanya.
Suamiku ini benar-benar telah berubah. Ia benar-benar baik. Terima kasih Tuhan, karena memberiku jodoh yang luar biasa seperti ini. Dia sangat menyayangiku seperti pengganti kedua orangtuaku.
"Kenapa termenung?" Tany Renza.
"Eh? Tidak, kok."
"Ada tisu basah di dalam plastik. Sebentar Pipom ambil dulu."
Renza membuka kantong plastik belanjaannya itu dan mengambil tisu basah. Kemudian ia membukanya.
"Mana tangan?" ucap Renza. Arinka menjulurkan tangannya dan membersihkannya. "Tangan satu lagi," katanya.
Benar-benar membuatku terus jatuh cinta setiap hari.
Renza memperhatikan mata Arinka yang menatap searah. Ia tersenyum dan menjahili istrinya itu.
"Aku benar-benar bahagia sekarang," ucap Arinka.
"Bahagia kenapa, sayang?"
"Bahagia karena hal-hal kecil."
Arinka segera memeluk Renza tanpa aba-aba. Renza terkejut karena tiba-tiba. Kemudian, ia melepaskan tisu basah di sampingnya dan memeluk Arinka sambil mengelus rambut legamnya.
"Terima kasih karena sudah menjadi jodohku," bisik Arinka di telinga Renza.
"Pipom yang sangat berterima kasih, karena Mimom sudah menjadi jodohku. Terima kasih karena sudah membuat hidupku berwarna."
"Tidak pernah terbayangkan ternyata jodohku seperti ini. Sangat baik dan penuh tanggung jawab."
"Sama-sama. Pipom juga sangat bahagia bisa mendapatkan jodoh seperti ini. Pengertian, sabar dan setia. Aku mencintaimu, sayang."
"Mimom juga sangat mencintai, pipom."
Arinka menyadarkan kepalanya di bahu Renza. Kemudian, Renza menyadarkan kepalanya diatas kepala Arinka. Mereka berdua menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang yang gemerlipan. Sesekali Renza mengusap pipi Arinka lembut memanjakannya.
Setelah beberapa menit kemudian, seseorang menyapa mereka. Renza dan Arinka segera mendongak menatap suara itu.
"Hay, Milka," sapa Arinka.
"Wah ... kebetulan sekali, ya. Aku pikir, aku salah orang."
"Tidak, kok." Arinka tersenyum manis.
"Kau teman Deni, 'kan?" ucap Renza.
"Iya, Pak."
"Kau bersama siapa, Milka?" tanya Arinka.
"Aku bersama seseorang, Kak. Dia sedang berbelanja."
"Bagaimana hubunganmu dengan Denista," tanya Renza tanpa basa-basi.
"Hemm ... Aku dan Deni itu biasa saja. Hanya aku pernah mengajaknya pacaran. Aku bahagia dia menerimanya, Tapi dia bilang seminggu kemudian, ia tak bisa. Dia menerimaku hanya terpaksa. Dia bilang ada seseorang yang dia sukai, yang mengisi hatinya. Yah, aku bisa apa."
"Ya ampun, yang sabar, ya, Milka. Deni itu baik, hanya saja sifatnya terlalu dingin. Aku lihat dia tidak bisa mengekpresikan diri jika bersama seorang wanita. Seperti itu, sih, menurutku."
"Yah, Deni itu kaku. Deni bilang kau itu cinta pertamanya. Tapi, jika dia bilang sudah menyukai seseorang, buat apa lagi mengejarnya. Berprinsiplah bahwa wanita itu mempunyai harga diri tinggi. Jika dia suka, nantinya dia akan mengejarnya kembali. Yang penting jangan merusak hubungan orang lain."
"Benarkah aku cinta pertama Deni? Terima kasih sarannya. Aku sudah tahu dari awal, bahwa Deni menyukai wanita lain, namanya Mawar. Aku melihat di ponselnya. Aku memeriksanya. Benar-benar bodoh." Milka berucap lirih.
"Menurut Deni, sih, begitu. Tapi sekarang dia menyukai wanita lain."
"Tidak apa-apa. Kau sudah benar. Jika sudah tahu bahwa dia menyukai orang lain, kau mundur. Kau benar-benar baik. Tidak mengganggu mereka."
"Iya, terima kasih, kak. Aku sadar diri, kok. Tapi ngomong-ngomong, Pak Renza itu type pria idamanku. Haha ...." Milka tertawa malu sambil menutup mulutnya.
"Wah, benarkah? Aku tersanjung." Renza tersenyum tipis. "Sayangnya, aku sudah menikah," katanya sambil tertawa.
"Kau menyukai lelaki seperti ini?" tunjuk Arinka kepada Renza yang sedang menatap bintang.
"Hmm, dari pertama bertemu, aku bilang pada Deni bahwa Pak Renza type pria idamanku. Deni bilang, Pak Renza itu hanya satu dan semua cintanya sudah ia berikan kepada Kak Arinka. Kak Arinka sangat beruntung."
"Bukan Arinka yang beruntung, tetapi aku yang beruntung. Aku bisa mendapatkan wanita sepertinya. Tanpa dirinya, aku tidak ada apa-apanya." Renza merangkul bahu Arinka dan tersenyum menatapnya.
"Wah, kalian benar-benar sangat romantis. Aku jadi iri."
"Jangan iri, percayalah bahwa kelak akan ada lelaki yang seperti idamanmu itu mendekatimu."
"Iya kak. Terima kasih sekali lagi. Aku tak bisa lama-lama. Aku permisi dulu. Semoga malam kalian menyenangkankan."
"Iya, jangan lupa bahagia," ucap Renza tertawa.
Setelah Milka menjauh, Arinka mencubit perut Renza pelan. Renza menjerit kecil.
"Kenapa?" tanya Renza meringis tapi tertawa.
"Kenapa bicara seperti itu, sih. Masa bilang jangan lupa bahagia sambil tertawa. Itu seperti orang mengejek. Dasar!"
__ADS_1
"Haha, untung saja istriku ini tidak peka dengan hal seperti itu. Aku heran saja, masa ada orang berbicara menyukai suaminya depan istrinya. Benar-benar konyol. Aku hampir saja memakinya tadi."
"Dia itu hanya mengatakan type idamannya seperti Pipom. Bukan bermaksud apa-apa. Dia jujur, kok."
"Istriku ini benar-benar lugu menilai orang. Sangat baik dan tidak bisa berburuk sangka. Aku ini hanya satu, benar kata Deni. Jika memang type idamannya seperti aku, tidak perlu di perjelas. Di telingaku terdengar seperti Dia ingin mendapatkanku. Jika nanti sebenarnya ia mengejarku bagaimana?" jelas Renza dengan nada penekanan.
"Jika kamu suka dikejar-kejar dia, yah, mau bagaimana lagi? Huh! Benar-benar menyebalkan." Arinka bangkit dan melangkah meninggalkan Renza yang sedang duduk. Renza dengan cepat menenteng kantong plastik belanjaannya tadi dan mengejar Arinka.
"Sayang!" panggil Renza sambil berlari dengan kantong plastik di tangannya. Ini pertama kalinya ia berlarian sambil mengejar wanita dan menenteng belanjaan. Sambil berlari ia tertawa kecil dengan tingkahnya.
Arinka melangkahkan kakinya cepat. Ia benar-benar kesal dengan ucapan Renza. Sambil berjalan, ia menggurutu sebal. Renza terus berlari kecil, ia sengaja tidak mengejar, nantinya Arinka akan marah padanya. Renza melihat kelakuan Arinka yang terlihat lucu baginya dari belakang dengan langkah kaki yang super cepat itu.
Ngambek saja terihat imut. Bagaimana jika bertingkah imut?
"Mimom ...." panggil Renza dengan nada. Namun, Arinka terus berjalan tanpa menoleh. Beberapa kali Renza memanggil Arinka, tapi Arinka acuh. Ia sengaja mengabaikan panggilan Renza.
"Sayang, Pipom hanya bercanda, kok. Mana bisa Pipom berpaling dari wanita secantik Mimom, sesempurna Mimom. Hati ini sudah full dengan nama Mimom. Sampai matipun Pipom akan selalu mencintai Mimom tanpa mengurangi sedikitpun sayang ini kepada Mimom."
Arinka berhenti melangkah sejenak. Ia malu mendengar ucapan Renza, karena beberapa orang menoleh kepada mereka. Sedangkan, Renza terus mengoceh kepada Arinka. Kemudian, Arinka berbalik arah dan menghampiri Renza.
"Sudah, diam. Jangan bicara lagi," ucap Arinka dengan nada ketus.
"Astaga, wanita kesayanganku ini masih marah, ya?" Renza tersenyum manis.
"Jangan menggodaku, aku sedang marah."
"Upppss, lucunya ... orang marah, kok bilang-bilang."
"Ya sudah, diam saja."
"Cup ... cup ... istriku sayang, pujaan hatiku seorang. Iyalah, mana bisa jadi pujaan hati orang lain." Renza bermonolog sendiri karena Arinka sudah melangkah mendahuluinya lagi.
"Cepat buka pintu mobil!" ucap Arinka masih ketus.
"Baik, Tuan puteriku. Pengawal siap membuka pintu."
"Pppfftt!" Arinka tertawa tertahan menutup mulutnya. Dengan cepat ia masuk ke dalam mobil, ketika Renza membukakan pintu.
"Dasar wanita! Ngambek tapi kok lucu." Renza tertawa sambil menutup pintu mobil. Kemudian, ia masuk dan melajukan mobil sportnya itu dengan kecepatan rendah.
Di dalam mobil, Arinka hanya menoleh ke luar jendela. Ia tak berbicara sama sekali. Renza terus tersenyum melirik dengan ekor matanya. Sesekali Arinka membuka kaca jendela dan menghirup angin malam. Rambutnya melambai-lambai terkena terpaan angin.
"Sayaaang ..." panggil Renza. "Jangan begini, maaf. Tadi pipom hanya bercanda," katanya.
Arinka melirik sekilas dan tersenyum kecut.
"Jangan seperti ini, Pipom sangat tidak bisa di abaikan oleh Mimom."
"Benarkah?" Tanya Arinka tegas.
"Marahi saja Pipom, tapi jangan diam begini. Tadi kan Pipom hanya bercanda saja. Jika Mimom tidak memaafkan, biar saja kita berputar-putar seperti ini saja dulu. Ikuti jalan sepanjang ini biar perasaan Mimom lega. Nanti jika sampai di rumah. Mimom janji tidak boleh marah lagi."
"Yah, aku sedang berusaha dulu. Jika kesal tidak bisa secepat itu dong redanya."
"Iya. Pipom tunggu. Kita jalan-jalan saja dulu."
Arinka masih fokus memandangi lampu jalan dari dalam mobil. Renza menyetir dengan santai. Bibirnya terus tersenyum menatap istrinya yang baginya sangat menggemaskan.
"Eh? Bukannya itu mobil Deni," ucap Renza seraya memperlambat laju mobilnya. "Sedang apa dia di daerah ini?"
"Biarkan saja. Deni juga punya kehidupan pribadi, 'kan?"
"Iya, memang, sih."
"Itu bukannya Deni. Ia sedang duduk bersama seorang wanita."
"Iya, apa mungkin itu Risa?" tanya Renza. Arinka hanya mengendikkan bahunya acuh.
"Aku akan parkir, aku ingin melihat mereka sedang berbincang. Apakah Deni begitu kaku. Membayangkannya saja sudah membuat perutku geli ingin tertawa."
"Jangan, ini di luar jam kerja. Kenapa kau harus mengganggunya?"
"Penasaran saja, sih."
"Aku juga sebenarnya," jawab Arinka terkekeh.
"Haha ... sama-sama penasaran. Sebaiknya kita turun. Biar rasa penasaran ini hilang nantinya."
Arinka tertawa geli. Kelakuan mereka benar-benar di luar batas. Seperti bermain detektif-detektif saja. Rasa kesalnya kepada Renza mendadak hilang saat keduanya mempunyai ide konyol mengintai Deni.
Sebelum turun, Renza memegang tangan Arinka dan meminta maaf. Lalu, Renza mengecup bibir Arinka lembut dan berkata, "Jangan ada keraguan diatara kita, percayalah bahwa hati ini milikmu seorang."
Arinka tersenyum dan mencium hidung Renza cepat. "Jangan berbicara seperti itu lagi, ya. Janji pokoknya."
"Yes, I promise.
Setelah itu, Renza dan Arinka turun dari mobil memaikai topi dan masker. Mobilnya mereka parkir agak jauh dari kedai kopi itu.
"Bagaimana cara kita menguping? Kita pasti ketahuan," kata Arinka.
"Kita pura-pura saja beli kopi. Nantinya jika mereka menyadari itu kita, kita bilang, kita sedang jalan-jalan dan tidak sengaja bertemu gitu. Kenyataannya memang begitu, sih."
"Iya, yah." Arinka terkekeh.
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan masuk ke ke kedai kopi itu. Mereka memesan dua cappucino latte.
"Apaa?! Deni menyatakan cinta." Arinka ternganga.
"What it this?" Renza tertawa konyol.
***Bersambung...
Jangan lupa tekan like dan vote ya..
Jaga kesehatan kalian ya Readers. Jangan lupa juga selalu jaga kebersihan. Kita sama-sama berdoa semoga wabah ini cepat berakhir. Amiin ...
Salam sayang dari Author buat Readers setia semua.
Yang belum gabung di grup chat. Silahkan gabung. Disana bebas bertanya 24 jam dengan Author.
__ADS_1
Sebisa mungkin Author akan menjawabnya. Terima kasih ... 😊
I love u all 😘❤***