
Deni sudah mematikan mesin mobilnya saat Arinka berkata tidak ingin keluar dari mobil. Dari dalam mobil, Arinka menyapukan pandangan kesana kemari, sedangkan tangannya masih berusaha melepas sabuk pengaman. Deni bertanya kenapa Arinka tidak ingin keluar, Arinka hanya menjawab ia enggan berada ditempat kerja Renza, ia takut membuat malu Renza dengan penampilannya seperti itu, sangat kampungan. Mata Arinka terus bergerak mengabsen setiap hal yang begitu asing baginya.
Pria itu berlari membukakan pintu mobil, tapi Arinka masih enggan keluar. Pria itu kemudian menenangkannya dengan berkata semuanya akan baik-baik saja. Arinka menurunkan kakinya dari mobil dengan langkah gontai. lalu pria itu menutup pintu mobil lumayan keras.
"Tidak apa-apa Nyonya, aku berada dibelakangmu." Terlihat Deni sedang mengotak-atik ponselnya sambil berjalan, yah pria itu orang yang sibuk. mereka berjalan memasuki gedung kantor yang mewah itu, ini kali kedua Arinka masuk ke gedung ini, pertama kali saat pengangkatan Renza menjadi Ceo. tapi saat itu Arinka tidak memperhatikan sekitar dan mencemaskan apapun karena ia pergi bersama Nenek Murti.
Setiap orang yang bertemu mereka dikantor itu memberikan hormat dengan cara tersenyum dan menundukan kepalanya. Deni memang orang kedua berpengaruh setelah Renza, dia bertugas menghadle semua kekacauan. Mereka berhenti didepan lift dan menunggu sebentar. beberapa karyawan heran dengan wanita itu, wanita yang dibawa oleh Deni, mereka tidak mengenal Arinka dengan wajah polos dan penampilan seperti ini, dulu pertama kekantor ini Arinka memakai pakaian mahal dan riasan tebal.
"Beri salam dan tundukan pandanganmu," ucap Deni setelah beberapa staff pegawai keluar dari lift.
"Beliau adalah Ny.Renzaldi," ucap Deni tegas. Arinka hanya tersenyum kaku menghadapi menanggapinya, lalu para karyawan mulai menundukan pandangannya.
Mereka masuk kedalam lift, Deni mempersilahkan Arinka masuk duluan. kemudian, ia mengikuti dibelakang.
tibalah mereka didepan ruang Ceo, raut gugup begitu terlihat di wajah Arinka. langkah kakinya terhenti didepan pintu itu, ia terlihat bertele-tele. Deni memegang handle pintu itu dan membukanya pelan sambil mengetok. Terdengar dari ruangan itu kata 'masuk' yang dijawab oleh seorang wanita, wanita itu adalah Sisil. salah satu orang kepercayaan Nek Murti.
Sementara seorang pria terlihat masih duduk di kursi kebesarannya sambil membolak-balikan tumpukan berkas dimejanya, pria itu belum menatap sama sekali hingga Deni segera menyapanya, dan pandangan seketika beralih kearah wanita yang terlihat biasa saja itu, ia lalu tersenyum tipis.
"Kau, Kenapa kesini?" ucap Renza terlihat mengernyitkan keningnya.
"Aku yang membawa Nyonya, aku tidak mengantarnya pulang. tidak apa-apa, kan."
"Hemm, kenapa kau tidak duduk, apa kau ingin berdiri disini seharian?" tertawa licik
Mulai lagi sifat kekanakannya itu. gumam Deni.
Arinka berjalan menuju sofa besar yang empuk itu, sambil memutar bola mata, ia melihat seisi ruangan yang begitu mewah ini, ruangan Ceo yang pertama kali ia kunjungi ini layaknya sebuah kamar hotel vvip.
"Deni, segera urus beberapa sewa gedung yang tertunggak, aku sudah melihat berkasnya, sepertinya orang-orang ini sengaja menunda-nunda, bilang saja jika tidak ingin membayar segera angkat kaki dari gedung itu." memberikan titah tegas.
"Baik, Pak. akan segera aku urus." jawab Deni dan segera ia pergi meninggalkan ruangan itu, terlihat Sisil sudah akan keluar membawa beberapa berkas ditangannya.
"Nyonya, saya akan bawakan minuman. anda ingin minum apa?" tanya sisil sopan.
"Apa aja." jawab Arinka tersenyum manis. tinggal mereka berdua didalam ruangan yang begitu besar ini, mereka hening tanpa bicara, yang ada hanya kecanggungan. Arinka berpikir ingin memulai percakapan, tapi seketika otaknya kosong, tak lama terdengar percakapan dari kursi kebesaran itu, Renza memulai percakapan.
"Apa kau benar-benar telah berhenti?" masih di posisi duduk dikursi kebesarannya, lalu Pria itu tampak berjalan mendekat. pria itu tampak sangat tampan dan berkharisma dengan setelan jas hitamnya. Arinka meremas tangannya karena sedikit gugup, padahal mereka setiap hari bertemu dirumah tetapi dikantor mereka sedikit canggung.
"iya." jawabnya singkat sambil menganggukan kepala keras. Pria itu telah duduk didepannya dengan menyilangkan kaki kanannya keatas.
Seperti seseorang yang berbeda, astaga pesonanya itu. Apa-apaan Arinka, pikiranmu ini sangat aneh.
"Bagus lah, jika kau bosan, kau bisa berangkat bekerja setiap hari denganku dikantor ini."
__ADS_1
"Aa-apa? ini kan tempat kerja, bukan tempat untuk mengusir bosan." jawab Arinka terbata-bata. Renza kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berpindah duduk disebelah Arinka, wanita itu sangat gugup dan mencengkram sofa dengan erat. kecanggungan itu benar-benar mendera Arinka.
"Tidak apa, memangnya kau ingin pergi kemana untuk mengusir bosan?" nada bicaranya sedikit menggoda.
"Tidak ada, dirumah saja tidak apa kok." Menyunggingkan senyum tanpa mengangkatkan kepala, tatapannya masih menunduk.
"Kau ini, kenapa bicara tidak melihatku? memangnya aku ada dibawah situ ya?" mendengus kesal.
Emosinya ini masih saja tak bisa dikontrol.
"Maaf Tuan." beralih pandang kearah Renza dan tersenyum kaku.
"Jangan menatapku seperti itu juga." meremas jari salah tingkah dan mengalihkan pandangan.
Sial, tatapan itu mengapa begitu menggemaskan sih.
"Dasar aneh, tadi bilang harus menatap sekarang malah jangan menatap." menggerutu kecil dengan pelan.
Sisil datang membawakan minuman dan camilan, ia tersenyum melihat pasangan itu duduk berduaan, kemudian setelah meletakkan makanan dan camilan itu ia berdiri dan menanyakan Pria itu akan makan siang dimana, apa harus makan direstauran disebrang jalan tempat langganannya atau pergi ke restauran lain. Sisil melongok menatap pria itu kata-katanya seperti baru pertama kali ia dengar dalam sejarah selama ia bekerja, pria itu ingin makan dikantin bersama istrinya. benar-benar suatu hal yang tidak biasa. Sisil segera meninggalkan ruangan itu dan bergegas kekantin memeriksa staff kantin, dan memeriksa kebersihan serta menu apa yang disajikan hari ini.
"Nanti makan siang, kita makan dikantin ya?" ucap Renza seperti malu-malu kucing dan menatap seperti curi-curi pandang.
Kenapa wajahnya seperti itu, seperti bukan Tuan Renza saja, benar-benar menggelikan.
"Iya, terserah Tuan saja. padahal aku pulang juga tidak apa-apa?" tersenyum tipis, Renza mengambil minuman dimeja dan menyeruputnya, "Sial, panas!" kembali meletakkan dengan cepat dimeja.
"Aku pikir sudah dingin, Ah lidahku." meringis kesakitan. Arinka mendekat dan mengipas tangannya kearah wajah Renza, wajahnya berubah panik karena Renza masih meringis.
"Apa masih sakit Tuan, bagaimana ini?" ucap Arinka gelagapan tapi tak tau harus berbuat apa.
"Bagaimana kalau kita kerumah sakit saja." ucap Renza bereaksi berlebihan. seketika Arinka tertawa terbahak-bahak, ia merasa lucu dengan kelakuan pria itu.
"Bagaimana jika dirumah sakit kena suntik?" ucap Arinka masih dengan tertawanya.
"Kau mengolokku, yah. sini biar ku getok keningmu itu." mereka tertawa bersama, hilang sudah kecanggungan diantara mereka berdua, mereka bisa lebih akrab dan akur satu sama lain.
Ia sangat lucu, kenapa aku baru sadar sekarang. batin Renza.
Mereka duduk kembali, napasnya sedikit terengah karena tertawa terlalu sering.
Tok.. tok..
Terdengar suara pintu diketuk, ternyata Sisil datang untuk memberi tau bahwa sudah waktunya makan siang, Sisil akan mengantarkan pasangan suami-istri itu untuk makan dikantin. Renza dan Arinka bergegas bangkit mengikuti. Arinka sedikit melirik Renza yang membenarkan jasnya, kemudian mereka berjalan masuk ke lift menuju kantin di bawah.
__ADS_1
Beberapa karyawan kantor langsung heboh melihat Atasannya bersama wanita yang tidak lain adalah istrinya, mereka yang melihat menundukan kepala tanda sopan. Beberapa karyawan lainnya lumayan terkejut karena selama ini Atasannya tidak pernah mampir kekantin.
Seulas senyuman penuh arti tercetak dibibir Arinka ketika ia sengaja melirik pria yang duduk didepannya itu.
Hari ini seperti hari yang berbeda, entah mengapa aku merasa bahagia begini. gumam Arinka dalam hati.
Beberapa pasang mata menatap takjub pasangan itu, ada juga yang berbisik-bisik melihat penampilan wanita itu, selebihnya tidak menghiraukan hanya sibuk makan saja.
Sisil membawakan daftar menu dikantin itu, Renza terlihat bingung ingin memesan apa, tetapi Arinka tersenyum sumringah melihat tulisan batagor, ia sudah lama sekali tidak makan batagor, padahal waktu dikampung hampir setiap hari ia memakannya, ia rindu makanan itu dengan segera ia menunjuk batagor dimenu itu. Renza yang melihat tulisan itu sedikit berpikir, yah Renza tidak pernah memakan makanan begitu, ia hanya makan masakan rumahan, daging, dan menu sehat lainnya.
"Kau memesan apa? aku belum pernah memakannya, jangan makan makanan yang tidak sehat. aku tidak suka!"
"Tapi dulu aku sering makan ini Tuan, aku merindukan makanan ini sekarang." berbicara memohon, tapi bagi Renza seperti memelas manja. Renza tersenyum malu. tapi Sisil mengerutkan keningnya, seperti mendengar hal yang aneh.
Gemes banget sih. batin Renza. ia melihat Sisil mengerutkan kening tadi, pasti kata Tuan yang membuatnya mengerutkan kening pikirnya.
"Oke, kali ini kau aku izinkan." kemudian ia berdiri mendekatkan diri dan berbisik, Arinka menjadi salah tingkah dan tersipu malu.
"Jika dikantor kau jangan memanggil Tuan, tapi panggil sayang atau suamiku, aku juga akan memanggilmu sayang."
Uhuuk! Uhuuk!
Arinka tersedak. Menyadari ucapan Renza yang begitu konyol baginya, mata nya melotot sempurna. Renza kemudian mengedipkan matanya genit.
ASTAGA! Mana mungkin aku memanggilnya begitu, kenapa dengannya? aku sedikit aneh jika ia seperti ini. ihh merinding.
"Ada lagi yang ingin kau makan, sayang?" tanya Renza lembut, seakan ucapannya sangat tulus terdengar ditelinga Arinka, namun Arinka terdiam dan tidak menjawab.
Aku tidak terbiasa mendengar ucapan begini, entah kenapa aku lebih senang dia meneriakiku, seakan aku akan mendapat perlakuan yang lebih buruk setelah ini. menggeleng-gelengkan kepala keras.
"Kenapa, sayang?" tanya Renza lagi. Arinka bangkit dan mendekatkan diri seperti yang dilakukan Renza tadi, yah ia ingin berbisik.
"Tuan, apakah setelah ini kau akan membunuhku, setelah berbicara manis dan memberiku makan enak?"
**Bersambung...
Jika up nya lama maaf ya, editornya sibuk.
aku usahakan up setiap hari, jadi jika ada yang bilang aku lelet, maaf tapi naskah masih proses review.
yang belum vote silahkan vote, dan jangan lupa beri like setelah membaca ya 😍
salam sayang dariku buat Readers semua ❤
__ADS_1
Luv u 😘**