
Risa sangat kesal. Tanpa sadar ia berteriak dengan nyaring yang menggema ke seleluruh kamar. Dia benar-benar ingin marah. Di ambilnya chargeran ponsel miliknya itu dengan kasar, kemudian ia colokkan.
Tak lama, ponsel itu menyala. Risa melihat bagian pojok kanan layar atas ponselnya. Alhasil, baterai itu memang kosong. Lalu, ia menggerutu kesal kepada dirinya sendiri.
Kenapa tadi tidak memperhatikan baterai, sih. Ahh ... aku penasaran apa yang akan diucapkannya tadi. Apa aku telepon lagi, ya.
Deni terdiam ketika panggilan itu tiba-tiba terputus. Pikirannya berkecamuk. Ia berpikir akan menelepon lagi apa tidak. Deni mencoba menelepon sekali lagi. Tapi sayang, panggilan itu tidak terjawab.
Ya sudahlah, aku makan dulu. Mungkin dia sedang sibuk juga.
Deni beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah menuju luar. Ia sudah sampai dan meraih handle pintu itu, tapi langkahnya terhenti. Ia menoleh melihat ponselnya yang ia tinggalkan.
Aku tinggal saja, mungkin ia tidak akan menelepon lagi.
Deni keluar dari kamarnya. Ia melangkah menuju meja makan. Ema sedang bersantai duduk di sofa sambil nonton televisi.
"Sudah makan malam,?" tanya Deni sembari menarik kursi.
"Belum, Ibu menunggumu."
"Ayo makan."
Ema melangkah pelan menuju kursi makan. Ia menarik kursi itu dan duduk. Semuanya sudah tersedia di meja, hanya tinggal makan saja.
"Ibu boleh tanya?" ucap Ema sambil mengisi nasi di atas piring Deni.
"Tanya saja," jawab Deni datar.
"Siapa wanita tadi?"
"Teman, Bu."
"Teman? Kau menelepon selama itu tadi."
"Iya, dia teman, kok."
"Dina pernah bilang kalau yang namanya Risa itu, calon pacar kamu, benarkah?" Ema tertawa menutup mulutnya.
"Issh, Dasar si bawel Dina. Kerjanya kepo terus."
"Iya apa tidak?" jawab Ema senyum.
"Iya, wanita itu calon pacar dan akan satu-satunya wanita milikku."
"Iiiihhh ... ibu merinding mendengar ucapan ini. Dasar belum pernah pacaran. Eh, sekalinya suka sama wanita sampai seperti itu." Ema terkekeh.
"Haha ... aku kan tidak ingin gonta-ganti pacar. Aku ingin ia menjadi yang pertama dan terakhir bagiku."
"Yah, ini sudah benar. Kau menyukainya karena dia cantik, 'kan? Ibu saja tidak percaya wanita secantik itu mau dengan anak Ibu yang biasa saja."
"Siapa bilang aku biasa saja. Aku ini luar biasa, Bu." Deni berbicara dengan mulut penuh makanan.
"Dia menyukaimu?"
"Jika tidak, mana mungkin dia akan menelpon."
"Ya ampun, kau terlalu percaya diri."
"Bukan begitu, Bu. Aku sudah bilang suka padanya. Tapi baru bilang suka, nanti aku akan menyatakan cinta."
"Anak ini di rumah polosnya bukan main. Jika sudah memakai setelan kerja langsung berubah sifatnya." Ema tertawa lucu.
"Ya kan, itu kerjaan harus di urus serius."
"Ya sudah, Ibu dukung saja. Keluarganya bagaimana?"
"Keluarganya baik. Papa dan abangnya tentara."
"Kau sudah pernah ke rumahnya? Wah ... tidak disangka kau bisa seperti ini. Ibu salut, haha."
"Hanya kebetulan waktu itu. Sebenarnya dulu aku tidak menyukainya, Bu. Dia pecicilan dan sering adu mulut jika bertemu denganku. Pokoknya, dia itu menyebalkan sekali. Setiap bertemu dia, mood ku langsung berubah drastis."
"Nah, 'kan? Benci dan cinta itu tipis, jangan terlalu membenci seseorang, jika nantinya kau tidak ingin menyukainya."
"Hmm ... aku sebenarnya tidak percaya, Bu. Ternyata memang kenyataannya benci dan cinta itu tipis. Tiba-tiba saja aku mulai memikirkannya."
"Iya, memang benar. Bagaimana ayahnya? Kau pernah bertemu? Jika tentara pasti sangat tegas."
"Iya, beliau sangat tegas. Aku pernah bertemu saat bertugas di kantor."
"Kau tidak takut?"
"Tidak. Kenapa aku harus takut. Aku tidak berbuat yang tidak senonoh pada anaknya." Deni terus masukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Maksud ibu, kau tidak segan? Beliau itu kan tentara."
"Segan lah, Bu. Aku kan menyukai anaknya, Bu."
"Kamu harus sopan, Den. Biar nantinya lebih gampang pedekate."
"Ahh, Ibu. Aku sangat sayang pada Ibu."
"Ibu jauh lebih sayang kepadamu. Kamu itu anak ibu satu-satunya. Semoga Deni selalu bahagia."
"Amiin, Bu."
Mereka melanjutkan makan dengan khidmat. Sesekali mereka bercanda. Begitulah harmonisnya hidup anak dan ibunya itu.
Deni masuk ke kamarnya untuk mengambil ponselnya. Ia akan duduk di luar rumah untuk mencari udara segar. Jam menunjukkan pukul 8. Deni berjalan sekitar rumahnya untuk mengirup angin malam yang menyejukkan.
Deni memeriksa ponselnya. Alangkah terkejutnya, ia melihat ada panggilan tak terjawab dari Alien.
Alien menelpon lagi. Apa aku harus menelepon balik. Ah, telepon saja.
Deni menelepon nomor Risa. Tapi panggilan itu hanyalah panggilan biasa, bukan video call. Risa menjawab panggilan itu dengan pelan.
"Hmmm, Halo ...," ucap Risa.
"Halo, ada apa menelepon lagi?" tanya Deni.
"Aku tidak sengaja," jawab Risa pelan karena merasa malu.
"Kenapa tadi mati secara tiba-tiba?"
"Baterainya habis." Risa terkekeh.
"Owh, kau sedang apa sekarang?"
"Aku kebetulan lagi jalan-jalan di sekitar rumah. Nyari udara segar."
"Sudah selesai mengecas?"
"Aku pakai powerbank. Kamu lagi di mana?"
"Aku juga kebetulan lagi jalan-jalan. Nyari angin segar."
"Ketemu, yuk." Risa berucap sembarang.
Ups, bibir ini asal bicara saja. Mati lah aku malunya.
"Boleh. Sekarang?"
__ADS_1
"Ahaha ... aku hanya bercanda," ucap Risa tertawa malu.
"Aku serius," jawab Deni.
"Haha, kamu beneran serius?"
"Iya, aku jarang becanda. Mau ku jemput?"
Ahh, dia benaran serius. Astaga.
"Aku naik mobil saja. Mau bertemu di mana?"
"Bagaimana jika di kedai kopi di dekat mini market rumahmu?" tanya Deni.
"Itu dekat dari rumahku. Aku bisa jalan kaki. Sebentar lagi juga aku sampai."
"Ya sudah, aku berganti pakaian dulu, ya?"
"Hemm, jadi aku matikan dulu ya panggilan ini."
"Tidak, biarkan saja. Biar kita tidak saling menelepon lagi. Kan ribet."
Alasan apa sih yang aku katakan, tinggal bilang tidak mau. Kenapa harus di persulit sih alasannya.
"Oke, aku tunggu di kedai kopi nanti," ucap Risa.
"Mmm ...."
Deni dengan cepat melangkah memasuki rumahnya. Ia bergegas masuk ke dalam kamar. Di letakkannya ponsel itu di atas nakas dan segera menganti pakaian.
Deni mengambil celana jeans pendek selutut dan menggunakan hoodie berwarna kuning tua, tak lupa memakai sepatu vans. Setelah bersisir dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Ia mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas dan memasukkannya ke dalam kantong hoodie.
Diambilnya kunci mobil dan dompet di atas nakas tadi, lalj ia pergi keluar kamar.
"Bu, aku keluar sebentar." Deni berlalu dengan cepat meninggalkan Ema yang sedang asyik menonton sinetron. Ema mengernyit dan mengiyakan.
"Urusan kantor, kah? Tapi pakaiannya santai," Ema bermonolog sendiri.
Deni bergegas keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Tak butuh lama, mobil itu sudah melaju dengan kecepatan tinggi.
Risa berbalik arah. Ia segera kembali ke rumahnya. Risa masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian. Ia menggunakan celana jeans cutbray dengan crop top serut garis pelangi. Risa memoles wajahnya dengan cushion biar terlihat segar dan tidak lupa menambahkan liptint orange di tengah bibirnya agar terkesan manis.
"Selesai. Ini baru cocok buat ketemuan. Masa iya aku ketemuan pakai celana pendek dan terlihat berantakan? Tak bisa dong." Risa bermonolog di depan cermin dan tersenyum manis. Tak lupa sebelum keluar, ia menyemprotkan parfum.
Agar terkesan natural dengan pakaiannya. Risa menggunakan sandal jepit biasa dan membawa earphone. Dia ingin terlihat seperti sedang jalan-jalan sambil mendengarkan lagu. Rambutnya ia ikat tinggi seperti ekor kuda.
"Selesai," ucapnya. Risa bergegas keluar kamar.
"Risa!" panggil seorang perempuan dari arah dapur. Risa menoleh dan tersenyum.
"Mau ke mana?" tanya Mira sambil melirik pakaian Risa dari bawah ke atas. "Mau pergi?" katanya.
"Hmm ... mau ke kedai kopi di sebelah mini market, Ma."
"Ke kedai kopi? Kenapa kau berdandan secantik ini. Biasanya kau hanya menggunakan celana training saja, 'kan? Hmm ... mau bertemu siapa kamu?" tanya Mira mengintrogasi.
"Aku hanya ingin berjalan-jalan saja, kok. Tidak bertemu siapapun."
"Jangan bohong. Aku ini Mamamu, mana bisa kau bohongi dengan mudah."
"Aku bertemu temanku sebentar, Ma." Risa melirik jam dinding sudah pukul 08.12.
"Wanita apa lelaki?" Mira bertanys bertubi-tubi.
"Wanita. Dia teman sekolahku dulu. Aku malu dong jika mereka melihatku dengan pakaian jelek." Risa mengelak dan berbohong.
"Ya sudah. Jangan malam-malam."
Risa bergegas meninggalkan Mira dalam keadaan melongo. Belum juga ia selesai bertanya, Risa sudah pergi duluan.
Risa keluar menggunakan sepeda. Di telinganya ia menggunakan earphone. Sambil bernyanyi dan menghirup udara malam, ia mengayuh sepeda pelan. Kepalanya megikuti irama musik ke kiri dan ke kanan.
Sesampainya di kedai kopi, Risa menaruh sepedanya di tepi kedai tersebut. Ia mengambil keranjang masuk membawa ponsel yang sedang di carger dengan powerbank dan earphone.
"Astaga, ribet amat, sih. Kenapa harus membawa barang sebanyak ini, sih, tadi." Lagi-lagi ia bermonoton sendiri.
Risa melirik kursi yang dekat dengan jendela. Ia berjalan ke arah kursi itu. Risa menarik kursi dan segera duduk. Tangannya meletakkan barang-barang yang di pegangnya di atas meja. Ia duduk menoleh ke arah jendela kaca besar itu sambil mendengarkan alunan musik di dalam kedai itu.
Tak lama, seseorang turun dari mobil dengan hoodie kuning bercelana pendek jeans. Risa menatapnya berjalan sambil menopang dagunya. "Wah, benar-benar keren!" Risa bergumam sendiri.
Deni menatap Risa dari luar dan mengangkat tangannya. Risa semakin tersihir dengan pesonanya. Langkah kaki itu semakin mendekat kearah meja. Jantung Risa berdetak dengan kencang melihat lelaki itu.
"Sudah lama?" sapa Deni sambil menarik kursi di hadapannya.
"Tidak juga," ucap Risa tersenyum manis.
Astaga, kenapa Risa secantik ini, sih. Ah, jantungku berdetak lebih cepat. Untung ia tidak bisa mendengarnya.
"Sudah pesan?" tanya Deni menatap lekat.
"Be-belum," jawab Risa gugup.
"Kau mau pesan apa?"
"Caramel macchiato."
"Oke, aku pesan dulu sebentar."
"Hemm ...."
Deni bangkit dari kursi dan menuju tempat memesan. Barista wanita itu tersenyum menatapnya.
"Silahkan sebutkan pesanan anda?"
"Satu cup Caramel macciato dan coffee latte."
"Baik, tunggu sebentar."
Deni memainkan ponselnya. Sambil berdiri di dekat kasir, ia membuka kamera dan memotret Risa sedang tersenyum menatap ponselnya. Barista itu berbicara karena pesanannya sudah selesai. "Ehem, Pak. Pesanan anda sudah selesai." Namun, Deni acuh.
Barista itu mendongak melihat apa yang sedang dilakukan lelaki itu. Barista itu tersenyum dan melihat siapa yang sedang ia potret.
"Pak, Pak!" Barista itu memanggilnya.
"Eh, ya ... maaf. Berapa?"
Barista itu menujukkan jumlah nominal pembayaran. Deni segera mengambil dompet dari saku celana dan membayarnya.
"Bukannya itu Risa? " tanya Barista itu tersenyum.
"Iya, kau mengenalnya?" jawab Deni.
"Jelas saja, dia warga di sini. Dia juga sering datang ke sini untuk sekedar mengopi."
"Iya, aku lupa." Deni tersenyum dan berlalu membawa pesanan itu kepada Risa.
"Terima kasih," ucap Risa.
"Sama-sama."
Risa mengeluarkan dompet dan membukanya.
__ADS_1
"Kau mau apa?" ucap Deni.
"Aku mau bayar kopi ini."
"Astaga, hanya kopi saja kenapa harus di bayar, sih.
"Jadi ini tidak apa-apa, gratis?"
"Iya, lain kali kau yang bayar jika kita ke sini lagi," ucap Deni tertawa.
"Baiklah."
"Itu, barista yang di sana itu mengenalmu. Kau sering, ya, datang ke sini."
"Ini dekat rumahku, wajar saja aku sering ke sini."
"Iya, sih. Pertanyaan bodoh macam apa ini." Deni tertawa menggaruk lehernya, padahal tidak gatal sama sekali.
Seketika mereka berdua diam, suasana menjadi hening. Yang ada mereka saling menundukkan pandangan sambil sesekali menyeruput kopi di depannya.
"Aku mau bertanya?" ucapan itu serentak keluar dari mulut mereka berdua. Alhasil, itu membuat mereka berdua tertawa cekikikan.
"Kau duluan yang bertanya." Deni berucap lembut.
"Kau saja," jawab Risa.
"Di mana-mana, Ladies first," ungkap Deni.
"Iya, aku akan bertanya? Kita sudah bertemu malam ini, apa besok kita akan bertemu lagi?" Tanya Risa.
"Setiap hari juga boleh bertemu, jika aku tidak sibuk, aku akan menemuimu."
"Wah, Dinosaurus sudah pandai menggombal, ya, sekarang?"
"Gombal, itu termasuk gombalan?"
"Iya dong."
"Apa ini termasuk gombalan? Kau terlihat cantik malam ini, aku suka."
Seketika wajah Risa merah padam mendengar ucapan Deni yang memujinya itu. Risa terdiam. Namun, hatinya tergelitik mendengarnya.
"Apakah itu gombalan juga?" tanya Deni.
"Iya, itu gombal," jawab Risa ketus. Risa berusaha menyembunyikan wajah bahagianya di setelah di puji oleh Deni dengan menjawab ketus.
"Padahal aku serius." Deni mengatakannya tanpa canggung sama sekali. Wanita di depannya hampir berteriak kegirangan.
"Kau juga terlihat tampan dengan pakaian seperti itu." Risa tersenyum.
"Benarkah? Haha ...." Deni menyeruput kopi itu menghilangkan kecanggungannya.
"Apa kau salah tingkah aku puji?"
"Salah tingkah? Apa aku terlihat begitu?"
"Iya, jelas kentara sekali."
"Aku malu di puji seperti itu. Jujur, ini pertama kalinya, aku mendengarkan pujian dari perempuan."
"Wah, kau membuatku tersipu malu." Wajah Risa kembali memerah seperti sebuah tomat. "Mana ada sih perempuan yang berani mengatakannya secara langsung. Kau itu terlihat menyeramkan." Risa tertawa.
"Menyeramkan? Wah, itu terlalu kejam."
"Ya, aku dengar kau itu cool killer di perusahan."
"Aku saja tidak pernah mendengarnya. Siapa yang berkata begitu? Akan aku cari orangnya."
"Astaga! Kenapa harus dicari. Ya ampun, lelaki ini benar-benar tidak bisa bercanda."
"Yah, dia itu mencemarkan nama baikku.".
"Itu kan hanya julukkan, biarkan saja."
Deni menatap lekat kepada Risa. Risa bergidik ngeri mendapat tatapan seperti itu. Ia segera memalingkan wajahnya melihat keluar jendela.
"Apa kau takut kepadaku? Apa aku semenyeramkan itu?" tanya Deni.
"Hemm, sedikit menyeramkan, sih. Aku benar-benar takut melihat tatapanmu." Risa bicara tanpa menoleh kehadapan Deni.
"Tapi aku akan berusaha menatapmu dengan lembut. Beri aku waktu. Aku hanya lelaki payah yang ingin membahagiakan wanita yang aku sukai."
Deg ... Deg ...
Jantung Risa berpacu kencang, seolah ada hantaman yang menerpa jantung itu. Ia benar-benar salah tingkah oleh ucapan Deni. Bibirnya tersenyum tapi tertahan. Hati wanita itu benar-benar sangat bahagia sekarang.
"Kau membuatku lemah."
"Lemah? Kenapa?"
"Aku sepertinya tidak bisa berdiri gara-gara ucapanmu itu." Risa tersenyum dan bercanda untuk melunakkan suasana yang mamanasi hatinya.
"Jika tidak bisa berdiri tak apa, aku akan menggendongmu nanti. Eaaaa ...." Deni terbawa terbahak mendengar ucapannya sendiri. Risa pun tak kalahnya tertawa dengan terbahak.
"Kau ini serius apa tidak, sih? Ngomong-ngomong, candaanmu itu kaku, tapi lumayan lah untuk membuat suasana cair."
"Semua yang aku ucapkan serius. Walau pengucapannya kaku, aku benar-benar tidak bermain-main. Aku memang menyukaimu Risa, maukah kau jadi pacarku?" ucap Deni. Lalu ia keluar setengah berlari membuka pintu mobil dan mengambil sesuatu.
Glek...
Risa menelan saliva dengan payah. Ia seperti tak percaya dengan ucapan Deni.
Apakah Deni serius. Aku benar-benar sudah berhalusinasi sepertinya. Eh, tidak. Aku mendengarnya secara nyata. Dia memang menyatakan cinta. Aku bahagia malam ini, huahh!
Deni duduk kembali dengan tangan satunya kebelakang. Risa melongo dengan tatapan Deni.
"Maaf tidak seromantis lelaki kebanyakan. Apakah kau mau menjadi pacarku?" Deni mengeluarkan sebuket bunga dari belakangnya dan memberikannya kepada Risa dengan senyuman yang paling manis.
"Hemm ... aku mau menjadi pacarmu," ucap Risa tanpa malu-malu.
Deni terseyum lebar karena pernyataan cintanya itu di terima. Begitupula dengan Risa, ia sangat gembira karena cintanya itu akhirnya bisa terbalaskan. Saat itu, tidak ada pelukan dan ciuman, yang ada hanya dua insan yang saling bahagia saling menatap dengan penuh cinta satu sama lain.
Epilog
Dalam perjalanan, Deni terus berpikir. Apa yang akan ia lakukan nanti. Rasa di dalam hatinya sungguh bergejolak. Deni telah bertekad bahwa ia akan menembak Risa. Ia tak bisa lagi menundanya.
Deni takut jika ditunda perasaan itu akan meledak tak terkontrol nantinya. Tekadnya sudah bulat. Ia memberhentikan mobilnya di depan toko bunga. Kemudian, ia masuk. Pelayan wanita di dalam toko itu sangat ramah. Deni bertanya jika ingim menyatakan cinta, ia sebaiknya membeli bunga apa? Pelayan wanita itu menyarankan memberikan sebuket bunga mawar merah.
Deni dengan senang hati mendengarkan saran itu.
Setelah menunggu beberapa menit. Buket bunga cantik itu jadi. Di dalamnya berisi kertas kecil dari tangan Deni sendiri. Dengan cepat, ia membayar dan pergi dari toko bunga itu.
"Semoga ini moment yang tepat."
***Bersambung ...
Hey Readers tersayang, jangan lupa vote dan like ya 😁
Jangan lupa jaga kesehatan ya dan sering-sering cuci tangan. Semoga kita semua terhindar dari virus. Amiin.
Salam sayang dariku buat Readers semua. 💋
__ADS_1
I love u 😘😘***