Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 22 : Sebuket bunga


__ADS_3

Setelah kejadian hari itu, Renza tidak berbicara kepada Arinka. seakan itu adalah pukulan keras yang membuat hatinya terpuruk. kesalahan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. membiarkan orang lain tersakiti akibat pemikiran sepihaknya, perbuatan, dan kata-katanya.


Seperti biasa sarapan sudah tersedia dimeja, Renza sarapan begitu pula Arinka, sunyi tanpa berbicara. hanya ada cecapan kenikmatan makanan yang mereka kunyah. mereka berangkat kerja masing-masing, Renza dengan mobil bersama Deni, sedang Arinka tetap memakai ojek, hanya kali ini sudah memakai ojek online.


"Kalian tidak saling bicara Pak?" Ucap Deni


"Sejak kapan kami sering bicara, kami tidak seakrab itu!"


"Kalian kan suami istri Pak?"


"Tapi suami istri yang pernikahannya hanya berdasarkan perjodohan, tidak ada rasa sayang diantara kami berdua, malahan aku banyak menyakitinya." bicara lirih seakan penuh penyesalan.


"Jika ingin berubah apa salahnya, belum terlambat, kan?"


"Entah kenapa kata-katanya tempo hari mengena dan menancap dihatiku. jika suatu hari aku mulai berharap padanya, apakah aku serakah?"


Inilah isi hatimu yang sebenarnya Pak, kau sebenarnya orang lembut hanya saja kau berubah semenjak kau bertemu Giska, wanita sialan itu! sekarang kau pasti menaruh hati pada Arinka.


"Bapak tidak serakah, Lagian Nyonya kan istrinya bapak, kenapa tidak bapak perjuangkan saja?"


"Kenapa harus diperjuangkan, kami bahkan tidak saling mencintai, biarkan saja!"


Lagi-lagi Gengsi, Diambil orang baru nyesel!


"Aku sudah mencari tau bahwa pemilik restauran itu bernama Jefran Geraldo."


"Jefran?" berpikir sejenak


"hmm, bukankah Jefran itu teman bapak sewaktu kuliah?"


"iya, aku ingat sekarang. dunia ini hanya berputar mengitari orang-orang itu saja, sungguh miris!"


"Apa dia sudah punya istri?" ucap Renza


"Sepertinya belum pak."


Raut gusar menyelimuti wajahnya, apakah kejadian beberapa tahun lalu akan terulang, Ah mustahil pikirnya.


***


Jam makan siang sedang berlangsung, setiap karyawan bisa istirahat secara bergantian untuk makan. giliran Arinka yang istirahat, ia duduk di kursi lantai dua sambil minum es dan memijat betisnya.


"Ah, ini menyenangkan. udaranya segar dan bebas dari Tuan Renza yang menyebalkan itu. rasanya aku tidak ingin pulang."


"Jangan pulang jika tidak ingin." celetuk seseorang dari arah pintu.


Arinka menoleh kearah pintu dengan cepat, ternyata dia adalah atasannya, "Pak Jefran" mulutnya seketika ia tutup dengan tangannya. "Maafkan saya pak, saya terlalu berisik."


"Tidak apa, santai saja. lagian aku tidak bilang kau berisik, kan?" tersenyum


"Maaf saya mengganggu istirahat bapak?


"Kenapa harus minta maaf, sih? aku perhatikan kau memijat betis, apa sakit?"


"Tidak, Pak." berubah posisi dari selonjoran menjadi menjuntai.


"Jangan sungkan kepadaku," Sambil duduk berdekatan di kursi.


mereka berbicara panjang lebar, tertawa bersama seakan mereka akrab tidak seperti Atasan dan bawahan.


"Apa kau sudah punya pacar, Arinka?"


Arinka yang masih tertawa tiba-tiba terhenti, ia akan menjawab sudah bersuami, tetapi Sari datang memanggil Atasannya itu.


"Pak, Ada seseorang yang datang? Beliau sudah ada disini?"


"Siapa?"


Seseorang itu lalu masuk dan menyapa, "Nak, sudah selesai makan siangnya?" Sambil berjalan mendekati Jefran.


"Ibuuu." Jefran langsung berhamburan memeluk ibunya itu.


Jefran mempersilahkan Ibunya duduk, sedang Arinka sudah bangkit dari duduknya, karena waktu istirahatnya sudah hampir usai.


"Perkenalkan, ini Ibuku. namanya Maria."


Maria tersenyum ramah melihat Arinka, kemudian Arinka juga memperkenalkan diri.


"Bukankah kita pernah bertemu?" celetuk Maria.


"Mana mungkin, bu." jawab Arinka

__ADS_1


Tidak mungkin aku bertemu orang sembarang seperti Beliau.


Seperti mengingat-ingat kembali, sedang Arinka sudah akan berlalu.


"Yah, aku ingat. kau gadis yang menangis tempo hari, kan?"


"Ya ampun, Ibu... Maaf aku tidak mengenali, saat itu aku sedang emosi, omong-omong terima kasih sudah menghentikan taxi waktu itu."


"Sama-sama."


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Jefran.


"Kami bertemu sekali, dan herannya Ibu masih mengingat wajahnya."


"Ibu bisa aja, maaf aku tidak bisa berlama-lama, karena jam istirahatku juga sudah hampir habis, lain kali aku ingin berbincang dengan Ibu Maria dan mentraktir makan." ucap Arinka senang.


"Baiklah, Ibu tunggu janji itu."


Arinka berlalu meninggalkan Ibu dan Anak yang masih duduk balkon lantai dua, ia memulai lagi pekerjaannya yang bergantian jam istirahat dengan Risa. Arinka mulai mengantar pesanan dengan cepat dan tidak lupa tersenyum ramah.


Tiba-tiba datang seorang kurir membawakan sebuket bunga Mawar merah yang cantik.


"Maaf, di sini ada yang bernama Arinka?" kebetulan Sari yang menghampiri.


"Iya ada."


"Ini ada kiriman bunga buat Nyonya Arinka, bisa tanda tangan disini?" menujuk kearah kertas.


"Terima kasih."


Kurir itu pergi, sedangkan Sari membawa bunga itu ke ruang ganti, ia tidak memberi tau karena Arinka sedang bekerja. ia letakkan bunga tersebut di dalam loker Arinka.


Ibu Maria pulang berpamitan kepada Arinka, Jefran menemaninya sampai kedepan pintu. Beliau pulang menggunakan Taxi, padahal Jefran ingin mengantarnya.


Yah, begitulah orang tua kadang sering tidak mau merepotkan.


"Arinka." panggil Jefran.


"Iya, Pak. Ada apa?" Arinka berjalan menghampiri Jefran yang tengah berdiri didekat meja kasir.


"Nanti pulang sama siapa? Boleh Aku antar? Ibu bilang kau masih asing dengan daerah di ibukota."


"Tidak, Aku tidak merasa direpotkan, Kan aku yang menawarkan, berarti aku tidak repot? jadi mau, kan?" Tersenyum penuh harap.


"Baiklah, Pak."


Bagaimana juga aku harus menolak, Dia kan atasan.


"Oke, Sampai jumpa nanti." Sambil berjalan menaiki Tangga menuju ruangan kantornya.


Risa datang menghampiri Arinka sambil tersenyum.


"Uhh, Aku iri deh sama Kakak. Aku sudah lumayan lama kerja disini tapi belum pernah diajak pulang bareng Pak Jefran."


"Tidak perlu iri Ris, Beliau ingin mengantar Kakak pulang karena Ibunya mungkin, Kakak kebetulan mengenal Ibu Maria."


"Wah, Kakak sangat beruntung." Tersenyum sambil mencolek iseng.


"Ihh, apaan sih Risa." terkekeh.


****


Jam kerja telah usai, waktu menunjukan pukul lima sore. Arinka dan Risa bersamaan masuk keruang ganti, tak lama kemudian muncul Sari.


"Arinka, ada sebuket bunga didalam lokermu." Berbicara sepentingnya dan berlalu pergi.


"Bunga? ciyee udah punya penggemar aja?" ejek Risa.


"Haha, kamu bisa aja, Ris."


Arinka membuka lokernya dan benar ada sebuket bunga yang cantik disana, bunga mawar merah. segera Arinka mengambilnya, ini pertama kalinya bagi Arinka menerima sebuket bunga, maklum dikampung tidak ada yang mampu membeli bunga seperti ini, bahkan untuk makan saja sangat sulit. Arinka terharu dan mencari nama pengirimnya tetapi hanya inisial A yang tertulis disana.


Tidak ada nama pengirim, siapa ya yang mengirim bunga secantik ini.


Setelah mengambil tas dan didalam lokernya dan membuka celemeknya Arinka keluar, Risa mengikuti dari belakang. Arinka mengambil Ponsel dari tasnya ingin memesan ojek online, tetapi ia teringat bahwa akan pulang dengan Jefran.


"Wah, Kak Arin ini orang kaya ya? Ponsel ini ponsel mahal loh, ga sembarang orang bisa membelinya?"


Arinka terperanjat dan memutar balikan ponselnya, seakan mencari-cari dari mana Risa bisa tau, apakah ada label yang ketinggalan misalnya pikir Arinka.


"Masa sih, Apakah semahal itu?"

__ADS_1


"Mahal dong Kak, bagi orang-orang yang bekerja seperti kita, butuh beberapa bulan gaji untuk membelinya, kok kakak ga tau? kan kakak yang membelinya? Atau..."


"Aku tidak mencuri kok," menjawab spontan.


"Haha, siapa juga yang menuduh kakak mencuri? kakak ini lucu ya? Jika ponsel itu dikasih berarti orang itu tajir melintir dong." Risa terkekeh


"Kamu bisa aja, Ris."


Memang suamiku orang tajir, jika kalian tau mungkin kalian tidak akan percaya.


"Ya sudah, Aku pulang duluan ya kak. Pacarku sudah menunggu didepan." sambil berlalu dengan sanyam-senyumnya.


Jefran keluar dari kantor, sedang Arinka masih termenung memikirkan harga ponselnya, dan pengirim sebuket bunga yang dipegangnya.


"Bunga yang cantik." ucap Jefran membuat Arinka terperanjat dan sadar dari lamunannya.


"Kau melamun?" tanya Jefran lagi.


"Tidak, Pak. Hanya saja aku lagi berpikir."


"Benarkah? kalau begitu ayo kita pulang."


Jefran berjalan menuju pintu dan Arinka mengekor dibelakang.


Aku turun dimana? jika nanti turun di rumah Tuan Renza dia pasti akan heran, jangankan Tuan Renza, Pak Jefran juga pasti akan heran melihat rumah besar itu. apa aku bilang anak pembantu saja ya, Ah berbohong kan tidak baik. aku turun dijalan saja nanti.


Teeettt


Suara klakson mobil Jefran membuyarkan lamunan Arinka, ia bergegas berjalan menuju mobil tersebut, membuka mobil dan Naik.


Arinka merasa canggung, naik dimobil Atasannya. sedangkan ia jarang menaiki mobil Tuan Renza pikirnya.


"Tolong pasang sabuk pengamannya." ucap Jefran lembut.


Arinka melepaskan bunganya dan memakai sabuk pengaman dengan hati-hati.


"Bunga dari siapa?" Tanya Jefran penasaran.


"Aku juga tidak tau, Pak. nama pengirimnya juga tidak ada, hanya tertulis inisial A."


"Pengagum Rahasia dong." Jefran terkekeh


Arinka terus tersenyum, sambil memandangi sebuket mawar merah itu "siapa ya pengirimnya?" batinnya. sedangkan Jefran mencoba mencuri-curi pandang kepada Arinka.


"Rumahmu dimana?"


Deg...


Aku jawab apa ya? turun dipersimpangan jalan saja, tapi jauh, ah gapapa jalan kaki saja masuk kompleknya.


"Tuan aku turun dipersimpangan jalan Kenari ya, eh Pak maksudku."


"Kenapa turun dijalan, Aku antar sampai rumah ya?"


"Tidak usah, Pak. Aku sangat berterima kasih Bapak sudah mau mengantarku, lain kali akan aku tunjukan rumahku."


"Baiklah, jika itu maumu."


Jefran memberhentikan mobil dan Arinka turun dari mobilnya, tidak lupa mengucapkan terima kasih, sebuah mobil hitam melanju dengan santai melewati mobil Jefran yang tidak lain adalah mobil Renza, Renza melihat dari dalam mobil saat Arinka turun dari mobil itu, tapi Renza tidak tau siapa pemilik mobil itu.


"Pak, bukankah itu Nyonya Arinka? Kenapa Nyonya turun disini?" ucap Deni santai.


Hatimu pas panas, Pak.


"Hmm biarkan saja, lagian bukan urusanku juga" berbicara dengan nada datar.


Siapa yang mengantarnya? seorang lelaki? Tapi siapa? ah aku sungguh frustasi.


Deni terus melajukan mobilnya, terlihat dari kaca seseorang yang duduk dibelakang sedang gusar.


Arinka berjalan dengan santai, ia melihat dari kejauhan mobil Jefran sudah melaju dengan kencang, tapi ia tidak melihat mobil suaminya itu.


Ahh aku mesti jalan kaki, padahal lumayan jauh. menghirup napas panjang dan membuang sembarang.


**Bersambung...


Jangan lupa vote dan comment ya.


Salam sayangku buat pembaca tersayang.


Luv u 😘**

__ADS_1


__ADS_2