Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 95 : Video call


__ADS_3

Risa menjadi sangat bahagia. Setelah mendapat notif pesan dari Deni. Wajahnya terus tersenyum menatap langit-langit kamarnya. Ia tersenyum dan mengacak-acak seprei di kamarnya.


Aku sangat bahagia. Aku tidak sabar. Aku ingin hari esok segera tiba.


Risa memandangi ponselnya lagi. Ia memberanikan diri ingin menelepon Deni. Ia terus menatap ponselnya. Nampak nama Deni muncul di layar ponselnya dengan bertuliskan Dino-saurusku.


Telepon apa tidak? Jika aku menelepon duluan, nanti aku ketahuan bucin sama dia. Ah janganlah. Nunggu dia saja.


Risa melepaskan ponselnya dan berguling di kasur kesayangannya. Bibirnya terus tersenyum menatap nama kontak Deni di ponselnya. Saking bahagianya, ia tidak menyadari bahwa sekarang ponselnya itu telah bertuliskan memanggil nama Deni.


Sementara itu, di rumah Deni ...


Deni yang sedang mandi mendengar suara dering teleponnya. Kebetulan Ema masuk ke kamar Deni untuk mengambil cucian kotor. Ema melihat ada panggilan masuk di ponsel Deni. Segara Ema mengambil ponsel itu. Ema mengernyit melihat kontak itu bernama Alien.


"Alien?" Ema bermonolog sendiri. Namun, ia segera menggeser layar ponsel itu dan mendekatkannya di telinga. Terdengar suara berisik krasak-krusuk. Ema menjauhkan ponsel itu dari telinganya. "Pantas saja di namai Alien," katanya.


Tak lama kemudian, Deni keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di bagian bawah. Dada kotaknya benar-benar menggoda, jika sampai wanita melihatnya pasti akan tercengang. Tangannya mengeringkan rambutnya dengan handuk kering.


"Ada telepon," kata Ema sambil memberikan ponsel ketangan Deni.


"Siapa?" tanya Deni datar. Namun, belum mengambil ponselnya dari tangan Ema.


"Alien?" ucap Ema acuh.


"What?" Deni segera mengambil ponsel dari tangan Ema dan mendengarkan di telinga.


"Kenapa?" Ema mengernyit.


"Astaga ... ini video call."


"Ibu tidak tahu. Ya sudah, ibu hanya mau mengambil pakaian kotor." Ema melengos pergi setelah urusannya selesai dan menutup pintu.


Deni mendadak gugup karena ini video call pertamanya dengan Risa. Deni tidak sadar bahwa dia belum memakai pakaian. Ia terus saja memanggil Risa yang tidak muncul.


Risa terus berguling-guling di kasur, sambil menyalakan musik dari laptopnya. Kemudian, ia mengambil ponselnya. Alangkah terkejutnya Risa, matanya membulat sempurna ketika menatap layar ponselnya terpampang wajah Deni. Dan yang paling membuatnya tercengang adalah Deni tidak memakai pakaian, membuat Risa berteriak, "Aarrgh!"


"Hei ... kenapa kau berteriak?" tanya Deni.


"Kau video call hanya untuk menunjukkan tubuhmu, ya?" Risa menutup matanya.


"Hei, aku lupa. Tunggu sebentar." Deni dengan cepat memakai baju kaosnya, kemudian memakai celananya dan bergegas mengambil ponselnya kembali. "Maaf."


"Iya, kamu kenapa video call?" tanya Risa.


"Aku?"


"Iyalah, siapa lagi memangnya?"


"Ini pasti kesalahpahaman."


"Kesalahpahaman?"


Jangan-jangan, aku yang meneleponnya. Huaaahh! Sialan!


"Bukannya kamu yang melakukan panggilan ini?"


Aku harus sopan, harus lembut kepadanya. Jangan sampai dia malu sendiri.


"Apakah aku yang menelpon?" Risa menggaruk kepala tidak gatal.


"Astaga! Kamu di rumah seperti ini? Rambutmu itu kenapa lucu gitu." Deni tertawa.


"Hah!" Risa meletakkan ponselnya diatas ranjang. Ia turun dari kasur dan segera mencari sisir. Kemudian, ia memakai liptint sedikit agar terkesan bibirnya menjadi berwarna.


Deni kebingungan menatap layar ponsel yang memperlihatkan langit-langit kamar berwarna biru itu. Deni terus menunggu sambil mengeringkan rambutnya.


"Kamu masih di sana?" ucap Risa.


"Masih," jawab Renza.


"Kau baru selesai mandi, ya?"


"Iya, Eh ... kamu sudah berubah, tadi sedikit menyeramkan, sekarang sudah mendingan. haha ...."


"Isshh, kurang ajar kamu, ya. Aku dari tadi sudah seperti ini, kok."


"Mana ada. Tadi kau terlihat aneh dan pucat. Sekarang sudah segar dan cantik, upppsss!" Deni menutup mulutnya cepat.


Wajah Risa mendadak merona merah ketika mendengar ucapan Deni. Deni juga mendadak salah tingkah. Sekejap mereka hening tanpa suara.


"Kamu lagi apa?" Tanya Deni memberanikan diri.


"Hmm ... aku lagi dengar musik, sih. Kamu lagi ngapain?"


"Aku ... ya seperti ini, selesai mandi, belum makan juga, sih."


"Kenapa belum makan?" tanya Risa.


"Belum ada waktu. Sekarang lagi VC an."


"Eh? Ya udah matikan saja." Risa cemberut.


Kesannya, aku seperti mengganggu waktunya. Dasar kaku!


"Nanti saja. Aku belum lapar juga."


Krik ... krik ... suasana hening kembali, mendadak Risa dan Deni menjadi canggung. Mereka tidak bisa berkata-kata lagi. Risa hanya tersenyum, sebaliknya Deni masih mengeringkan rambut dengan handuk kecil.


"Besok jadi ketemu?" tanya Risa kelepasan bicara.


"Jadi, kenapa? Kau tidak sempat?"


"Ti-tidak, kok. Aku selalu free."


"Selalu free? Iya lah, aku selalu bekerja."


"Kau gila bekerja, 'kan?"


"Bukan gila, memang sudah kewajibanku bekerja. Jika tidak bekerja bagaimana aku harus menghidupi Ibuku."


Krekk..


Suara pintu di buka. Ema masuk dengan membawa pakaian yang sudah di setrika.


"Kenapa bawa-bawa, Ibu?" tanya Ema.


Dengan cepat Deni menyembunyikan ponselnya di samping dan menelingkupkannya di balik bantal. Terdengar suara Risa memanggil-manggil.


"Ada suara? Kau lagi teleponan sama Alien tadi? Nama orang kok Alien? Jika itu nama asli, aneh juga sih." Ema berceloteh.


"Iya, Bu."


"Iya, kenapa?" Berjalan menuju lemari untuk memasukkan pakaian yang sudah di setrika. Deni masih kaku menunggu Ema keluar.


"Memang orangnya aneh," ucap Deni tertawa menutup mulutnya. Terdengar suara teriakan dari telepon itu. Risa berteriak, "Hoyyy ... Aku mendengarmuu," katanya.


"Suara siapa itu?" tanya Ema.


"Suara aku sendiri, Bu. krasak-krusus." Deni menirukan.

__ADS_1


"Bukan, itu suara dari ponsel. Ibu tahu, kok."


"Haha, bukan, Bu. Sudah mati, kok." Deni berbicara ragu-ragu. Ema melihat gerak-gerik putra semata wayangnya itu mencurigakan.


"Coba, ibu ingin melihat," ucap Ema tersenyum sambil menjulurkan tangannya di hadapan Deni.


Deni terdiam. Ia ragu memberikan ponselnya ke tangan Ema. Tapi sekali lagi, Deni itu anak penurut. Dia sangat tidak ingin ibunya kecewa. Deni memberikan ponselnya pelan. Kemudian, Ema mengambilnya.


"Siapa di sana?" tanya Ema. Namun, Risa bersembunyi dan tak menampakkan wajahnya. "Apa tidak ada orang?" katanya.


Risa pelan-pelan memunculkan diri kehadapan Ema. Dengan percaya diri, Risa segera mengatakan "Halo." sembari nyengir kuda dan membuat Ema terkejut dan tercengang.


"Kamu siapa?" tanya Ema.


"Aku Risa, tante. Maaf ... tadi aku habis minum."


"Kamu temannya Deni?"


"Iya, Tan."


"Eh, sebentar. Nama kamu tadi Risa? Kamu sangat cantik."


"Iya, astaga aku tersanjung. Terima kasih, Tante juga sangat cantik."


"Apakah sudah selesai?" ucap Deni.


"Ya, sudah. Silahkan mengobrol kembali."


"Baiklah, Tan."


Ema memberikan ponsel itu ke tangan Deni seraya tersenyum simpul. Deni mengernyit melihat senyum Ema yang terlihat aneh.


"Nanti kenalkan pada ibu," ujar Mira seraya menutup handle pintu.


"Ibu apaan sih? Aku hanya teman saja."


"Ya, Memang hanya teman."


Ema keluar dari pintu kamar, setelah itu Deni menarik napas lega. Deni kembali meletakkan handuk kecil dan mengibas rambutnya. Risa menutup mulutnya dan tersenyum simpul.


Deni benar-benar tampan. Ternyata kesehariannya di rumah seperti ini. Aku sangat menyukainya.


"Kau melihat apa tersenyum begitu," tanya Deni.


"Eh, apa?" Risa terkejut.


"Kau melamun?"


"Tidak, kok."


"Aku bingung kita akan membicarakan apa?"


"Sama," ucap Risa.


"Ternyata kau bisa berubah juga, ya?" ucap Deni.


"Berubah bagaimana?"


"Kau kan sering kasar, haha ..." Deni tertawa kaku.


"Ini sifatku, kau suka aku sebagai Mawar, 'kan? Nah, itu lah sifat asli Mawar. Dia sangat manja."


"Hemm, aku menyukai Mawar karena sifatnya sangat lembut dan juga ia periang."


"Haha ... Risa dan Mawar itu satu orang. Kenapa kau suka Mawar? Padahal Mawar itu pencitraan di sosial media."


"Entahlah, aku suka sifatnya ramah."


"Sekarang aku menyukai Mawarni clarisya." Deni nyengir kuda.


"Wah, benarkah? Aku tersentuh."


"Tersentuh?"


"Iya, wanita itu kalau di puji pasti tersentuh."


"Aku akan mencoba memahamimu Risa."


"Wah, kamu jadi banyak berubah."


"Iya, aku harus berubah."


Aku akan mengulur waktu untuk menyatakan cinta padamu Risa.


"Kau sudah makan?" tanya Risa.


"Bukannya tadi kau sudah bertanya?" Deni tertawa.


"Eh?" Risa tersenyum malu. Rona wajahnya seketika memerah seperti tomat.


"Kau sudah makan?"tanya Deni.


"Aku? Belum juga."


"Kau diet?"


"Hehe ..."


"Kau tertawa? Jangan diet, tubuhmu sudah bagus, kok."


"Aku hanya tertawa, aku tidak diet."


"Baguslah, kau harus makan yang banyak." Deni mulai menyandarkan kepalanya di bantal.


"Kau suka makan apa?" tanya Risa.


"Aku suka makan apa saja. Jika sedang lapar, aku bisa memakanmu."


"What? Kau mau memakanku?"


"Haha, becanda aja, kok."


Obrolan mereka mulai semakin seru. Yang tadinya mereka sangat canggung. Sekarang mereka sudah bisa tertawa dan saling melempar candaan.


"Ibumu sangat cantik, pantas saja kau terlihat tampan."


"Wah, Risa sudah bisa memuji, ya, sekarang."


"Hehe ... Yah, aku sekarang sudah berani, ya?


"Iya, kau tidak takut lagi padaku, padahal aku menyebalkan."


"Kapan aku takut padamu? Dulu, aku tidak menyukaimu itu karena kau itu songong." Risa terkekeh.


"Haha, karena kita tidak saling kenal, makanya kau mengatakan begitu. Kau juga sangat menyebalkan, pecicilan juga."


"Aku begitu karena aku benar-benar tidak suka melihat orang arogan. Terbukti kan sekarang kau termakan sumpahku. Kau menyukaiku."


"Ya, aku termakan sumpahmu. Menyebalkan," Deni tertawa terbahak.

__ADS_1


"Emang enak, haha ...."


"Enak lah, tapi tidak bisa di makan."


"Kau bilang apa, sih?" tanya Risa.


"Tidak ada, hahaha ..."


Semua percakapan mereka mulai tidak masuk akal, karena tidak tahu harus berkata apa. Setelah itu mereka diam. Risa turun dari ranjangnya dan berjalan menuju cermin hias. Deni memperhatikan seisi kamar Risa yang di dominasi oleh warna biru.


"Kau suka doraemon?" tanya Deni.


"Mmm ... suka sekali, kenapa?"


"Seperti anak-anak saja."


"Biarin, sewot aja jadi orang."


"Tidak sewot, kok. Aku hanya becanda, jangan ambil hati gitu."


"Menyebalkan, huh!"


"Ngambek, niyeee ...." Deni tertawa.


"Tetap saja masih menyebalkan, belum berubah, huh!"


"Huh, terus. Ya sudah, aku minta maaf."


Deni minta maaf, Wah! Bukan seperti Deni pada biasanya.


"Hmm, aku maafkan."


"Terima kasih." Deni tertawa.


Risa meletakkan ponselnya menyandar di depan cermin rias. "Tunggu sebentar, aku keluar sebentar," katanya.


"Ya, silahkan."


Risa keluar dari kamar dan menutup pintu. Deni melihat kamarnya Risa dari dalam ponsel itu, matanya terfokus dengan foto besar yang terpampang di atas ranjangnya. Deni tersenyum sambil mengusap wajahnya. Pertama kali baginya melihat kamar wanita, walaupun hanya di dalam ponsel. Deni benar-benar telah berubah di hadapan Risa. Sikap arogannya itu perlahan hilang di depan wanita yang di sukainya itu.


Risa membuka pintu kamarnya dan membawa piring ke dalam ruangan itu. Tangan sebelahnya memegang sebotol air. Risa duduk di depan meja rias itu dan berbicara kepada Deni lagi.


"Im back," ucap Risa sambil meletakkan piring dan sebotol air mineral.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Deni sambil memainkan laptopnya.


"Aku ngemil, haha ..." Risa tertawa sambil menunjukkan kue yang akan di makannya.


"Kue apa? kenapa tidak makan nasi?"


"Cheese cake. Aku sedang malas makan nasi. Kau sedang bekerja?"


"Tidak, aku hanya mengecek jadwal Pak Renza dan beberapa file."


"Jika menyangkut pekerjaan, ucapannya langsung lancar," gerutu Risa.


"Iyalah, urusan pekerjaan harus serius. Mana bisa main-main."


"Iya, aku salah bicara."


"Tidak, kok." Deni segera menutup laptopnya. "Ngomong-ngomong, itu foto kamu sudah lama?" tanyanya.


"Foto mana?" ucap Risa seraya mengunyah kue yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


"Itu yang tersenyum di atas ranjangmu." Deni menunjuk dengan mulutnya.


"Eh, itu foto sudah dua tahun."


"Kau memang suka berfoto, ya? Lain kali aku foto, kau jadi modelnya. Kau mau?" ucap Deni menawarkan diri tanpa malu-malu lagi.


"Boleh juga." Risa menerima tanpa berbasa-basi.


"Kau harus bersabar, ya? Nanti aku akan menyatakan cinta padamu, jika waktunya sudah tepat."


"Yah." Risa menutup wajahnya malu. Ia tak habis pikir, Deni seperti orang bodo yang tidak ada romantisnya sama-sekali.


"Kenapa?" tanya Renza.


"Kau itu tidak seharusnya mengatakannya kepadaku. Kau harus merahasiakannya, biar ini terlihat romantis gitu." Risa tertawa konyol.


"Begitukah? Hmm ...."


"Kau belum pernah pacaran?" tanya Risa seraya membuka botol air mineralnya.


"Kenapa bertanya begitu? Aku tidak akan menjawabnya."


"Ya sudah, jangan dijawab. Aku juga tidak memaksa." Risa mencebikkan bibirnya.


"Aku tahu kau punya banyak pacar. Jadi jangan menyombongkannya kepadaku."


"Padahal aku baru mau pamer. Tapi sudah di bilang. Ya sudah tidak jadi." Risa terkekeh.


"Jangan pamer kepadaku. Aku tahu juga kau sangat menyukai mantan pacarmu itu."


"Tidak. Aku tidak menyukainya."


"Halah, bilang tidak suka. Padahal kau menangisinya. Aku cembu-" ucapan Deni terputus.


"Kau cemburu? Risa tertawa.


"Kenapa aku harus cemburu, kita bukan pacar, kita hanya baru saling mulai mengenal satu sama lain. Bahkan untuk dibilang teman saja belum bisa." Deni bertingkah menyebalkan.


"Kita sudah mulai mengakrabkan diri, kok. Jangan begitu. Kau sudah bilang menyukaiku, kan?"


"Yah, aku tahu. Aku menyukaimu. Kadang aku berpikir, darimana rasa suka ini? Kau orangnya pecicilan dan menyebalkan. Haha ..." Deni tertawa menyebalkan.


"Sebabnya karena kau membenciku. Antara cinta dan benci itu tipis. Karena saking bencinya, kau jadi menyukaiku. Lagipula kau itu sudah termakan sumpahku, kan? Ingat itu." Risa tak kalah lebih menyebalkan dibanding Deni.


"Jika menyangkut ini, kita akan marah-marahan lagi. Sudah lah, jangan dibahas. Yang harus kau tahu, aku menyukaimu. Itu saja."


Risa kembali salah tingkah mendengar ucapan Deni. Lelaki kaku itu tetap saja menyebalkan tapi juga manis bersamaan. Risa tersenyum, menahan wajahnya dengan kedua tangannya. Pikirannya terbang kesana kemari.


"Risa! Risa!" panggil Deni. Namun, Risa tetap tersenyum dengan kedua tangan menopang wajahnya. "Heii ...." teriaknya normal.


"Eh, iya. Kenapa?"


"Aku hanya ingin kau mendengar. Aku berharap kau itu jod-"


Tut ... tut ...


Ucapan Deni terputus, Risa berpikir karena durasi panggilan. Risa berniat menelponnya ulang. Padahal ponsel Risa sendiri yang kehabisan baterai. Risa berteriak kesal karena itu pasti ucapan serius Deni. "Aarggh ... KENAPA MATI DISAAT YANG TIDAK TEPAT, SIH!?" teriaknya.


***Bersambung...


Jangan lupa vote dan like, ya 😊


Silahkan gabung di grup chat dan jangan ragu-ragu untuk bertanya kepada author. Mari saling kenal 😁


Stay save kawan-kawan semua. Jangan lupa jaga kebersihan dan jaga kesehatan. Stay at home.

__ADS_1


Salam sayang dariku untuk kalian semua 💋


I luv u 😘***


__ADS_2