Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 47 : Bucin


__ADS_3

Seperti Roda, hidup itu akan berputar.


Jangan terlalu benci, karena benci dan cinta itu bedanya sangat tipis, bisa saja hari ini kau membencinya, tapi siapa yang tau kedepannya kau akan jatuh cinta padanya.


💗💗💗


Mereka sudah sampai dirumah, Pak Tino bergegas membawa barang belanjaan dibantu oleh Bi Ami. Renza duduk disofa, ia bersandar dengan rileks. ini pertama kalinya ia berbelanja, mungkin saja ia sangat lelah.


Arinka menyuruhnya istirahat dikamar, namun Renza sangat malas melangkahkan kakinya, ia seperti minta perhatian kepada Arinka, namun Arinka sengaja mengacuhkannya.


Arinka naik keatas, berjalan menaiki tangga sambil membawa plastik, Yah, plastik itu isinya seprei. Renza yang melihat Arinka naik ke atas segera bergegas mengikuti Arinka pelan.


Arinka meletakkan plastik itu didekat kamar mandi, ia berniat akan mencucinya, ia mengambil ikat rambut, ia ingin mengikat tinggi rambutnya. Renza yang masuk pelan-pelan sangat mengejutkan Arinka, tiba-tiba saja Renza memeluk Arinka dari belakang, sontak Arinka akan memberikan perlawanan.


"Waduh, aku seperti akan kena pukul," ucap Renza tertawa.


"Hampir saja, kenapa juga mengagetkanku."


Renza terkesima melihat Arinka yang mengikat rambutnya tinggi seperti ekor kuda, selama ini Arinka hanya berurai rambut saja, jika tidak ia hanya mengikat rambut sebagian saja. ditiup nya leher Arinka hingga bulu-bulu halus dibelakang lehernya itu naik. Arinka merasa geli. ia tahu ini pasti jurus-jurusnya Renza ingin menggodanya.


"Aku baru pertama kali melihatmu mengikat rambut tinggi seperti ini, sangat seksi," ucap Renza seraya berbisik ditelinga Arinka.


"Aku akan mencuci, aku tidak ingin nantinya risih, jika rambut ini tidak di ikat."


"Kau ingat janjimu tadi, jika aku tidak menyetir, aku bisa memegangmu sepuasnya, kan?"


"Itu kan hanya bercanda, kau ini!"


Renza mulai menciumi leher Arinka dengan lembut, gejolak asmara mereka mulai membara kembali dan Renza tidak bisa menahannya, sekali sudah merasakan pasti akan ketagihan, seperti sebuah candu saja. tangannya mulai tak bisa dikondisikan bergerak kesana kemari menyusuri lekuk tubuh istrinya.


"Aku ingin mendapatkannya lagi," ucap Renza tersenyum penuh nafsu. Arinka tak menjawab, bahkan jika menolak pun pasti percuma, Renza sudah seperti srigala yang kelaparan.


Renza mulai membaringkan Arinka di ranjang King Size yang empuk, menciuminya dan menyentuhnya dengan lembut, ia memulai kembali pekerjaannya. terdengar rintihan kecil disela-sela penyatuannya. Arinka masih kesakitan, ia belum benar-benar menikmati indahnya bercinta. keringatnya bercucuran deras, pertama kali mereka melakukan hubungan intim disiang hari, sensasinya sangat berbeda. (Cerita lebih lengkap, pikirkan saja sendiri 😂😅)


Tak butuh lama, mereka sudah selesai dengan pekerjaannya, Renza tak hentinya menciumi kening istrinya dan mengucapkan kata pujian dan terima kasih.


"Sepertinya aku akan terus kecanduan, kecanduan akan dirimu," ucap Renza masih dengan napas tersenggal-senggal menatap Arinka lekat.


"Aku harus memasak sup ayam dulu, ini sudah pukul setengah 12, mungkin sebentar lagi Deni akan kemari menjemputmu, apa kau tidak lapar?"


"Aku memakanmu saja sudah kenyang." terkekeh.


"Ishh, dasar tukang gombal, awas saja nanti kalau kau makan?" menghela napas, "apa kau dulunya begini?"


"Tidak!" jawabnya cepat.


"Masa sih," ucap Arinka memajukan bibirnya tak percaya.


"Kau tidak percaya, aku memang mempunyai beberapa mantan kekasih, tapi aku belum pernah bersikap seperti ini."


"Ahh..., apa ini tipuan? beberapa mantan kekasih? aku dengar kau sering ganti-ganti cewek, kata-kata manis ini pasti karena ada maunya." Arinka terkekeh.


Renza bangkit dari kasur itu, "Siapa bilang?" ia cemberut mendengar ucapan Arinka mengatakannya begitu, saat ini ia mudah ngambek, seperti wanita yang sedang datang tamu saja mudah sensitif.


"Ciyee, ngambekkan lagi, nih?"


Arinka bangkit dari ranjang King size itu, ia akan membasuh diri, "Aww" pekik Arinka sambil menggerakan kaki nya, selangkangannya nyeri, segera ia menutup mulutnya.


"Kenapa? ada yang sakit?" Renza memperhatikan Arinka dari atas sampai bawah, Arinka sangat malu. ia buru-buru berjalan ke kamar mandi. Renza memperhatikan Arinka berjalan sangat pelan, ia langsung peka. ia berjalan mendekati istrinya dan segera menggendong istrinya itu kekamar mandi. Arinka sontak terkejut karena Renza tiba-tiba mengangkatnya.


"Apakah ini sakit?" ucap Renza menunjuk area sensitif kekasih hatinya. Arinka benar-benar malu. ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Renza tersenyum lucu melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.


Renza membawa Arinka ke bawah shower, mereka mandi bersama, padahal mereka sudah mandi tadi.


"Masaknya gimana? sebentar lagi pasti pasti Deni tiba."


Benar saja, terdengar panggilan dari pintu, suara itu sangat familiar, suara khas nya Deni yang sering membuat Renza naik darah tanpa sebab.


"Pak, sebentar lagi kita harus berangkat, aku menunggu di bawah."


Tak ada jawaban, haha. gumam Deni tertawa sambil menutup mulutnya.


Arinka bergegas mandi, begitupun dengan Renza. mereka saling melempar senyum dan tertawa bersama.


"Belum sore kita sudah mandi kedua kalinya, haha." Renza tertawa.


"Ayo cepat, apa kau dengar itu suaranya Deni yang memanggilmu didepan pintu tadi."


"Biarkan saja, Deni memang begitu sering bawel, bikin kesal saja. aku seperti enggan pergi kemanapun."


"Jangan begitu, bagaimana pun kau harus bekerja dengan semangat, ini bukan seperti dirimu jika mengeluh begini."


"Iyaa... Maaf."

__ADS_1


Mereka berdua keluar dari kamar mandi, lagi-lagi Renza menggendongnya tapi sudah memakai handuk. hari ini Arinka puas menatap roti sobek Renza, bahkan ia bisa memegangnya. Renza benar-benar tampan dengan rambut basahnya. pesonanya seperti akan menghentikan degup jantung Arinka. Renza pun terus berjalan menggendong Arinka dan mendudukannya disofa.


"Kau kenapa memperhatikanku, aku melihat kau menatapku begitu?"


"Tidak ada."


"Kau pasti terpesona dengan ketampanan ku ini, kan? aku memang sudah tampan sejak lahir, haha." Renza tertawa.


"Huh! dasar narsis," ucap Arinka cekikikan.


"Tapi memang kenyataannya begitu, kan?" seraya memegang pipi Arinka dan mengecup bibirnya lembut, "Aku mencintaimu setiap hari."


Arinka tersenyum, tanpa ia sadari ia berjinjit dan menarik bahu Renza dengan kuat, "Cup" Arinka membalas ciuman Renza tadi dengan cepat, gerakan itu spontan tanpa ia sadari. setelah ia tersadar ia mengulum bibirnya dan membuang muka, Renza tertawa melihat tingkah istrinya itu, sangat menggemaskan. ini adalah pertama kalinya Arinka berprilaku seperti ini kepada Renza, Renza sangat bahagia.


"Kau menggodaku, ya? kau mencium seperti ini artinya membangunkan srigala yang tidur, bagaimana aku bisa berangkat ke kantor siang ini?" Renza dengan cepat membaringkan istrinya itu lagi diatas sofa dan melumat bibirnya kuat. ciuman itu cukup lama dan membuat Arinka tersengal-sengal. Renza yang memperhatikan wajah istrinya itu tersenyum terus menerus, ia mengecup kening, kedua pipinya, hidung, kedua mata, dan dagunya.


"Aku suka semua yang ada padamu, bagaimana ini? aku mulai Bucin padamu." seringainya.


"Sudah, sudah. kau harus berangkat. aku harus berganti baju juga, kita harus turun."


"Kiss lagi," ucap Renza menunjuk bibirnya. Arinka memperhatikannya tersenyum, ia menjadi sangat malu jika disuruh seperti itu. Renza menutup matanya dan Arinka menciumnya lembut.


"Terima kasih," ucap Renza seraya bangkit dari atas tubuh istrinya itu. Arinka bergegas bangkit memakai baju dan kemudian menyiapkan baju untuk suaminya. selesai memakai baju ia memperhatikan suaminya memakai dasi. Renza melirik dari cermin bahwa Arinka memperhatikannya.


"Sini, pasangkan dasi untukku."


"Aku tidak bisa, nanti malah berantakan lagi."


"Ayo belajar," ucap Renza seraya berjalan mendekati Arinka. Renza menarik tangan istrinya itu pelan dan menyuruhnya memegang dasi.


"Perhatikan baik-baik, ya."


Renza memulai memasang dasi, Arinka memperhatikan dengan fokus, setelah selesai memasangkannya Renza membongkarnya kembali.


"Ayo coba."


Ini kok seperti di drama, ya? memasangkan dasi suaminya dengan suasana romantis.


Arinka tersenyum geli sambil mencoba memasangkan dasinya, tangannya bergerak-gerak menarik dasi itu, sedang tangan Renza sibuk memeluk Arinka.


Bagaimana ini? Aku sangat malas pergi kekantor.


"Seperti ini," ucap Arinka.


"Mulai besok dan seterusnya, aku akan manja sekali, aku ingin istriku yang memasang dasi ini setiap hari."


"Heum ... baiklah."


Sebelum keluar, Renza memilih sepatu yang akan dipakai nya, ia mengambil sepatu hitam yang begitu mengkilap seraya duduk di sofa. Setelah selesai memasang sepatu Renza berjalan keluar di ikuti Arinka. Sesampainya di depan pintu, Arinka sudah memegang gagang pintu itu dan ingin membukanya, dengan cepat ditekan oleh Renza.


"Kenapa?"


"Aku ingin menciummu." Renza terkekeh. ia mencium Arinka berulang kali. ia sangat bahagia. senyumnya terpancar berbinar diwajahnya. mereka turun dari tangga dengan bergandengan tangan. Deni yang duduk di sofa sambil menonton televisi ditemani secangkir kopi panas seperti biasanya menatap mereka dengan senyuman jahil.


"Aduh, aku silau melihat senyum itu," ucap Deni tertawa.


Arinka segera melepaskan tangannya, ia sangat malu melihat Deni yang mengejek mereka berdua.


"Jangan dilepas Nyonya, Pak Renza pasti sudah mulai bucin sama Nyonya, lihat saja tatapannya itu seperti ABG labil yang baru jatuh cinta." bibirnya terus tersenyum.


"Hais, kau ini! berani sekali mengejekku, jangan dengarkan dia, dia itu jomblo, mana tahu rasanya jatuh cinta."


Setegas-tegasnya Renza, jika berurusan dengan Deni, ia pasti kalah bicara, Deni selalu saja bisa membuat Renza emosi, tertawa bahkan mendadak diam.


"Ayo berangkat, Pak."


Renza menatap istrinya lagi, lalu mengecup tangannya dan mencium pipinya didepan Deni dengan mesra. Arinka menjadi salah tingkah.


Dasar bucin, ia ingin membuat aku cemburu, huh! aku kebal.


"Adegan intim jangan ditunjukan di tempat umum, aku ini manusia, Pak. bukan patung."


"Makanya cari pasangan, haha." Renza tertawa seraya menjulurkan lidahnya.


"Tunggu saja."


"Sampai kapan? sampai tua?" lagi-lagi Renza tertawa. sedangkan Deni mengerucutkan bibirnya.


Pria ini, kadang terlihat manja, kadang lucu dan kadang terlihat tegas. sifatnya itu membuat aku semakin ingin mengenalnya lebih dalam.


Mereka telah masuk kedalam mobil, seketika mobil itu melaju dengan kencang. Arinka berjalan menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya, ia mencuci seprei didalam kamar mandinya, setelah selesai ia membawanya kebawah, Bi Ami segera menyonsongi majikannya itu, dengan sigap beliau membantu Arinka menjemur seprei itu.


"Kenapa Nyonya mencuci sendiri? Nyonya bisa menyuruhku."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bi. hanya satu seprei saja."


"Ya sudah, jika perlu sesuatu bilang saja, ya?"


"Nanti kita masak sup ayam, ya, Bi?"


"Iya, sudah lama sekali kita tidak memasak sup ayam itu, hanya pertama pindah saja, apakah Tuan menyukai sup ayam? dulu Tuan ingin membuangnya?"


"Tuan itu sangat suka sup ayam, iya dulu Tuan tidak suka karena marah sama aku, Bi."


"Oh, tapi sebenarnya malam itu Tuan memakan sup buatan Nyonya, aku melihatnya sendiri, Nyonya."


"Banarkah? jadi Dia tidak bohong padaku."


"Tuan sudah bilang, ya?"


"Heum." Arinka menganggukkan kepalanya.


"Aku melihat dari pintu kamar, Tuan memakannya mengendap-endap seperti seorang pencuri. kemudian saat Tuan sedang memakannya ada Pak Tino yang memergokinya, Tuan seperti orang ketakutan, Bibi datang pura-pura lupa menaruh sup ayam itu, wajahnya langsung mendadak berubah, Tuan saat itu gengsian, ya, Nya?"


"Iya, Bi," ucap Arinka tertawa, "Tenyata lucu juga ya, Bi. sayang aku tidak memergokinya."


Bi Ami mengeluarkan semua bahan-bahan makanan di dalam belanjaan itu, ternyata didalamnya ada 5 bar coklat Silverqueen.


"Ini ada coklat Nyonya didalamnya," ucap Bi Ami.


Arinka mengerutkan keningnya, melihat coklat itu. ia merasa tidak pernah mengambil coklat, pasti itu kerjaan Renza.


Di sebrang sana, Renza sedang menghadiri meeting dengan klien. disela-sela makan ia mengirim pesan kepada Istrinya.


"Aku mencintaimu 😘 aku sudah sangat merindukanmu. ❤❤💗" Tulis Renza dalam pesan singkat itu tak lupa menambahkan banyak emoticon love.


Arinka mulai memasak sup ayam itu, dibantu Bi Ami. setelah selesai ia pergi meninggalkan Bi Ami naik keatas, kekamarnya. Arinka melihat ponselnya, bibirnya tersenyum lebar. ia berganti pakaian. ia ingin pergi ke toko kue, ia ingin membeli kue coklat untuk Renza.


Beberapa menit kemudian, Driver ojol sudah sampai didepan rumahnya, sudah lama sekali ia tidak naik motor di sore hari, ia sangat bahagia jika naik motor seperti ini, pikirannya fresh sambil melihat pepohonan rindang.


Tak lama, Driver ojol itu sudah menghentikan motornya didepan toko kue favorite Arinka, ia berjalan memilih kue apa yang akan dipilihnya. tiba-tiba dering ponselnya terdengar, segera ia mengambilnya didalam tas dan terlihat Pipom calling.


Arinka sengaja tidak mengabari Renza bahwa ia ingin ke toko kue, karena ingin memberi kejutan.


"Halo," ucap Arinka seraya tersenyum.


"Kenapa pesanku hanya di baca sih, tidak balas, aku marah ni," ucap Renza dari sebrang sana.


Ya ampun tingkahnya sudah seperti anak kecil, ngambekkan.


"Maaf."


"Kau dimana? terdengar sebuah lagu?"


"Hmm ... aku sebenarnya sedang diluar. sedang membeli batagor," ucap Arinka berbohong, tapi memang benar ia juga berniat membeli batagor.


"Ya ampun, kau naik ojek online lagi, ya? mulai besok aku akan mempekerjakan seorang supir untukmu."


"Tidak perlu, aku memang suka naik motor."


"Tapi aku tidak suka sebenarnya, cepat balik kerumah."


"Hah? kenapa? aku bahkan baru ingin membelinya ...."


"Cepat, aku takut kau sendirian disitu, dijalan banyak lelaki usil!"


Sudut bibir Arinka terlihat berkedut menahan tawa. "Ck! kedengaran seperti lebay."


"Cepat pulang, jangan lama-lama, aku tidak suka." Sekali lagi Renza menekankan. Arinka yang mendengar tertawa-tawa.


"Sepuluh menit tidak pulang, aku akan menyusul kesana."


Ancaman Renza menghentikan tawa Arinka. wanita itu memutar bola mata. Renza itu orang nya serius, apalagi jika orang sedang dimabuk cinta, kelewat serius sampai Arinka yakin kalau dirinya tidak pulang dalam waktu yang ditentukan, lelaki itu pasti benar-benar akan menyusulnya.


"Iya, 10 menit lagi aku pulang."


"Aku telpon video call, ya?"


"Jangan, aku sudah mau pulang," ucap Arinka.


Setelah membeli kue, ia segera pulang dan meminta Drivel ojol itu singgah sebentar membeli batagor, segera ia bergegas pulang.


**Bersambung...


Jangan lupa tekan like jika sudah baca ❤


vote dan comment sebanyak-banyaknya ya,

__ADS_1


salam sayang dariku buat pembaca semua, Luv u 😘😘**


__ADS_2