
Setelah kejadian kemarin semua orang enggan berbicara terutama renza tak menjelaskan apa-apa kepada arinka, tapi arinka tidak pernah menuntut penjelasan, karena dia masing berpegang dengan perjanjian awal jika urusan pribadi masing-masing tidak perlu ikut campur, takutnya renza semakin membencinya.
Nek murti hanya berkata kepada arinka untuk selalu bersabar, karena arinka juga memang selalu bersabar, nek murti sangat salut dengan sikap Arinka yang tidak banyak bicara dan menuntut.
Hari ini seperti biasa Arinka bangun lebih awal, menyiapkan sarapan dan membuat secangkir kopi, Renza sudah bersiap dengan pakaian kantornya, dan sudah duduk dimeja makan untuk sarapan, Arinka juga sudah Rapi dan cantik menggunakan pakaian khas rok mengembang dibawah lututnya, arinka sangat jarang menggunakan celana.
Cih, Lihatlah pakaiannya ini sangat menghibur, lumayan bikin good mood pagi ini, tersenyum tipis.
arinka yang kebetulan memandangnya mengernyitkan dahinya, tidak biasanya pagi-pagi melihat Renza tersenyum walaupun sedikit saja, tetapi hari ini dia tersenyum, wahh sungguh anugrah batin arinka.
"Maaf tuan, ada apa tersenyum?"
"Hey,memangnya aku tak boleh tersenyum, suka-suka aku dong."
Dasar orang tempramen.
Deni sudah datang dan seperti biasa menyapa, tak ketinggalan menyapa arinka dengan senyum paling manis menurut renza.
"Selamat pagi nyonya arinka, sudah rapi saja pagi ini? mau kemana?"
"Pagi juga pak deni, hari ini hari pertama aku bekerja, jadi aku sudah berkemas lebih awal supaya tidak terlambat."
"Wah, hebat banget baru kemarin cari kerja sudah dapat aja, mungkin karena cantik jadi cepat dapat kerjaan kan." mata deni melirik sekilas kearah renza yang sedang minum kopi sok cuek, padahal deni tau hatinya marah.
"uhuk uhuk." pura-pura batuk "kopinya tidak enak, terlalu manis." sambil meletakan cangkir kopi diatas meja.
"Maaf, biasanya takaran gulanya segitu kok Tuan."
"Jadi kau pikir aku berbohong,huh!"
alasan yang kuno, bilang saja tidak suka kalau aku senyum-senyuman sama nyonya pak,haha. gumam deni.
"Aku buatkan lagi ya Tuan yang baru."
"hemm" cuek sambil membaca koran pagi.
Arinka berjalan membawa secangkir kopi kedapur dan menggantinya, tidak lama kemudian dia kembali lagi dengan secangkir kopi yang baru.
"Ini Tuan, gulanya aku kurangi dari takaran sebelumnya."
sambil menyodorkan kopi tersebut kepada Renza,segera renza meniup dan mencicipinya.
"Cuih, Ini hambar, tidak manis sama sekali, dasar tidak bisa buat kopi."
masa sih, padahal biasanya takaran yang pertama kan pas kalo dikurangi emang jadi ga terlalu manis, mau apa sih ini orang sebenarnya.
"Buat lagi, cepat." setengah teriak
"Ba baik Tuan." sedikit gagap.
kau lagi mengerjai arinka kan pak? biar dia telat kerja dihari pertama, dasar licik.
__ADS_1
"Pak kau kenapa? tak biasanya bapak memilih-milih makanan?"
"Tidak apa, memang tidak enak dan hambar kok." seringainya muncul
aku tau kau pak, kau tak bisa berbohong dariku, menggelikan melihat tingkahmu ini.
Bi Ami muncul dengan membawakan secangkir kopi kepada Renza, sontak raut wajah renza sedikit marah karena bukan arinka yang membawanya, deni hanya memandangi sambil tersenyum.
"Kenapa bi Ami yang membawakan kopi ku? kemana si kampu." ucapannya terhenti karena ingin menyebut arinka dengan sebutan sikampungan, entah kenapa biasanya dia sangat bersemangat menyebut kampungan.
jangan bilang kampungan lagi, aku harus memanggilnya dengan sebutan lain, tapi apa, huh!
"maaf tuan, nyonya arinka permisi ke wc" ucap bi ami
"Haiss, menjijikan! bikin mood ku rusak saja, bawa pergi kopi itu,aku lagi malas minum kopi."
Deni hanya tertawa kecil melihat kelakuan Atasan nya itu, dan bi ami membawa kembali kopi itu kedapur dengan wajah kebingungan.
Tuan Renza kenapa sih sebenarnya? gumam bi ami.
Aku tau dia ingin mengerjaiku,haha. aku kabur saja ke wc, Arinka.
"Pak jika sudah selesai sebaiknya kita segera berangkat." ucap deni.
"Nanti saja aku ingin bersantai sedikit hari ini, agak terlambat juga gapapa kan,lagian tidak ada rapat juga pagi ini."
Aku mencium bau-bau yang mencurigakan.
"Kemana nyonyamu belum keluar?"
"mungkin nyonya lagi didalam, sebentar lagi keluar"
Arinka sudah keluar dari wc dan duduk kembali ke meja makan, arinka melirik Renza yang belum berangkat padahal sudah jam setengah sembilan, padahal hari biasanya jam delapan lewat sudah berangkat.
aku ingin bertanya, Ah sudahlah, nanti dia kepedean, Renza.
kenapa lagi si dia ini belum berangkat, Arinka.
"Tuan, aku akan berangkat bekerja hari ini, maaf aku duluan, aku tidak ingin terlambat dihari pertama kerja."
"terserah kau saja, aku belum berangkat bukan berarti aku menunggumu ya." tidak melirik kearah arinka hanya fokus membaca koran.
Siapa juga yang merasa ditunggu, aneh, arinka.
"Pak sebaiknya kita juga berangkat, sudah siang nanti jam sebelas kita ada rapat bersama klien dari Singapura." ucap deni
"aku yang atasan disini jadi terserah dong, aku mau terlambat bukan hakmu, kau hanya perlu menurutiku saja."
tidak biasanya pak renza bersikap seperti ini, ada apa sebenarnya denganmu pak? konsistenmu kemana? bilang saja ingin menunggu arinka berangkat dulu, baru bapak berangkat juga kan, cih dasar.
arinka sudah pergi meninggalkan rumah dan berpamitan kepada bi ami, tetapi tidak berpamitan kepada Renza. arinka naik ojek agar lebih mudah dan cepat sampai tujuan.
__ADS_1
"Ayo, cepat kita berangkat." ucap renza tiba-tiba
tadi bilangnya nanti, sekarang harus cepat.
mereka bergegas masuk kedalam mobil dan melanjukan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya. dikejauhan terlihat arinka yang tengah berboncengan dengan driver ojek menggunakan helm.
"Jangan lewati dia, tetap dibelakangnya,jangan bertanya dan jangan membantah."
bilang saja ingin tau tempat kerjanya, bicara dan bertanya saja pak, kenapa harus mempersulit diri, gengsi gede-gedean sih. Tersenyum
"Hey, kau tersenyum mengolokku yah?"
"Tidak pak, saya hanya ingin senyum saja pak."
"Kau aku larang senyum hari ini, awas kau terseyum lagi ya." Kesal
driver ojek itu bergerak lurus sedangkan arah kantor mereka berbeda, seharusnya berbelok, deni sudah ingin berbelok segera kena teriakan dari atasannya itu.
"Jangan berbelok,ikuti saja dia."
ya ampun rumit amat sih hidupmu pak, apalah daya aku hanya bawahan yang harus tunduk akan perintah.
Arinka sudah sampai di depan restauran tempatnya bekerja, ia membuka helmnya dan memberikan uang ongkos perjalanannya, terlihat wajahnya tersenyum entah apa yang diperbincangkannya.
"Cih, sama tukang ojek aja senyum begitu, dasar penggoda."
"Haha, nyonya bukan penggoda pak, nyonya hanya berterima kasih dan tersenyum apa salahnya."
"Kau selalu membelanya, jangan-jangan kau benar menyukainya?" setengah berteriak
"iya pak aku menyukainya." tertawa tipis
"Apaa?! kau mau cari mati? mau aku patahkan tulangmu itu? sialan kau!! sudah ku bilang jangan tersenyum."
"hehe, sabar pak aku kan belum selesai berbicara, aku menyukai nyonya sebagai istrinya bapak, hanya itu kok, lagian kenapa juga bapak harus marah? bapak bilang kan tidak menyukai nyonya." memancing emosi
"Beraninya kau, turun sana biar aku yang menyetir, kau pulang saja, hari ini kau cuti, sekali lagi hari ini kau jangan tersenyum." ucap renza kesal
"maafkan aku pak, aku hanya bercanda." raut wajah datar
"Turun dan pulang." teriak
Deni segera turun dan meninggalkan Renza sendiri, renza hanya fokus melihat kearah restauran, ia tidak menggubris keadaan deni diluar mobil, tak lama kemudian deni pergi menggunakan taxi meninggalkan Renza sendiri yang tengah mengintai seperti detektif.
Apa yang aku lakukan, apa aku sudah gila marah kepada deni, astaga otakku mungkin sudah tidak waras, nanti deni tau kalau aku penasaran sama arinka, ahh terserah, mending aku pergi saja.
Renza lalu pergi melajukan kendaraan seorang diri dengan perasaan kesal dan penasaran.
***bersambung..
jangan lupa vote dan comment ya..
__ADS_1
terima kasih sudah menjadi pembaca setia novelku.
Salam sayang dariku, Luv u*** 😘