Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 108 : Baikan


__ADS_3

Setelah pulang dari cabang baru, Renza meminta Deni untuk mampir membeli pizza, sate ayam dan ice cream. Deni mengiyakan saja keinginan atasannya itu. Tapi yang membuat Deni pusing, mereka berdua tidak tahu dimana tempat yang enak membeli sate ayam.


"Kita beli dimana? Aku tidak tahu tempat yang enak untuk membeli sate ayam ini," ucap Deni.


"Apalagi aku, coba browsing dulu," sahut Renza sembari mengambil ponselnya dari dalam saku jas.


"Iya, kita ke tempat pizza dulu. Sambil menunggu bisa sambil browsing."


"Oke, baiklah," jawab Renza sambil mengangguk.


Deni melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat pizza. Tak butuh lama, mereka sudah sampai dan turun dari mobil. Sambil berjalan Renza terus menggeser layar ponselnya. Ia terus mencari tempat sate terenak untuk istrinya yang tercinta.


Sambil duduk dan menunggu, Deni juga memainkan ponselnya. Ia mencari juga tempat sate ayam yang enak. Ketika melihat nama Risa di ponselnya, Deni menarik napas panjang. Tangan seketika membuka foto profil whatspp nya. Yah, lelaki itu merindukan chat dari pacarnya.


Renza tersenyum ketika menemukan tempat membeli sate itu. Ia dengan segera ingin menunjukkannya kepada Deni. Tapi urung melihat raut wajah Deni berubah mellow menatap layar ponselnya.


"Kau sudah mau cerita?" tanya Renza.


"Aa-apa?" jawab Deni gagap.


"Cerita saja, biar hati kamu bisa lebih plong. Bukannya lebih nyaman jika sudah cerita?"


"Entahlah, aku bingung mau mulai cerita dari mana?"


"Ya, terserah lah. Jadi orang jangan keras kepala, apalagi kepada pasangan, hasilnya tidak akan baik. Lagipula kau itu lelaki, kau harus meminta maaf duluan."


"Aku berusaha minta maaf tapi dia tidak mau mendengarkan."


"Wanita memang begitu. Kamu langsung datang saja, mereka akan luluh tak berkutik."


"Benarkah?"


"Hmm, daripada seperti ini terus tidak akan menyelesaikan masalah. Kalian sepertinya saling menghindar, tak ingin menyelesaikan masalah masing-masing."


"Aku bukan menghindar, hanya saja Risa tidak membalas chat."


"Ya, kamu datang saja ke rumahnya. Gampang 'kan? Bawa apapun yang dia sukai. Dia akan luluh."


"Sebenarnya hari itu aku membelikannya bunga sangat dia ngambek."


"Dia tidak menerimannya?"


"Bukan begitu." Deni menundukkan pandangan.


"Lantas karena apa?"


"Begini, saat makan siang itu kami bercerita panjang lebar. Aku sadar mungkin dia marah karena aku menyebutkan nama Milka. Aku mengatakan bahwa Milka itu cinta pertamaku."


"Iya wajar, sih. Wanita itu sering cemburu dengan masa lalu walaupun mereka tidak mengenalnya. Nah, diposisi kamu, Risa mengenal Milka."


"Hmm, iya aku tahu. Aku sadar dia sedang cemburu dan ngambek. Aku berbicara dia tidak terlalu tanggap. Risa hanya memainkan ponselnya sambil makan."


"Ya karena dia sedang marah tadi, jadi sikapnya seperti itu."


"Hmm, iya aku tahu, kok. Terus aku berinisiatif untuk membuatnya tersenyum lagi. Aku pergi keluar membeli bunga dan cokelat."


"Sudah benar, kok. Lantas kenapa dia masih ngambek?"


"Dengar dulu, aku belum selesai." Deni sedikit emosi dan berbicara dengan nada setingkat lebih tinggi. Renza membesarkan matanya dan ingin menyela Deni. Tapi ia tahu Deni sedang dalam mood yang tidak bagus. Jadi ia mencoba mengalah.


"Aku pergi begitu saja, maksud hati ingin memberi kejutan. Tapi aku pergi tak pamit dan meninggalkan ia makan sendiri. Bahkan makanan saja, Risa yang bayar."


"Haiss, kau benar-benar menyebalkan. Wajar saja Risa marah."


"Ya, kan maksudku setelah aku kembali, Risa akan tersenyum saat aku membawakan bunga dan cokelat. Tapi, kemudian, Risa tidak ada disana lagi. Aku melihat panggilan diponselku atas namanya. Risa menelepon 2 kali dan tidak aku jawab."


"Ya Tuhan. Kau ini dalam pekerjaan sangat pintar. Kenaoa masalah percintaan jadi sangat bodoh seperti ini." Renza terkekeh.


"Ini kencan pertamaku, pacar pertamaku. Sebenarnya aku terlalu senang dan juga gugup bersamaan. Tapi aku berusaha bersikap biasa saja. Aku ingin membuatnya terkesan malah seperti ini."


"Deni, begini, yah? Yang kamu lakukan itu memang benar membujuk wanita dengan membelikannya bunga dan cokelat. Tapi caramu salah. Astaga! Umpamanya, kita sedang acara makan siang dengan klien. Saat kita sedang berbicara panjang lebar tiba-tiba klien pergi karena urusan mendadak, bagaimana perasaanmu?" Renza menjelaskan dengan rinci sambil tersenyum kecil.


"Hmm, ya pasti sangat tersinggung. Berarti Risa juga tersinggung."


"Sudah pasti! Apalagi makanannya dia yang membayar. Jika saat itu ada lelaki lain, mungkin ia akan berpindah hati, karena kelakuanmu itu yang ******." Renza tertawa.

__ADS_1


"Aku merasa sangat bersalah, aku tidak ingin Risa bersama lelaki lain. Aku harus meminta maaf."


"Ya jelas. Jadi bunga dan coklat di belakang itu penyebabnya." Renza menunjuk bunga dan coklat yang ada dikursi belakang.


"Hemm, lain kali semarah apapun dia, jangan tinggalkan. Jika kau ingin memberi kejutan, kau bisa menghentikan mobilmu saat bersamanya dan membeli semua ini. Aku sudah banyak belajar, bahwa wanita itu sangat lembut hatinya. Jika kita tulus mengerti dirinya, mereka akan merasa nyaman dengan sendirinya bersamamu."


"Aku benar-benar perlu belajar banyak hal. Aku terlalu banyak menggunakan logika saat pacaran. Padahal seharusnya menggunakan perasaan."


"Sekarang kamu sudah tahu 'kan?" Jika masih membuat kesalahan seperti itu, berarti kau memang ****." Renza tertawa jahil.


"Haiss, sialan! Suka sekali mengatakan orang ****."


"Karena kamu memang **** 'kan? Tidak mengakuinya?"


"TIDAK!" sahut Deni tegas.


"Huuuu, yang **** ga mau ngaku. Mana ada zaman sekarang, lelaki meninggalkan wanitanya karena mau membujuknya. Apakah masuk akal?" Renza tak henti tertawa. Deni hanya terdiam menahan emosi.


"Sekalinya aku pikir-pikir memang tak masuk akal, sih."


"Nah 'kan? Manusia sepintar Deni bisa melakukan kesalahan seperti ini, benar-benar diluar nalar."


"Ejek terus. Bagian mengejek memang paling jago bener."


"Wih, sudah jelas. Kau mau menyalahiku?"


"Tidak, mana berani!" Deni membuang muka dan mencebikkan bibirnya. Renza tahu Deni kesal. Namun, Renza hanya tersenyum mengulum bibirnya.


Setelah selesai membeli pizza, Renza dan Deni menuju tempat sate ayam. Renza benar-benar menuruti keinginan istrinya itu. Sesampainya di tempat sate ayam itu, beberapa pasang mata terlihat heran. Pasalnya, dua lelaki berjas hitam itu turun langsung membeli dan menunggu di kursi sambil berbincang-bincang.


Beberapa wanita remaja saling menebar senyuman. Terdengar mereka saling berucap tampan. Namun, Renza dan Deni tetap acuh. Deni terlihat risih karena ditatap terus menerus. Renza malah terlihat biasa saja. Kurang lebih 10 menit menunggu, sate itu siap dibawa pulang.


Deni membukakan pintu untuk Renza. Tak lama, mobil itu melaju meninggalkan tempat sate tadi dan terakhir membeli ice cream. Renza tidak turun dari mobil, melainkan Deni yang turun membeli ice cream box yang lumayan besar.


Setelah semua yang diinginkan Arinka terpenuhi, mobil itu melaju menuju rumah kediaman Renza. Tak butuh waktu lama, Renza dan Deni sudah sampai di didepan rumah. Waktu menunjukkan pukul 5 sore.


Deni membawakan belanjaan makanan itu kedalam rumah dan meletakkannya di meja makan. Bi Ami segera membantu Deni. Sebelum Renza bertanya, Bi Ami sudah lebih dulu mengatakan bahwa Arinka sedang di taman.


"Ny. Arin sedang berada di taman bersama Nona. Risa," ucap bi Ami. Deni tercengang. Seketika, ia salah tingkah.


"Aku gugup," jawab Deni.


"Bahaha, seorang Deni gugup." Renza tertawa.


"Ya kan aku manusia."


"Ayo kita ke dapur!" ajak Renza.


"Aku pulang saja."


"Hoy, jika kau pulang berarti kau menghindar." Teriak Renza ketika Deni sudah membalikkan badan.


"Aku masih bingung."


"Jangan jadi pengecut! Ayo!" Renza berjalan kebelakang Deni dan mendorongnya. Kakinya terpaksa melangkah karena sudah didorong.


"Sayang!" panggil Renza sambil berjalan membawa sekotak ice cream.


"Sudah pulang?" sahut Arinka.


"Iya, ini makanan yang ingin mimom makan," ucap Renza seraya melirik Risa yang ada disamping Arinka. Risa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Namun, senyuman Risa segera mengerut ketika melihat lelaki dibelakang Renza yang berdiri dengan ragu-ragu.


"Ice cream? " ucap Arinka.


"Yeah," sahut Renza sambil memberikannya kepada Arinka.


"Woah, habisin, boleh?" ucap Arinka manja.


"Terserah saja, jika mimom kuat menghabiskannya, kenapa tidak?" ujar Renza sambil melirik pizza yang ada di atas meja.


"Mungkin saja bisa," sahut Arinka terkekeh.


"Pizza? Risa yang membawakannya, ya?"


"Iya, Pak. Kebetulan aku ingin makan pizza, jadi sekalian saja beli untuk makan sama-sama kak Arin."

__ADS_1


"Pipom juga membeli sekotak pizza." Renza berseru memanggil Bi Ami, tak lama Bi Ami datang. Renza menyuruhnya mengambil sate ayam dan pizza. Tak butuh waktu lama, Bi Ami datang membawakan pizza dan sate ayam yang sudah di sajikan dipiring. Lalu, Bi Ami kembali lagi membawakan jus jeruk 4 gelas untuk mereka berempat.


Suasana menjadi agak canggung. Pasalnya Deni dan Risa tidak bertegur sapa. Renza dan Arinka mencoba mencairkan suasana dengan cara bermanja-manja supaya Risa dan Deni iri.


"Sayang, sini pipom suapin," ucap Renza seraya menyodorkan sendok ke mulut Arinka. Deni dan Risa hanya diam salah tingkah.


"Kalian ini tidak ingin bicara, kah?" tanya Arinka yang sudah tak tahan melihat dua sejoli itu terus canggung.


"Aa-apa?" ucap Risa gagap. Sedangkan Deni hanya diam membeku seperti es.


"Selesaikan masalah kalian, jangan salah paham berlarut-larut," sahut Renza menambahkan.


"Hmm, aku salah. Wajar saja didiamkan seperti ini," ucap Deni memelankan suaranya sambil menundukkan pandangan.


"Ya, kamu memang salah. Kamu tidak memberi penjelasan. Asal pergi gitu aja."


"Coba kalian bicarakan pelan-pelan dengan kepala dingin." Renza menjadi penengah.


"Aku ingin bicara, ini semua salah paham. Tolong jangan menghindar lagi," ucap Deni mendekatkan kursi kearah Risa. Renza masih terus menyuapi pizza kemulut Arinka. Arinka dan Renza memilih diam dan tak menggubris percakapan mereka dulu.


"Ayo duduk di ayunan itu," ucap Deni mengajak Risa. Risa bangkit dari kursi dan berjalan mendekati ayunan dan kemudian duduk.


"Coba jelaskan, apa maksud kau meninggalkan aku?" tanya Risa menatap Deni intens.


"Sebenarnya aku tahu kamu marah saat aku membicarakan cinta pertamaku. Yah, karena kau kenal dengan wanita bernama Milka. Tapi percayalah dia hanya masa lalu."


"Iya, aku cemburu, tahu? Tapi kau malah diam dan tak memberi penenangan kepadaku, malah langsung pergi begitu saja tanpa pamit."


"Aku sebenarnya ingin menenangkanmu, aku pergi itu ingin membeli bunga dan cokelat. Biar kamu bisa tersenyum kembali. Tapi caraku salah, aku meninggalkanmu begitu saja tanpa pamit."


"Mana buktinya? Jangan membuat alasan jika tak ada buktinya."


"Tunggu disini, aku akan membawa buktinya," ucap Deni berjalan meninggalkan Risa. Renza dan Arinka saling memandang melihat Deni pergi.


"Yakin saja, Deni pasti bisa membuat Risa menjadi seperti semula. Mereka pasti baikan." Renza menatap Arinka, Arinka mengangguk, lalu menyuapi ice cream kemulutnya.


Risa masih terdiam duduk diayunan. Tak lama, Deni datang dari luar membawa bunga dan cokelat dalam kotak. Renza dan Arinka tersenyum tapi pura-pura tak melihat Deni berjalan. Renza dan Arinka itu padahal adalah pasangan kepo. Mereka berdua saling mencuri pandang. Benar-benar pasangan yang paling klop.


Deni berjalan membawa bunga itu kehadapan Risa.


"Ini buktinya," ucap Deni sambil memberikan bunga dan cokelat.


"Bisa saja ini dibeli barusan," sahut Risa dengan nada masih penuh keraguan.


"Aku bersumpah, ini bener-bener dibeli pas makan siang. Aku tidak berbohong. Aku benar-benar menyayangimu, Alienku."


"Hmm, benarkah? Aku juga menyayangimu. Aku harap ini memang bukan hanya alasan."


"Tidak, percaya saja padaku. Jika aku berbohong, aku siap kehilangan kamu untuk selamanya. Maafkan aku sudah membuat kamu kesal."


"Iya, aku percaya dengan Dinoku. Maaf juga karena sudah salah paham."


"Sama, aku juga minta maaf. Jangan cemberut lagi, ya, Alienku."


"Iya, Dinoku."


"Huh! Lega rasanya. Tadi seperti ada batu yang mengganjal dihati, sekarang dengan sekejap sudah plong."


"Sama. Jika bertengkar semoga tidak berlarut-larut, ya?"


"Amiin ... senang bisa melihat senyum Alienku lagi."


"Iya, aku juga."


Renza dan Arinka ikut tersenyum melihat Risa dan Deni sudah berbaikan. Apapun masalahnya, jika dibicarakan dengan kepala dingin pasti akan membaik.


***Bersambung...


Jangan lupa like dan Komentarnya.


Jaga kesehatan, ya?


Yang belum favorite, silahkan tekan love.


I love u readers ku*** 😘😘

__ADS_1


__ADS_2