
Arinka berjalan sambil diiringi sepasang kekasih yang saling curi-curi pandang. Sesekali Arinka menoleh dan melirik kelakuan dua orang dibelakangnya itu yang seperti salah tingkah. Risa memilih berjalan berdampingan dengan Arinka, setelah ia sadar bahwa beberapa pasang mata sedang memandangnya dengan tatapan bingung.
Deni membawakan paperbag dari tangan Arinka dan Renza dengan senang hati. Wajah Si killer itu mendadak menjadi ramah yang membuat beberapa pasang mata mendelik takjub.
"Siapa wanita itu yang berhasil membuat Si Killer Deni merubah raut wajahnya? Jangan-jangan pacarnya," bisik Rina karyawan di kantor itu.
Rina adalah karyawan wanita yang diam-diam sering memperhatikan Deni. Dia selalu saja tersenyum walaupun Deni selalu sinis kepada nya. Ada rasa iri mengganggunya saat Deni tersenyum manis menatap Risa. Tetepi ia sadar diri, ia bukan siapa-siapa. Hanya sekedar pengagum saja.
Deni membuka pintu ruangan Renza dan mempersilakan Arinka masuk. Dengan senyuman termanis, Arinka menyapa Renza yang masih sibuk dengan tumpukan kertas di depannya. Renza tak menatap sedikitpun saat Arinka masuk. Setelah mendengar suara Arinka menyapa, mata itu langsung liar mencari sosok empunya suara.
"Pipooomm!!" sapa Arinka dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Mimom," sahut Renza dan segera berdiri melihat kedatangan istrinya.
"Lagi sibuk, ya?" ucap Arinka menghampiri meja Renza.
"Lumayan," kata Renza menghampiri Arinka. Menarik tangannya untuk duduk di sofa. Arinka duduk berdampingan dengan Renza. Tak lupa, Renza mengecup kening Arinka dengan lembut.
"Mimom datang bersama Risa. Mereka masih di luar."
"Wah, Deni pasti bahagia sekali." Renza tertawa sembari memegang tangan Arinka. Kemudian, sesekali ia mengecup punggung tangan itu.
Deni dan Risa masuk bersamaan. Wajah datar Deni mendadak berubah setelah kedatangan Risa. Wajah menakutkan yang biasanya ia perlihatkan di kantor mendadak sirna setelah datangnya wanita berambut sepinggang ini.
"Ahem!" Renza berdeham saat Deni terus tersenyum menatap Risa yang baru saja ingin duduk di sofa. Arinka tertawa melihat tingkah Deni saat gelagapan.
"Kenapa, Pak?" tanya Deni yang secepat kilat mengalihkan pandangan.
"Mata mu melirik ke arah Risa terus, haha ...."
Risa tersipu malu mendengar ucapan Renza. Pipinya bersemu merah dan gerak nya menjadi salah tingkah. Arinka mengulum bibirnya melihat perubahan tingkah Risa. Arinka melirik Renza memberi kode agar Renza berhenti menjahili mereka. Namun, Renza terus tersenyum jahil menatap Risa.
"Jangan malu-malu gitu, dong." Renza terus menjahili Arinka.
"Udah, Pip. Risa jadi malu. Mendingan Pipom aja bertengkar sama Deni, biar seru.
"Ahaha ..." Risa refleks tertawa mendengar ucapan Arinka. Mereka bertiga saling bertatap dengan wajah kebingungan mendengar tawa Risa yang spontan.
Sadar diperhatikan, Risa segera menutup mulutnya dan kembali ke posisi semula, jaim.
"Wah! Tertawamu boleh juga," ucap Renza seraya tertawa juga. Deni manggut-manggut malu melihat Risa tertawa refleks. Baginya, itu sangat imut.
"Hoy Deni," teriak Arinka menegur Deni yang sedang senyum-senyum searah menatap Risa.
"Eh, iya.. Kenapa?" tanya Deni segera mengalihkan pandangan ke arah Arinka.
"Belikan minuman."
"Eh, bukannya kita beli tadi," sahut Risa.
"Aku kan ga beli, kamu beli jus alpukat buat Deni."
"Eh, iyakah? Untuk aku." Deni menunjuk dirinya sendiri.
"Huum," jawab Risa mengganggukkan kepala.
"Aku ingin jus melon," rengek Arinka. "pengen banget minum jus melon," kata Arinka senyum manja menatap Renza.
"Deni, belikan jus melon di kantin," titah Renza.
"Baik, Pak."
__ADS_1
Deni memutar badan dan berbalik meninggalkan mereka bertiga. Risa bangkit dari duduknya dan berjalan mengejar Deni. Deni menoleh menatap Risa dengan senyuman mengembang.
"Ada apa?" tanya Deni.
"Boleh ikut?" sahut Risa.
"Kamu mau ikut ke kantin?" tanya Deni sekali lagi. Deni agak ragu-ragu. Ia sedikit canggung berduaan di kantor dengan Risa. Tetapi rasa suka itu mengalahkan segalanya. Deni tak akan menolak kalau Risa ingin pergi bersamanya.
"Iya, boleh 'kan?" tanya Risa.
"Ya sudah pergi saja," kata Renza tertawa sambil menggerakkan tangannya.
Dengan senyuman mengembang, Risa mensejajarkan langkahnya dengan Deni. Mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan Renza. Tinggallah Renza dan Arinka yang sedang duduk berdua di sofa.
Deni dan Arinka saling berbalas senyum. Keluar dari pintu lift, Deni mempersilakan Risa keluar duluan. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Deni yang terkenal cool killer dan sangat jarang tersenyum itu, hari ini sangat murah senyum tetapi hanya kepada wanita didepannya.
Melewati beberapa karyawan, Deni memasang wajah datar. Risa yang melihat perubahan raut wajah Deni tersenyum lucu dan segera membuang muka sambil menutup mulutnya.
"Kenapa?" ucap Deni pelan.
"Tidak ada apa-apa," jawab Risa mengulum bibirnya.
Kebetulan saat itu di kantin bukan jam istirahat. Jadi mereka bisa bebas duduk dimana saja. Deni menarik kursi untuk mempersilakan Risa duduk. Mereka berdua duduk saling berhadapan. Tak lupa Deni segera memesan jus melon.
"Aku gugup," ucap Deni.
"Gugup?" tanya Risa.
"Gugup ketemu kamu, Alien."
"Ah ... iyakah?"
"Iya." Denis nyengir kuda.
Deni duduk dengan tenang menatap wanita tercintanya. Bibirnya terus tersenyum. Sedangkan wanita didepannya tersipu malu ditatap dengan wajah menggemaskan itu.
"Jangan menatapku seperti itu," bisik Risa seraya menempelkan tangan di sisi pipi kanan.
"Kenapa? Tidak ada orang disini, aku bebas menatapmu," sahut Deni terus tersenyum. Kemudian, refleks tangan Deni menyentuh tangan Risa. Dengan cepat Risa menarik tangan itu dan berdiri. Matanya liar memandang setiap sudut kantin.
"Huh, untung gak ada orang," ucap Risa sembari menarik napas panjang lalu membuang sembarang.
"Memangnya kenapa?" Seketika Deni terlihat bodoh setelah bertemu wanita yang ia cintai ini. Hampir saja ia akan mematahkan gelar cool killer nya.
"Tidak apa-apa, kok. Aku dengar kau Si cool killer? Jangan sampai gara-gara bertemu aku, gelar itu jadi berubah drastis."
"Alien dengar dari siapa julukan seperti itu? Mereka semena-mena kasih julukan."
"Ya kan bukan rahasia publik lagi. Udah terkenal lah nama Deni orang yang dingin sedari dulu. Aku juga dulu sangat sebel kalau bertemu kamu. Selalu aja adu mulut ga berenti-berenti."
"Heum ... terlalu jujur," ucap Deni tertawa.
"Jangan banyak tertawa, tetap aja itu membuat mereka jadi tidak segan lagi."
Secepat kilat, Deni menghentikan tawanya. Kemudian, wajahnya seketika berubah sangar.
"Alien mau pesan minum apa?" tanya Deni.
"Aku beli air mineral saja."
"Baiklah, tunggu disini sebentar aku ambilkan.
__ADS_1
"Iya, Dino."
Tak bermenit-menit Deni datang dengan 2 botol air mineral. Senyumnya terus mengembang menatap Risa. Beberapa karyawan ada yang sengaja izin berpura-pura ke toilet. Seperti Rina dan Alya yang sangat penasaran dengan mereka berdua.
Rina dan Alya berjalan bersembunyi di balik dinding dekat kantin. Gerak gerik mereka terlihat oleh Deni. Dengan cepat Deni berdiri, "Tunggu sebentar, ya," kata Deni kepada Risa. Ia berjalan menghampiri dua orang itu dan menegur mereka berdua.
"Kalian berdua, sini!" panggil Deni sambil menjentikkan jarinya. Aura nya berubah seketika. Risa yang tadinya duduk diam di sana memperhatikan sedikit gugup jadinya. Matanya tak lepas dari sosok Deni.
Rina dan Alya berjalan dari balik dinding. Mereka berdua terkejut, Deni bisa mengetahuinya.
"Kenapa kalian di sini?" Tidak bekerja?" tanya Deni.
"Ka-kami dari toilet, Pak," jawab Rina gugup.
"Toilet arah sana. Apa kalian mau bermain-main? Tidak mau bekerja lagi?"
"Ti-tidak, Pak," sahut mereka berdua serentak.
"Apa yang mau kalian lihat? Wanita itu," tunjuk Deni kepada Risa. Risa yang ditunjuk menoleh ke kiri dan kanan sambil menunjuk diri sendiri. "Kenapa? Kenapa aku di tunjuk," gumam Risa.
"Maaf, Pak. Kami tidak bermaksud begitu." Alya dan Rina mendadak gemetaran. Kaki dan tangannya berkeringat berhadapan dengan Si killer Deni.
"Jika kalian berdua penasaran, silahkan bertanya kepadanya. Dia ramah, kok." Deni tersenyum. Namun, senyum itu sangat menakutkan bagi dua orang didepannya.
"Tidak, Pak. Maaf."
"Kali ini kalian aku maafkan. Jika sekali lagi kalian seperti ini, siap-siap keluar dari pekerjaan ini. Paham!"
Alya dan Rina mengangguk cepat. Deni mengisyaratkan agar mereka segera kembali bekerja dengan menjentikkan jarinya. Kemudian, Ia bejalan kembali menuju meja Risa. Risa yang sedari tadi memperhatikan diam tanpa senyum. Matanya fokus memperhatikan sosok Deni yang benar-benar berbeda saat memarahi karyawan.
"Maaf, ya, membuat kamu takut," ucap Deni.
"Kamu benar-benar menakutkan. Si killer Deni, julukan yang pas." Risa tersenyum menutup mulutnya.
"Mereka tidak disiplin, sih."
"Uwu ... menakutkan sekali."
Seketika Deni tertawa mendengar ucapan Risa. Penjaga kantin yang melihat kejadian Deni memarahi bawahan tadi kebingungan. Deni benar-benar sudah di sihir oleh pesona Risa.
"Ayo kembali ke ruangan Pak Renza!" ajak Risa. Refleks Deni memegang tangan Risa, lalu secepat kilat ia melepaskannya. "Sorry," kata Deni. Kedua manusia itu mendadak canggung.
"Aku bayar dulu," ucap Deni.
"Sudah aku bayar."
"Astaga ... ini yang kedua kalinya dibayarin." Deni mengeluarkan uang dan memberikannya kepada Risa. Risa menolaknya dengan menahan tangan Deni. "Tidak apa-apa," kata Risa.
"Aku tidak enak." Deni mengerutkan bibirnya yang membuat Risa tersenyum gemas menatap Deni. Ingin sekali Risa mencubit pipi Deni. Tetapi ini di kantor. Pasti akan menjadi gosip besar jika mereka kepergok bermesraan.
"Ah, Dino kok gemesin gitu," ucap Risa manja.
"Ya Tuhan ... aku ingin sekali mengusap rambutmu, ini benar-benar imut," sahut Deni.
Mereka berdua saling menatap dan tertawa. Sisil satu-satunya orang yang melihat kemesraan mereka berdua ikut tersenyum. "Semoga mereka berjodoh."
Bersambung ...
Hola readers, jangan lupa like dan komen ya 😁
Jangan lupa juga jaga kesehatan 🥰
__ADS_1
Sun sayang dari Author 😘😘