
Sementara itu dirumah besar Renza ...
Arinka sedang duduk disofa besar berwarna hijau diruang keluarga sambil mengelus perutnya. Ia berpikir banyak tentang anaknya nanti. Sesekali ia bermonolog sendiri. Sambil menyeruput orange juice dari gelas dan pandangannya kosong menatap seisi ruangan.
Tak lama terdengar derap langkah kaki menghampirinya. langkah kaki itu semakin dekat dan berhenti tepat disebelah sofa yang ia duduki. Arinka menoleh dan bibirnya tertarik melengkung keatas. Yah, Arinka mendongak dan tersenyum menatap suaminya.
"Sayang, kenapa melamun?" ucap Renza yang segera duduk tepat disebelah Arinka.
"Engga, kok. Hanya sedang berpikir aja."
"Mikirin apa, sih, sayang?" ucap Renza mengelus rambut Arinka lembut.
"Mikir nama anak kita nanti." Arinka tersenyum sambil menyandarkan kepala di bahu Renza.
"Wah, nama? Hmm ... Pipom punya dong nama yang bagus buat anak kita kelak."
"Iyakah? Apa?" Arinka mendongakkan kepala dan memperlihatkan tatapan puppy eyes.
"Hah, jangan seperti ini, Pipom jadi makin gemes sama mimom." Renza mencolek pipi Arinka lembut dan kemudian mengecupnya.
"Ish," Arinka tersipu malu, pipinya bersemu merah seperti tomat.
"Ciyee ... malu, nih?" Renza tersenyum jahil.
"Engga malu, kok. Kenapa juga malu sama suami sendiri."
"Tapi pipinya merah. Makin gemesin, deh, istriku ini."
"Pip, besok jalan-jalan ke taman, yuk?"
"Hmm, boleh ... Pipom usahakan bisa pulang kerja awal, ya?"
"Iya, sayang. Kalaupun ga bisa, ya gapapa, kok."
"Pipom usahakan, donk. Soalnya besok banyak jadwal meeting."
" Iya, sayangku."
"Sekarang mau jalan-jalan, ga? mumpung masih jam 7. Bisa belanja apapun yang mau mimom makan?"
"Hmm ... makan apa, ya?"
"Kira-kira ada yg mau dimakan, ga? Kalau mimom ga mau pergi, biar pipom aja yang keluar."
"Mau ikut juga," sahut Arinka sambil bergelayut manja di lengan Renza.
"Ayo, kita jalan-jalan. Sudah lama sekali kita tidak berduaan seperti itu."
"Huum." Arinka tersenyum menatap wajah Renza. Dengan gemas Renza mencolek hidung Arinka.
Arinka menaiki tangga dan masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Ia memakai dress motif garis-garis. Sangat simple tapi terlihat elegan dipakai ditubuh Arinka dengan perut yang belum terlalu terlihat menbuncit.
Arinka sudah siap dengan di poles make up tipis, sedikit liptint merah untuk mewarnai bibir mungilnya.
Arinka benar-benar melupakan anniversary yang pertama. Renza sengaja mengajaknya dengan dalih berjalan-jalan. Padahal Renza sudah book restauran untuk candle light dinner mereka berdua.
Renza menggunakan kemeja putih dengan kancing terbuka bagian atas tanpa menggunakan dasi dengan paduan celana chino. Benar-benar sangat tampan seperti idaman wanita kebanyakan.
"Wah! Istriku sangat cantik," ucap Renza tersenyum manis.
"Hmm ... apa penampilan ini tak berlebihan? tanya Arinka seraya memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
"Tidak, kok. Malah sangat pas dan sangat mempesona."
__ADS_1
"Tapi hanya untuk jalan-jalan saja seperti berlebihan. Apa mimom ganti baju lagi?"
"Jangan, pipom suka, kok. Ayo pergi." Renza menggenggam tangan Arinka dan kemudian merangkul bahunya. Arinka mendongak menatap wajah Renza. Dengan genit Renza mengedipkan sebelah matanya.
"Idih, genit." Arinka memonyongkan bibirnya.
"Kan genit sama istriku sendiri, gapapa, donk."
"Hmm ... yayaya."
Renza membuka pintu mobil, dengan pelan Arinka masuk kedalam mobil dengan menggunakan sepatu flat berwarna coklat senada dengan garis dress yang ia gunakan.
Renza memasangkan sabuk pengaman Arinka, sambil tersenyum. Dengan lembut, Renza mengecup kening Arinka. Sontak bibir Arinka melengkung keatas yang memperlihatkan lesung pipi di kedua pipinya.
"Manisnya istriku ini," ucap Renza sambil berlalu memasuki mobil dengan berjalan memutar.
"Bisa aja, setiap hari juga seperti ini."
"Tapi sekarang nampak imut karena memakai warna serba coklat gitu."
"Iya, baru sadar kah kalo coklat itu manis?"
"Iya, tapi masih kalah manis sama istriku." Renza tersenyum sambil mencolek manja lengan Arinka.
"Ish, genit terus. Jangan-jangan dikantor kek gini kelakuannya," tutur Arinka memanyunkan bibirnya.
"Di kantor colek-colek? Mana ada?Yang ada karyawan pada nunduk kalo liat wajah pipom. Kan Mimom sering ke kantor."
"Eh, iya ... Atasan yang dingin." Arinka tertawa sambil menutup mulutnya.
"Dingin di kantor, hangat di rumah."
"Harus, donk."
"Apa mimom mau kalau pipom sering lirik-lirikan sama karyawan di kantor? Engga 'kan?"
"Lah kok ngambek?"
"Biarin," sahut Arinka membuang muka.
"Wah, wanita hamil ternyata sangat sensitive, ya?"
Arinka tak menjawab ucapan Renza. Ia malah memandangi ke luar jendela mobil dengan memanyunkan bibirnya.
"Sayang, maafin, donk." Renza mencolek lengan Arinka.
"Huh!"
"Astaga, orang hamil gini, ya? Makin menggemaskan sekali tingkah lakunya."
"Hah? Bicara apa, sih?" Arinka melirik sinis.
"Cup cup cup, jangan marah, donk. Kan Pipom hanya sayang kepada mimom. Only the one."
"Memang ada yang lain lagi, gitu?"
"Engga lah."
"Huh!"
"Uunch, sayang ... Kok makin cantik pas cemberut gitu, ya?"
"Iiihhh ..." Bibirnya melengkung keatas sambil mencubit manja lengan Renza.
__ADS_1
"Aww, sakit." Renza pura-pura kesakitan.
"Idih, lebay."
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menelusuri jalan raya yang ramai lalu lintas. Suasana malam itu sangat bersahabat, bintang-bintang bertabur di langit malam dengan kerlap kerlip yang begitu indah.
Mobil itu berhenti di kawasan restoran elite. Arinka melirik kearah Renza seperti berisyarat kenapa mereka berhenti disana. Namun, Renza hanya tersenyum dan berjalan keluar membukakan pintu untuk istrinya itu.
"Kenapa kesini?" tanya Arinka berdiri membenarkan dress-nya.
"Yuk, masuk."
"Bukannya tadi kita akan berjalan-jalan kealun-alun, malah ke restauran?"
"Disini saja lebih enak," sahut Renza tersenyum penuh manis.
"Iya deh, terserah pipom saja."
Renza menggandeng lengan Arinka dan berjalan masuk kedalam restauran besar dan megah itu. Sampai didepan pintu masuk, beberapa pelayan langsung menyambut ramah. Renza dan Arinka diantar ketempat duduk yang sudah di book.
Restauran dengan nuansa terang pink terang itu benar-benar memanjakan mata. Bola mata Arinka memutar kesana kemari melihat ornamen disetiap sudut didekat tempat mereka duduk.
"Apa mimom suka?"
"Mimom selalu suka, jika itu pergi bersama pipom."
"Uwu, makasih sayangku."
"Hmm, sama-sama, sayang."
Dengan hentikan jari, pelayan datang membawakan minuman. Namun, kali ini tanpa wine. Tak lama, terdengar suara gitar menuju kearah tempat duduk mereka. Arinka menatap dengan perasaan kagum. Seseorang membawakan kue bertuliskan Happy anniversary 1 tahun. Sontak, Arinka berdiri dan menutup mulutnya.
"Maaf, mimom lupa ini hari 1 tahun kita menikah," kata Arinka masih dengan menutup mulut dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Sudah, tidak apa-apa, sayang. Lagipula ini memang sengaja Pipom siapkan dari jauh hari."
Renza berdiri merangkul Arinka dan mengecup keningnya. Dengan lembut ia berkata, "Happy anniversary sayangku. Maaf, atas perlakuan satu tahun kemarin yang kurang baik untukmu. Mulai sekarang hanya akan ada hari-hari bahagia menantimu.".
Arinka tak kuasa menahan air matanya. Ia terisak karena melupakan hari peringatan satu tahun pernikahan mereka ini. Ditambah lagi, seseorang pelayan datang membawakan kotak kado dan bunga mawar merah kehadapan Arinka. Ia menjadi semakin bersalah karena tak membeli apapun untuk suaminya.
"Jangan menangis, cup cup cup ..."
Renza membalikkan badan Arinka dan menatapnya dengan cinta. Arinka masih meneteskan air mata. Di sekanya air mata itu oleh Renza dengan lembut sambil mengelus rambutnya dan kemudian mendekapnya.
"Maaf," ucap Arinka lirih.
"Tidak apa-apa. Ini memang tugas pipom memberi kejutan kepada istri tercinta. Kenapa harus minta maaf?"
"Mimom bersalah karena tidak mengingat hari ini. Hiks ... hiks ..." isak Arinka.
"Sayang, bukannya ini hari yang bahagia, kenapa harus ada air mata. Pipom yang minta maaf, karena dulu pipom terlalu banyak membuat mimom menjatuhkan air mata. Sekarang jangan menjatuhkan air mata lagi. Pipom jadi sedih."
Arinka mendongak menatap Renza sambil menghapus sisa air matanya. "Maaf, sayang." Kemudian, ia duduk dan tersenyum mendengarkan alunan nada gitar.
"Terima kasih karena sudah jadi suami yang baik," kata Arinka memandang lekat wajah Renza.
"Sama-sama, sayang. Ayo tiup lilinnya bersama."
Malam itu menjadi malam paling bahagia bagi Renza dan Arinka. Mereka selalu berharap kebahagiaan selalu menyertai keluarga kecil mereka.
***Bersambung...
Jangan lupa like dan komen yah Readers sayangku...
__ADS_1
Jangan lupa juga jaga kesehatan dan makan-makanan sehat.
Salam sayang dariku 🥰😘***