
Renza mendadak diam tak bersuara ketika beberapa kata yang diucapkan Arinka mengena dan menancap pas di hatinya. Mendadak ia teringat saat ia memaki dan menyakiti Arinka. Kedepannya walaupun menabur kebaikan sangat banyak, tetap saja dulu nya pernah membuat kesalahan pasti akan merasa bersalah sendiri.
Kesalahan itu memang tidak fatal, masih bisa diperbaiki. Tapi jika seseorang menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu walaupun tidak bermaksud menyinggung orang tersebut, pasti sendirinya kita akan merasa. Jadikan pelajaran ya Readers! emoticon mencium.
Makanya pernyesalan selalu datang belakangan, karena kalau datang di awal namanya pendaftaran, haha. (Sudah-sudah, fokus ke cerita selanjutnya)
Arinka memperhatikan Renza, gerak-geriknya seketika berubah. Renza termenung, saat Arinka memegang tangannya ia tersentak.
"Kenapa?" tanya Arinka menatap Renza seraya mengernyitkan dahi nya.
"Tidak ada, aku hanya terkejut saja."
"Kenapa melamun?"
"Pasti memikirkan Ny. Arin?" ucap Deni terkekeh.
"Benar kata Deni, aku memikirkanmu."
"Aku disamping mu, kenapa malah berpikir sampai begitu, sih?"
"Sudah-sudah, tidak ada apa-apa kok."
Sore itu, mendadak hujan turun lebat sekali. Mereka berempat akhirnya lebih lama berada disana. Mereka menikmati live music di cafe itu. Vocalist disana bertanya apakah ada yang ingin bernyanyi atau request lagu.
Renza mengangkat tangannya, Vocalist itu bertanya apakah Renza ingin bernyanyi atau request lagu. Renza berkata ingin request lagu, "James Arthur : Say you wont let go."
"Wah, benar-benar lagu yang bagus, untuk siapa lagu ini?" ucap vocalist itu.
"Untuk seseorang yang sangat aku cintai, istriku." ucap Renza seraya menunjuk Arinka.
"Woww," ucap Deni dan Risa serentak. Kemudian mereka saling memberikan senyuman masam.
Kenapa juga harus bersamaan ... gumam Deni.
Hiss, menyebalkan harus berkata serentak dengannya ... gumam Risa.
Ditengah hujan lebat itu, vocalist itu menyanyikan lagu Say you wont let go. liriknya benar-benar romantis.Renza tersenyum mendengar lagu itu dinyanyikan seraya menatap lekat wajah Arinka, sayangnya, Arinka tak mengetahui arti liriknya. Risa memegang kedua pipinya seraya menikmati lagu itu. Sedangkan Deni merekamnya.
"Artinya apa?" tanya Arinka tersenyum menatap mata Renza.
"Nanti cari di internet ya." ucap Renza seraya memegang tangan Arinka dan mengecupnya, "Maaf." gumamnya pelan.
"Apa? Pipom bilang apa?" tanya Arinka menaikan alisnya sebelah.
"Tidak ada."
Setelah hari mulai malam, Mereka sudah beranjak dari kursinya. Mereka akan pulang, tapi diluar sana masih hujan gerimis. Arinka tersenyum menatap Renza seraya berbisik, "Lihat saja Deni dan Risa masih saja saling beetengkar dan melempar senyum kecut."
Renza melirik Risa dan Deni, kemudian berbisik juga di telinga Arinka, "Sama-sama bodoh dan keras kepala." Seketika Renza tertawa terbahak. Deni menetap Renza mengangkat alisnya sebelah tanda kebingungan.
"Kenapa tertawa?" tanya Deni.
"Suka-suka dong, memangnya jika aku ingin tertawa harus permisi sama kamu, Hey... aku atasan, ya?!" ucap Renza berbicara tegas tapi berusaha menahan tawa.
"Bagaimana ini, di luar masih hujan. Risa pulangnya diantar ya?"
"Tidak apa-apa kok, nanti malah merepotkan. Aku pulang naik ojek online saja. Tadi aku kesini naik ojek juga kak."
"Deni yang akan mengantarmu," ucap Renza datar tanpa ekspresi.
"Kenapa? kenapa harus aku? kalian kan bisa mengajaknya?" ucap Deni dengan nada setingkat lebih tinggi.
"Lagian aku juga tidak ingin pulang dengannya." ucap Risa seraya mencebikkan bibirnya.
"Lupakan urusan tidak suka atau apapun, ini tentang kemanusiaan, lagian dia wanita, ini sudah malam dan hujan, apa kau tega Den?"
"Aku tidak tega lah, tapi jika dengannya aku sangat tega."
"Aku juga tidak ingin naik denganmu, tapi kau benar-benar keterlaluan, lelaki yang paling menyebalkan se-bumi." pekik Risa.
"Masa bodoh," ucap Deni.
"Ah kalian ini, bertengkar terus kapan pulangnya? kita saja yang mengantarnya," ucap Arinka menatap Renza.
"Tidak usah kak, benar tidak apa. Aku juga akan mampir sebentar soalnya ada perlu di dekat sini."
"Tidak apa-apa, naik dengan kami saja." ucap Arinka sekali lagi.
"Tidak kak, tidak usah. Aku sangat berterima kasih atas kebaikan kakak. Aku pamit."
"Ini ada ole-ole, ambil ya." ucap Arinka seraya memberikan paperbag kepada Risa.
"Terima kasih kak, sekali lagi aku pamit ya."
"Hati-hati!"
Deni sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan mereka bertiga. Renza hanya bergumam kesal, Renza tak bisa memaksanya karena ini bukan bagian dari pekerjaan. Risa berjalan keluar, kemudian menunggu tak jauh di depan pintu cafe. Arinka dan Renza pulang, dari mobil Arinka melambaikan tangannya kepada Risa, Risa membalasnya seraya tersenyum.
Di dalam mobil, Arinka gelisah karena membiarkan Risa pulang sendirian saat cuaca hujan. Tapi Renza menenangkannya dan berkata, "Tidak apa-apa sayang, dia akan baik-baik saja."
***
Risa berjalan seraya melihat kiri kanan, bola matanya memutar melihat sekeliling yang lumayan sepi dan asing baginya. Biasanya tempat ini ramai tapi karena hujan jalanan menjadi agak sepi.
Risa berjalan pelan menyusuri trotoar, tubuhnya basah terkena gerimis. ia memandangi ponselnya melihat foto mantan kekasihnya ditengah hujan itu. Hatinya sakit bagai teriris sembilu. Hubungan yang sudah berjalan selama tujuh bulan itu kandas karena tidak saling jujur dan berakibat terjadinya perselingkuhan.
__ADS_1
Deni melajukan mobilnya pelan. Deni mendapatkan telpon dari nomor yang tidak dikenal, ternyata nomor baru itu adalah Milka - sang cinta pertama. Deni lumayan senang dan sedikit terkejut, karena Milka terlebih dahulu menghubunginya. Setelah panjang lebar, Deni mematikan sambungan telponnya dan kembali meneruskan perjalanan pulangnya.
Di Kejauhan, Deni melihat sosok yang tidak asing berada di jalur trotoar yaitu Risa. Risa terlihat sedang menunggu ojek. Deni berpikir sejenak, bukannya Risa tadi mengataka akan mampir kesebuah tempat, tapi kenapa dia masih disana menunggu di sela gerimis.
"Ah, biarkan saja. Kenapa aku peduli padanya? lagian dia sangat menyebalkan sekali."
Renza melajukan mobilnya lagi, ia melihat di spionnya datang sepeda motor yang menjemputnya, Deni merasa lega, tapi di motor itu ada dua orang. Deni memberhentikan mobilnya seraya terus memandang spion. Ia heran jika itu ojek kenapa berdua.
Tak lama terdengar teriakan, Deni membuka kaca mobilnya. Deni melihat Risa tengah di jambret oleh dua orang lelaki. dua orang lelaki itu menarik tasnya namun Risa kokoh memegangnya.
Bagaimana ini? ini bukan tentang menyebalkan atau tidak? ini tentang pri kemanusiaan, aku harus membantunya.
Deni memutarkan mobilnya seraya melajukannya pelan, kemudian ia menekan klakson mobil dengan kuat, hingga klakson mobil itu terus berbunyi dengan lantang. Secepat kilat dua lelaki itu kabur dan untunglah tidak berhasil mendapatkan apapun.
Risa menangis terduduk di tepi trotoar itu, lengan bajunya sobek karena perlawanannya menarik tas miliknya. Paper bag yang diberikan Risa berserakan dijalan. Deni ragu-ragu untuk turun tapi demi kemanusian yang menguasai otak pintarnya, ia mengalahkan gengsinya dan turun membantu Risa.
Deni memegang tangan Risa yang menangis, sontak Risa terkejut melihat wajah pahlawan yang menyelamatkannya.
"Kau!" pekik Risa masih terisak.
"Kau tidak apa-apa, biar ku bantu," ucap Deni seraya memegang tangan Risa.
"Tidak usah, tidak perlu. Bukannya kau sudah pulang, kenapa kau masih disini?"
"Itu tidak penting, kau baik-baik saja? baju mu sobek." ucap Deni masih memegang tangan Risa.
"Kau bilang kau sangat tega kepadaku, kenapa membantuku?" Risa masih terisak seraya melepaskan tangannya dari genggaman Deni.
"Kau ini keras kepala sekali, aku tidak ingin juga membantumu? tapi karena aku sudah melihat dengan mataku, apa bisa aku mengabaikanmu, apalagi kau seorang wanita, benar kata Ny. Arinka jiwa kemanusiaan itu penting."
"Dan sekarang aku sudah tidak apa-apa, kau silahkan pulang saja."
"Ya sudah, dasar bodoh!"
"Iya, aku memang bodoh, kau puas! aku sangat bodoh sampai tidak tahu pacarku sendiri berselingkuh di belakangku, aku terlalu percaya dengan setiap kata-katanya." Risa menangis tersedu.
Deni gelagapan melihat seorang wanita yang menangis tesedu seperti itu, kembali ia mengingat saat Arinka menangis dan memaki Renza saat Renza bersama orang lain, benar-benar seperti *dejavu.
Kenapa juga aku harus mengalami adegan seperti ini, ini persis seperti kejadian Ny. Arinka beberapa bulan lalu. Ah, kenapa aku sering menjadi pendengar sih*!
Sejenak, Deni hanya diam mendengarkan ucapan Risa. ia masih mengingat tentang Arinka, baju mereka mulai basah karena hujan gerimis yang tak kunjung berhenti.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam mobil, hujan semakin lebat."
"Aku ingin tahu, kenapa lelaki sering mempermainkan perasaan wanita, bukannya kau lelaki? beri aku penjelasan."
Astaga, wanita ini benar-benar sangat menyebalkan sekaligus menyedihkan.
"Disini hujan, hey wanita."
Deni tak menyebut namanya karena mereka belum pernah berkenalan sama sekali, Deni hanya tahu dari Arinka bahwa namanya Risa tapi ia tidak pernah memperkenalkan diri, makanya Deni lebih memilih menyebutnya wanita, dari pada sok akrab pikirnya.
Deni mengerucutkan bibirnya menahan tawa mendengar ucapan Risa. Risa seperti orang mabuk yang kehilangan kesadaran.
"Aku sudah baikan sekarang, terima kasih sudah menolong. Maaf aku berbicara sembarang tadi, Kau pulang saja!" ucap Risa tersenyum kaku.
Tiba-tiba Risa berjalan menjauh meninggalkan Deni membawa paper bag dan tas selempangnya. Deni masih mematung melihat Risa pergi menjauh dari hadapannya. Dengan suasana hujan, dingin dan baju sobek benar-benar membuat Deni iba kepada gadis itu.
Baru saja Deni akan menyusulnya, sebuah sepeda motor berhenti dihadapannya. Yah, itu tukang ojek. Risa segera naik di atas motor dan pergi dari hadapan Deni.
Deni masuk ke mobil dalam keadaan sudah basah. Ia masih berpikir bagaimana wanita itu bisa seolah tidak ada masalah. Wanita itu pergi meninggalkan Deni dengan pikiran berkecamuk didadanya.
Wanita seperti apa dia? kenapa bersamaan ia bisa terlihat sedih dan baik-baik saja? Tunggu dulu, kenapa juga aku memikirkannya. Ah, masa bodo!
Deni menggeleng-gelengkan kepala seraya tertawa sendiri. Ia memegang setir mobilnya seraya memukul kecil di setir itu dan kemudian melanjukan mobil dengan pelan menuju rumahnya.
***
Arinka dan Renza sampai dirumahnya. Waktu menunjukkan pukul sembilan. Di luar masih saja gerimis, belum berhenti sama sekali.
Bi Ami segera membukakan pintu. Arinka tersenyum manis kepada Bi Ami.
"Nyonya dan Tuan, apakah saya harus menyiapkan makan malam?" tanya Bi Ami.
"Tidak perlu, Bi. Kami sudah makan," ucap Renza.
"Mmm, kalian sudah makan?"
"Sudah, Nya." jawab Bi Ami.
"Baguslah, kami akan naik dulu keatas." ucap Renza.
"Selamat malam." ucap Arinka.
"Selamat malam juga Nyonya dan Tuan."
Renza menggenggam tangan Arinka, mereka berdua naik ke kamarnya. Arinka segera masuk kekamar mandi, ia sangat ingin mencuci wajahnya karena sudah berdebu. Renza merebahkan dirinya diatas kasur, ia mengambil remote dan menyalakan televisi.
Beberapa saat kemudian, Arinka sudah keluar dengan kimono. ia tidak hanya membasuh wajah tetapi mandi. Renza tersenyum menatap istrinya itu.
"Mimom mandi?"
"Mmm, terlalu berkeringat makanya aku mandi."
"Waw!"
__ADS_1
"Nah, mulai lagi?"
"Mulai kenapa?"
"Tidak ada."
Renza tertawa melihat Arinka salah tingkah, pipinya bersemu merah. Dengan cepat Arinka mengalihkan wajahnya dari tatapan Renza. ia masuk keruang ganti pakaian.
Renza bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Ia juga membasuh tubuhnya karena berkeringat. Setelah keluar dari kamar mandi, Renza melihat Arinka berbaring di atas ranjang seraya mengganti-ganti channel televisi.
Renza naik diranjang. Ia mendekat kepada Arinka dengan tatapan nakal. Arinka mewanti-wanti dan memelototkan matanya. Renza tertawa melihat Arinka kemudian ia bersandar di samping Arinka.
Renza mengusap puncak kepala Arinka seraya membuatnya berbantalkan lengan. Posisinya Arinka menyandar di lengan Renza. Kemudian, Renza memeluk Arinka dengan tangan kirinya, Akhinya kepala Arinka bersandar di dada bidang Renza.
"Tenang saja, malam ini Pipom tidak akan berbuat apapun, Pipom hanya ingin bermesraan dan bermanja-manja saja bersama istri tercinta."
"Mmm, baguslah." ucap Arinka tertawa.
"Bukankah sakit jika setiap hari melakukannya? Pipom juga kasian kepada Mimom, kok."
"Terima kasih sayangku." ucap Arinka seraya mencium pipi Renza.
"Hmm, sama-sama, Mimomku sayang."
Arinka memperhatikan wajah Renza sangat dekat, Renza benar-benar sangat tampan, Alis tebal, mata hitam, hidung mancung dan kedua sisi pipi mempunyai lesung pipi.
Tanpa sadar Arinka menyentuh pipi Renza dengan jari telunjuknya. Renza tersenyum membuat lesung pipinya semakin terlihat.
"Aku baru tahu, ternyata lesung pipi pipom sangat dalam, ya?"
"Hmm... bukankah pipom terlihat manis jika dilihat dari dekat?"
Arinka mencebikkan mulutnya seraya berkata, "Sedikit manis."
kemudian ia tertawa.
"Benarkah?"
"Mmm... hidung mancung, mata hitam, alis tebal benar-benar perpaduan yang pas."
Renza mengelus rambut Arinka dengan lembut kemudian mengecup kening Arinka, "Mimom paling bisa membuat Pipom salah tingkah."
"Kenapa salah tingkah?" Arinka masih fokus menatap wajah Renza seraya menyentuh hidungnya.
"Ya, karena diperhatikan begitu dekat sampai-sampai menyentuh wajahku seperti ini, jelas saja Pipom salah tingkah."
"Hahah ... Ciyee, tersentuh."
"Mau di gelitiki, ya?"
Kedua tangan Renza mulai di angkatnya keatas, kemudian jari-jarinya begerak dengan gerakan hendak menggelitik.
"Jangan! Jika pipom menggelitik, Mimom teriak."
"Teriak saja kekecangnya, kamar ini juga kedap suara. terdengar sih, tapi samar-samar mungkin."
"Tidak, jangan." Arinka sudah tertawa sebelum di gelitiki.
Renza tertawa lucu melihat tingkah istrinya itu, bagaimana pun istrinya itu selalu terlihat menggemaskan di matanya.
"Mimom juga punya lesung pipi?" ucap Renza.
"Iya, tapi sedikit."
"Tapi kok manisnya mengalahkan pipom?" Renza tertawa.
Renza menjulurkan tangannya seraya menyentuh alis, mata, hidung dan pipinya. Terakhir Renza menyentuh bibir ranum Arinka kemudian mengecupnya berkali-kali.
"Apakah Mimom bahagia hidup bersamaku?"
"Mmm ... sangat bahagia, Terima kasih karena sudah membuat hidupku sangat bahagia seperti ini."
"Maaf, karena pipom terlambat membahagiakan Mimom, Pipom benar-benar menyesal."
"Tidak apa-apa, yang lalu biarlah berlalu dan jadikan pelajaran di masa depan supaya kita tidak mengulangi untuk kedua kalinya."
"Hatimu benar-benar tulus, sayang. Terima kasih karena kamu telah menjadi pasangan dalam hidupku."
Begitu lah malam itu terjadi obrolan, candaan dan saling melemparkan pujian satu sama lain.
**Bersambung...
Hay ... hay Readers ... Hampir saja author lupa up eps hari ini karena keasyikan nonton comeback BTS 😂
Jangan lupa like jika sudah selesai membaca dan jangan lupa juga kasih vote, biar author lebih semangat.
Jika belum favorit novel ini, silahkan tekan love ❤
Btw, Jika ada yang ingin lebih dekat dengan Author bisa follow IG : Chaindy92
Fb : Cha Indhiey
Misalkan ada sih 😂 author kepedean banget yak!
Jangan lupa juga Rate novel author dan beri Rate bintang 5 ya, terima kasih 😍
__ADS_1
Salam sayang dariku buat Readers tersayang dan tercintah ❤💋
Luv u all 😘😘**