Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 6 : The Wedding


__ADS_3

Malam semakin larut, Arinka sangat gugup memikirkan hari esok, apa yang akan terjadi saat dirinya resmi menjadi istri Ceo Renzaldi. Apakah Arinka mampu mengimbanginya kelak? Apakah Arinka akan tahan dengan perlakuan suaminya kelak? semua pikiran itu semakin lama semakin berlarut larut membuat mata Arinka menjadi ngantuk dan kemudian terlelap.


Tok tok


Suara pintu terdengar nyaring dan sering membuat mata Arinka seketika terbelalak ditambah suara keras Bi Yati menjadi berpadu.


"Rin, apakah kau sudah bangun, kita harus bersiap."


Arinka segera bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu,


"Astaga kamu baru bangun Rin, biasanya orang yang mau menikah selalu susah tidur, lah kamu malah asyik tidur, Rin," Bi Yati terkekeh.


"Arin juga ga tau Bi, padahal biasanya Arin selalu bangun pagi."


"Ya sudah tidak apa-apa, buruan siap-siap hari ini kamu akan melepas status lajang mu dan meninggalkan bibi."


"Kok bibi ngomong gitu sih, Arin ga ninggalin bibi kok."


"Bibi hanya sedih saja Rin, semoga Arin bahagia ya kelak."


Arinka tidak menjawab perkataan Bibi malah menangis, Bi Yati pun akhirnya ikut menangis dan saling berpelukan.


 


Arinka sudah memakai kebaya putih dan terlihat sangat cantik, Arinka duduk di meja rias dan di make up oleh MUA terkenal, wajah Arinka terlihat berbeda.


Renza dan keluarga sudah menunggu untuk proses ijab qabul, namun Renza sangat resah, tangannya terlihat bergetar dan gugup, Nek Murti memberikan nasehat untuk mengurangi kegugupan Renza.


Arinka turun dari tangga di ikuti Bi Yati, Arinka lebih gugup saat melihat Renza dari kejauhan, semua mata tertuju pada Arinka.


Bisik-bisik mulai terdengar, ada yang berkata Arinka seperti bidadari yang turun ke bumi, ada yang bebisik mengenai latar belakang keluarga Arinka dan ada pula yang penasaran apakah Arinka dan Renza memang pacaran atau bukan, atau hanya sekedar perjodohan di kalangan orang kaya yang sudah biasa.


Renza pun di buat kagum oleh Arinka yang luar biasa cantik, menurutnya bahkan bisa dibilang sepuluh kali cantik dari biasanya, pasalnya Arinka yang sehari-hari adalah gadis kampungan yang tidak bisa memakai makeup. Hari ini, terlihat seperti putri dari negeri dongeng, kebaya putih yang selaras dengan warna kulitnya membuat Renza melongo menatapnya.


Renza tanpa sadar tersenyum dan berkata spontan


"astagaa...., cantik nya bukan main."


Setika Nek Murti tertawa disela-sela ketegangan itu, Renza menatap Arinka bagaikan mangsa yang siap di terkam kapan saja.


Arinka sangat gugup sambil duduk di samping Renza, namun Renza tak henti menatap Arinka, seakan bukan Renza yang kemarin yang sangat membencinya.


"Sahhhh"


Semua orang bergembira mendengar kalimat itu, lalu Arinka dipersilahkan mencium tangan suaminya, dan kemudian Renza mencium kening Arinka dengan lembut. Arinka sedikit tersentak dan malu-malu.

__ADS_1


Entah kenapa pada hari pernikahan ini, Renza mendadak berbeda, sorot mata yang tajam akan kebencian mulai melunak didepan Arinka.


Undangan mulai berdatangan, Arinka sudah berganti memakai gaun warna hijau botol yang elegan dengan aksesoris kepala yang tidak mencolok.


Mereka berdiri berjam-jam menyambut tamu yang berdatangan tiada henti, dikejauhan terlihat seseorang wanita yang tidak asing berjalan mendekat kearah mereka, wanita itu tidak lain adalah Giska.


Giska bersalaman lalu memeluk Renza, Arinka berusaha tersenyum walaupun terasa berat, Renza dengan wajah manisnya menyambut pelukan Giska, Giska berbisik di telinga Renza lalu raut wajah Renza seketika berubah masam. Entah apa yang dikatakan Giska, Giska pun pura-pura memberikan ucapan selamat kepada Renza.


Giska beralih kepada Arinka, tersenyum sinis sambil memeluk Arinka dan berbisik pelan,


"Kamu tidak akan pernah bahagia gadis kampungan, sebahagianya kamu nanti juga akan sirna, karena Renza hanya mencintaiku dan kami sudah pernah berhubungan badan, sepertinya aku juga hamil."


Giska kemudian berlalu cepat dengan senyuman liciknya.


Deg deg deg


Jantung Arinka melemah, seketika keringatnya bercucuran deras dan kakinya tak bisa lagi menopang berat badannya, matanya mulai berkaca-kaca tetapi tertahan.


"Arin kenapa, Arin mau minum, ayo duduk dulu kalau lelah?" tanya Bi Yati.


"Tidak apa-apa Bi, Arinka hanya sedikit lelah dan ingin minum saja."


Bi yati memanggil pelayan untuk membawakan segelas air minum untuk Arinka, dengan cepat Arinka meminumnya sampai habis.


"kamu kenapa?" Renza bertanya.


"Ya sudah, jika baik-baik saja." jawab Rnza singkat dan cuek.


Sepertinya Renza mulai berubah kembali setelah bertemu pacarnya tadi, Arinka mulai bertanya-tanya dalam hatinya apakah benar yang dikatakan oleh Giska, apakah hanya tipuan, Arinka merasa sangat pusing.


"Nek murti kemana bi?"


"Nek Murti sudah istirahat, Beliau sangat kelelahan."


"Oh, baguslah Bi. Arin khawatir kalau Nenek kenapa-kenapa."


 


Acara sudah selesai hanya tersisa beberapa orang di gedung pernikahan itu, yaitu teman dan kolega Renza, Arinka sudah beristirahat di kamar pengantin dan segera untuk mandi, sedangkan Renza masih berbincang dengan koleganya.


Arinka sangat sedih teringat ucapan Giska, Arinka menangis dikamar mandi, Ia merasa dirinya hanyalah seperti boneka tak bisa berbuat apa-apa.


Apakah aku siap kalau suatu hari di ceraikan, ah aku harus siap..., batinnya.


Lama Arinka di kamar mandi, lalu terdengar ketokan pintu dai luar, Arinka segera menghapus air mata dan segera memakai handuknya.

__ADS_1


Arinka ingin memakai pakaian dulu tapi seseorang berteriak dari luar dengan keras dan tidak sabaran.


"Buka pintunya cepat, jangan membuatku marah, ya!"


Suara itu tak lain adalah Renza.


Arinka segera membuka pintu, Arinka tak ingin Renza semakin membencinya.


Krekk...


Suara pintu terbuka, dan Renza melongo melihat penampakan didepannya, Arinka hanya menggunakan handuk pendek, dada dan paha mulusnya terumbar jelas, Renza menelan saliva dengan payah.


"Siaal..., kenapa kau seperti ini? Kau ingin menggodaku,ya?"


"Ti-tidak kok," jawab Arinka mulai gugup.


Renza segera duduk di sofa untuk melepas penatnya, Renza ingin membaringkan diri sejenak setelah itu baru mandi.


Arinka buru-buru berlari mengambil pakaian dan ingin kembali kekamar mandi, Arinka tak ingin dikira sengaja menggoda Renza, padahal wajar kalaupun Renza melihat Arinka seperti itu toh mereka sudah sah jadi suami istri.


Air di lantai berceceran karena Arinka keluar tadi dengan cepat, tanpa sengaja Arinka menginjak ceceran air dan lantai menjadi licin,


Bruggghh!!!


"Auuuww..., sakit," teriak Arinka.


Ia terpeleset dan terlentang karena lantai yang licin, handuk yang di pakai Arinka tersimbak dan terlihatlah tubuh polos Arinka.


Renza kaget dan segera menoleh, bukannya membantu Renza malah melongo melihat pemandangan itu, tubuh polos Arinka sangat menggoda, dadanya yang birisi dan putih itu mengalihkan perhatian Renza, tapi ia berusaha keras menyembunyikan pikiran mesum itu, akhirnya tanpa kasihan Renza tertawa terbahak.


Arinka segera bangkit dan membungkus tubuhnya dengan handuk dan bergegas kembali kekamar mandi.


Arinka bergumam kenapa dia sangat sial, Arinka yakin Aenza melihat tubuhnya tadi, Renza pasti berpikir Arinka menggodanya lagi,


"Ahhh..., aku pasti sudah gila, aku sangat malu."


Renza hanya mengeleng gelengkan kepala, melihat tingkah Arinka, Renza sejenak terdiam mengingat tubuh Arinka tadi, sangat menggoda batinnya.


"Ahh jangan terpancing, aku hanya menyukai Giska saja, ada apa denganku? Apa aku mulai menaruh perhatian kepada Arinka? atau aku mulai menyukainya?"


***Bersambung...


Like dan comment ya teman-teman 😁


Yang suka bisa vote sebanyak-banyaknya, dan jangan lupa yang belum tekan ❤ silahkan tekan.

__ADS_1


Love u 😘***


__ADS_2