
Arinka terlihat sangat bingung, pikirannya menerawang jauh, ia memikirkan banyak hal untuk referensi kado yang bagus untuk Renza, Renza itu kaya jadi harus beli apa pikir Arinka? ia memutar otak, mencoba berpikir keras. Jika ia membeli barang murah mungkin Renza tidak akan suka.
"Apa aku gunakan Kartu ini saja, ya?" memegang kartu kecil yang mampu membeli apapun itu, Yah sebuah kartu Atm tanpa batas.
Arinka berkemas-kemas, setelah sarapan dan membahas hal kecil tadi seperti kata Mimom-Pipom, Arinka tertawa, sepertinya panggilan itu cocok, walau terdengar ambigu, Arinka menyukainya. saat Renza pergi ia juga pergi menggunakan ojek online, Renza bilang jika ingin bepergian bisa menelpon Deni. Renza ingin mencarikan sopir pribadi untuk Arinka, tetapi Arinka menolak. Rumah itu bukan kekurangan mobil, hanya saja Arinka lebih nyaman naik ojek daripada naik mobil, ia bisa menghirup napas dan leluasa bergerak jika menggunakan motor.
Arinka sempat frustasi harus kemana, harus membeli apa? ia belum memikirkan benda yang akan ia berikan sebagai kado. Arinka sampai di pusat perbelanjaan, ia berjalan pelan sambil memegang tas nya dengan erat, ia takut kejadian pencopetan kemarin terulang lagi, bola matanya memutar sangat liar memandangi sekitar keramaian. ia berjalan sendiri sambil celingak-celinguk, seperti orang kampung yang udik masuk Mall.
Otaknya terus memutar harus memilih apa, Arinka memutuskan duduk disebuah bangku, ia melihat banyak muda-mudi yang berpasangan sedang tertawa bahagia, Arinka tertawa geli ketika mengingat Renza memakai sweater couple pink, ia cekikikan sendiri seperti orang gila, beberapa orang yang lewat menoleh heran menatapnya, ia segera menutup mulut dan memasang wajah datar.
Tiba-tiba, ia terpikir kado yang bagus, Yah, ia akan membeli sepasang sepatu couple. Arinka berjalan mencari toko branded yang menjual sepatu couple terbaru. matanya tertuju kesebuah toko, ia segera masuk dan melihat-lihat. pegawai toko itu tersenyum sinis, tatapannya seakan menghakimi.
"Apakah ini sepatu couple terbaru?" tanya Arinka tersenyum lembut sambil memegang sepatu itu dan melihat tag harga, ia terlihat melongo dan dengan cepat ia bersikap normal kembali. namun pegawai toko itu seakan enggan menimpali omongan Arinka. pegawai wanita itu melirik Arinka seakan tidak percaya melihat dari atas kebawah.
"Sepatu ini mahal, tidak semua orang bisa membelinya," ujar pewagai wanita itu seakan menyindir Arinka, namun Arinka tidak menggubris ucapan wanita itu.
"Apakah nomor 38 dan 41 ada?" Sambil membolak-balikan sepatu itu.
"Ada semua!" wanita itu berucap sinis.
"Baiklah, aku ambil dua nomor yang aku sebutkan tadi." sambil berjalan menuju meja kasir, tak lama kemudian pegawai wanita itu datang membawakan sepasang sepatu tadi.
"Apa bisa di bungkus menjadi kado?" tanya Arinka masih berdiri didepan meja kasir.
"Bisa, silahkan menunggu dulu," ucap wanita penjaga kasir. mereka terlihat bisik-bisik sambil melirik kearah Arinka, setelah itu mereka tertawa. Arinka yang memperhatikan hanya diam dan memainkan ponselnya.
Aku tau kalian menertawakanku, kalian pikir aku tidak bisa membeli sepatu mahal seperti itu dengan penampilan begini.
Tak lama, wanita kasir itu memanggil dan bertanya sangat tidak sopan, "Bu, sepatu ini mahal, jika ibu hanya berniat mengerjai kami sebaiknya jangan terlalu lama," ucapnya sambil tertawa.
"Mengerjai apa maksud kalian?" Arinka terlihat bingung.
"Yah, ujung-ujungnya pasti hanya bertanya, siapa yang akan membeli sepatu semahal ini," lagi-lagi melirik Arinka dari atas ke bawah.
Mereka meremehkanku, astaga lihat saja nanti.
"Aku tidak bermain-main, aku serius ingin membeli."
"Kalau gitu silahkan bayar." wanita itu menatap sambil tersenyum kecut.
Arinka membuka tasnya, dan mengambil dompetnya. dua wanita itu masih sibuk berpandangan.
"28juta ya, bukan 280 ribu." ujar wanita yang satunya sedikit tertawa sinis.
"Nah," Arinka menyodorkan kartu Atmnya, terlihat kartu kredit itu adalah kartu kredit tanpa batas milik Fariq company. mereka ternganga dan melongo saling pandang.
"Kenapa? kalian tidak percaya jika aku mampu membeli, kalian harusnya melayani pembeli dengan sopan, jangan karena melihat tampilanku yang kampungan, kalian pikir aku tidak bisa membelinya. kalian salah besar. apa kalian ingin aku adukan kepada atasan kalian, dan kalian akan diberhentikan secepatnya? lain kali jaga ucapan, bicaralah dengan sopan kepada pembeli, karena pembeli itu adalah raja, dengan kartu ini kalian saja bisa aku beli." membusungkan dadanya dan menaikan dagu agar terlihat elegan.
"Maaf, Bu." menundukan pandangan gugup.
"Cepat bungkus kado itu!" ucap Arinka memberi perintah tegas.
"Baik, Bu."
Selang beberapa menit, pegawai wanita itu memberikan kado didalam paperbag, Arinka tanpa basa-basi langsung keluar tanpa senyuman.
Memang benar, didunia ini uang sangat berkuasa. aku puas memberi pelajaran kepada dua wanita itu.
Arinka berjalan mengelilingi pusat pembelanjaan itu seorang diri, ia masuk ke sebuah tempat makan bertuliskan food court, ia penasaran ingin memakan burger isi daging. setelah memesan ia duduk dibangku sambil menenteng paperbag nya. seseorang tiba-tiba saja duduk disebelahnya.
"Hey, Arinka," ucap lelaki itu yang tak lain ada Jefran.
"Hmm.. hay Pak Jefran," jawab Arinka sedikit canggung.
"Kau sendirian? kebetulan sekali sih?" ucap Jefran mengakrabkan diri.
__ADS_1
"Iya, kebetulan sekali."
"Renza mana? kenapa kau pergi sendiri? Renza itu keterlaluan ya?"
"Tidak, aku sengaja pergi sendiri, Dia kan sedang bekerja."
"Kan bisa menemani istri berbelanja sesekali, Dasar lelaki yang tidak peka." tertawa kaku.
Arinka tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Jefran.
"Pak Jefran kenapa disini?"
"Food court ini milik keluargaku."
"Ohh!" jawab Arinka singkat.
"Kau kenapa memilih menikahi Renza, Renza itu orangnya kasar, tidak ada baik-baiknya, egois, arogan, pemarah?"
"Kenapa menanyakan hal seperti itu, Renza orangnya baik, tentang semua sifatnya itu, mungkin kepribadiannya itu menyebalkan, Pak Jefran tidak seharusnya mengatainya begitu, lagian kalian juga pernah berteman akrab kan, tidak pantas membicarakan keburukan teman sendiri, apalagi yang kau ceritakan sekarang itu adalah suamiku."
"Aku berkata jujur, kenapa dia tertarik padamu, padahal jika dilihat kau itu bukan type nya loh! ia hanya suka wanita cantik yang modern, ia juga type orang yang lambat peka, omongannya sering menyakitkan yang mendengar, hanya saja ia kaya, wanita mengejarnya karena ia mempunyai uang yang banyak mungkin." menaikan bahunya.
"Tetapi buktinya kami menikah, Pak. berarti ada kesalahpahaman disini, aku bukan mengejar uangnya, lagian kami saling mencintai dengan tulus." Arinka mulai emosi menanggapi percakapan Jefran.
Ah berbohong sedikit tidak apa-apa.
"Tapi kalian seperti klise saja, Renza itu dulu sangat mencintai Sinta, mungkin jika Sinta kembali ia akan menerimanya kembali."
"Sinta itu sudah masa lalunya, Aku masa depannya, kenapa sih Pak Jefran berkata seperti itu."
"Aku hanya memberi tau agar kau siap, jika suatu hari ia datang dan mengambil tempatmu, datang lah padaku." ucap Jefran tersenyum lembut namun mematikan.
"Haaha, terima kasih atas tawaran anda, Pak. tapi aku harus pulang sekarang." tertawa sinis.
"Biar aku antar," Jefran menawarkan diri.
Kenapa ada lelaki seperti itu, menyebalkan sekali!
Arinka sudah menunggu didepan pusat perbelanjaan itu, selang berapa menit datang ojek itu, Arinka bergegas naik. ia kemudian singgah di toko kue yang sudah menjadi langganannya akhir-akhir ini. ia memesan kue yang cantik yang bertuliskan 'Happy birthday Pipom" ia berbicara kepada pemilik toko kue itu akan mengambilnya besok.
Jam ditangan menunjukkan pukul 5 lewat 15 menit, Arinka pulang sangat telat. ia melihat mobil mewah Renza sudah terparkir didepan rumah, ia bergegas masuk dan sambil memutar leher melihat jejak Renza ada dimana, ia berusaha menyembunyikan kado itu, untung saja Renza sudah naik keatas, Arinka dengan cepat memanggil Bi Ami agar menyimpan kado itu dikamarnya.
Deni masih duduk di ruang keluarga sambil menyeruput kopi buatan Bi Ami. Arinka menghampirinya dan duduk disopa itu.
"Sore Ny. Arinka? Nyonya dari mana?" tanya Deni sambil meletakkan gelas kopinya ke meja.
"Aku dari.... rahasia dong," ujar Arinka tertawa kecil.
"Oh!" jawab Deni singkat tanpa ekspresi, kadang wajah itu terlihat sangat menyebalkan.
"Oh ya Nyonya, besok hari ulang tahunnya Pak Renza? Apa Ny. Arinka sudah tau?" ucapnya pelan seraya berbisik.
"Sudah... kebetulan Nenek menelpon."
"Baiklah, apa Ny. Arinka habis membeli kado?"
Haisss, tanpa diberi tau dia sudah tau, Deni ini mungkin mempunyai ilmu bisa menerawang pikiran.
"Bagaimana kau bisa tau?"
"Haha, kalian itu sama saja Nyonya, Pak Renza dan Ny.Arinka sama-sama terlihat konyol." Deni tertawa geli.
"Sialan kau Deni!" mengerucutkan bibirnya.
"Oh ya, tadi aku bertemu Pak Jefran, Dia itu sangat menyebalkan yah? dia bicara seenaknya tentang Tuan Renza, aku hampir saja mengeluarkan emosiku."
__ADS_1
"Pak Jefran itu kan suka pada Nyonya, ia berkata begitu karena ingin mencari simpati dari Nyonya, biarkan saja. tapi ngomong-ngomong Nyonya marah saat Pak Jefran membicarakan keburukan Pak Renza ya? Ciyee... artinya Ny.Arinka sudah benar-benar membuka hati untuk Tuan Renza sekarang."
Wajah Arinka berubah berubah total, pipinya bersemu merah seperti tomat. kemudian ia tertawa kaku. Tak lama kemudian Renza turun dari tangga sudah selesai mandi, ia menggunakan celana pendek dan baju kaos santai. ia duduk mendekati dua orang yang sedang mengobrol itu.
"Wih, Pipom sudah Fresh," ucap Deni menahan tawa.
Renza melototkan matanya sempurna kepada Deni, Deni yang melihat hanya tersenyum kecil. Arinka mulai salah tingkah.
"Kalian memang cocok dipanggil begitu, lihat saja saat bersama kalian selalu canggung dan bersikap konyol."
"DENI...!!!!!" teriak kedua manusia itu serentak. Deni tertawa keras dan beranjak dari kursi ingin pergi, tatapan dua manusia itu seperti tatapan akan memangsanya. dengan langkah cepat ia berjalan keluar.
"Aku pulang Mimom pipom," ucapnya seraya terdengar gelak tawanya dari luar.
"Kenapa Deni menjadi bodoh seperti ini sih? awas saja dia akan aku kuliti hidup-hidup besok," ucap Renza sedikit emosi bercampur malu. Arinka hanya tersenyum kaku,
"Aku suka panggilan mimom-pipom," ucap Arinka pelan.
"Jika suka,itu panggilan kita mulai sekarang, btw Kamu dari mana?" berbicara malu-malu.
"Hmmm... aku dari taman," Arinka bebohong, pandangannya menunduk kebawah.
Kau mau berbohong ya, haha.
"Kamu belanja apa? ini pertama kali kau menggunakan kartu yang aku berikan sampai menghabiskan 28juta, apa membeli baju atau apa? jika ingin berbelanja suruh Deni menemani, jangan pergi sendiri!" suara sedikit tegas.
Astaga aku lupa, pasti ada notif di ponselnya jika aku menggunakan kartu itu.
"Maaf, aku menggunakan uangmu terlalu banyak." lagi-lagi Arinka tidak berani menatap.
"Tidak apa, aku senang kau sudah mau menggunakan kartu itu, lain kali jika ingin berbelanja kau bisa menelpon Deni, atau jika ingin aku akan menemani," ucap Renza mulai bertingkah konyol.
"Hemm... yah lain kali aku akan minta ditemani, aku akan mandi dulu." seraya berdiri dan beranjak dari sofa dengan cepat Renza menarik Arinka hingga keningnya menabrak dada Renza.
Deg.. Deg..
Jantungnya berpacu kencang, Arinka mendongak menatap Renza, sentuhan antar kulit yang masih terjadi akhirnya menyadarkan Renza, gerakannya terlihat canggung ketika melepaskan gengaman tangan Arinka. "Maaf," ucap Renza lirih.
Terlalu bingung harus menjawab apa, Arinka hanya menggerakan kepalanya, menunjukkan anggukan kaku, lalu ia berdiri tepat dihadapan Renza.
"Ngg... memangnya ada apa menarik tanganku?" tanya Arinka.
"Ck, hanya gerakan refleks! Aku ingin tau mana barang yang kau beli, itu saja, tapi tidak penting." jawaban kaku.
Arinka menghela napas jengah mendengar ucapan Renza, ia kemudian berlalu melewati Renza.
"Jika selesai mandi, kita santai yuk di taman belakang." akhirnya Renza memberanikan diri.
"Hmm.. sekarang saja, aku juga masih ingin tau tentang bunga itu?" jawab Arinka tanpa basa-basi.
Arinka dan Renza berjalan menuju kursi yang berada ditaman dan tidak jauh dari kolam renang, mereka duduk berdampingan. Renza menatap Arinka sangat dalam sehingga Arinka salah tingkah.
"Ternyata tidak semua cinta berawal dari saling melempar senyum ramah. karena, saling benci pun bisa menjadi perkenalan yang istimewa."
"Ya karena cinta itu hadir tanpa disadari, hati-hati kata orang, batas antara benci dan cinta itu memang sangat tipis." Arinka menimpali, mereka terlihat sok puitis.
"Hmm.. bertengkar-tengkar dahulu, cinta-cintaan kemudian." Renza tertawa dan Arinka mengikuti.
"Bunga itu aku berikan karena rasa bersalahku kepadamu waktu dulu, aku ingin meminta maaf atas semua kesakitan yang telah aku berikan, makanya aku mengirim bunga itu setiap hari supaya kamu merasakan hari-hari yang indah seperti bunga itu. Apa kau mau memaafkanku."
"Karena memaafkan itu kewajiban, aku harus memaafkan. dan aku telah memaafkanmu." sambil tersenyum lembut dengan refleks yang kuat Renza segera memeluk Arinka dengan erat dan mengusap rambutnya, Arinka menahan napas kaku. ia sangat terkejut dengan pelukan yang tiba-tiba itu. Renza berbisik pelan ditelinganya,
"Mulai hari ini, aku akan memenuhi harimu dengan senyuman, seperti bunga itu harimu akan indah, tidak akan aku biarkan air mata mu menetes. karena Aku....."
****Bersambung....
__ADS_1
Penasaran kan? silahkan beri like yang banyak, dan jangan lupa vote ya 😍
Luv u 😘❤**