
Setelah sekian hari tidak ada komunikasi sama sekali, Risa benar-benar merindukan Deni. Ketika ingin mengetik pesan, jarinya tertahan.
Deni sedang sibuk, sebaiknya aku jangan mengganggu dulu. Tapi sudah hampir seminggu tidak saling berkabar. Ternyata sesulit ini, ya, jatuh cinta.
Risa memutarbalikkan ponselnya. Ia benar-benar sangat bosan. Kadang ia menatap ponsel itu terpaku. Ia membuka media sosial. Namun, Deni tidak update sama sekali. Malahan mungkin tidak pernah di buka.
"Apa yang harus aku lakukan, aku segitu sukanya kepada Deni. Hampir setiap hari aku mengecek media sosialnya." Risa bermonolog sendiri.
Risa melemparkan ponselnya keatas ranjang. Setelah itu, ia menhempaskan diri dengan kuat di atas ranjang itu sambil memeluk boneka doraemon.
Sambil memeluk boneka doraemon itu, ekor matanya melirik sebuket bunga. Risa bangkit dan turun. Kemudian, ia duduk di depan cermin riasnya sambil menatap buket bunga yang ia taruh di vas.
Siapa yang mengirim bunga ini? Apakah dari Gion? Kenapa tidak aku buang saja. Ihh ... aku tidak mau menerima pemberian apapun darinya.
Risa menggaruk kepalanya kuat dan membuat rambut itu berantakan. Ia melihat dirinya di cermin dengan keadaan rambut seperti nenek lampir, sontak ia tertawa.
Tak lama, terdengar suara ketukan pintu. Hari ini, Rasya akan kembali bertugas setelah 3 minggu mengambil cuti.
Tok ... tok ...
"Buka saja," teriak Risa.
"Astaga! Kamu orang apa nek lampir. Kenapa rambutmu jadi seperti itu? Rasya tertawa.
"Gaya rambut model baru," ucap Risa mencebikkan bibirnya.
"Sisir yang benar dan cepat ganti pakaian."
"Mau kemana? Aku lagi malas kemanapun." Risa bangkit kursi di depan cermin Rias itu dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuknya. "Ah, nyamannya," katanya.
Rasya melangkah masuk ke kamar yang di dominasi warna biru putih itu. Rasya menarik lengan Risa kuat supaya ia bangun.
"Mana ada laki-laki yang mau dengan wanita seperti ini. Jelek dan berantakan."
"Jangan salah, ya. Ada loh yang menyukaiku. Malahan Kakak masih kalah, Kakak sendiri tidak punya pacar." Risa tertawa lucu.
"Aku selalu sibuk bertugas, mana bisa aku pacaran. Lagi pula aku sangat tampan. Wanita mana yang tidak suka."
"Hadeh ... percuma tampan kalau single terus." Risa semakin tertawa terbahak.
"Berani ya menertawakan kakak sendiri. Awas saja!" Rasya menarik baju Risa dan menggelitikinya.
"Sudah ... sudah .... aku geli, kaaaakkk." Teriak Risa.
"Minta ampun, apa tidak? Kalau tidak aku gelitikin lagi."
"Iya ampun ...."
"Nyerah juga, 'kan?"
"Coba kakak yang aku gelitikin, sini." Risa bangkit dari kasur, tapi sayang Rasya sudah berlari keluar kamar.
"Kalian ini kenapa, sih,? berisiknya minta ampun," ucap Mira.
"Kak Rasya yang duluan, Ma. Dia gelitikin Risa."
"Sudah, hentikan. Kakak kamu pulang hari ini. Kita akan mengantarnya."
"Apa sudah 3 minggu? Secepat ini ya?" bermonolog sendiri.
"Sana sisir rambutmu itu, kenapa kau jadi seperti ini? Mana ada lelaki yang mau jika melihat kau seperti ini," ucap Mira.
"Astaga, Mama sama anak ucapannya sama." Risa tertawa lucu.
"Iya lah, kan mamaku. Kamu mana mamanya," ejak Rasya memeluk Mira.
"Ini mamaku. Kakak ini padahal sudah jadi tentara tapi manja banget. Aku foto, ya? Nanti aku sebar di sosial media." Risa tertawa licik.
"Biarin, itu artinya sayang orangtua. Mama itu orang yang lahirin kita. Kamu tidak sayang sama mama?"
"Pertanyaan macam apa itu? Mama itu tidak ada gantinya dan tidak bisa dibanding-bandingkan."
"Sini-sini, mama peluk kalian berdua. Tidak disangka, kalian sudah besar seperti ini. Sayang kalian berdua." Mira memeluk kedua anaknya dengan lembut, seraya membelai rambutnya keduanya.
"Ichh, kakak ini ngalah dong sama adek."
"Tidak, kita harus pelukan bersama. Sebentar lagi aku akan pergi, aku akan merindukan Mama."
"Iya deh, aku yang mengalah."
"Kau itu nantinya setiap hari ketemu Mama. Jaga Mama baik-baik!"
"Iya, Kakakku tersayang."
"Cepat ganti bajumu dan sisir rambutmu itu. Kau benar-benar terlihat seperti zombie," Rasya memberi perintah.
"Iya, bawel. Mana ada wanita yang mau sama lelaki bawel."
"Kau juga, siapa lelaki yang mau dengan wanita sepertimu? Berantakan seperti itu."
"Aku sudah punya gebetan loh, Kakak, sih, lewat."
__ADS_1
"Songong! Beraninya membandingkan Kakaknya dengan lelaki lain. Sini kau, biar aku gelitiki lagi."
Risa berlari cepat masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kuat. Rasya berteriak dari luar dan saling mengejek. Mira menyuruh mereka berdua berhenti. Mereka berdua memang sering becanda satu sama lain. Yah mereka memang begitu, sedari kecil mereka saling menyayangi satu sama lain.
"Sudah siapkah, Risa?" teriak Mira.
"Sebentar lagi, Ma."
"Jangan lama-lama, nanti aku terlambat. Kau tetap jelek, kok. Walaupun sudah memakai riasan."
"Huh! Terserah aku, dong."
"Wah, anak mama sudah cantik, sudah mending daripada tadi yang seperti mak lampir." Mira terkekeh.
"Ya sudah. Ayo berangkat."
Mereka bertiga berjalan keluar rumah menuju mobil. Tak butuh lama, Risa dan keluarga sudah berada di dalam mobil. Mobil itu menuju sebuah camp tentara. Di sana sudah terlihat Hendarta.
"Wah, Papa sudah berada di sana," ucap risa terseyum.
"Iya, dong."
"Mama kenapa bisa jatuh cinta sih kepada Papa?"
"Ya begitulah, cinta tidak bisa ditebak kepada siapa kau akan jatuh cinta."
"Waw, Mama jadi cerita. Coba waktu aku di rumah mama cerita seperti itu kan seru."
"Nanti saja, jika kamu pulang lagi kita bercerita, ya, sayang."
"Iya, Ma," jawab Rasya.
"Kakak jomblo begini, apa mau aku kenalkan kepada temanku? Dia cantik, loh." Risa senyum simpul.
"Kau punya teman cantik, kenapa tidak dari dulu di kenalkan padaku. Kau curang."
"Kenapa jadi aku yang curang, aku hanya menawarkan. Kentara sekali bahwa kakak itu tidak bisa memcari wanita sendiri, huuuuuu ...."
"Sudah, hentikan ucapan kalian. Ayo kita turun," ajak Mira.
Setelah turun dari mobil, mereka bertiga menghampiri Hendarta yang sudah mengenakan seragam lengkap. Rasya mencium tangan kedua orangtuanya dan memeluk Risa.
"Selamat bertugas kakak. Jaga kesehatanmu, ya. Nanti jika pulang aku kenalkan kepada temanku namanya Dina, Kak."
"Terima kasih, bye." Rasya masuk dan meninggalkan mereka bertiga. Dia akan segera bertugas kembali di tempat baru nya. Risa terus melambaikan tangannya sampai Rasya hilang dari pandangannya. Setelah dari camp, Hendarta juga ikut pulang di mobil yang sama.
Mereka masuk ke dalam mobil. Mira membuat rencana untuk singgah di sebuah cafe untuk makan. Risa hanya menggangguk mengiyakan.
"Ah, jadi kangen ke danau," ucap Risa.
"Ke danau, kapan kita pernah pergi ke danau?" tanya Mira.
"Jika ingin ke danau boleh saja, jika Papa ada waktu libur. Papa ingin memancing."
Aku bukan mengatakan ke danau bersama kalian. Aku mengatakan bahwa aku rindu pernah ke danau bersama seseorang.
"Memancing saja. Aku ikut saja," ucap Risa sembari melirik setiap orang yang datang.
"Sayang sekali Rasya sudah kembali bertugas." Mira meratap.
"Tak apa, lain kali masih ada kesempatan, kok. Tenang saja, Ma." Hendarta berucap menenangkan Mira.
Risa mengambil selfie bersama Mira dan Hendarta. Kemudian, ia memposting foto keluarga itu di story whatsapp nya. Tak lama, ia mendapat notif pesan.
Risa mendadak tersenyum sumringah setelah mendapat pesan di whatsappnya. Hendarta dan Mira saling bertatap dan menoleh kepada Risa yang acuh dengan ponselnya.
"Kenapa?" tanya Hendarta. Risa tak menggubris. Ia terus memainkan ponselnya seraya tersenyum manis.
"Helooww ...," panggil Mira seraya melambai-melambaikan tangannya didepan wajah Risa yang sedang menunduk memandang ponsel.
Hendarta dan Risa tersenyum memandang anaknya itu. Kemudian, menepuk bahu Risa pelan.
"Clarisya!" panggil Hendarta.
"Ya, Pa." Sontak Risa melepaskan ponselnya di atas meja.
"Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu. Papamu sudah dua kali memanggilmu. Kau berkirim pesan kepada siapa?" tanya Mira.
"Aku tidak mendengar Papa memanggilku. Apa telingaku bermasalah?" ucapnya menoleh ke Hendarta lalu kemudian menoleh lagi kepada Mira.
"Besok bawa dia periksa telinga," perintah Hendarta.
"Ishh, dasar tidak peka Papa ini, anakmu bukannya sakit telinga, tapi sedang jatuh cinta."
"Jatuh cinta?" Hendarta mengernyit. Risa memicingkan matanya sebelah.
"Mama sok tahu," ujar Risa terkekeh.
"Tidak, kok. Mama memang tahu dengan kelakuan anak mama. Jadi jangan coba-coba membohongi mama."
Wajah Risa memerah seketika. Kemudian, dengan cepat ia memegang kedua pipinya dan bertingkah imut di depan kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Papa baru sadar bahwa kamu sudah sebesar ini, sudah bisa jatuh cinta." Hendarta mengusap rambut legam Risa. Netra cokelat itu memandang anaknya lekat. "Coba Papa lihat orangnya?" katanya.
"Belum ada, Pa. Aku kan hanya tersenyum chat biasa. Nanti jika benar-benar aku sudah punya pacar, aku akan membawanya ke rumah. Tapi ingat, Papa tidak boleh menakutinya."
"Menakuti?" Mira tertawa.
"Menakuti bagaimana?" Hendarta menaikkan alisnya sebelah.
"Wajah Papa itu tampan, tapi menyeramkan."
"Kamu pikir Papa ini hantu! Beraninya gadis kecil ini, ya."
Suasana mendadak riuh karena mereka saling bercanda. Tiba-tiba, seseorang dengan pakaian rapi berjalan menghampiri meja mereka. Lelaki itu memasang senyuman.
"Risa, kebetulan sekali bisa bertemu di sini." Lelaki itu tersenyum sangat manis melebihi madu dan bersikap sangat sopan. Mendadak mood Risa langsung berubah. Wajah yang penuh dengan senyuman itu seketika kecut.
"Siapa ini?" tanya Hendarta.
"Halo, Om. Aku Gion."
"Halo, Gion. Aku Hendarta, Papanya Risa."
"Senang bertemu dengan Om dan Tante." Menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Ayo duduk di sini." Hendarta memersilakan.
"Boleh. Kalau boleh saya akan duduk."
"Tidak boleh!" ucap Risa tegas.
Lelaki dengan pakaian kaos dan celana jeans itu mengurungkan niatnya untuk duduk setelah Risa mengeluarkan ucapan.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Risa.
"Aku tidak ingin dan tidak suka saja," ucap Risa datang sambil memegang ponselnya.
"Tidak apa-apa, Risa memang begitu orangnya. Santai saja. Ayo duduk," perintah Hendarta.
"Jangan beran-beraninya duduk di situ!" Risa melebarkan mata kepada Gion.
"Jangan seperti itu kepada orang lain. Harus sopan, nak!" Mira menjelaskan.
"Iya, baiklah, Ma." Risa mengalah.
"Kamu temannya Risa?" tanya Herdarta kepada Gion. Gion mulai duduk berhati-hati di samping Mira.
"Iya, Om. Saya temannya Mira."
"Dia bukan teman, Pa. Lebih ke musuh."
"Musuh?" Hendarta mengernyit.
"Bukan, Om. Risa suka becanda." Gion tertawa kaku.
"Benarkah?"
"Dia musuhku, Pa. Aku tidak menyukainya. Kenapa juga berteman dengan pengkhianat."
"Kalian ada masalah apa?" tanya Mira.
"Tidak ada," ucap Gion tersenyum.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Risa ternganga ketika dapat notif pesan. Dia langsung tersenyum. Padahal sedari tadi wajahnya sangat kecut.
"*Apakah kau mau keluar denganku. Sudah lama kita tidak mengobrol. Aku rindu pergi bersamamu."
"Hmm ... baiklah, kita akan segera bertemu. Tunggu aku*."
Risa mendadak menjadi aneh. Ia bersikap sangat santai dari sebelumnya.
"Papa, dia itu mantan pacarku yang berselingkuh. Oleh karena itu, aku tidak menyukainya," ucap Risa pelan sambil tersenyum.
"Mantan pacar?" tanya Mira.
"Iya, Ma. Sayangnya dia berselingkuh dariku."
"Ini hanya salah paham," ungkap Gion.
Mira menatap tajam ke arah Gion. Kemudian, Gion menundukkan pandangannya. Gion menjadi salah tingkah. Selang beberapa menit, Gion bangkit dari kursinya dan berpamitan dengan Hendarta dan Mira. Risa tersenyum puas karena sudah membuat Gion pergi.
***Beraambung..
Jangan lupa vote dan like 😂
Yang belum masuk Grup chat, silahkan masuk. Tanyakan apa saja, Author dengan senang hati menjawabnya.
Jaga kesehatannya Readers, jangan lupa cuci tangan dan selalu jaga kebersihan diri.
Salam sayang dariku buat kalian semua 😊
I love u 💋❤***
__ADS_1