Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 39 : Obrolan bersama Deni


__ADS_3

Tak kenal maka tak sayang, benar? pepatah lama itu memang sangat sarat arti, itu lah yang dirasakan Renza. karena memilih tak mengenal, mereka tidak saling sayang. dan sekarang mereka mulai mengenal, maka rasa sayang itu sudah tumbuh dengan sendirinya.


Pagi yang cerah, sementara wajah Arinka masih dipenuhi kebingungan, ia teringat kata-kata Renza bahwa mereka akan memanggil dengan sebutan Paksu dan Mamis, "Ahh, aku tidak suka panggilan seperti itu. terlalu Mainstream." ia mengusap-usap wajahnya, kata-kata itu benar-benar mengganggunya.


Seperti biasa, Renza sudah duduk dimeja untuk sarapan. semenjak mereka memutuskan untuk berkenalan ulang, setiap pagi mereka mulai berbicara selayaknya manusia, bukan seperti patung yang hanya makan saja jika bertemu dimeja makan tanpa obrolan.


Arinka sempat melamun tentang ucapan-ucapan Renza yang ingin berkencan dan tetap bersamanya seperti saat ia ketakutan, sudah banyak kata romantis yang diucapkannya, entah tulus atau tidak, tapi Arinka masih bingung kenapa Renza tidak pernah mengungkapkan perasaan cinta pada Arinka, apakah Renza serius atau hanya ingin mengerjainya saja. tapi jika tidak tulus mana mungkin Renza ingin berlari mengejar pencopet yang mengambil tasnya itu, ia mengeleng-gelengkan kepala nya keras memikirkan berulang-ulang tetap belum bisa diterima akalnya.


"Kenapa?" tanya Renza mengernyitkan kening melihat tingkah Arinka yang sepagi ini sudah terlihat kusut.


"Tidak ada apa-apa, Tuan," ucapnya singkat sambil mencetak seulas senyum dari bibirnya.


"Kenapa masih memanggil, Tuan, sih?" Airmuka nya terlihat memberikan perubahan.


"Aku belum terbiasa, panggilan itu sangat aneh. aku sulit mengucapkannya."


Iihhh, aku merinding mengucapkannya.


"Ya sudah, nanti aku cari lagi panggilan apa yang cocok buat kita." Renza menyengir.


Arinka mengangguk dan tersenyum tipis, mereka menikmati sarapan bersama sambil memandangi satu sama lain.


"Tuan, aku ingin menanyakan sesuatu?"


"Soal apa?" jawab Renza masih mengunyah roti sandwich kesukaannya.


"Soal bunga, Tuan kan yang meng-....," ucapannya terhenti karena Renza tersedak dan terbatuk.


Uhuuk! Uhuuk!


Arinka segera mengisi gelas Renza yang sudah kosong. Renza memukul-mukul dadanya pelan, dan kemudian meminum air digelas yang sudah terisi.


"Kau tidak apa-apa, Tuan? tanya Arinka sedikit cemas.


"Yah, aku baik-baik saja, aku akan pergi bekerja. kita bicarakan nanti ya, pertanyaan tadi." sambil beranjak dari kursi dan terlihat gugup.


Bagaimana ia bisa tau, pasti si Deni yang berulah. awas saja nanti.


Didalam mobil, Deni sudah menunggu seperti biasanya. ia melihat raut wajah Renza sangat aneh, Deni keluar dan membukakan pintu mobil untuk Renza dan kembali masuk ke mobil.


"Pasti kau kan, yang bilang soal bunga itu pada Arinka?"


tanya Renza tegas sambil memelototkan matanya.


"Tidak, aku bahkan belum pernah berbicara panjang lebar dengan Ny.Arinka sudah beberapa hari ini, kenapa? Ny.Arinka sudah tau kalau Pak Renza pengirimnya?"


"Hemm... teryata dia tidak terlalu bodoh juga ya?


"Siapa yang bilang Ny.Arinka bodoh, dia pintar kok, jika terdesak dia melawan, jika tidak, dia bersikap biasa saja, aku juga salut."


"Hey, kau jangan memujinya, dia itu istriku, huh!"


"Ya ampun, hanya memuji saja, Pak. bukan maksud merayu atau apa?"


"Huh! Aku harus bagaimana? aku harus bilang apa soal bunga itu?"


"Bilang saja yang sebenarnya, bahwa Pak Renza ingin meminta maaf atas semua kesakitan yang telah Pak Renza berikan, makanya Pak Renza mengiriminya bunga setiap hari supaya Nyonya merasakan hari-hari yang indah seperti bunga itu. begitu kan?" ucap Deni datar dan fokus menyetir.

__ADS_1


"Sialan! kau tau semua isi hatiku, yah? padahal aku tidak memberi tau mu perihal bunga itu aku kirim setiap hari, jangan-jangan kau ini dukun ya?"


Wahh, dia benar-benar seperti bisa menerawang pikiran seseorang.


"Haha, pikiran Pak Renza ini sungguh konyol. bahkan dari wajah dan gerak gerikmu aku sudah tau bahwa Pak Renza sangat merasa bersalah kepada Ny.Arinka, tanpa Pak Renza beri tau pun aku peka." Deni tertawa keras tapi tatapannya tetap fokus menyetir.


"Ya.. ya... kau seperti dewa penyelamat bagiku, apa karena kau sudah bekerja cukup lama padaku, jadi kau sudah tau semua tentangku? kau memang sangat bisa diandalkan sih."


"Berhenti memujiku, Pak. nanti jika engkau marah image ku langsung jelek walau sudah kau puji-puji sebaik mungkin." terkekeh.


"Sialan, kau ini benar-benar ya, ingin aku cekik saja lehermu itu karena terlalu banyak berbicara." sambil menjulurkan tangannya kedepan.


"Nah kan, belum bermenit-menit sudah begitu."


"Oh ya, Aku ingin kau mencarikan kami panggilan yang cocok, kemarin aku bilang panggil aku Paksu dan aku memanggilnya Mamis, dia tidak mau, katanya terlalu mainstream."


"Haha, aku saja mendengarnya geli, apalagi Nyonya." Deni cekikikan.


"Sialan, mati saja kau sana!"


"Biar kita mati bersama ya Pak didalam mobil ini." mencoba melajukan mobil dengan sangat kencang.


"Wah.. wah kau sangat berani ya pada atasanmu, jika aku mati kau akan aku gentayangin selama sisa hidupmu."


Mati atau tidak, kau memang selalu menggentayangiku, Pak!!


"Jika kita sama-sama mati bagaimana Pak?"


"Sial, kenapa bicara mati sih? aku bahkan belum menyatakan cinta pada Arinka?"


"Jangan diperlama, Pak. nanti keburu basi." Deni cekikikan


Sesampainya di kantor, Renza segera masuk keruangan pribadinya dan Deni terus mengikuti, Renza duduk dikursi kebesarannya sambil membolak-balikan kertas di mejanya.


"Bagaimana tentang penyewa gedung kemarin, sudah kau urus?"


"Sudah, Pak. mereka bilang mereka mempunyai anak yang tinggal diluar negeri, Pak. makanya mereka sering membayar sewa terlambat."


"Huh! lagi-lagi banyak alasan, aku tidak mau tau kau harus menanganinya dengan baik, jika sewanya selama 3 bulan terakhir tidak dibayar, suruh mereka angkat kaki!"


"Baik, Pak." sambil menundukkan kepalanya.


"Kamu sudah memikirkan panggilan yang cocok buat kami berdua?"


Kenapa aku yang harus memikirkannya sih, sudah cukup masalah pekerjaan, masih saja aku harus mengurus masalah pribadinya.


"Mimom, pipom. bagus kok," jawab Deni datar tanpa ekspresi, padahal ia sebenarnya hanya mengerjai.


"Apa panggilan begitu dengan sedang trend belakangan ini?"


Terdengar seperti sebuah penyakit ditelingaku, miom. haha. anak muda zaman now panggilan cintanya aneh-aneh.


"Iya, Pak," jawab Deni sembari membuang muka menahan tawa.


"Mimom, kau sedang apa?" Renza mempraktikan kata mimom untuk memanggil Arinka. sontak Deni menutup mulut menahan tawa, wajahnya memerah.


"Apakah cocok, aku pikir tidak cocok buat kami?" mendongak menatap Deni meminta penjelasan.

__ADS_1


"Wakakakaka... Pak oh Pak, kau ini sangat lucu ya Pak? bukannya Pak Renza sudah pernah pacaran dulunya, kenapa harus sekonyol dan secanggung ini sih, panggil sayang kan bisa?" masih tertawa kemudian menutup mulutnya.


"Brengsek kau Deni! hampir saja aku akan memanggilnya begitu,bikin malu saja. Entah kenapa saat bersama Arinka aku selalu bersikap konyol dan canggung, Apa karena aku sangat menyukainya? aku tidak ingin memanggilnya sayang, karena panggilan sayang sudah pernah aku ucapkan kenapa si wanita sialan Giska, aku jijik."


Tolong dong Pak, masalah hati atasi sendiri.


"Ya, kalau begitu jangan panggil sayang. jika Pak Renza tidak menyukainya tidak mungkin sikap Bapak terlihat Bodoh, jika didepan umum sebaiknya jangan bertingkah aneh ya Pak, Pak Renza itu Ceo Fariq Company, orang besar yang dihormati. bisa gila aku jika Bapak bersikap aneh-aneh."


"Yayayaaa... Sana keluar, aku muak melihatmu!" mendengus kesal. Deni yang senyam-senyum tidak memperdulikan bahwa atasannya sedang murka. ia terlihat bertingkah menyebalkan.


"Oh ya, Pak. 2 hari lagi hari ulang tahun Bapak, apa aku harus mengadakan pesta?"


"Kau gila.....!!!!! sejak kapan aku merayakan ulang tahun, memangnya aku anak-anak, keluar kau!! aku akan mengejarmu dan membuatmu babak belur jika kau masih terlihat didepan wajahku hari ini." Raut wajah Renza merah padam karena marah. Deni berjalan keluar masih dengan tubuh bergetar, bukan karena ketakutan tapi menahan tawa, kemudian ia berteriak sebelum menutup pintu,


"Apa aku harus memberi tau Ny.Arinka tentang ulang tahun Bapak, atau aku harus menyiapkan sesuatu lainnya?"


"Tidak perlu, sekarang sebaiknya kau keluar saja!!"


"Iya pipom, aku keluar," ejek Deni sambil menutup pintu, terlihat wajah Renza yang emosi itu seketika tertawa lepas mendengar kata pipom.


****


Dirumah, Arinka masih sibuk berkemas membantu Bi Ami, kali ini ia membantu memasak, ia mempergunakan buku resep masakannya. tak lama kemudian terdengar dering ponselnya yang sangat keras, Arinka bergegas menjawab panggilan itu, ternyata Nek Murti.


"Halo, Rin," ucap Nek Murti.


"Halo, Iya Nek, ada apa?" tanya Arinka


"Nenek hanya ingin memberi tau, kalau 2 hari lagi Renza ulang tahun, Nenek ingin setelah hari ulang tahunnya itu kalian bulan madu."


Deg.. deg..


"Oh, benarkah. aku harus membelikan kado kalau begitu." Arinka pura-pura tidak mendengar kelanjutan pembicaraan Nenek tentang bulan madu.


"Iya, Nenek selalu memberinya hadiah jika hari ulang tahunnya, tahun ini kau harus memberikan hadiah terbaik baginya, misalnya anak juga boleh." terdengar suara Nek Murti tertawa.


"Haha, mungkin lain kali. kami akan Berusahan Nek."


"Baiklah, kalian harus berusaha keras saling mencintai. omong-omong Arin sedang apa?"


"Arin sedang masak, Nek."


"Ya sudah kalau gitu lanjutkan saja, Nenek tutup telponnya."


"Baiklah."


Terdengar suara panggilan telpon itu terputus, Arinka meletakkan ponselnya diatas meja dan melanjutkan memasak, ia tertawa geli mengingat ucapan Nek Murti, berbulan madu, anak. Astaga, Renza menyatakan cinta saja belum pernah, bagaimana bisa langsung ketahap seperti itu.


Ihh aku merinding, dan lagi aku harus membeli apa ya? sebuah pikiran baru mulai berkecamuk, yah pikiran untuk membeli sebuah kado ulang tahun.


***Bersambung.....


Makasih buat kalian yang selalu mendukungku, aku sangat menyayangi kalian 😊 tanpa kalian aku bukan apa-apa 😢


Jangan bosan membaca karyaku ya 😁


aku selalu mengingatkan jangan lupa like, vote dan comment..

__ADS_1


Salam sayang dariku, Luv u 😘😘***


__ADS_2