
Beberapa hari berlalu, Renza terlihat uring-uringan dirumah, dikantor dia juga sering marah-marah. Deni sangat lelah menghandle semua kerjaan yang ditimbulkan akibat emosi pasang surut atasannya itu. Renza selalu menunjukan wajah kesalnya bahkan setiap sepulang kerja ia langsung mandi dan tidur, tidak makan malam bersama. yah dia menghindar. ia takut akan semakin mencintai Arinka jika ia benar-benar selalu ikut campur urusan pribadinya.
Jika tidak bisa tidur, ia sebisa mungkin hanya memikirkan pekerjaan. ia membuat tubuhnya lelah setiap hari.
malam hari kadang ia lembur bekerja demi tidak bertemu Arinka. Arinka juga khawatir karena selama beberapa hari tidak pernah berbicara kepada Renza, baik sekedar menyapa dipagi hari pun tidak. makan tidak teratur dan jarang sarapan. Arinka takut jika ia bekerja berlebihan dan tidak makan teratur, tidak akan baik bagi tubuhnya. dan hal yang ditakutkan Arinka pun terjadi, Renza drop.
Arinka yang tengah bekerja sore itu dibuat panik, setelah jam kerja habis ia bergegas pulang dan menuju rumah sakit. beberapa hari terakhir selalu ada seseorang yang mengiriminya sebuket mawar, Arinka menerka-nerka siapa orang yang memberikan bunga dengan rahasia ini, tapi tidak pernah terpikirkan siapa orang itu. Jefran yang berniat mengantar pulang ditolak halus oleh Arinka.
"Tidak usah, Pak. lain kali saja. hari ini aku akan kerumah sakit."
"Siapa yang sakit? biar aku antar, agar lebih cepat."
"Saudara... Maaf, Pak. tapi aku sudah dijemput, aku pergi dulu." berbohong dan bergegas naik ke dalam mobil dan Mobil itu melaju dengan kencang.
"Den, Tuan sakit apa? tidak serius kan?"
"Asam lambungnya naik, Beliau sangat setres akhir-akhir ini."
Ia setres karena anda Nyonya.
"Iya, dirumah juga Tuan tidak makan teratur dan sering pulang larut, apa sesibuk itu menjadi Ceo?"
"Tidak juga, hanya beliau saja yang menyibukkan dirinya."
Deni melirik sebuket bunga mawar yang dibawa Arinka. ia berpikir siapa orang yang memberikan bunga ini, apa Jefran. Jika memang Jefran pasti akan jadi masalah besar.
"Nyonya, Aku perhatikan hampir setiap hari Nyonya membawa pulang bunga mawar, dari siapa, ya?" tanya Deni penasaran.
"Aku juga tidak tau, sudah hampir seminggu aku terus medapatkan bunga ini, cantik tapi tidak ada nama pengirimnya, hanya inisial berbeda setiap hari, jika dikumpulkan sudah ada inisial 'A,I,E,L,R'
Aku jadi penasaran, akan aku selidiki.
"Oh ya, omong-omong Nyonya besar sudah ada di rumah sakit."
"Benarkah? pasti Nenek sangat khawatir, Aku jadi merasa bersalah karena tidak memperhatikan kesehatan Tuan."
"Tidak apa-apa Nyonya, Pak Renza akan sembuh dengan cepat. berdoa saja."
ini semua salahku, seharusnya aku memperhatikan pola makannya, aku pantas disalahkan karena tidak becus jadi seorang istri. walaupun istri kw.
Mereka sudah sampai, Deni memarkirkan mobilnya sedang Arinka masih sudah berjalan memasuki Rumah sakit itu.
ia bertanya ke meja informasi, segera ia bergegas mencari ruang perawatannya. ia celingak celinguk melihat nomor kamarnya, Deni yang memperhatikan tertawa lucu.
Deni lalu berjalan cepat didepan dan Arinka mengikuti.
Kreekkk..
Suara pintu terbuka, Arinka segera masuk dengan membawa sebuket bunga mawar dari penggemar rahasianya itu. dilihatnya Renza tengah tertidur dengan pulas. ya benar ini kamar vip, tidak akan sulit mencarinya tadi. semua perlengkapan seperti televisi, kulkas, Ac, semuanya lengkap layaknya rumah sendiri.
__ADS_1
"Maaf, Nek. aku datang terlambat."
"Kau membawa bunga? hem romantisnya pasangan baru ini"
"Iya nek," tersenyum sambil meletakan bunga diatas rak.
"Omong-omong Kau dari mana? apa kau bekerja Rin?"
Gawat! aku harus jawab apa, nenek tidak tau kalau aku bekerja, bagaimana ini?
Arinka mengisyaratkan mata kepada Deni, apa yang harus dijawabnya, apa ia harus berkata jujur. dengan cepat Deni menjawab pertanyaan Nyonya besarnya itu.
"Nyonya Arinka mengikuti kursus memasak Nyonya besar." jawab Deni dan Arinka membenarkan.
"Benarkah? wah nenek suka kau punya kegiatan, kau mungkin bosan kan? "
Arinka hanya menganggung dengan sopan dan tersenyum, ia mendekat dan duduk ditepi ranjang kesakitan itu.
Kalau diperhatikan. Tuan ini sangat tampan, jika sedang tidur wajahnya sangat polos. maaf karena tidak memperhatikan kesehatanmu.
tiba-tiba matanya terbuka, Renza bangun dan meminta minum, Arinka dengan sigap mengambil segelas air putih untuknya. raut wajahnya muram tidak ceria sedikitpun.
"Nenek tidak melarang kau ikut kursus, tapi tolong perhatikan makanan dan kesehatan suamimu, jangan sampai hal seperti ini terjadi kembali, nenek sangat khwatir."
"Iya Nek, maafkan Arin."
"Tidak apa, Nenek kan hanya memberi nasehat. oh ya Renza harus di opname dan harus menghabiskan cairan infusnya, Nenek tidak bisa menginap disini."
"Nenek pulang sekarang, Nenek sudah menelpon sisil untuk menghandle urusan kantor sementara, Deni juga akan membantu, jadi jangan khawatir. cepat sembuh ya cucuku sayang." sambil mengelus rambut Renza dan berpamitan.
"Iya Nek" jawab Renza pelan.
Nenek sangat sayang kepada Tuan Renza.
Nek murti berjalan keluar, Arinka dan Deni mengantarnya sampai diluar pintu. Deni juga pergi, hanya bilang sebentar dan akan segera kembali. tinggallah suara senyap dari kamar itu, Arinka menatap Renza dengan sayup, ia merasa kasihan melihat lelaki yang biasanya sangat sehat ini terbaring lemah dengan selang infus ditangannya, ia berjalan mendekat dan duduk kembali diranjang kesakitan itu, Renza kemudian berbalik kearah kiri sedang Arinka duduk disebelah kanan, ia berusaha agar tidak menatap wajah istrinya itu.
Mereka berdua berlarut dalam kesunyian tanpa suara sedikitpun, yang terdengar hanya suara orang berjalan mondar-mandir diluar, mungkin mereka sibuk mencari ruangan kerabat mereka. Renza memejamkan matanya padahal ia tidak tidur, ia hanya sedang berpikir banyak hal.
Tiba-tiba terdengar suara yang memecah kesunyian dalam ruangan itu. Arinka memulai pembicaraan.
"Tuan, apa ingin makan?"
Tidak ada jawaban sama sekali yang terdengar dari mulutnya, ia sangat keukeh menghindar dari Arinka.
"Apa Tuan ingin minum lagi?" tanya Arinka kedua kalinya.
Aku sedang berusaha menghindarimu, Bodoh! kenapa kau terus menerus berbicara.
"Tuan sudah tidur, ya?" bangkit dari ranjang kesakitan itu dan berpindah kearah Renza membalikkan badannya tadi, yaitu sebelah kiri, kemudian Arinka menarik selimutnya sampai dadanya. ia memperhatikan Renza dengan tatapan iba.
__ADS_1
Jangan menatapku seperti itu, aku berusaha tidak ingin jatuh cinta kepadamu.
Renza menggeliat dan berbalik kearah kanan membelakangi Arinka. selimutnya turun. kemudian Arinka menariknya lagi sampai kedadanya. Arinka duduk di sofa, ia sadar bahwa ia belum mandi, tapi tidak membawa pakaian ganti. beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka yaitu Deni, kiri-kanan tangannya menenteng paperbag.
"Nyonya, ini pakaiannya. silahkan mandi dan berganti, aku akan pergi keluar, Pak Renza juga sedang tidur. Aku tidak akan mengganggu"
Wah, Deni seperti penyelamat. tau isi hatiku.
Deni keluar dengan santai, ia menutup pintu dengan pelan. ia tidak ingin membangunkan Atasannya itu, padahal atasannya itu hanya pura-pura tidur. Arinka bergegas masuk kekamar mandi dan membawa paperbag bawaan Deni tadi, ia mandi dengan cepat sebelum Renza bangun, takutnya Renza ingin minum atau makan tidak ada orang disana. selesai mandi ia sangat terkejut dengan pakaian yang dibawakan Deni, pakaian yang bukan seleranya sama sekali lengkap dengan pakaian dalamnya juga, tapi mau tidak mau ia harus memakainya. Dress warna biru muda dengan model bodycon yang lekat ditubuhnya. Arinka terlihat seperti model memakai dress itu.
Aku pakai dress seperti ini seperti mau kondangan saja. orang kaya seleranya seperti ini ya, haha menggelikan.
Arinka keluar dari kamar mandi terlihat Renza sudah duduk di ranjang kesakitannya sambil menonton televisi. wajahnya masih fokus menatap televisi tanpa menoleh, Arinka dengan susah payah menarik dress itu supaya tidak terlalu ketat. ia berjalan menghampiri Renza dan menanyakan keadaannya.
"Tuan, apakah sudah lebih baikan? Tuan mau minum?" tanya Arinka terlihat sedikit gugup. Renza menoleh sekilas melihat Arinka dengan pakaian seperti itu. lalu tangannya mengusap wajahnya dengan cepat.
Kenapa dia berpakaian seperti ini,astaga tubuhnya itu. aku belum pernah melihatnya seseksi ini.
"Kauuu, kenapa memakai pakaian seperti itu?" dengan nada tinggi yang membuat Arinka terkejut.
"Deni yang membawakannya Tuan, aku tidak punya pakaian lain, mau tidak mau aku harus memakainya." menundukan wajah.
Sialan si Deni itu!
"Ganti pakaianmu? aku tidak suka." Berbicara tanpa menatap sedikitpun
"Tapi aku tidak punya pakaian lagi, pakai baju yang tadi saja ya kalo gitu, tapi Tuan bilang tidak suka bau restauran itu."
"Iya aku tidak suka bau restauran itu, Pokoknya kau harus ganti sekarang."
Astaga emosinya itu masih saja meledak walau sakit.
"Telpon Deni dan bilang bawakan baju kampungan seperti biasa, jangan baju seperti ini, mataku sakit melihat semua ini"
"Kenapa? apa Tuan tidak suka warna biru muda," Arinka memutar balikan badan dengan polosnya, padahal Renza tidak ingin melihat ia seseksi itu, bukan karena warna bajunya.
"Hentikan, jangan berputar seperti itu, kau terlihat bodoh!"
"Sudah aku bilang, aku tidak cocok dengan pakaian mahal, kenapa kemarin repot-repot membelikan banyak sekali." jawabnya santai.
"Aku hanya tidak suka kau memakai bajunya disini! setiap hari kau ingin memakainya dirumah silahkan." dengan nada tinggi.
Arinka dengan polosnya tidak mengerti bahwa Renza tidak ingin melihat lekuk tubuhnya itu.
**Bersambung...
Jangan lupa vote dan comment..
yang belum tekan ❤ silahkan tekan.
__ADS_1
Salam sayang dariku 😊
Luv u 😘**