Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 49 : Cinta pertama?


__ADS_3

Terkadang saat kita mendapatkan hadiah, yang paling membahagiakan bukanlah nilai hadiah itu sendiri, melainkan siapa si pemberi hadiah tersebut.


💗💗💗


Renza dan Arinka makan bersama, padahal sudah sangat larut. Renza sudah sangat ingin mencoba masakan Arinka. Mereka duduk di kursi ruang makan. mereka makan sup ayam itu dengan bahagia, tidak lupa Arinka memotongkan kue coklat kesukaan Renza. wajah Renza sangat berbinar-binar. ia semakin sangat mencintai Arinka.


"Terima kasih, Cintaku." ucap Renza tersenyum lebar.


"Sama-sama," ucap Arinka seraya tersenyum hangat.


"Oh ya, besok ada acara amal di panti asuhan yang dinaungi oleh Fariq company. Besok kau harus hadir juga, ya, sayang?"


"Hemmm..." Arinka menggangguk ragu.


"Besok kita akan pergi bersama-sama, jam 10 aku jemput, pagi nya aku akan pergi kekantor dulu."


"Apa tidak akan memalukan jika aku pergi kesana."


"Tidak akan, kau itu sangat cantik sayang. lagian baju di lemari itu sangat banyak. pilih yang paling cantik menurutmu, kau pada dasarnya sangat cantik. tidak perlu make up tebal."


"Hmm.. baiklah."


Aku tidak yakin, dilihat dari manapun aku ini tetap kampungan.


Renza sudah selesai. Arinka mengemasi piring bekas makanan Renza tadi. Arinka tidak ingin membangunkan Bi Ami. ia juga ingin melayani suaminya sendiri tanpa bantuan orang lain.


Renza terus memperhatikan istrinya berkemas-kemas. Ia masih duduk dimeja makan sambil terus senyum menatap istrinya itu. Apapun yang dilakukan Arinka terlihat menggemaskan bagi Renza.


Beberapa menit kemudian, setelah Arinka selesai mengemasi makanan itu, mereka beranjak naik keatas. Renza membuka pintu balkon atas untuk sekedar duduk dan memandangi bulan. Kebetulan malam itu bulan sangat terang. Sinarnya menelusup dicela-cela ruang dan jendela di rumah itu.


Arinka dan Renza duduk dibalkon berdua. Mereka duduk berdampingan sambil menatap indahnya malam yang bertabur bintang-bintang yang bekerlipan. Renza memeluk Arinka dengan erat dan mencium keningnya lembut. Arinka membaringkan kepalanya dibahu Renza.


"Pipom, memangnya acara amal itu apa, sih?"


"Acara amal itu acara sumbangan dan bantuan untuk panti asuhan dibawah naungan Fariq Company, ini acara tahunan."


"Hmm ... begitu ya, jadi Pipom wajib pergi kesana, ya?"


"Iya, Aku harus menyampaikan sepatah, dua kata sambutan."


"Owh," jawab Arinka manggut-manggut.


Renza membelai rambut kekasih hatinya itu, menatapnya dengan perasaan cinta yang menggebu-gebu. Degup jantungnya bergejolak deras. Jantung nya seperti akan meledak jika berada didekat Arinka.


"Aku hadiah untukmu, sayang. Tunggu disini dulu."


Renza berjalan masuk kedalam kamar. Ia mengambil sebuah kotak kecil dan berjalan keluar kearah balkon dengan pelan seraya menutup mata Arinka.


"Mmm, kenapa menutup mataku?" ucap Arinka seraya memegang tangan Renza.


"Huwaaaa." pekik Renza mengejutkan Arinka.


"Arrrghhh," ucap Arinka sontak teriak seraya bangkit dari kursi itu. "Tiduk lucu," sahutnya cemberut. Arinka sangat terkejut dengan Renza, wajahnya cemberut sebal.


"Maaf, hihi.. aku ada hadiah untukkmu, Cinta." Renza berjalan kedepan Arinka dan berlutut dengan bertumpu satu kaki lalu membukakan kotak kecil itu.


"Cincin?" ucap Arinka terharu, matanya berbinar-binar.


"Iya, ini hadiah Anniversary kita ke10 bulan. Sebuah cincin yang tidak pernah aku berikan kepadamu dihari pernikahan kita." Seraya memasangkan cincin itu di jari manis Arinka lalu mengecup tangan itu lembut.


"Sangat cantik. Terima kasih, Pipom." ucap Arinka tersenyum lebar sangat bahagia.


"Mimom sayang, aku sangat mencintaimu." Seraya bangkit dari berlutut dan berbisik pelan ditelinganya. Arinka tertawa geli karena suara bisikan di telinganya itu.


"Haha, aku geli." Arinka tertawa seraya memegang telinganya.


"Geli? Dasar!" ucap Renza sambil memegang dagu Arinka.


"Kau juga punya cincinnya, Pip?" ucap Arinka sambil memegang cincin ditangan Renza.


"Iya, ini cincin pasangan." Memamerkan tangannya kehadapan Arinka sambil memegang tangannya dan memperhatikannya.


"Ini ada inisial nama?"


"Hmmm... ini nama kita berdua. R dicincinmu, dan A dicincinku, Apa kau suka?"


"Suka sekali, sangat suka. Terima kasih sekali lagi."

__ADS_1


"Apa hanya terima kasih saja?" seringai licik muncul di bibirnya.


"Itu namanya tidak ikhlas jika menginginkan balasan, tidak baik," ucap Arinka tertawa lebar.


"Huh! begitu ya? Oh ya, Aku sudah memilih supir pribadi untukmu, mulai sejak supir itu bekerja, kau akan selalu diatar olehnya."


"Kenapa harus supir? aku sangat suka bepergian naik motor, karena naik motor itu membuat hatiku fresh. bisa melihat pemandangan yang indah sambil merentangkan tangan, itu sangat asyik."


"Tapi aku tidak ingin kau sendirian, kau ini istriku. kenapa sangat suka sih sama abang tukang ojek, kau juga suka sama abang tukang batagor. Dasar!" Renza mulai ngambek dengan ucapannya sendiri.


Kenapa dia bisa bertingkah seperti ini sih? Duh aku tak menyangka ternyata dia punya sisi konyol seperti ini, haha.


"Aku kan suka naik ojek, karena naik motor pemandangannya lebih luas, dan aku suka makan batagor bukan suka sama abangnya, iiihh." Arinka cemberut pura-pura marah.


"Jangan marah, maaf. Aku hanya tak suka kau sering bepergian sendiri bersama ojek untuk membeli batagor. Apa aku suruh abang batagor itu bekerja untuk kita saja?"


"Bekerja untuk apa?"


"Bekerja sebagai tukang buat batagor dirumah kita."


"Ya ampun, kamu lebay deh, Pom."


"Haha, kau kan menyukainya, tidak apa-apa kan? supaya kau tidak sering pergi kemana pun dan tidak dilirik lelaki mana pun, aku tidak suka."


"Jadi aku tidak boleh keluar? siapa yang akan melirikku?" Arinka cemberut.


"Kau itu cantik, tubuh ideal, body aduhai, setiap lelaki yang melihat pasti bakalan jatuh hati." (omongan bucin tingkat dewa)


"Ya ampun, haha." Arinka tertawa keras mendengar ucapan Renza.


"Benar, kan?"


"Tidak benar, aku tidak seperti itu. Aku ini hanya orang kampung biasa saja. jika pakai pakaian mahal mungkin orang-orang baru akan melirikku."


"Benar, kok. Senyummu, hidungmu, matamu, wajahmu dan semua tentang dirimu sangat menarik, Ahhh ... aku suka, memikirkannya saja membuatku menggila."


Ya ampun, Deni benar. dia benar-benar berubah sekarang. apa ini yang dinamakan Deni bucin tingkat dewa?


"Kau ini sedang memikirkanku apa wanita lain, kenapa ciri-ciri itu sepertinya tidak ada padaku?" Arinka mengerutkan keningnya sembari mengerucutkan bibirnya.


"Siapa bilang? Aku memikirkanmu? Aku tidak akan memikirkan orang lain, isi hatiku, isi otakku semuanya tentangmu."


"Kenapa harus malu? ini isi hatiku, cinta dan sayangku hanya untuk Mimom seorang diri, aku janji tidak akan ada wanita lain selain dirimu dihatiku, satu-satunya sampai mati."


"Iya, Amin. Semoga selamanya hatimu tidak akan pernah berubah."


"Aku berjanji."


Sesaat suasana hening, mereka saling memandang bintang dan berpelukan, disela-sela itu Renza mengusap rambut panjang Arinka dengan lembut.


Hari semakin larut, mereka masih dibalkon saling tertawa dengan bahagia, saling bercanda dan mengenal satu sama lain. Selama mereka bersama dulu tidak pernah ada obrolan seperti ini.


"Mom, Aku ingin kau cerita tentang dirimu dan orang tua mu? kenapa kau bisa datang ke ibukota?"


"Kau ingin mendengarnya?"


"Heum..." Renza mengangguk pelan.


Arinka mulai menceritakan tentang orang tuanya yang meninggal karena sakit. ia juga menceritakan tentang bagaimana kehidupannya dulu yang sangat sulit.


"Jadi dulu kau itu saat sekolah bekerja sebagai buruh cucian? jadi dengan tangan ini kau mencuci pakaian orang lain setiap hari?" ucap Renza seraya memegang tangan Arinka dan menciumnya.


"Yah, karena kami bukan orang kaya. Kami harus mencari uang bersusah payah. Bahkan untuk makan sehari-haripun sangat sulit, makanya saat disekolah dulu aku jarang makan dikantin, hampir semua uang hasil bekerja aku tabung untuk membantu Ibu."


"Kau anak yang baik. BTW, dulu di sma apa kau punya pacar?"


"Tidak, aku tidak pernah berpacaran. Tidak ada waktu bagiku untuk berpacaran. Masa remajaku hanya aku habiskan untuk bekerja saja tanpa pernah menghabiskan waktu bersama teman-teman, kadang-kadang ada keinginan untuk berkumpul dengan mereka, tapi aku tidak punya waktu."


"Kalau begitu, setiap waktumu tidak akan aku sia-siakan. Aku akan mengajakmu mengulang masa remaja bersamaku. Ayo kita lakukan hal yang sangat kau inginkan saat kau remaja?"


"Baiklah, dengan senang hati."


"Apa kau punya cinta pertama?" tanya Renza.


"Punya."


"Ayo cerita lagi?"

__ADS_1


"Nanti kau juga cerita, ya?"


"Baiklah."


"Dulu, aku pernah bertemu anak lelaki ditaman bermain, saat itu aku masih beranjak Abg. Anak lelaki itu sangat tampan, tapi dia terlihat menyedihkan. aku melihatnya dikelilingi oleh beberapa penjaga, dia tersenyum kepadaku, saat itu aku tidak sengaja terjatuh dari ayunan, aku menangis, ia menolongku. tapi sayang, kami tidak berkenalan. Saat itu terakhirnya aku pergi ketaman main dikota waktu liburan, sesudah itu Ayahku meninggal."


"Aku juga dulu sering pergi ketaman bermain, tapi seiring waktu aku berlalu, aku jenuh. Renza saat masa Abg selalu di ikuti penjaga. Sedari kecil aku sudah terbiasa memerintah. karena aku hanya tinggal bersama Nenek, semua yang aku butuhkan selalu dipenuhi oleh Nenek. Dulu kau sering ke taman bermain mana?"


"Aku tidak terlalu ingat, sudah belasan tahun lamanya. Yang aku ingat dulunya di taman bermain itu banyak bunga matahari."


"Jadi cinta pertamamu saat itu lelaki yang ada ditaman bermain yang baru kau kenal."


"Haha, lucu, kan?"


"Sangat lucu dan konyol."


"Dulu dia membantuku saat aku menangis, aku jadinya sangat malu, tapi dia bilang tidak apa-apa, jika sakit jangan malu jika ingin menagis."


"Seingatku, dulu aku pernah juga membantu wanita yang jatuh dari ayunan, ia juga menangis. Kau bilang taman bermain yang banyak bunga matahari?"


"Heum ..."


"Bunga matahari? Apa Taman main pelangi?"


"Yah, benar. Aku ingat taman pelangi."


"Kau pernah kesana? "


"Ya, pertama kali saat liburan dan itu terakhir kalinya juga."


"Ya ampun, jangan-jangan kau gadis abg yang aku bantu itu, Apa saat itu rambutmu di kepang?"


"Iya."


"Jadi kau gadis Abg itu? suatu kebetulan apa takdir?"


"Aku tidak menyangka?"


"Ya Tuhan, ternyata dia adalah wanita yang kau kirim untukku sejak lama. Maaf karena aku pernah menyia-nyiakannya." Berbicara menatap langit.


"Sungguh takdir yang tidak bisa di tebak."


Renza menatap Arinka dan memeluknya dengan erat, tak henti-hentinya Renza menciumi wanita itu.


Ya Tuhan, Terima kasih karena sudah mempertemukan kami kembali dan membuat wanita ini menjadi istriku.


"Jika kita tidak bercerita mungkin kita tidak akan pernah tahu?" ucap Renza.


"Hmm... Aku tidak habis pikir, ternyata dunia sesempit ini." ucap Arinka tersenyum.


"Jadi, aku cinta pertamamu?"


"Ahh, aku sangat malu. tidak kau bukan cinta pertamaku?"


"Ayo ngaku...?"


Arinka menutup wajahnya seraya bergumam sendiri, ia sangat malu karena telah mengatakan banyak hal tentang Renza kecil. Arinka terus saja memegang wajahnya. Tingkahnya itu terus diperhatikan oleh Renza. Renza terus tersenyum menatap istri tercintanya itu.


"Kau ini makin menggemaskan saja, aku gigit, ya?"


"Memangnya aku makanan?" Arinka tertawa seraya menutup mulutnya.


"Sekarang aku jadikan kau makanan." Seringai licik terlihat diwajahnya, "Ayo kita kekamar ini sudah larut." ucap Renza memperlihatkan senyum jahilnya.


"Hmm ... ayo," ucap Arinka seraya berjalan menggandeng tangan Renza. Mereka berjalan bergandengan tangan dengan bahagia.


Takdir memang tidak pernah salah, dan tidak akan pernah tertukar, apalagi jika menyangkut jodoh dan rezeki.


Setelah masuk kekamarnya, Renza dengan cepat membaringkan Arinka di ranjang King size nya. Malam panjang baru akan dimulai sekali lagi.


Bersambung....


Jangan lupa tekan like jika sudah membaca 😘❤


Jangan lupa terus dukung aku dengan cara beri vote dan kirim comment.


Jika ada yang ingin request dengan kisah cinta Arinka dan Renza, silahkan, aku akan senang hati menaggapinya.

__ADS_1


Salam sayang dariku buat Readers semua.


Luv u All 💗😍😘


__ADS_2