
Bagaimana ini? Aku memang tidak melihat apapun. Dia pasti mengira aku sudah melihat yang tidak seharusnya.
Minta maaf saja. Sungguh memalukan!
"Maaf Tuan, aku sungguh tidak melihat apapun tadi," ucap Arinka dengan rona wajah malu dipipinya.
"Ya sudah, jangan dibahas. Aku juga tidak melihat apapun dibalik kemejamu tadi." Berusaha menyembunyikan senyum.
"Apa maksudnya? dibalik kemeja..." Berpikir sejenak.
"Jangan-jangan Tuan melihat yang tidak seharusnya, ya?" Raut wajahnya menjadi padam, mengalihkan pandangan.
Ya ampun, Aku salah bicara. Sialan!
"Ti-tidak, Aku tidak melihat apapun." Sedikit gugup namun berusaha tenang.
Huh! Aku sangat malu.
Mereka berdua terihat canggung. Renza keluar dari kamar mandi, sedangkan Arinka terdiam mematung. Renza menutup pintu kamar mandi, dengan segera Arinka menguncinya.
Cih! Apakah dia setakut itu padaku? Aku juga tidak sengaja melihat dadanya, putih dan mulus seperti kapas. Tersenyum licik. Sialan! Aku berpikiran mesum.
Arinka hanya terdiam didalam kamar mandi, memikirkan apa yang dilihatnya tadi. hampir saja aku menyentuhnya, batin Arinka.
Renza sudah memakai pakaian. ia bergegas turun untuk makan malam. di meja semuanya sudah tertata rapi. lauk pauk berjajar seperti biasa menunggu disantap oleh seseorang. Bi Ami masih terlihat membawakan buah segar untuk pencuci mulut.
"Bi Ami, Apakah Nyonya Arinka hari ini memasak?" tanya Renza.
"Tidak Tuan, sepertinya hari ini Nyonya Arinka sangat kelelahan, setelah datang bekerja Nyonya naik kekamar, bahkan sampai sekarang belum keluar?"
"Hemm, baiklah."
"Kenapa, Tuan? Apa Tuan marah karena Nyonya tidak masak. maafkan saya Tuan, hari ini Nyonya mungkin kecapaian, setiap hari Nyonya selalu memasak kok untuk Tuan."
"Iya Bi, Aku hanya bertanya saja, gapapa."
"Apa tadi Nyonya ketiduran?"
"Iya ... sekarang masih mandi, mungkin sebentar lagi Dia akan turun."
Renza sudah mulai makan tanpa menunggu istrinya, ia merasa canggung jika harus menunggu Arinka makan. jika sikapnya berubah tiba-tiba, mungkin akan terasa aneh bagi Arinka.
Selang berapa menit, saat Renza sudah akan menghabiskan makanan, Arinka turun dengan piyama warna biru doraemonnya. kancing piyama itu ia kancingkan sampai hampir menutupi lehernya.
Arinka duduk berhadapan dengan Renza, ia mulai mengambil piring, mengisi nasi, dan mengisi lauk pauk.
raut wajahnya datar, ia hanya fokus melihat makanan dan makan saja. seperti biasa tidak ada percakapan antara mereka disana, bahkan untuk saling melirik pun mereka enggan.
__ADS_1
Bi Ami datang membawakan buah Apel yang telah dikupas dan dipotong kemeja makan. buah apel itu buah kesukaannya Arinka. Bi Ami melihat Piyama Arinka berwarna sama dengan piyama Renza, hanya saja piyama Renza warna biru polos, sedangkan Arinka bercorak doraemon. Bi Ami lalu tersenyum tipis.
"Terima kasih, Bi." ucap Arinka.
"Sama-sama. Nyonya dan Tuan pakaiannya sama, ehm manis banget sih." ejek Bi Ami.
"Apaan sih, Bi. ini hanya kebetulan," ucap Arinka pelan.
Rona wajah Arinka seketika memerah karena mengingat kejadian barusan, segera ia menggeleng-gelengkan kepala. sedang Renza hanya bersikap cuek.
Couple? lucu juga sih. Renza.
"Nyonya, bagaimana hari pertama bekerja, apakah Nyonya suka?"
Mendengar ucapan Bi Ami, Renza sangat antusias. ia makan dengan pelan, pura-pura cuek dengan pertanyaan Bi Ami, padahal ia sangat penasaran.
"Aku suka, Bi. Karyawannya baik-baik dan Bosnya juga sangat Ramah, tidak seperti bos kebanyakan yang suka semena-mena kepada Bawahan."
"Ehem.." Renza berdeham seperti mengatakan Aku disini, jangan menyindirku.
Arinka melirik kearah Renza, dan Bi Ami juga menoleh. tetapi tak mereka hiraukan mereka asyik berbicara.
"Kau, jangan karena kau bekerja, kau melupakan tugasmu sebagai seorang istri? kau tidak memasak hari ini, dan juga setelat dan selelah apapun kau harus memasak untukku!" pekik Renza.
"iya maaf, Tuan. lain kali aku tidak akan seperti ini lagi."
Renza telah beranjak dari meja makan menuju ruang keluarga, sedangkan Arinka da Bi Ami masih sibuk berkemas meja. Arinka sangat senang bercerita kepada Bi Ami, bibirnya terus tertawa saking bahagianya.
Renza diam-diam memperhatikan Arinka yang tertawa, "Sangat cantik, belum pernah aku melihatnya tertawa seperti itu selama bersamaku. Apakah dia sebahagia itu bekerja disana? " gumamnya sambil menyalakan televisi.
"Si Kampung-" panggilannya terhenti. Renza tidak ingin memanggil Arinka dengan panggilan itu lagi, tetapi tidak ada nama yang pas untuknya.
"Kenapa, Tuan? jawab Arinka.
Dia mendengarku, berarti dia sudah cocok dengan sebutan itu, haha. Tertawa seperti sedang mendapat jackpot.
"Bawakan aku kopi!"
Selang berapa menit Arinka membawakan secangkir kopi dan beberapa camilan, kemudian dia taruh di meja.
"Ambikan tas kantorku dan juga ponsel, Cepat!"
Hais! ini orang hobby nya memerintahku ya? Kenapa juga harus memainkan ponsel dan memeriksa file didepan tv bersamaan, kenapa tidak diruang kerja aja sih, aku sangat membencinya! Berjalan dengan raut wajah kesal.
Arinka naik keatas mengambil tas dan ponsel, kemudian dia turun dan memberikannya kepada Renza.
"Kau jangan beranjak, pijat kakiku! aku merasa lelah hari ini."
__ADS_1
Apaaaa!! ini orang sengaja atau apa sih, bahkan kakiku lebih lelah melebihi dia, seharian istirahatku hanya sedikit karena pelanggan yang sangat ramai.
Arinka duduk di sofa, dan memulai memijit kaki Renza sedang Renza hanya tersenyum karena telah berhasil memperdayanya.
Betisnya sangat putih dengan sedikit bulu kaki, ini pertama kali aku menyentuhnya. ada apa dengannya, kenapa dia ingin aku sentuh? bukankah dia benci kepadaku.
"Pijat yang kuat, keluarkan tenagamu, sudah makan banyak tapi lemah, sia-sia aku memberimu makan." Tersenyum jenaka menolehkan wajah kearah berlawanan dari Arinka. Arinka memijatnya dengan keras, dengan segenap kekuatan yang ada.
"Aduh, kau ingin menyakitiku, yah? kuat sekali sih, bisa-bisa kakiku lebam."
Cih! Tadi bilang lemah sekarang bilang terlalu kuat. Mana mungkin bisa lebam hanya karena dipijat, dasar berlebihan.
"Maaf, Tuan." Menoleh sambil mendengus kesal.
Memangnya enak dikerjain, sekarang kau sedang kesal, kan.
"Lumayan juga, pindah keleher juga sekalian dan jangan berhenti sebelum aku suruh berhenti."
Arinka tidak menjawab perkataan Renza, dia hanya memperlihatkan ekspresi datar. Bi Ami yang melihat dari dapur tersenyum lucu dengan tingkah mereka, memakai piyama berwarna sama dan terlihat romantis, "Manis sekali sih mereka," begitu pikirnya. padahal semua itu tidak seperti yang terlihat, nyatanya mereka tak seromantis itu.
"Disini, pindah kesini." Menunjuk daerah bahunya. Arinka menarik nafas dalam dan membuang sembarang.
"Apa kau sesuka itu meyentuhku? haha." Tertawa jenaka
"Maaf ya Tuan, aku hanya mengerjakan perintah. Aku juga tidak suka menyentuh Tuan, aku tau Tuan hanya mengerjaiku, menyuruh mengambil ponsel dan tas kerja tadi, sekarang Tuan tidak melihat ponsel bahkan melihat kertas-kertas didalam tas itu, hanya fokus menonton televisi dan tertawa saja."
"Jadi kau tidak suka!" nadanya naik setingkat.
"Kapan aku bilang tidak suka, bagaimanapun kelakuan Tuan, aku tidak pernah berkata tidak suka. Perjodohan ini walaupun terasa berat bagiku, aku tidak pernah menolak. Bahkan saat Tuan mempunyai seorang pacar pun, aku tidak pernah bilang tidak suka, walaupun disakiti dan dimaki berapa kalipun aku tetap diam. Dimalam pernikahan pun aku tetap sabar dan kuat saat kalian memakiku dan bahkan ditampar. Jadi semuanya sudah kebal bagi hatiku. Kita hanya topeng suami istri yang baik-baik saja didepan publik, selebihnya urusan pribadi masing-masing, kita tetap tidak boleh ikut campur." ucap Arinka lirih.
Deg..
Niat hati hanya ingin mengerjainya tapi malah mendengar kata-kata seperti ini. Bagaikan di hujam ribuan Pedang, Renza tak berkutik dan tak berbicara, karena yang di katakan Arinka benar adanya. hatinya terkoyak. disaat dia mulai ingin membuka hati, kata-kata Arinka membuatnya terhenti.
Renza menelan saliva dengan payah, "Hentikan pijatannya, Aku ingin naik keatas." sambil membawa ponsel dan tas kerjanya. Renza berlalu dengan raut wajah gusar, kopi yang dibuatkan Arinka belum diminum sama sekali. dengan langkah gontai Renza menaiki tangga, Arinka yang memperhatinkan hanya mengernyitkan kening.
Sekejam itukah aku padanya, bagaimana aku bisa menebus kesalahanku ini kelak.
**Bersambung...
jangan lupa Vote dan comment ya, aku sangat mengharapkan kritik dan saran kalian, agar aku bisa lebih semangat lagi dalam menulis.
Oh ya jangan lupa kirim ucapan selamat juga ya kepadaku, makin banyak ucapan selamat tahun baru dari kalian semakin berarti bagiku. maaf terlalu banyak menuntut
Salam sayang dariku buat semua pembaca setiaku
Luv u 😘😘**.
__ADS_1