
Arinka duduk di sofa menyandarkan tubuhnya. Kepalanya mendongak menatap langit-langit ruang keluarga yang didominasi warna biru telur asin. Pikirannya masih berkisar dengan wanita yang baru saja pulang dari rumahnya.
"Ah sudahlah ... kepalaku pusing memikirkan wanita itu. Sedikit aneh memang," gumam Arinka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya meraba remote dan menyalakan televisi. Sesekali ia tertawa melihat adegan lucu di dalam layar besar berukuran 48 inchi.
Tak lama terdengar suara seorang wanita yang sangat familiar ditelinganya. Wanita itu tersenyum sambil melambaikan tangan kearahnya. "Kak Arin!" katanya berseru.
Arinka tersenyum dan melambaikan tangan juga kearahnya. "Risa!" panggilnya. Risa segera duduk tanpa dipersilakan oleh Arinka sembari meletakkan paperbag di atas meja.
"Aku bawa donat mungil kesukaan Kak Arin," kata Risa sambil menyandarkan tubuhnya.
"Wah ... terima kasih, Risa. Kamu selalu repot-repot seperti ini. Kak Arin jadi ga enak."
"Engga kok, Kak. Kebetulan tadi mampir ke rumah Kak Sinta. Jadi sekalian saja beli buat Ka Arin juga."
"Oh, jadi ini sudah pulang dari rumah Sinta, ya? Cepat banget. Sinta juga baru pulang dari sini," ucap Arinka sambil membuka paperbag dari Risa dan mengeluarkan sekotak donat.
"Iyakah? Kak Sinta kesini juga? Apa dia berbicara kasar atau menyinggung, Kak?"
"Hmm ... ada sih sedikit. Tapi tak masalah."
"Aku paling tak suka kalau dia berbicara kasar. Kelakuannya selalu begitu. Makanya aku tidak bisa akrab dengannya. Maafin Kak Sinta, ya."
"Tidak apa-apa, Kak Arin juga ga masalah, sih. Selama dia tidak mengganggu rumah tangga Kakak."
"Mungkin engga, Kak. Kak Sinta juga sudah menikah. Jika dia masih mengganggu benar-benar keterlaluan sekali."
"Semoga aja tidak."
"Iya, Kak. By the way, Kak Arin nonton apa?" tanya Sinta.
"Nonton apa aja, sih. Ga jelas juga ... tadi bosan jadi asal pindah-pindah channel saja."
"Hmm ... Kak Arin suka drama korea 'kah?"
"Suka aja, sih. Kenapa?"
"Ayo nonton drama korea," ucap Risa tertawa.
"Tapi bosan. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ajak Arinka.
"Boleh tuh, ide bagus. Mau kemana? Belanja-belanja?"
"Boleh juga, sekalian ke kantor, yuk."
"Kantor? Aku malu, Kak," sahut Risa mangut-mangut malu.
"Malu kenapa? Bukannya kau bisa bertemu Deni di sana. Cieee ...."
"Ah, Kak Arin ... Aku malu jika bertemunya di tempat kerja."
"Tak apa-apa. Aku ingin melihat ekspresi Deni jika kau di kantor. Deni kan si killer dingin di kantor. Apakah dia gila kerja jika ada kamu?" Arinka tertawa jahil.
"Ish ... Kak Arin ini bisa aja."
"Lagian juga kalian bakalan lamaran. Kapan?"
"Nanti malam katanya Papa mau bertemu Dino."
__ADS_1
"Wah! iyakah? Semoga lancar, ya?"
"Iya, Kak. Makasih." Risa tersenyum manis.
"Apakah kamu bahagia? Pasti bahagia 'kan?"
"Mmm ... bahagia sekali. Kak Arin dulunya bahagia juga 'kan?"
Arinka menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Emm ... bahagia, sekaligus menyedihkan."
"Maaf, aku lupa, Kak, kalau Kak Arin itu dijodohkan."
"Gapapa, Ris. Tapi kalau diingat, hari itu aku sangat bahagia. Dijodohkan dengan lelaki tampan. Seperti sebuah mimpi. Renza yang tajir dan pewaris mau menikah dengan gadis kampung sepertiku."
"Benar-benar takdir yang tak bisa ditebak ya, Kak. Akhirnya sekarang kalian sangat bahagia dan sebentar lagi bakalan punya baby."
"Iya ... dulu itu benar-benar menyedihkan. Malam pernikahan ditinggal sendiri. Haha ... sedih sekali kalau semua itu di flashback."
"Maaf, Kak. Jadi bikin Kak Arin sedih."
"Engga sedih, kok. Sekarang sudah bahagia sekali. Renza berbanding terbalik dari dulunya. Dulu dia arogan dan menyebalkan. Apalagi dulu ia berpacaran dengan Giska. Giska itu benar-benar wanita yang menyebalkan."
"Sudahlah, Kak. Jangan diingat lagi. Semuanya sudah berlalu."
"Hmm ... iya, biarkan jadi masa lalu saja."
"Ayo, jadi ga jalan-jalannya?"
"Jadi, dong. Aku ganti baju dulu ya sebentar."
"Oke, Kak. Jangan lama-lama," ucap Risa terkekeh.
"Aku pulang saja kalau begitu." Risa bangkit dari sofa sambil tertawa.
"Beneran mau pulang?" tanya Arinka berhenti melangkah menaiki tangga.
"Engga, cuman mau ke dapur saja, Kak. Mau berbincang-bincang dengan Bi Ami. Sekalian nanya-nanya bumbu dapur," sahut Risa terkekeh sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Ciee ... yang udah mau nikah? Iya deh, aku ganti baju dulu."
"Iya, Kak Arin."
Arinka menaiki tangga dengan hati-hati. Ia masuk kamar dan segera mengganti pakaiannya. Di bukanya lemari sambil mencari baju apa yang akan ia gunakan. Arinka lebih suka menggunakan dress, lagipula ia juga sedang hamil memang lebih pas menggunakan pakaian longgar.
Setelah berganti memakai dress selutut, Arinka memoles wajahnya dengan cushion. Ia juga menambahkan liptint berwarna ke orange-an. Tampilan sederhana tetapi mampu memukau mata para pria yang melihat.
Risa duduk di kursi meja makan sambil berbicara kepada Bi Ami yang sedang membuatkannya minuman. Sesekali ia bertanya tentang bumbu masakan yang ia suka. Bi Ami menjawabnya dengan senang hati.
15 menit kemudian, Arinka sudah turun dari tangga dan siap bepergian. Risa tersenyum menatap Arinka yang begitu cantik dengan riasan natural. Tak seperti Sinta yang selalu memakai makeup berlebihan, Arinka lebih suka simple tetapi tetap membuat ia terlihat sangat cantik.
"Wah ... Kak Arin sangat cantik," ujar Risa tersenyum.
"Terima kasih yang lebih cantik," sahut Arinka tak kalah tersenyum manis.
"Ayo berangkat," ajak Risa.
"Hmm ... naik mobil kamu? Apa nyuruh Pak Ahmad aja yang bawa mobil?"
__ADS_1
"Naik mobil aku aja, Kak. Biar aku yang nyetir."
"Oke ... aku ga kasih tahu Renza, nanti kejutan deh kita ke kantornya."
Arinka dan Risa berjalan menuju mobil Risa. Tak lupa, Arinka pamit kepada bi Ami. Arinka masuk dan memasang kan sabuk pengaman nya. Kemudian Risa melanjutkan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan.
"Baiklah ... kita ke mana dulu?" tanya Risa.
"Beli kue, beli minuman dulu buat buah tangannya."
"Hehe ... iya, Kak. Aku juga mau beli jus alpukat buat Dino. Dino suka."
"Ehem ..." Arinka berdeham sambil senyum-senyum jahil.
"Apa sih, Kak?" Risa tertawa menoleh kearah Arinka.
"Gak ada, hanya berdeham aja, kok."
"Ish, aku tahu Kak Arin sedang jahil."
"Idih ... engga lah." Arinka terkekeh.
10 menit perjalanan, mereka singgah di sebuah toko ole-ole. Arinka dan Risa membeli banyak kue. Tak lupa juga Risa membeli jus alpukat buat Deni. Wajah keduanya sumringah saat semua yang mereka inginkan sudah terbeli.
Arinka dan Risa masuk kembali ke dalam mobil sembari menaruh belanjaannya di kursi belakang. Sambil mengendarai mobil, Risa menyalakan musik. Butuh 10 menit lagi untuk sampai di kantor.
Mereka berdua berbincang banyak hal. Terutama menceritakan tentang Risa dan Deni. Risa sangat bahagia. Wajahnya memperlihatkan senyuman yang paling manis ketika disinggung soal pernikahan.
Sepuluh menit berlalu, mereka sudah sampai dihalaman parkiran kantor. Mereka berdua turun. Satpam disana mandang sambil mengernyitkan dahinya. Mungkin satpam itu mencoba mengingat siapa wanita itu.
"Maaf, Nyonya Renzaldi 'kan?" tanya Pak satpam.
Arinka tersenyum dan mengangguk. Satpam itu segera menundukkan kepala tanda hormat kepada istri atasannya. Risa mengikuti Arinka sambil menenteng bawaan kue.
Beberapa karyawan di kantor itu ada yang mengingat wajah Arinka. Beberapa nya lagi mungkin saling lupa.
"Orang-orangnya memperhatikan kita,"ucap Risa berbicara setengah berbisik.
"Iya ... Mereka heran kayaknya." Arinka tertawa.
Sangat kebetulan. Saat Arinka dan Risa ingin bertanya ke staf resepsionis, Deni keluar dari lift. Ia tersenyum, lalu Matanya melotot menatap wanita disamping Arinka. Ya, tidak lain adalah Risa.
Deni segera berjalan menghampiri Arinka. Resepsionis bernama Yesi itu menundukkan kepala saat melihat Deni. Beberapa karyawan wanita bergegas bekerja saat melihat Deni melirik kearah mereka. Benar-benar si Cool killer.
Tetapi, gelaran itu seperti terpatahkan saat Risa berada didepannya. Wajah dingin seakan bisa membekukan orang itu terlihat tersenyum menatap wanita yang memakai baju kaos oblong berwarna kuning dengan paduan ripped jeans.
"Kalian dari mana?" tanya Deni berbicara lembut dan tersenyum menatap Risa. Yesi sang resepsionis itu mengernyitkan dahinya heran melihat senyuman dibibir Deni.
"Ahem ..."Arinka berdeham. "ayo ke ruang Renza," kata Arinka mulai melangkah. Risa segera mengikuti Arinka dengan senyuman manis. Deni dengan santai nya mengambil tas belanjaan ditangan Risa dan tertawa.
"Biar Dino aja yang bawa," kata Deni.
"Terima kasih," sahut Risa tersenyum memperlihatkan deret gigi rapinya.
Karyawan di kantor mulai menerka-nerka, siapa sosok wanita yang membuat Deni berubah drastis itu. Dengan sekejap gosip mulai menyebar dan menjadi teka-teki yang harus dipecahkan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya..
Salam sayang dariku buat kalian semua 🥰😘