
Deni pergi mengantar Milka pulang. Karena sudah resmi pacaran jadinya ia harus baik kepada Milka. Milka itu adalah cinta pertama yang tidak kesampaian dan belum sepenuhnya bisa Deni lupakan. Kesempatan ini memang berpihak padanya. Walaupun setengah hati ia akan mencoba, demi menghindari sumpah Risa.
Mobil Deni berhenti di sebuah pom bensin. Deni akan mengisi bensin. Sesudah mengisi bensin, Deni tiba-tiba ingin buang air kecil di tengah perjalanan pulang dari bar tadi.
"Tunggu sebentar, ya, Mil." kata Deni keluar dari mobil, sementara wanita di kursi penumpang hanya mengangguk singkat.
Mata Milka tak bisa lepas dari ponsel Deni. Milka melihat ponsel Deni di letakkan di kursi kemudinya. Karena Deni buru-buru jadi ia tidak membawa ponselnya. Rasa penasaran ingin mencari tahu siapa wanita yang sering berbalas pesan pada Deni membuat tangan Milka gatal.
Dengan was-was Milka mulai mengambil ponsel Deni dan kebetulan ponsel itu tidak memakai password, hanya di usap ke samping saja kuncinya sudah terbuka. Milka mencari-cari nama orang yang sering berbalas pesan kepada Deni akhir-akhir ini di aplikasi Whatsapp nya.
Dalam hati, Milka berkali-kali meminta maaf untuk aksi lancangnya. Milka mengecek pesannya dan terlihat nama kontak bernama "Mawar" selebihnya kontak pekerjaan.
Sesaat Milka terdiam melihat balasan mereka yang begitu manja. "Nama panggilannya Dino-saurusku." Dadanya bergejolak. Buru-buru Milka menutup aplikasi Whatsapp Deni dan meletakkanya di atas kursi kemudi setelah melihat Deni datang.
Deni membuka pintu mobil dan tersenyum. "Ternyata ponselku di sini. Aku pikir aku sudah menghilangkannya."
"Iya, dari tadi di sini, kok."
Deni melajukan kembali mobilnya. Tak butuh waktu lama, Deni sudah sampai di depan rumah Milka. Deni berpamitan dan segera pulang.
"Hati-hati di jalan, ya, pacar."
Deni tersenyum tipis mendengar ucapan itu. Terdengar ambigu di telinga Deni. Kemudian, Deni melajukan mobilnya dengan lumayan cepat.
Sesampainya di rumah, Deni benar-benar tak menyangka bahwa ia telah berpacaran malam ini. Ia berdiri di depan cermin memandang wajahnya dengan tatapan tajam.
"Kali ini, Aku benar-benar main hati, Mengapa begini? Apa yang terjadi? Aku tak pernah menduga akan menjadi seperti ini?"
Pikiran Deni berkecamuk. Hatinya benar-benar merasakan kegalauan yang hakiki.
***
Pagi hari suasana sangat damai, burung-burung berkicau. Hari ini hari minggu yang tenang. Sepasang suami istri itu tengah tertidur pulas setelah melakukan pekerjaan semalam. Arinka menggeliat setelah membuka matanya melihat sinar matahari telah menelusup di balik gorden kamar mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 9. Arinka bangun dan beranjak memakai pakaiannya lalu melesat masuk ke kamar mandi. Sedangkan Renza sedang tertidur pulas dengan posisi telungkup.
Setelah selesai mandi, Arinka berganti pakaian. Kemudian ia menghadap cermin dan memoles wajahnya dengan skincare routine pagi dan tidak lupa memakai liptint.
Renza menggeliat dari tidurnya. Tangannya menyentuh tempat Arinka tertidur. Renza mengerutkan keningnya karena tidak mendapati tubuh istrinya.
"Morning, sayang." Arinka tersenyum seraya berjalan duduk di tepi ranjang.
"Morning cintahkuh," ucap Renza manja. Kemudian bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Arinka dengan rambut acak-acakan.
"Ayo sarapan! Ini sudah sangat siang."
"Baiklah, turun saja duluan. Nanti Pipom menyusul."
"Oke, jangan lama-lama."
Arinka keluar dari kamarnya dan duduk di meja makan.
"Selamat pagi, Nyonya," ucap Bi Ami.
"Selamat pagi, Bi."
Arinka duduk di meja makan cukup lama. Ia menunggu Renza seraya berbincang dengan bi Ami. Setelah beberapa menit, Renza turun dengan pakaian rapi.
Renza tersenyum menatap Arinka dan mengedipkan matanya genit. Arinka membalas senyuman Renza tapi setelah Renza mengedipkan matanya, Arinka mencebikkan bibirnya.
Renza duduk tepat di hadapan Arinka dan melakukan sarapan bersama dengan suasana pagi menjelang siang.
"Sore nanti ayo pergi jalan-jalan ke danau," ajak Renza.
"Heum ... Ayo! aku suka diajak jalan-jalan."
***
Deni mendapat pesan dari Milka yang mengucapkan selamat pagi. Namun, Deni malah menatap kontak Mawar. Karena Mawar setiap hari mengucapkan selamat pagi. Seperti ada sesuatu yang hilang, dan Deni baru sadar bahwa ia mulai biasa karena terbiasa.
Hari ini Deni akan pergi ke toko buku. ia berencana membeli beberapa buku untuk bahan bacaannya malam hari sebelum tidur.
Setelah berkemas dan berpakaian rapi. Deni pergi ke toko buku. Sesampainya di sana, Deni sibuk memilih-milih buku yang akan ia beli. Deni berkeliling membaca beberapa novel yang akan di belinya. Sebelumnya ia membaca blurb novel tersebut.
__ADS_1
Deni tertuju kepada sebuah buku. Kemudian, ia membaca novel itu dan menghela napas dalam.
"Agar menjadi kuat, setiap orang harus terluka. Sebab, rasa sakit yang teramat pedih akan mendorong manusia untuk berusaha mencari pemyembuhnya."
Deni lagi-lagi menghela napas dalam ketika membaca sebuah buku lagi.
"Boleh ragu. Tapi, jangan terlalu lama mengulur waktu. sebab, orang yang kau buat menunggu rawan dihampiri fase jenuh."
Kemudian Deni membaca beberapa kutipan lagi.
"Wanita itu rumit, pahami mereka dengan cara mengerti bahasa tubuh mereka. Kadang ucapan mereka selalu bertentangan dengan isi hatinya."
Alien? Wanita yang tidak mengerti bahasa manusia. Kenapa aku mengingatnya lagi sih!
Tiba-tiba Deni teringat Risa, wanita yang tak mengerti bahasa manusi. Deni berjalan menuju arah kasir. Bola matanya memutar seperti mencari seseorang. Yah, Deni berharap bertemu Risa di sana.
Apa aku gila? apa aku sudah terkena sumpahnya? kenapa saat sudah seperti ini malah terus menerus mengingatnya.
Setelah membayar, Deni keluar dari toko buku itu. Ia masih berharap bisa bertemu dengan seseorang yang ingin ia temui. Setelah beberapa saat seperti orang yang menunggu, hujan mulai turun. Deni segera bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Setelah terkena percikan air hujan, Deni menepisnya seraya menepuk-nepuk bajunya yang agak basah. Kemudian, ia melajukan kendaraannya tanpa menoleh kiri-kanan.
Risa datang sambil berlari dengan senyumannya. Sedikit kehujanan, tapi ia tak menghiraukannya. Seperti di permainkan takdir. Deni pergi dari toko buku, sementara Risa datang.
Deni mampir di kedai kopi yang searah dengan toko buku yang pemandangan di depannya adalah lampu lalu lintas. Suasana sangat mendukung, hujan gerimis itu membuat Deni merindukan secangkir kopi panas. Deni duduk di tepi jendela dan memegang novel yang dibelinya. ia akan membacanya disana seraya meminum kopi dengan santai.
Beberapa kali Milka mengirim pesan. Milka ingin menghampirinya kesana sekarang. Tapi Milka sedang ada kerjaan pemotretan. Yah, Milka itu seorang model. Jika selesai Milka akan menyusul. Deni mengiyakan, lagi pula ia memang ingin menikmati waktu sendirinya di hari minggu.
Risa berjalan memakai payung. Hujan itu sebenarnya tidak lebat karena hanya gerimis. Tapi jika kehujanan pasti bajunya basah. Akhirnya, ia membeli payung mendadak. Teringat akan payung, Risa tertawa spontan mengingat Deni yang mengiyakan ajakannya ke acara ulang tahun mantannya. Namun, segera Risa menggeleng-gelengkan kepalanya membuang ingatan yang tidak pantas ia ingat itu.
"Kenapa aku mengingatnya? Dia itu hanya Dino-saurus yang telah punah. Tak pantas di ingat lagi."
Lalu, Risa berjalan di trotoar yang lumayan panjang. Entah apa yang di pikirkannya, ia berjalan terus menerus tanpa menahan laju taksi disana.
Deni memandangi air hujan yang menetes di jendela kaca itu. Sesekali ia menyeruput kopi nya dan menatap keluar jendela. Sekilas, Deni melihat wanita memakai payung. Tapi pandangannya langsung teralihkan karena ia sedang membaca novel.
Tepat di depan lampu merah itu, Seseorang keluar dari mobil dan berlari menghampiri Risa menarik tangannya. Risa terkejut menatap lelaki itu ternyata adalah Gion-mantan pacar Risa yang ingin mengajaknya naik kedalam mobil.
Risa menolak dengan kasar dan segera berlari meninggalkan mantan pacarnya itu dengan cepat. Sedangkan Deni benar-benar tidak menoleh sedikitpun. Padahal jika ia menoleh, ia akan melihat sosok wanita yang ingin ia temui tadi.
Karena terus dikejar, Akhirnya Risa menyerah dan berhenti. Lelaki itu menarik tangannya dan mengajaknya mampir di kedai kopi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan! Lagi pula kita sudah putus dan aku sudah punya pacar. Kenapa kau seperti ini?" Risa berucap lirih dan kemudian ia menangis yang membuat mantan pacarnya heran.
"Aku ingin balikan!"
"Stop, Gion! Jangan seperti ini, kita sudah putus dan kau sudah menyia-nyiakan keberadaanku dulu. Aku tidak akan pernah kembali padamu." pekik Risa masih menangis.
Aku menangis karena kesal teringat pacar? Pacar palsuku yang sudah hilang. Kenapa aku seperti terbiasa akan kehadirannya. Saat tidak mendapat pesan darinya hatiku bagaikan tersayat, sangat perih.
"Berikan aku kesempatan kedua, aku ingin kesempatan kedua itu," ucap Gion.
"Tidak. Tidak akan pernah."
Gion memegang tangan Risa seraya menariknya kuat.
Dari dalam cafe itu Deni melihat pertengkaran dua orang di luar sana. Deni memperhatikan dengan seksama dan mengernyitkan keningnya. Benar, Dia tidak menyadari bahwa itu adalah Risa, karena terlalu jauh dan hujan.
Takdir diantara mereka mulai merumit. Begitulah jika keegoisan mendominasi hati dan pikiran. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kisah cinta mereka?
***
Renza dan Arinka langsung disambut suasana alam yang tenang ketika sampai di area danau. Pepohonan hijau dan area yang cukup jauh dari jalanan utama membuat kebisingan kendaraan bermotor tergerus sejuk dan gemerisik daun-daun kering yang terpijak kaki. Mata Arinka tampak berbinar, baru tahu ada tempat seperti ini di ibu kota.
"Duduk di sana, yuk. Kita ngobrol sambil mendengarkan musik," ajak Renza saat baru selesai memarkirkan mobilnya. Renza menunjuk tanah di tepi danau yang ditumbuhi rerumputan hijau.
"Boleh!" jawab Arinka antusias. Mereka berdua langsung turun dari mobil, dan segera berjalan berdampingan seraya menggenggam tangan satu sama lain menuju tempat yang ditunjuk Renza.
"Wahhh ... kau tahu tempat seperti ini, Pip. Kenapa baru sekarang mengajakku kesini?" celetuk Arinka memulai obrolan. Ia dan Renza sudah duduk sambil meluruskan kaki.
"Bagaimana, bagus 'kan tempatnya? Apa kau suka?" ucap Renza sambil mengambil ponsel dari saku celananya dan tersenyum tak menjawab keheranan Arinka tadi.
Arinka hanya mengangguk. Sejenak ia memejamkan mata untuk menikmati udara bersih dan sejuk di sekitarnya. Ia sangat bahagia, bibirnyaa terus tersenyum lebar.
__ADS_1
Mengisi hari Minggu yang tidak mereka rencanakan. Hanya saja terbesit di otak Renza dan langsung pergi ke sini. Renza dan Arinka bercakap-cakap panjang mengenang masa-masa mereka bulan madu.
Setelah mulai hening dan tidak banyak hal yang dibicarakan lagi. Renza memutar musik dari ponselnya. "Pipom akan memutar lagu yang sangat sesuai dengan hati Pipom sekarang ya ...," katanya lantas memulai memutar musiknya.
*Tersadar didalam sepiku
Setelah jauh melangkah
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekap tanganmu
Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semua ... kesalahanku
Yang pernah menyakitimu
Tanpamu tiada berarti
Tak mampu lagi berdiri
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekap tanganmu
Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semua ... kesalahanku
Yang pernah menyakitimu*
Arinka menoleh kepada Renza sembari tersenyum dan menyandarkan bahunya, kakinya bergerak mengikuti irama lagu "Terima kasih cinta" milik Afgan. Diam-diam Arinka merasa tersentuh dan terus tersenyum sendiri, Renza memilih lagu yang pas untuk menyatakan perasaannya.
Renza kemudian menyanyikan lagu itu seraya mengelus rambut Arinka lembut.
Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semua ... kesalahanku
Yang pernah menyakitimu
"Seperti lagu ini, aku sangat berterima kasih dan aku berjanji tidak akan menyakitimu sampai kapanpun. I love you so much."
"Terima kasih karena selalu menjadi yang terbaik, yang selalu perhatian dan pengertian. I love you so much too."
"Mmm ... semoga selamanya kita akan seperti ini sampai maut memisahkan."
"Amin ...." jawab Arinka tersenyum memandang wajah Renza.
"Mata ini, hidung ini, bibir ini akan selalu membuatku bahagia selamanya."
Arinka tertawa dan pipinya berseri-seri ketika mendengar ucapan Renza, terdengar seperti gombal tapi romantis. Dan Arinka mulai ketagihan dengan setiap perlakuan manis suaminya itu.
**Bersambung...
Jangan lupa like ya, jika sudah selesai membaca.
Jangan lupa vote dan kasih komentar 💋
By the way, Mampir ya di novel baru author judulnya "Fake Love" dijamin ceritanya bakalan seru 😁 Lumayan kan sambil nungguin update Arinka baca novel baru 🤗
__ADS_1
Salam sayang dariku buat Readers semua, Luv u all 💋😘😘**