Suamiku, Cintai Aku

Suamiku, Cintai Aku
Chapter 55 : Galau


__ADS_3

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arinka merasa tenang dan nyaman karena ada seseorang yang memeluk dan mengelus kepalanya. Arinka ingin selamanya seperti ini, ia tidak ingin membuka matanya dan ingin selamanya bergelung didalam kenyamanan dengan waktu yang dimilikinya.


Namun embusan napas lembut diatas Arinka keluarkan, karena teringat akan kejadian tadi. Arinka sangat kecewa. Kenapa yang berhubungan dengan masa lalu seperti mantan, selalu saja membuat salah paham.


Setelah beberapa jam tidak keluar dari kamar dan hanya bergelut dengan pikirannya sendiri diatas sofa empuk. Akhirnya, Arinka keluar kamar. Ia duduk di balkon seraya menyandarkan kepalanya, menghirup napas kuat dan menghembuskannya sembarang. Arinka menatap langit sore yang begitu indah. Awan-awan berserakan diatas langit menambah indahnya langit sore itu, pikirannya menerawang terlalu jauh.


Kenapa aku jadi sekesal ini, makanya aku belum pernah mengatakan mencintainya, aku ragu, mungkin suatu saat dia akan berpaling lagi dariku. Apa bertemu mantan semengejutkan itu?


Arinka menutup pintu balkon itu, ia turun dari tangga dan duduk disofa. Bi Ami menghampirinya dan mengatakan bahwa Arinka harus makan. Berulang kali Renza menelpon Bi Ami supaya Arinka harus makan. Telpon dari Renza tidak dijawab sama sekali oleh Arinka.


"Nyonya, Tuan Renza bilang, Ny. Arin harus makan. Nyonya belum makan 'kan?"


"Arin sudah makan tadi Bi."


"Kapan? tadi Pak Deni juga bilang Bibi harus masak buat Nyonya?"


"Aku sudah makan Bi, nanti untuk makan malam saja. Sekarang Arin akan pergi ke luar dulu, ya?"


"Nyonya mau kemana?"


"Aku mau jalan-jalan Bi."


"Hati-hati di jalan, ya, Nyonya."


Arinka duduk di teras sebentar seraya menunggu ojek onlinenya. Mulai besok Arinka tidak bisa naik ojek online lagi, karena supir pribadinya akan siap sedia mengantarnya kemanapun.


Arinka belum tahu kalau ada seseorang lagi yang akan bekerja untuknya. seketika ojek online itu telah sampai didepan rumahnya. Arinka bergegas memasang helm dan menaiki motor itu.


Tidak ada kata lapar jika hati sedang kalut, yang ada hanya perasaan kesal berkecamuk bersarang didada dan kepalanya. Seperti biasa tujuan utamanya itu adalah taman. Sebelum pergi ke taman, Arinka singgah seperti biasa ditempat favoritnya yaitu tempat jualan batagor. Mungkin jika berada di taman Arinka akan merasa lapar.


Seperti biasanya, Arinka harus menunggu. ia duduk dikursi seraya melamun. Tanpa disadari seseorang memperhatikannya dan mendekat.


"Arinka!"


"Hmm ..." ucap Arinka seraya menoleh.


"Kebetulan sekali, kita sudah dua kali bertemu, ya?"


"Eh, Aldi ... ya, kita bertemu lagi di tempat yang sama."


"Mungkin ini takdir!" ucap Aldi tertawa.


"Bisa juga." ucap Arinka tertawa juga.


"Kau kesini sendiri, ya? bukannya kemarin kau bersama seseorang seperti bodyguard."


"Itu sekretaris Deni namanya."


"Oh!"


Arinka duduk bersama Aldi, tertawa bersama. Sesekali mereka bercerita tentang kampung halamannya. Arinka sangat rindu sekali dengan kampung halamannya itu.


"Kau pernah pulang kampung?" tanya Arinka.


"Aku sering pulang kampung. Kamu?"


"Aku sudah lama sekali tidak pulang, terkadang aku rindu. ingin kembali."


"Sejauh manapun kita pergi, kita pasti akan merindukan tempat kelahiran kita."


"Benar."


Tengah asyik mengobrol, Penjual batagor itu menyerahkan pesanan Aldi. Mereka menghentikan pembicaraannya. Aldi masih menunggu. Setelah pesanan Arinka selesai, Arinka ingin pergi. Namun, Aldi bertanya, "Kau akan pergi kemana?"


"Aku ingin ke taman sebentar, menghirup udara segar sekalian menyegarkan otak."


"Ada apa? apa kau ada masalah?"


"Tidak."


"Aku boleh ikut?" Tanya Aldi.


"Mm ... silahkan, jika kau tidak sibuk."


Arinka bergegas menaiki ojek online nya, sedangkan Aldi mengikutinya dari belakang dengan sepeda motor juga.


Sesampainya di taman, Arinka turun dari motor itu seraya menenteng kantong kresek yang berisikan batagor tadi. Aldi berjalan mengikuti Arinka, kemudian Arinka mencari kursi kosong untuk duduk.


Aldi duduk disamping Arinka seraya tersenyum manis.


Aldi adalah lelaki yang sangat menyukai Arinka, dia berusaha mendapatkan hati Arinka sewaktu masa sekolah. Tapi Arinka mengabaikannya, ia hanya ingin berteman dengan Aldi. Sebenarnya, Arinka juga menyukainya dulu karena Aldi sangat perhatian, tetapi itu dulu. Rasa suka itu tidak lagi ada dihati Arinka, karena hati Arinka hanya dipenuhi oleh Renza seorang.


Dering telpon Arinka terdengar beberapa kali. Arinka tak menjawabnya dan kemudian membuat mode silent di ponselnya. Arinka masih kesal dengan Renza. ia ingin sekali-sekali ngambek.


"Kenapa tak dijawab?" tanya Aldi.


"Tidak apa," ucap Arinka tersenyum masam.


"Kau menikah dengan orang kaya, ya? Maaf, pertanyaannya ambigu sekali."


"Bisa dibilang begitu."


"Pantas saja lelaki yang kau sebut sekretaris itu memanggilmu Nyonya."


"Kau bagaimana?"


"Apa kau ingin mendengar ceritaku?"


"Boleh, jika kau ingin bercerita."


Aldi berbicara panjang lebar kepada Arinka, bisa dibilang itu adalah curhatannya. Arinka merasa sedih mendengar cerita Aldi. Tak terasa air matanya menetes tanpa ia sadari.


"Aku tak berniat membuatmu menangis?" ucap Aldi.


"Aku terlalu terhanyut dalam ceritamu."


"Haha, kau baper!"


"Sedikit. Kau sangat hebat bisa bertahan seperti itu. Kau ditinggalkan dalam keadaan yang menyedihkan. Jadi sekarang kau sudah duda?"

__ADS_1


"Yah begitu lah," ucap Aldi seraya tertawa.


"Kau datang ke ibukota ini karena ingin meninggalkan semau kenanganmu, ya?


"Mm, aku tidak ingin lagi mengingatnya, makanya aku memutuskan pergi kesini. Aku pikir disini tidak akan bertemu orang yang aku kenal, tetapi tidak disangka kita malah bertemu, seperti reunian." Aldi terkekeh.


"Dunia itu sempit, haha. Aku tidak habis pikir, kau menikahi orang yang tidak kau cintai, kenapa bisa?"


"Aku hanya berpikir cinta itu bisa datang dan tumbuh jika seiiring waktu."


Seketika, Arinka teringat akan masa lalunya. Ia juga menikah tidak berdasarkan cinta. Tapi nasib baik menghampirinya. Dewi cinta berpihak kepada mereka dan sekarang mereka saling mencintai.


"Kau, hidupmu sangat beruntung. Menikahi orang kaya dan dicintai." ucap Aldi lirih.


"Yah, aku bersyukur. Aku yakin kau juga akan menemukan pasangan hidup yang tepat untukmu."


"Amin."


***


Renza sangat khawatir, sudah berulang kali ia menelpon ponsel milik Arinka, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Ia menelpon rumahnya dan bertanya kepada Bi Ami, "Nyonya sedang berada diluar, katanya ingin jalan-jalan." jawab Bi Ami. Seketika sambungan itu terputus.


Setelah menyelesaikan tumpukan berkas di mejanya, Renza bergegas ingin pulang. Deni masuk kedalam ruangan itu dan dan mengatakan tentang penyewa yang sudah menunggak selama tiga bulan, hari ini Renza harus meninjaunya kelapangan langsung untuk memutuskan. Batal sudah keinginannya untuk segera menemui istrinya.


"Baiklah, ini tidak akan lama. Aku harus fokus." ucap Renza menyemangati dirinya sendiri.


Seraya berjalan, Renza mengirim pesan kepada Arinka berkali-kali, meminta maaf. Namun tidak ada balasan apapun. Renza tetap mengiriminya pesan walaupun Arinka tak membacanya.


"Ayo Den, cepat!"


Deni segera menyalakan mobil, melaju cepat ke tempat yang dituju. Di dalam perjalanan, Renza berbincang tentang pekerjaannya itu dan kemudian melenceng curhat kepada Deni. Renza ingin membelikan Arinka bunga, boneka dan coklat.


Sesampainya disana, hari sudah sangat sore sekitar pukul 4 sore. Renza masuk kedalam gedung itu. Gedung yang berjajar begitu luas semuanya kepunyaan Fariq company.


Dua orang didalam gedung itu telah duduk, kemudian setelah melihat kedatangan Renza dan Deni, mereka segera berdiri. Dua orang itu mempersilahkan Renza duduk sedang Deni sengaja hanya berdiri.


"Aku tidak akan berbasa-basi lagi, kalian tidak membayar tunggakan selama 3 bulan, aku sudah sangat baik mengulurnya selama dua bulan, hingga sekarang sudah 5 bulan. Apa kalian bercanda padaku!" menaikan suara setingkat lebih tinggi.


"Maafkan kami, Pak. Kami mengalami masalah keuangan enam bulan terakhir ini. Tolong kemurahan hati Bapak." seraya memohon dan memelas.


"Kalian mempunyai banyak usaha 'kan? tapi kenapa kalian tidak berniat membayar kepada perusahaan kami, jika kalian tetap ingin membuka usaha disini, kalian harus membayar tiga bulan sekaligus!"


"Kami sudah berusaha menyisihkan uang Pak, bahkan rumah saja sudah kami gadaikan."


"Huh! Aku tidak perduli, Gedung besar ini sudah di lirik beberapa orang, jika kalian tidak sanggup silahkan pergi."


"Tolong Pak, beri kami waktu lagi." memelas dan menangis.


Renza memang tegas terhadap pekerjaannya, ditambah sekarang ini suasana hatinya sedang sangat panas.


"Tolong jangan mempersulit kami," ucap Deni.


Tiba-tiba datang dua orang wanita berjalan masuk kedalam gedung itu. wanita itu sangat familiar sekali. Deni mengernyitkan keningnya melihat dengan tatapan bingung.


Bukankah ini temannya Ny. Arinka. kenapa dia disini?


"Kenapa?" ucap Deni.


"Kenapa kalian disini?" tanya Risa bingung.


"Menyuruh penyewa gedung angkat kaki!"


"Wah, kau ini bicaranya kasar sekali, ya?"


"Bukan urusanmu."


Huh, kasar sekali jadi orang. menyebalkan! gumam Risa.


Deni memperhatikan seseorang disamping Risa dan menatapnya sinis. Dua wanita itu masuk kedalam. Renza terlihat Perfect dan tegas duduk disofa itu.


"Renza!" ucap wanita itu.


Dua orang tua itu saling berpandangan, kemudian Renza menoleh dengan cool. Tak disangka orang yang tidak ingin ia temui itu malah ia temui kembali.


"Kenapa kau disini? benar-benar menyebalkan sekali bertemu denganmu!"


"Ini kedua orang tuaku, kami yang menyewa gedung ini untuk usaha, tapi kemudian keuangannya menurun. Jadi kau pemilik gedung ini?"


"Iya, aku pemilik gedung ini Sinta, pantas saja Deni bilang kalau anaknya tinggal diluar negeri, ternyata anaknya adalah kau! huh!"


"Tolong beri kami keringanan, kami akan membayar semuanya, aku janji."


"TIDAK! aku tidak akan bebaik hati, apalagi dengan orang sepertimu! Aku sungguh Sial bertemu kau hari ini!"


Jadi ini wanita yang bernama Sinta? wah style nya keren dan juga cantik. pantas saja Renza susah move on. haha.


"Tolong! sekali ini saja, jangan membawa perasaan pribadi."


"Kau pikir aku membawa perasaan pribadi, Huh, tunggu dulu, kau pikir kau siapa berbicara begitu, kau itu tidak berarti apa-apa bagiku, sialan!"


"Jika kalian tidak membayar sewa dalam 1 minggu ini, kalian harus meninggalkan gedung ini." ucap Deni.


Renza keluar dari gedung itu diikuti Deni, Sinta menatap nanar kepergian Renza. Risa mengikuti dua orang itu dari belakang.


Tampan sekali sih orang-orang ini. Apa benar dia suaminya kak Arin?


Risa memberanikan diri bertanya, ia sangat penasaran. pasalnya Risa belum pernah melihat Renza sangat dekat.


"Bukannya anda ini istrinya kak Arinka?" tanya Risa.


"Yah, kau mengenal istriku?"


"Iya, Pak. Kami berteman."


"Deni, dia bilang dia temannya istriku. Apa benar?"


"Iya, dia wanita yang bertemu Ny. Arinka waktu diacara amal."


"Oh, kau baik. kau boleh berteman dengannya."

__ADS_1


Hah, jawabannya begitu saja. Ya ampun dari dekat memang sangat tampan.


Renza dan Deni pergi meninggalkan gedung itu dan meninggalkan Risa yang masih tertegun di depan gedung itu. Sinta mengampirinya keluar. Risa bertanya banyak hal.


"Kak Sinta mengenal Lelaki tadi?" ucap Risa.


"iya, dia itu mantan kekasihku."


"Astaga, yang benar saja!"


"Kau mengenalnya juga?"


"Dunia begitu sempit, Lelaki itu kalau tidak salah namanya Renza itu suaminya kak Arinka."


"Jadi, kau mengenal istrinya juga?"


"Kenal, dia orang yang baik, lembut dan sangat cantik."


"Benarkah?"


"Yah, mereka sangat cocok menurutku, tampan dan cantik!"


"Kau ini membuatku cemburu saja."


"Sepertinya Pak Renza itu tidak menyukai Kak Sinta? Kalian kenapa putus?"


"Lain kali akan kakak ceritakan ya."


Di dalam mobil, Renza bergumam kesal. Wajahnya benar-benar sangat kusut. beberapa kali ia menarik nafas kuat dan membuangnya sembarang.


"Jadi itu mantan anda yang bernama Sinta?" tanya Deni.


"Iya, benar-benar sial! sehari ketemu dua kali, menyebalkan."


"Dia cantik, tapi lebih cantik Ny. Arinka sih. dia terlalu banyak menggunakan make up."


"Siapa yang menyuruhmu membandingkan istriku dengan dia? dia tidak pantas dibandingkan dengan Arinka. Arinka itu sangat sempurna."


Ya bucin...


"Iya, aku tahu itu!"


"Jangan mencari pasangan seperti wanita itu, tidak bagus sama sekali."


"Baik, aku juga ingin mencari pasangan seperti Ny. Arinka yang memiliki sifat penyabar, baik hati dan juga cantik."


"Apa kau mulai mengidolakan istriku. Sini kau akan aku akhiri hidupmu jika berani menyukai istriku."


"Nah ... nah ... kena lagi! aku tidak akan berani, aku hanya memuji saja, tidak ada maksud lain, bucin."


"Aku suka kau menyebutku bucin? aku memang bucin kepada istriku."


"Tapi jika anda bucin, kenapa anda sampai melupakan istri anda tidak makan hari ini?"


Setelah mendengar kata-kata Deni, raut wajah Renza pias. Ia benar-benar bersalah kepada istrinya itu. Renza mencoba menelpon lagi namun tidak ada jawaban.


"Ayo mampir ke toko bunga, beli bunga setelah itu beli boneka dan coklat."


"Banyak sekali, Pak Renza ingin meminta maaf apa menyogoknya?"


"Aku ingin meminta maaf, aku tahu pasti dia ditaman sekarang. Cepat beli semua yang aku perintahkan!"


Deni dengan cepat menuruti perintah Renza. Deni turun singgah dibeberapa toko membeli persis seperti yang dikatakan. Tak lama kemudian Deni membawa boneka beruang yang sangat besar, tingginya 1 meter.


Renza melongo menatap Deni membawa boneka sebesar itu, kemudian Renza tertawa. ia tahu Renza pasti akan menyukainya.


Sesampainya di taman, Renza berjalan seraya membawa bunga ditangannya. Deni kewalahan membawa boneka beruang itu mengikuti Renza. Beberapa orang tertawa melihat Deni. tapi Deni acuh dengan sekitarnya.


Di kejauhan, di sebuah kursi Renza melihat Arinka sedang duduk, tapi ia melihat ada seorang pria disampingnya. Renza segera menghampirinya dengan perasaan penasaran. Renza melihat Arinka tersenyum, hati Renza sangat panas.


"Ehem ... maaf mengganggu!" ucap Renza bernada kesal.


Arinka menoleh dan menatap Renza dengan wajah yang tak kalah kesal dari Renza.


"Siapa ini?" tanya Renza menatap pria itu dengan tatapan tajam, seperti bisa mengoyak tubuhnya.


"Aku Aldi, apa anda suaminya Arin?"


"Yah." ucap Renza singkat.


Benar-benar tampan dan tegas ... gumam Aldi.


Renza memberikan bunga kepada Arinka, disusul Deni yang memberikan boneka beruang dan coklat. Aldi yang melihatnya melongo heran dengan perlakuan Renza kepada Arinka. Arinka terlihat bahagia melihat boneka beruang itu tapi ia masih kesal. ia tidak tersenyum sedikitpun.


Dia masih marah... gumam Renza.


"Ayo kita pulang?" ajak Renza seraya menggenggam tangan Arinka.


Astaga, buat apa aku membawa boneka beruang ini kesini jika akan dibawa kemobil lagi. Huh kenapa aku yang menderita sih disini!


"Aku pulang dulu ya? kapan-kapan kita bertemu lagi," ucap Arinka seraya tersenyum.


Dia tersenyum kepada lelaki sialan itu, sedangkan aku masih dia acuhkan. Siapa sih lelaki itu?


Renza dan Arinka pergi meninggalkan Deni dan Aldi. Aldi tersenyum kepada Deni tapi Deni hanya membalasnya dengan tatapan datar.


"Mau aku bantu bawakan?" ucap Aldi.


"Tidak perlu!" ucap Deni seraya pergi dengan membopong boneka beruang itu.


**Bersambung...


Jika selesai baca bantu tekan like ya sayang 💋


Vote dan comment kalian aku tunggu, tapi maaf aku tidak bisa membalas satu persatu, aku membaca semuanya kok.


Salam sayang dariku buat readers semua ❤


Luv u all 😘**

__ADS_1


__ADS_2