
Mau ngajak bekas musuh makan malam? aneh-aneh aja deh kata-katanya si Renza ini.
kata-kata itu selalu terngiang ditelinga Arinka, Malam ini mereka tidur di ranjang yang sama, mereka berdua terlihat canggung, bahkan untuk berbagi selimut saja mereka malu-malu.
"Apa aku kembali tidur disofa saja?" tanya Arinka.
"Ja-jangan, biarkan seperti ini, kau tidur saja."
"Baiklah, selamat malam," ucap Arinka pelan, namun Renza hanya hanya berkata, "heum" kemudian berbalik belakang, mereka tidur dalam keadaan saling memunggungi. Renza berbalik menghadap Arinka namun Arinka tidak bergerak tetap diposisi awal masih membelakangi Renza, mereka sangat malu karena ini pertama kalinya mereka tidur disatu ranjang yang sama.
Pagi datang, sinar matahari telah menelusup dibalik sela-sela jendela, terlihat dua manusia yang sedang tidur itu sudah tak tentu arah, Arinka terbangun dan terkejut mendapati mereka tidur dalam keadaan saling memeluk.
"Arrgghh...," pekik Arinka.
"Ada apa?" tanya Renza.
"Kau kenapa tidur sambil memelukku? semalam kita berjauhan, eh setelah bangun pagi mengapa kita sangat dekat hingga berpelukkan."
"Aku tidak tahu, tapi aku memang tidak ada niatan aneh-aneh ya, aku juga terkejut posisi kita seperti ini."
"Aku tidak ngiler, kan?" tanya Arinka.
"Hahaha, mana aku tahu, mungkin kau tadi ngiler."
"Haisss, sialan! aku sungguh malu, sana mandi?"
Renza segera bergegas bangkit dari tempat tidur, dan segera masuk ke kamar mandi, Arinka masih merapikan seprei ranjang itu, ia tidak turun membuatkan sarapan karena ia kesiangan. selang beberapa menit Renza keluar dari kamar mandi dengan bebalut handuk di bagian bawahnya, Arinka dengan cepat menutup matanya dan membalikkan diri.
"Kenapa? kau malu melihatku seperti ini?" tanya Renza.
"Hmm..., dada mu itu kemana-mana, cepat pakai bajumu?"
"Jika aku mendekat bagaimana?"
"Haisss, sudah kubilang pakai saja bajumu, jangan buat suasana canggung dipagi hari, bisa kan?"
"Hahahaha, seperti itu saja kau sudah teriak. dasar pemalu! oh ya, jangan lupa nanti sore ya makan malam, Deni akan menjemputmu."
"iya, aku mau mandi dulu." masih menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil berjalan memasuki kamar mandi.
Makin kesini dia makin berani vulgar didepanku. mataku ternodai tahu!
Arinka sudah selesai mandi dan memakai skincare di meja riasnya, Arinka memakai pakaian seadanya dengan liptint tipis dibibirnya, Renza sudah turun sarapan dibawah. Arinka menyusul menuruni anak tangga satu persatu, rambutnya ia gerai rapi, terkena angin membuat suasana seperti didrama-drama, memperlihatkan pesonanya.
Renza sedang asyik menikmati makanan, Arinka bergegas duduk dimeja makan untuk sarapan, hari ini sarapannya nasi goreng, Arinka sangat suka.
Apa dia melupakan hari ulang tahunnya? jika ingat ia pasti sudah minta kado.
"Selamat pagi, mom?" sapa Renza.
"Pagi, pom," jawab Arinka pelan.
Mereka berdua terlihat konyol, tertawa dan tersenyum tipis, sangat berbeda dari keseharian mereka yang dulu.
"Selamat Pagi Ny. Arinka dan Pak Renza," ucap seorang lelaki dari luar yang tidak lain adalah Deni.
"Pagi," ucap Renza dan Arinka serentak, mereka saling menatap dan tertawa menutup mulut mereka masing-masing.
"Ciyeee, lagi bahagia niyee? sok ketawa-ketawa romantis gini, bukannya biasanya kalian cemberut aja pagi-pagi tanpa menyapa? uhh, aku sedikit canggung dengan suasana seperti ini?" Deni terkekeh.
"Sini duduk dan makan saja, daripada mendengar ocehan receh tak bergunamu pagi-pagi gini," ucap Renza sambil memainkan jari telunjuknya.
"Ny. Arinka semakin hari semakin cantik dan fresh, ya?"
"Masa sih, kamu biasa aja Den," ucap Arinka sambil tersenyum tipis.
Deni saja bisa berkata begitu, kenapa aku sangat canggung mengatakan kalau Arinka itu cantik.
"Makanya sana nyari pacar, atau sekalian nyari istri biar ga tua sebelum waktunya, kamu perlu partner bahagia juga, kan?" Ucap Renza.
__ADS_1
"Aku ga perlu apa-apa, asal ada Pak Renza disisiku sudah cukup," Deni terkekeh.
"Sialan! menggelikan saja omonganmu itu, jika kau berbicara diluar seperti ini, akan aku habisi kau," Mendengus kesal.
"Hahaa, bercanda Pak. jangan diambil hati, diambil jantung boleh."
"Kalian ini, obrolannya kocak amat seperti pasangan saja," ucap Arinka.
"Kami memang pasangan, pasangan sejati yang memakai sweater couple pink." Deni tertawa ngakak.
"Sialan kau Deni! beraninya kau mengolokku," ucap Renza sudah bangkit dari tempat duduknya, ia ingin memukul Deni.
"Aku kabooorrr!!" jawab Deni sembari berlari. Renza kemudian menyusulnya dengan cepat. Arinka yang melihat kelakuan dua lelaki itu dibuat berdecak heran, mereka selalu saja bisa membuat Arinka tertawa. Apalagi Deni yang kekonyolannya hakiki, penampilannya itu berbeda jauh dari tingkah lakunya.
Siapa pun pasti setuju waktu berjalan begitu cepat. Dan, Saat pertama menjadi istri Renza itu sangat berat baginya. Tidak terasa berbulan-bulan sudah ia lewati dilingkungan baru yang dulunya asing baginya, padahal rasanya hari pertama pindah penuh kecanggungan dirumah ini seperti baru terjadi kemarin, sekarang ia sudah terbiasa dengan seisi rumah dan lingkungannya.
Arinka duduk di ruang keluarga dengan televisi menyala, tetapi ia malah memainkan ponselnya sambil memainkan game Candy crush saga, ia seperti ketagihan memainkannya berulang kali. Arinka memanggil Bi Ami menyuruhnya membawakan paperbag yang berisi kado yang di taruh didalam kamar Bi Ami, dengan cepat Bi Ami membawakannya keluar dan memberikannya kepada Arinka.
Aku harus memakai baju apa ya? sepertinya aku akan memakai pakaian yang dibelikan Renza untuk pertama kalinya, makan malam sambil memberikan kado.
Arinka masuk kedalam kamar, ia mulai mencari pakaian yang cocok untuknya, kamar yang selalu rapi itu tiba-tiba berantakan sore ini. Baju dan celana berhamburan diatas kasur sebab ulah wanita itu sendiri. sudah sejam setengah setelah mandi, tapi tubuh Arinka masih berbalut lilitan handuk yang menutupi dada sampai lutut saja. Kebingungan memilih pakaian mana yang harus ia kerjakan sama sekali belum pernah ia alami. Tapi, sekarang terjadi. Terjadi karena sebentar lagi Arinka akan pergi makan malam bersama suaminya yang berulang tahun hari ini.
"Ck, aku harus pakai baju apa, ya?" gumam Arinka sambil bertolak pinggang. Ditatapnya lemari pakaian yang isinya sudah hampir kosong karena semua baju hampir semua berserakan di kasur itu dengan frustasi.
Mata Arinka melebar saat ia berbalik dan menemukan pemandangan kasur ala kapal pecah. Baru sadar kalau dari tadi ia memilih pakaian sambil melemparkannya keatas kasur. Dan, angka yang ditunjukkan jam dinding membuat Arinka lebih kalang kabut lagi 17:50!
"Astaga, sudah sore!" Akhirnya, Arinka menjatuhkan pilihan pada gaun Pink garis dengan bahu agak terbuka. rambut ia biarkan tergerai seperti biasanya, ia memakai bedak tipis, maskara dan liptint warna terang agar kesannya lebih fresh.
Kekacauan diatas kasur sedikit menyulitkan Arinka saat mencari-cari ponselnya yang berbunyi. butuh lima menit dan akhirnya benda pipih itu berhasil ia temukan tertindih dibalik pakaian. Segera Arinka mengecek pesan. ternyata dari Renza yang sudah memberi tahu kalau Deni sudah pergi kerumah menjemputnya, Arinka harus bersiap-siap.
Arinka memanggil Bi Ami untuk membantunya melipat kembali pakaian dan memasukkannya ke dalam lemari,
ia mengambil sepatu hak tahu yang tingginya 3cm dan mencoba memakai tas mahal pembelian dari Renza.
Selang berapa menit, bunyi klakson mobil terdengar dari luar. Arinka hampir selesai. terdengar suara Deni memanggil, Arinka menuruni tangga dengan pelan.
"Waaawww," ucap Deni sambil duduk menunggu di sofa luar, melihat penampilan Arinka yang sangat berbeda.
Arinka hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan Deni, terlihat kening Deni mengkerut melihat isi didalam paperbag itu, "Sebuah kado."
Arinka dan Deni segera berangkat, tidak lupa Arinka memasangkan sabuk pengaman, wajahnya tersenyum terus menerus, Deni yang memperhatikan ikut senang melihat senyuman itu.
"Jangan lupa mampir ditoko kue langganan ya?" ucap Arinka sambil melihat pemandangan keluar jendela.
"Ny. Arinka memesan apa? kue ulang tahun ya? Pak Renza pasti tak menyangka, beliau tidak tau jika Ny. Arinka mengetahui hari ini hari ulang tahunnya."
"Biarkan saja, supaya jadi surprise." Arinka terkekeh
"Uhh, ternyata Ny. Arinka bisa juga ya so sweet?" ejek Deni.
"Issshhh.., so sweet apaan sih!" bibir Arinka menggerutu kesal, namun Deni hanya tertawa. Arinka turun di toko kue mengambil pesanan kue nya dan tak lama ia kembali lagi ke dalam mobil dengan kotak kue yang sangat mewah.
Mobil itu telah terparkir di halaman hotel bintang 5, Arinka merasa bingung, kenapa makan malam bukan di restauran pikirnya. tetapi ia enggan menanyakan, ia hanya sibuk mengikuti langkah Deni yang membawa boks kue dan paperbag kado.
Arinka melihat sekitar, bola matanya memutar melihat sekeliling yang begitu asing baginya, mereka masuk kedalam lift, dan Arinka dibawa menuju lantai yang tinggi, hingga mereka sampai di sebuah restauran didalam hotel tersebut yang luar biasa mewah. Arinka takjub, karena ini pertama kalinya ia pergi kehotel semewah itu selain hari pernikahannya dulu.
Terlihat dikejauhan seseorang lelaki yang melambaikan tangan, lengkung bibir Arinka seketika naik melihat lelaki itu yang tidak lain adalah suaminya Renza yang tengah duduk dengan elegan dengan penampilan stylist. Arinka menghampiri dan duduk disana, terlihat banyak lilin diatas meja itu, mungkin ini yang dinamakan Candle light dinner pikir Arinka.
Setelah meletakkan barang itu disamping Arinka, Deni pergi kesebuah Bar, Renza tersenyum sumringah melihat penampilan Arinka yang sangat berbeda dari biasanya.
"Ini adalah makan malam romantis pertama kita setelah menjadi suami istri, apa kau suka?"
"Hmm, aku suka," ucap Arinka seraya menganggukan kepalanya.
"Aku membawakan kue ulang tahun untuk mu?" seraya menyodorkan boks berisi kue kepada Renza. Arinka membuka boks itu dan wajah Renza terengah karena kaget melihat tulisan didalam kue, "Happy birthday Pipom."
"Terima kasih, mimom. aku sangat bahagia malam ini!"
"Sama-sama," ucap Arinka tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Kau tau hari ini ulang tahunku? siapa yang memberi tahu, jangan-jangan Deni ya?"
"Tidak." hanya ucapan singkat itu yang Arinka keluarkan. tak lama kemudian, pelayan restauran itu membawakan kue ulang tahun beserta sebotol wine, dan mereka serentak menyanyikan. Arinka ikut bernyanyi dan bertepuk tangan.
"Kita mendapat dua kue, bagimana ini?" tanya Renza.
"Kau harus memakannya sampai habis," ucap Arinka tertawa.
"Tidak mungkin, kita bawa pulang saja nanti ya?"
"Ngomong-omong aku membawa sesuatu lagi" sambil memberikan kotak kado kepada Renza. Renza terkejut, baginya ini sebuah kejutan yang istimewa.
"Silahkan dibuka."
Dengan wajah bahagia dan mata berkaca Renza membuka kado itu, setelah dibuka ia sangat terkesima, ternyata sebuah sepatu couple.
"Jadi, kau menghabiskan uang tempo hari hanya untuk membeli sepatu ini," ucap Renza seraya bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Arinka.
"Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, terima kasih untuk semuanya, aku sangat mencintaimu, maaf karena dulu aku menyia-nyiakan mu, aku akan menebus semua nya dengan mencintaimu sepanjang sisa hidupku, tak akan aku biarkan kau meninggalkan aku, Aku sangat bahagia dan tak hentinya tertawa membayangkan senyumanmu, karena hadirmu mengubah Arti hidupku. Arinka,I love u so much."
Mendengar perkataan Renza, mata Arinka mengerjap kikuk. ucapan Renza terus terang begitu malah membuat Arinka salah tingkah sendiri. Arinka tidak habis pikir, kemarin lelaki itu bahkan sangat sulit untuk berbicara kepadanya bahkan hampir tidak pernah berbicara, sekarang ia berbicara dengan lancar dihadapannya dan malahan membuat dada Arinka berdebar aneh.
Mereka menikmati makan malam ini dengan semestinya, Renza terus memegang tangan Arinka setelah selesai makan, seperti tak ingin kehilangan moment bahagia ini Renza terus memandangi istrinya itu, yang dipandangi malah salah tingkah.
"Kau sangat cantik malam ini? aku sangat pangling," ucap Renza masih terus memandangi Arinka sambil memegang tangannya.
"Benarkah? ini karena pakaian mahal?" ucap Arinka tertawa.
"Sepertinya aku akan menjadi Bucin mu mulai dari hari ini?"
"Haha, kau ini ada-ada saja." sambil meneguk wine karena salah tingkah.
"Bagaimana jika kita menginap di hotel ini malam ini?"
"Ke-kenapa?" jawab Arinka gugup.
"Tidak ada, aku hanya ingin menikmati suasana romantis ini lebih lama."
Arinka tak menjawab, hanya diam dan tersenyum, kemudian ia meminum seteguk wine lagi.
"Kapan kita akan bulan madu?"
Uhuk! Uhuk!
Arinka terbatuk mendengar ucapan Renza yang meracau seperti itu,
Bulan madu, kenapa harus mempertanyakan bulan madu sih?
"Ini minuman apa sih, enak?" tanya Arinka.
"Ini wine? kau jangan banyak meminumnya, nanti bisa mabuk."
Mereka kembali berbincang-bincang, Arinka terus menerus meneguk wine itu, tanpa terasa kepalanya mulai pusing.
"Bagaimana jika kita kencan? sebelumnya kencan kita gagal, kan? aku ingin kencan seperti wanita pada umumnya yang dimanjakan," ucap Arinka sudah diluar kesadarannya.
"Ide bagus, ayo kita kencan lagi, rasanya mencintai setelah menikah ini benar-benar suatu sensasi yang berbeda."
"Heum..," jawab Arinka tersenyum, dengan cepat Arinka berpindah dan mencium pipi Renza tanpa malu-malu lagi, Yah, karena wine ia jadi berani seperti itu. Renza menatap Arinka dengan bahagia karena Arinka berani menciumnya,
"Kau jangan memancingku, yah?"
"Ide bagus, ayo kita pergi memancing," ucap Arinka sudah mabuk. Renza yang mendengar langsung tertawa, ia tau Arinka sudah mabuk akibat segelas wine.
**Bersambung...
jangan lupa vote dan comment ya..
jika sudah selesai membaca jangan lupa tekan like ❤
__ADS_1
Buat pembaca setia Arinka dan Renza, makasih selalu setia menunggu dan bersabar.
Luv u Readers tercintahhhh 😘😘😘**